![I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]](https://asset.asean.biz.id/i-will-avoid-the-death-flag--sudah-terbit-.webp)
Viten tidak tahu mengapa dia tidak bisa merasakan ketenangan di dalam hatinya. Satu-satunya yang Viten rasakan setelah melihat punggung Serethy menghilang di balik pepohonan hutan adalah perasaan pelik yang kian membuat hatinya resah.
Akan tetapi, Viten melakukan yang terbaik untuk menutupi kelemahannya di depan wajah para bangsawan. Karena itu akan berbahaya.
Bangsawan adalah alat bagi Viten. Namun, alat tersebut bisa menjadi kekuatan terbesarnya atau bisa berbalik menjadi musuhnya. Hal ini membuat Viten perlu memasang wajah dan senyuman palsunya di hadapan mereka. Viten tidak bisa menunjukkan keresahannya secara publik, tanpa terkecuali.
Viten melakukan hal yang sama dalam prosesnya menjadi seorang raja. Hal itu membuatnya merasa muak.
Namun tiba-tiba, seseorang hadir di dalam kehidupannya. Itu adalah pribadi yang bebas sehingga Viten bisa menunjukkan pribadinya yang asli di hadapannya tanpa perlu khawatir. Sebagaimana dia bebas membuka sayapnya, terbang di angkasa, lalu bebas menari-nari di sana.
"Yang Mulia."
Viten tersentak kecil.
"Apa ada yang salah? Anda melamun."
Oh. Viten lupa. Dia sedang dalam perbincangan dengan Count Cliterion.
"Maafkan aku, Count. Aku hanya sedang khawatir," balas Viten dengan senyuman teduh.
"Oh? Apa Anda mengkhawatirkan Tuan Putri atau Nona Clare, Yang Mulia?"
Viten hampir memberikan reaksi ketika nama Clare disebutkan, tetapi dia menahan diri.
"Tentu saja aku mengkhawatirkan kedua kandidat calon ratu. Keduanya adalah masa depan Asher, bagaimana mungkin aku tidak mengkhawatirkan mereka, bukan?"
Sudut mata Viten melihat Cioten yang bermain-main dengan nona muda bangsawan, bahkan dia ikut andil dalam pesta teh kecil itu. Dasar kekanakan, tetapi Viten menyukai sisi Cioten yang bebas tanpa terkekang seperti ini.
Viten kembali mengalihkan atensinya pada Count.
"Anda sangat benar, Yang Mulia. Tuan Putri dan Nona Clare merupakan masa depan Kerajaan Asher, mereka sangatlah berharga." Count Cliterion tertawa kecil. "Dan Yang Mulia, saya sebelumnya belum berterima kasih pada Anda karena telah memilih putra saya untuk menjadi ksatria penjaga Tuan Putri."
"Itu bukan masalah yang besar. Tuan Putri rupanya memiliki ketertarikan yang rumit dengan Sir Derick, sehingga aku menjadikan Sir Derick sebagai ksatria Tuan Putri."
"Ya, itu mungkin karena putra saya adalah orang pertama yang ditemui Tuan Putri setelah dijebloskan ke dalam penjara. Saya tidak memiliki maksud buruk, Yang Mulia. Justru saya senang jika darah Cliterion akhirnya dapat berguna bagi garis keturunan Kerajaan Asher."
Viten hanya mengangguk kecil, masih dengan senyuman palsunya. Count Cliterion terlalu mengunggulkan keluarganya sehingga nyaris seperti menjilat Viten.
Semua bangsawan di mata Viten adalah makhluk yang sama. Mereka mencari kekuatan dan ingin merangkulnya seorang diri. Manusia memang selalu tidak bisa puas hanya dengan apa yang mereka miliki saat ini.
"Berapa lama waktu telah berlalu?"
"Dua puluh menit, Yang Mulia."
Sepuluh menit lagi waktu kompetisi untuk kedua kandidat ratu akan berakhir. Namun, baik Serethy maupun Clare, keduanya belum menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka menyelesaikan kompetisi.
"Waktu-"
Kalimat Viten terpotong ketika cahaya menyilaukan memenuhi visinya.
Tidak hanya Viten, tetapi seluruh bangsawan yang ada di sana berteriak terkejut ketika cahaya menimpa mereka.
Itu adalah cahaya yang hangat dan misterius, tetapi tidak menyakiti mereka. Alih-alih menyakiti, cahaya itu menyebarkan kehangatan dan ketentraman di hati masing-masing.
"I-Ini!" Para bangsawan mulai bergumam dengan perasaan terkejut.
Mereka tidak bisa tidak terkejut apabila mereka betul-betul menyadari apa cahaya yang bersinar ini. Itu adalah cahaya yang berasal dari kekuatan suci, kekuatan yang hanya dimiliki orang-orang yang dikasihi Dewa Matahari.
"Arahnya dari hutan!"
"Si-Siapa yang memiliki kekuatan suci sebesar ini?"
"Orang terkasih Dewa Matahari akan muncul!"
"AH! Pangeran! Tolong bertahanlah!"
Meski banyak gumaman yang mengudara di langit, indra pendengaran Viten dapat menangkap teriakan nona muda yang sebelumnya mengadakan pesta teh dengan Cioten.
Viten tentu sangat khawatir pada keadaan adiknya sehingga dia tanpa berpikir panjang langsung berlari ke arah Cioten.
Cioten berlutut di tanah berumput, yang kini warna hijaunya telah digantikan oleh merah yang pekat. Cairan amis itu mengalir melalui mulut dan hidung Cioten, membuat keadaannya makin menyedihkan.
Cioten mendongak pada Viten yang kini berlutut di hadapannya.
"Kakak."
"Cio—"
"Cahaya itu."
"Jangan bica—"
"Cahaya itu menyembuhkanku."
Pupil Viten langsung bergetar hebat. Dia mendongak, menatap cahaya yang masih menyinari udara. Cahaya emas ini diketahui sebagai bagian dari kekuatan suci. Viten tahu itu karena dia awalnya adalah pangeran yang belajar untuk menjadi raja.
Dan cahaya ini menyembuhkan penyakit Cioten yang tidak diketahui oleh siapa pun namanya.
"Apa kau yakin?"
"Sangat yakin, Kak. Tubuhku semakin ringan."
Viten berdiri, menegakkan tubuhnya. Di saat yang sama, cahaya suci menghilang.
"Cepat cari Tuan Putri dan Nona Clare. Bawa keduanya dengan selamat! Situasi ini jelas janggal jadi pastikan juga dari mana asal kekuatan suci ini!" Viten mengatakan komandonya pada sekelompok prajurit yang telah bersiap dan mengangkat senjata mereka masing-masing.
__ADS_1
Setelah mendengar komando rajanya, mereka segera membagi dua kelompok menuju utara dan barat untuk mencari kedua kandidat ratu.
***
"Maafkan aku, Nona Clare." Alverro berlutut di tanah, mengotori jubahnya yang hitam dengan noda cokelat tanah.
Plak! Alverro merasakan rasa pedih di pipi kirinya, terlebih wajahnya telah terluka dengan luka bakar ringan akibat serangan cahaya suci itu.
Kekuatan suci hanya bereaksi terhadap hal-hal yang baik, sementara itu menyerang hal-hal yang jahat. Alverro berusaha membunuh Serethy, maka kekuatan suci akan menyerangnya karena Alverro dianggap 'jahat'.
"Kau gagal dan berani menunjukkan wajahmu padaku?!" Clare berteriak murka.
Pembunuh bayaran di belakang Clare dengan diam-diam mengambil langkah mundurnya, bersiap kabur jika keadaan makin pelik.
Jika segalanya sesuai dengan rencana, Alverro seharusnya membunuh Serethy. Dan untuk menuntaskan kecurigaan pada Clare, harus ada yang menyerang Clare juga. Itulah gunanya pembunuh bayaran di belakang Clare.
Akan tetapi, rencana mereka rupanya gagal sepenuhnya.
"Maafkan aku, Nona Clare. Wanita bajingan itu ternyata saintess. Aku—"
"Verro." Nada dingin Clare memotong kalimat Alverro. "Aku tidak butuh alasan dan pembelaan dirimu karena kau gagal membunuh wanita lacur itu! Kau seharusnya membunuh wanita itu dengan cepat! Harusnya kau membunuh wanita itu sebelum dia menunjukkan kekuatannya! Kau gagal, Verro! Kau telah gagal! Kau yang paling tahu bahwa aku sama sekali tidak membutuhkan pion yang tidak berguna!"
Alverro mengeluarkan suara yang paling menyedihkan dari balik bibirnya. Air matanya keluar, mengiringi cairan merah yang juga semakin menderas.
Alverro tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika kedua matanya terasa sakit, bahkan pandangannya semakin memburam dan gelap. Alverro tidak akan heran jika dia berakhir buta karena serangan kekuatan suci dari Serethy.
Namun, mendapatkan permohonan maaf dari nonanya lebih penting dari segalanya. Lebih penting daripada luka yang mendera, lebih penting dari goresan di setiap bagian tubuhnya, lebih penting dari tenaganya yang kian berkurang.
Alverro mencintai Clare. Tidak, daripada disebut sebagai cinta, Alverro terobsesi pada Clare.
Clare menarik Alverro dari gelapnya keputusasaan, membawa Alverro ke dalam dunia yang begitu gemerlapan. Rasa terima kasih saja tidak cukup untuk membalas kebaikan Clare, sehingga Alverro akan melakukan apa pun, benar-benar apa pun, untuk memuaskan Clare, memuaskan orang yang dia cintai.
Alverro meraih kedua tangan Clare, mencoba untuk melakukan hal yang sering dilakukannya pada Clare untuk memohon ampun; mengecup setiap jemari Clare dengan penuh kasih, sehingga Clare bersedia memberikan ampunan.
"Maafkan aku, Nona Clare. Aku tidak berguna. Aku adalah pion Nona yang tidak berguna, tapi mohon jangan buang aku. Aku mencintai Nona Clare, tolong jangan buang aku."
Alverro terisak hebat sambil menenggelamkan wajahnya di kedua tangan Clare, sementara tubuhnya pun bergetar samar.
"Jangan buang aku, Nona Clare."
Mata hitam Clare menatap pria yang berlutut dan memohon pada Clare selayaknya pelacur murahan dengan sorot yang dingin.
"Kau adalah pion yang tidak berguna, Alverro."
Clare bisa merasakan kepala Alverro mengangguk kencang. "Kamu benar, Nona Clare. Aku tidak berguna, tolong hukum aku, tapi tolong jangan buang aku."
"Aku membencimu."
"Aku mencintaimu, Nona Clare."
"Aku terlalu banyak bermain-main dengan Tuan Putri."
"Aku membencimu."
"Aku sangat mencintaimu, Nona Clare. Tolong jangan buang aku. Terima aku, tolong terima aku."
Clare ingin membalas, tetapi derap langkah kaki yang mendekat membuat Clare mengurungkan niatnya.
"Nona Clare! Di mana Anda? Yang Mulia menyuruh kami untuk mencari Anda!"
Alverro menatap Clare dengan kedua mata yang kacau, penuh air mata dan darah yang berceceran. Itu sangat berantakan. Terlihat begitu menyedihkan.
"Aku akan pergi, Nona Clare." Alverro menegakkan tubuhnya dan berlari menjauhi Clare. Alverro memanjat sebuah pohon dengan dedaunan lebat untuk bersembunyi.
"Nona Clare, syukurlah Anda baik-baik saja!" Seorang prajurit tersenyum puas ketika menemukan Clare.
"Kompetisi belum berakhir, mengapa Yang Mulia mencariku?"
Prajurit itu saling menatap dengan anggota kelompoknya. "Tentu saja karena kekuatan suci itu, Nona Clare! Karena merasa bahwa situasi ini janggal, kompetisi terpaksa harus dihentikan."
"Oh? Dan aku belum menangkap satu kelinci pun," gumam Clare dengan nada kecewa.
"Tidak apa-apa, Nona Clare. Saya yakin bahwa kompetisi akan dilanjutkan di kemudian hari." Visi salah satu prajurit itu tertuju pada tangan Clare. "Nona Clare, apa Anda terluka?"
Clare melihat arah pandang prajurit itu, dan mendapati darah berceceran di tangannya.
Itu adalah darah Alverro yang mengalir dari luka di kedua matanya.
"Ini bukan darahku, tapi dari pembunuh bayaran yang mengincarku." Clare melirik ke belakangnya, mendapati bahwa pembunuh bayaran yang disewanya telah kabur. Bagus.
"Apa?! Bagaimana mungkin ada yang menyerang Anda?!"
"Itu hal yang mungkin. Mereka sangat menginginkan Asher sengsara sehingga ingin membunuh kandidat ratu. Bukankah itu sudah terlihat jelas? Tentu saja banyak kerajaan lain yang tidak menginginkan perdamaian bagi Asher."
"Ah! Saya harus segera melaporkan ini pada Komandan! Nona Clare, ayo kembali ke garis awal dan mengecek luka Anda."
Clare mengangguk patuh. Sebelum dia mengikuti langkah para prajurit, Clare melirik dedaunan lebat di mana Alverro bersembunyi.
Alverro langsung tersentak dan tubuhnya bergetar hebat ketika melihat sorot dingin Clare yang terarah kepadanya.
Alverro kemudian memandang kepergian Clare dengan pandangan yang semakin memburam. Setidaknya, darah telah berhenti mengalir dari kedua matanya.
Namun, kali ini Alverro dikuasai ketakutan yang nyata. Berbagai pemikiran memenuhi benaknya dan menenggelamkan dirinya di dalam rawa keputusasaan.
Bagaimana jika Clare membuangnya? Bagaimana jika Clare membuangnya? Bagaimana jika Clare membuangnya? Bagaimana jika—
__ADS_1
Setelah benaknya dipenuhi oleh pemikiran negatif yang membuat pria itu kembali terisak, Alverro menyerah pada pertahanan dirinya sendiri dan membiarkan kedua matanya menutup. Biarkan pria malang itu beristirahat sejenak.
...***...
Viten tidak pernah merasa setakut ini sebelumnya. Tidak pernah dalam kehidupannya, dia dikuasai oleh perasaan yang begitu pelik.
"Yang Mulia, ini sulit." Dokter Kerajaan yang memeriksa tubuh Serethy bicara dengan gugup.
Viten merasakan tubuhnya gemetar karena emosi yang menumpuk di relung hatinya. Ketakutan, kekhawatiran, kemarahan, kebingungan menguasainya menjadi satu. Membuat segalanya tambah menjadi rumit.
Viten dipenuhi perasaan yang tak pasti. Apalagi ketika Viten melihat tubuh lemas Serethy di dalam gendongan Sir Derick, di mana ksatria itu memimpin pencarian Serethy di bagian barat hutan arena kompetisi perburuan.
"Katakan." Suara Viten yang mengudara terdengar begitu dingin.
Dokter Kerajaan menelan ludahnya atas tekanan yang dia terima dari Viten. Bahkan Dokter Kerajaan tidak mampu untuk membuat kontak mata secara langsung karena takut bahwa sorot dapat membunuhnya.
"Tubuh Tuan Putri semakin dingin."
Viten mengeratkan kepalan tangannya sehingga dia bisa merasakan perih akibat kukunya yang menusuk permukaan telapak tangan.
"Detak jantung Tuan Putri semakin memudar. Saya tidak yakin lagi, Yang Mulia. Saya juga merasa takut untuk mengatakan hal ini, tetapi kehidupan Tuan Putri adalah keputusan pada Tuan Putri sendiri."
"Apa maksudmu?"
"Jika Tuan Putri masih memiliki keinginan untuk hidup, maka Tuan Putri akan bangun. Jika tidak, maka sebaliknya, kematian akan menjadi akhir bagi Tuan Putri."
Dokter Kerajaan memakan risiko yang sangat besar hanya dengan mengumumkan keadaan Serethy pada Viten, yang kini seolah bersiap untuk membunuh Dokter Kerajaan.
"Apa Tuan Putri ingin hidup?" Suara Viten dingin dan menekan, membuat Dokter Kerajaan merinding hebat.
"Tidak ada yang tahu mengenai hal tersebut kecuali Tuan Putri sendiri."
"Pergi. Keluar."
Dengan dua patah kata itu, Dokter Kerajaan berlari keluar dari tenda di mana Serethy terbaring lemah. Dokter Kerajaan menghela napas lega setelah menjamin kehidupannya sendiri.
Sementara itu, Viten menghampiri Serethy dan berlutut di samping ranjang Serethy.
Pakaian Serethy kotor dan robek di berbagai tempat, tetapi Serethy tidak terluka. Mengecualikan bagaimana wajahnya seolah kehilangan redup kehidupan. Pucat.
Ketika Viten menggenggam tangan Serethy, Viten merasakan beku. Dingin sekali. Mengapa tubuhnya begitu dingin? Seolah jiwanya telah berkeliaran dan kembali ke alam fana. Detak nadi pun terasa samar, membuat Viten putus asa.
Viten mengecup punggung tangan Serethy lama sekali. "Bertahanlah, Serethy. Kumohon. Bertahanlah. Untukku, untuk dirimu sendiri, untuk Asher."
Setelah itu, tangan Viten yang satunya naik, jemarinya membetulkan rambut merah muda Serethy yang menutupi wajah cantik Serethy. Jemarinya mengelus pipi Serethy, lalu naik ke dahinya, dan turun ke bibirnya.
Akhirnya setelah sekian lama, Viten bisa menyentuh wajah cantik itu lagi setelah sentuhan terakhirnya di pesta Marquis Krone. Viten perlu menahan diri untuk tidak menyentuh Serethy. Bukankah akan aneh jika Viten memiliki keinginan untuk menyentuh gadis itu?
Viten selalu merasa apabila dia menyentuh Serethy, maka gadis itu akan hancur saking rapuhnya ia. Namun, Viten yang paling tahu bahwa gadis itu adalah gadis yang paling kuat yang pernah Viten temui.
Viten tertarik pada Serethy karena dia kesepian, tetapi sekarang Viten menyadari bahwa Serethy lebih dari itu. Serethy bukanlah alasan bagi Viten untuk mengusir kesepian, tetapi karena sesuatu di dalam dirinya bergejolak dan Viten asing terhadap hal itu. Namun, dia menyadari bahwa kerakusan di dalam diri untuk merangkul si pemilik rambut merah muda ke dalam rengkuhannya adalah nyata.
Setelah puas menyentuh wajah Serethy, Viten berdiri. Dia keluar dari tenda dan mendapati tiga orang yang selalu ada di sekitar Serethy telah menunggu.
"Kakak, aku akan masuk."
"Saya izin menemui Tuan Putri, Yang Mulia."
"Saya tidak mau bertengkar Yang Mulia, saya hanya ingin menemui Tuan Putri."
Viten menghela napas dan membiarkan ketiga orang itu memasuki tenda.
Sementara itu, Viten menemui Komandan Ksatria.
"Bawa para bajingan yang menyerang Tuan Putri ke penjara bawah tanah istana. Siksa mereka jika perlu untuk mendapatkan informasi yang berguna."
Komandan Ksatria berlutut pada Viten dan menjalankan perintah Viten.
Sementara itu, Viten juga harus menunda kompetisi perburuan bagi kedua kandidat ratu dan para bangsawan. Lalu, membuat jadwal baru untuk menggelar kompetisi perburuan.
"Serethy, sementara aku harus mengatasi para bangsawan, kau harus bertahan. Hiduplah," gumam Viten. Suaranya hanya satu oktaf di atas angin, sehingga tak ada yang dapat mendengar nada penuh kasih di dalamnya.
...***...
Ketika luna akhirnya mendapat giliran bertugas, cahayanya dapat memasuki kisi-kisi jendela sebuah kediaman yang sangat mewah.
Lilin tidak dibiarkan menyala sehingga hanya menampilkan dua orang siluet di sebuah ruangan megah.
"Gagal, ya?"
"Itu benar, Ayah." Suara yang lebih muda dari suara sebelumnya terdengar, memecah gaung, memecah sunyi. "Tidak ada yang menyangka bahwa Serethy memiliki kekuatan saintess."
Pria yang dipanggil 'Ayah' hanya mendengus. "Bukankah ibunya adalah saintess yang terkutuk? Jadi, hal yang mungkin jika kekuatan suci diturunkan pada putrinya."
"Itu benar. Hanya saja, tidak pernah ada dalam sejarah jika kekuatan suci bertujuan untuk menyakiti. Kekuatan suci Serethy menyakiti ketujuh orang yang kita kirim, Ayah."
"Gadis itu memang unik. Dia membiarkan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin."
"Seperti yang diharapkan dari mantan Tuan Putri Kerajaan Matria, bukan?"
"Itu benar. Dan kini, biarkan dia menikmati kehidupannya yang damai sebagai Tuan Putri Kerajaan Asher."
"Aku suka kenyataan itu, Ayah. Hal itu akan membuatnya lengah, lalu kita bisa menangkapnya selayaknya predator yang mencari mangsa. Bukankah itu akan sangat menyenangkan?"
Di dalam siluet yang gagal menampilkan figur ayah dan anak tersebut secara sempurna, terukir sebuah senyuman psikopat di bibir yang manis.
__ADS_1