I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]

I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]
17. Ratu Kedua


__ADS_3

Bajingan gila itu membuatku lagi-lagi merasa khawatir.


Aku tidak tahu intensi apa yang ditunjukkan lewat iris mata merah darahnya yang menatapku dengan intens. Dia benar-benar hanya duduk di balik mejanya, sesekali mencatat sesuatu di dokumen kerjanya, tetapi kebanyakan aktivitas yang dia lakukan adalah menyorotku tajam dengan mata merah itu.


"Yang Mulia?" Aku memberanikan diri untuk memanggil Viten karena aku merasa tidak nyaman dengan tatapan pria itu.


Setelah dia memanggilku ke ruang kerjanya di Istana Kebahagiaan—yang untungnya tidak membuatku kerepotan karena kami tinggal di istana yang sama—dia hanya melakukan hal yang sudah kusebutkan barusan.


Pelayannya juga sudah menyajikan teh dan camilan manis di atas meja yang tidak perlu dipertanyakan kembali kelezatannya. Hanya saja, aku kesulitan untik menikmati semua ini ketika Viten sendiri sedang memperhatikanku dengan tajam.


"Ahem, Serethy," panggilnya setelah berdeham singkat. Dia lalu menatapku di balik mejanya, di balik tumpukan dokumennya, di balik jurnal-jurnalnya yang tebal. "Cioten sudah kembali ke wilayah asal Matria."


"Aku tahu itu, Yang Mulia."


"Dan Cioten sudah menyebarkan rumor itu dengan baik."


Aku mengangguk kecil, tanda bahwa aku mengerti. Rumor yang tersebar itu berisi mengenai tujuanku  naik menjadi Tuan Putri Asher adalah agar rakyat Matria memiliki penguasa yang mereka kenal sehingga rakyat Matria tidak akan merasa resah, serta betapa Tuan Putri memperhatikan rakyatnya dengan baik dan selalu mengkhawatirkan mereka.


Cioten sudah menyebarkan rumor itu begitu dia keluar dari Istana Kebahagiaan kemarin lusa.


Rupanya, pengaruh Cioten tak kalah kuat. Buktinya, dia bisa menyebarkan rumor itu hanya dalam waktu 24 jam setelah dia meninggalkan istana.


Bahkan koran gosip Madam Kricia telah memuat artikel mengenai rumor itu pagi ini.


"Berita baiknya, rakyat Matria mendukungmu."


"Itu bagus. Bukankah inilah tujuan rumor itu tersebar?"


"Serethy, kau harus mendengarkan ini. Ada dua berita buruk dariku."


Aku mengerjap. Apa berita buruk itu sangatlah buruk hingga Viten harus memeringatiku terlebih dahulu?


"Tolong katakan itu, Yang Mulia."


"Yang pertama, nama Rexanne tidak bisa dicegah lagi proses penyebarannya, Berita itu menggila sehingga akan sulit untuk membatasi penyebarannya. Akan banyak juga konfrontasi serta dukungan dari rakyat yang mendesakmu untuk segera menjadi 'ratu' Asher."


Itu masuk akal. Asher sudah mencari ratu yang dapat memakmurkan kerajaan mereka selama kurang lebih satu abad. Dan kini mereka mendapatkannya, tentu desakan dari para rakyat dan bangsawan akan menggunung agar aku segera menjadi ratu.


"Aku yakin itu pasti terjadi."

__ADS_1


Viten hanya mengangguk kecil. "Lalu berita buruk yang kedua, yaitu firman Dewa kembali turun."


Aku mengerutkan dahi. "Mengapa firman Dewa dikatakan sebagai berita yang buruk? Bukankah seharusnya itu berita yang baik? Mengingat betapa sulitnya firman dewa untuk turun."


Viten menghela napasnya frustrasi. "Itu karena isi firmannya, Serethy. Aku yakin, kau juga akan merasa bahwa turunnya firman kedua ini adalah berita buruk buatmu."


"Dan katakan padaku mengapa firman ini bisa menjadi berita yang buruk untukku?"


"Ratu kedua."


"Ratu kedua?"


"Firman Dewa mengatakan bahwa terdapat kandidat ratu selain dirimu. Dan untuk menjadi ratu, kau harus berkompetisi dengan kandidat ratu lainnya."


"Apa? Jadi bukan aku saja?"


Aku nyaris tidak bisa mempertahankan nada suaraku yang bahagia. Tentu saja aku bahagia! Jika terdapat kandidat ratu lainnya, maka aku akan dengan senang hati memberikan gelar ini pada wanita mana pun itu.


Karena bayangkan saja aku menjadi ratu dan memerintah Kerajaan Asher. Itu akan sangat merepotkan. Bagaimana jika aku melakukan kesalahan dan malah meruntuhkan suatu kerajaan? Bagaimana jika aku malah membuat Asher bangkrut? Tentu aku tidak ingin kepalaku diserahkan kepada guillotine karena telah menghancurkan sebuah kerajaan, bukan?


Alasan lainnya, aku harus menghindari bendera kematian yang masih menghantui kehidupanku. Aku masih belum yakin dengan pasti jika aku telah menghindari bendera kematian Axel, ditambah kini ada Cioten yang psikopat.


"Kenapa kau terdengar sangat bahagia?" Viten mengerutkan dahinya pada nada suara yang kugunakan.


Aku menutupi kebahagiaanku dengan menyesap teh yang kini sudah dingin. "Maafkan aku, Yang Mulia. Akan tetapi, ide untuk menjadikan aku seorang ratu adalah hal yang mengerikan. Jadi, aku cukup senang ketika mendengar bahwa kandidat ratu kedua muncul. Itu artinya, aku bisa melepaskan gelar ini dan kembali hidup dengan tenang sebagai tuan putri. Bukankah itu akan menyenangkan?"


"Tunggu, menyenangkan?" Viten memiringkan kepalanya dengan heran. "Kau ... tidak ingin jadi ratu?"


Hahaha. Membayangkan mahkota ratu dikenakan di atas kepalaku membuatku merinding.


Aku cuma wanita kantoran di usia 25 yang mendambakan harta. Aku tidak membutuhkan suami, anak, atau keluarga bahagia seperti yang orang lain inginkan. Karena tentu saja mengurus diri sendiri saja sudah rumit, apalagi suami dan anak. Jadi, aku tidak terlalu menginginkan keluarga. Maka, apa bedanya dengan menjadi ratu?


Aku harus mengurus sebuah negara. Tanggung jawab itu bahkan lebih berat dari sekadar tanggung jawab yang harus dilakukan oleh seorang istri.


Aku juga tidak pernah mendapatkan ilmu untuk menjadi penguasa negeri sebelumnya. Jadi, akan terbayang jika aku menjadi ratu, Asher akan hancur.


Membayangkan Asher hancur karenaku membuatku merinding.


Aku lalu melayangkan senyuman manis pada Viten.

__ADS_1


"Jangan mengatakan hal yang mengerikan, Yang Mulia."


"Hah?" Viten makin heran. Dia lalu bangkit dari tempatnya di balik meja dan menghampiriku perlahan. "Kenapa? Kenapa kau tidak ingin menjadi ratu?"


"Yang Mulia, meski aku awalnya adalah tuan putri di Kerajaan Matria yang telah runtuh, bukan artinya aku mendapatkan pengetahuan untuk menjadi penguasa negeri. Aku memiliki kakak laki-lakiku untuk menjadi raja di kemudian hari, tentu aku tidak membutuhkan pengetahuan itu, bukan? Jadi, mengirimkan tanggung jawab yang besar terhadapku yang tidak cekatan bukanlah jawabannya."


Brak.


Hah? HAHHHH?! HEH!


Bajingan gila ini mulai gila lagi! Tidak, ini familier, sama!


Sama ketika Cioten mendorongku ke tembok dan mengurungku di kedua lengannya. Ini sama! Bedanya, ini di sofa, dan aku terbaring di atas sofa dengan Viten yang memenjaraiku di sini!


"Y-Yang Mulia?" Kedua mata violetku membulat kaget. Sangat kaget. Sangat-sangat kaget. Jantungku mulai berdebar kencang, rasanya rongga dadaku mulai sakit saking kencangnya debaran yang dihasilkan.


"Kenapa kau tidak ingin jadi ratu? Kenapa kau tidak ingin berada di sampingku seterusnya, Serethy? Bukankah kau seharusnya menginginkan posisi untuk terus ada di sampingku?"


Tu-Tunggu! Kenapa dia jadi emosional begini? Dan apa-apaan dengan sorot itu? Itu ... tidak bisa dideskripsikan, hanya saja itu begitu sendu. Sorot itu mengirimkan sensasi aneh di pembuluh darahku.


"Yang Mulia?"


"Serethy." Kini, dia memeluk tubuhku. Dalam keadaan kami berdua masih terbaring di atas sofa. Dia menenggelamkan wajahnya di lekuk leherku. Geli. Rambut hitamnya yang lembut menggelitik kulit leher dan pipiku. "Serethy, apa kau akan membiarkanku bersamanya? Bersama wanita itu?"


"A-Apa maksudmu, Yang Mulia?"


"Apa kau tidak mencintaiku, Serethy? Aku tahu, kini kau adalah saudariku yang disumpah, tapi tetap saja pernikahan di antara kita bukanlah terlarang."


"Yang Mulia, tolong, kamu membuatku merepotkan."


Viten menggeram kecil. "Apa kau ingin aku menikah dengan Clare?!" Dia membentakku, tetapi suaranya berbisik dengan sendu. "Aku tidak ingin, Serethy. Aku tidak mau menikahi wanita gila seperti Clare. Dia menjijikkan, dia iblis, Serethy. Dan apa kau akan membiarkanku bersamanya?"


"Tu-Tunggu, Yang Mulia. Nona Clare?"


Hening.


Lalu, suara rendah Viten menelusupi indra pendengaranku. "Firman Dewa turun kepada Clare, yang sekarang dinyatakan sebagai kandidat ratu kedua."


...***...

__ADS_1


Masalah baru Serethy dateng lagi? Iya! Bendera kematiannya nambah, jadi gimana, nih? Penasaran nggak sama tindakan yang bakal dilakuin Serethy nanti? Makanya stay tune! Okey? 


__ADS_2