I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]

I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]
46. Terselubung


__ADS_3

Setelah pelayan menyajikan teh dan kudapan di atas meja, mereka dengan patuh meninggalkan ruangan sesuai perintahku. Untuk jaga-jaga, aku menyuruh Sir Derick berdiri di balik pintu.


Kini, hanya ada aku, Etrill, dan Kallistar di dalam ruangan yang penuh aroma manis kue. Teh beraroma melati pun turut menyaingi harumnya ruangan, membuat suasana yang tegang buatku menjadi sedikit rileks.


Aku duduk di sofa single, sementara Etrill dan Kallistar duduk berdampingan.


Jujur saja, aku sedikit gugup. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan keduanya tanpa seseorang di sampingku, dalam konteks itu adalah Sir Derick yang menemaniku di penjara bawah tanah. Sekarang, aku benar-benar sendirian.


"Serethy," panggil Kallistar dengan senyuman lembut di bibir.


Aku balas tersenyum, palsu. "Kakak."


"Kami begitu merindukanmu, Serethy," Etrill mengambil alih percakapan.


"Kamu harusnya tahu bagaimana kami selalu kesulitan tidur karena memikirkanmu," desah Kallistar dengan ekspresi wajah yang meyakinkan.


Bisa-bisanya dia memiliki kemampuan akting yang baik. Aku jadi ingin mendaftarkan nama Etrill dan Kallistar ke seni teater di ibu kota.


"Benarkah itu?" tanyaku dengan kesedihan palsu di mataku. "Aku minta maaf karena telah mengkhawatirkan ayah dan kakak yang kusayangi. Aku tidak bermaksud untuk melakukannya."


Etrill tertawa pelan. "Tidak apa-apa, Serethy. Ayah justru merasa gembira setelah bertemu denganmu kembali. Rasanya, Ayah seolah-olah bisa mati dengan tenang sekarang."


"Ayah, jangan bicara seperti itu," ujar Kallistar. "Bagaimana dengan janji kita untuk hidup bahagia bersama Serethy?"


"Itu benar sekali, Nak." Etrill membelai rambut perak Kallistar. "Kami sangat ingin menebus waktu yang telah terbuang karena kami kehilanganmu semasa pelarian."


"Aku menyesal, Serethy. Saat itu aku terluka berat akibat peperangan, jadi aku tidak bisa berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkanmu," sambung Kallistar sembari menundukkan kepalanya, menilik teh melati di atas meja. "Dengan terpaksa, kami melepasmu."


"Namun, Ayah berjanji akan menyelamatkanmu, Serethy. Maka, kami datang saat ini."


Aku hanya tersenyum lembut sambil mendengarkan omong kosong mereka. Aku juga tidak tahu apakah mereka benar-benar mengatakan omong kosong atau bukan karena aku tiba di dunia ini ketika aku sudah ditangkap prajurit Asher, di dalam sebuah kereta lusuh bergerak menuju Kerajaan Asher, dan sama sekali belum menemui keduanya. Namun, jika itu akting, aku nyaris ingin bertepuk tangan dengan heboh karena mereka benar-benar ahli dalam berakting.


"Jadi?" Suaraku bergema di ruangan yang sunyi. "Sampai kapan kalian berdua akan memainkan peran menjadi keluarga yang baik padaku?"


Kalimatku memancing keduanya untuk menghentikan ekspresi wajah menjijikkan yang ditujukan padaku. Sebaliknya, mereka langsung menatapku dengan tajam.


"Ho? Dasar lacur gila," gumam Kallistar. "Aku nyaris muntah ketika harus terus bersikap lembut padamu. Untungnya, kau cepat-cepat sadar."


Etrill hanya diam dengan sorot dingin tak terbantahkan, seolah kehangatan yang terpancar sebelumnya tak berarti apa-apa. Jemarinya meraih cangkir teh di atas meja, lantas menyesap isinya perlahan. Martabat seorang raja masih tersisa di tubuhnya, sehingga aura yang dihasilkan pun terasa agung.


"Ya, ya. Aku juga sangat muak dengan hal ini," balasku jengah.


"Muak?" Kallistar tertawa kesal. "Bukankah kau sangat menantikan momen ini, Serethy? Bukankah dari dulu kau sangat ingin kami bersikap seperti ini padamu?"


Jika maksud bajingan ini adalah bagaimana Serethy yang asli ingin disikapi secara lembut oleh keluarganya, maka kau salah orang, bajingan. Aku bukan Serethy yang asli, yang tidak bodoh, tidak naif, dan tidak mengejar kasih sayang semu dari para bajingan seperti kalian.


Aku mengepalkan tanganku erat hingga memutih. Mereka berdua benar-benar berhasil membuatku marah.


"Kakak yang kusayangi," kataku dengan vokal yang dingin. "Dulu memang, ya, tapi sekarang aku tidak. Terima kasih kepada orang-orang di Kerajaan Asher yang telah menyadarkanku bahwa mengejar cinta kalian adalah hal paling menjijikkan yang pernah ada."


Brak!


Kallistar menggebrak meja. Cangkir teh di atas meja bergoyang dan tatanan kudapan yang cantik menjadi hancur.


Kallistar perlahan bangkit dari kursinya dan mendekatiku.


"Lihatlah lacur sombong ini," kata Kallistar sambil menusukku dengan mata violetnya. "Kau menjadi besar kepala karena kau dicintai Angelina. Padahal kau cuma anak haram rendahan yang beruntung karena Ayah masih mau memungutmu! Aku sangat muak dengan rambutmu yang mencolok!" Kallistar menjambak rambut merah mudaku dengan kasar.


Aku tertawa, mengabaikan rasa perih di kulit kepala. "Benar, bajingan. Robek topeng menjijikkan di wajah sialanmu! Kau sangat menjijikkan, Kallistar Matria!"


"****** ini!" Kallistar makin menjambak rambutku.


Aku diam-diam mengaktifkan kekuatan suci agar sakitnya luntur.


"Hentikan, Kallistar."


Suara dingin yang menyapu ruang mampu membuat Kallistar mengendurkan jambakan tanpa benar-benar melepas rambutku.


"Kau anak yang tidak tahu malu," lanjut Etrill, pandangannya tetap tertuju pada cangkir teh, tetapi aku bisa tahu jika bajingan itu bicara padaku. "Setelah menjadi Tuan Putri di kerajaan musuh, kau benar-benar mendapatkan hak istimewa."


Etrill menuangkan teh ke cangkirnya yang kosonh dengan tenang, tanpa terganggu akan pemandangan aku yang tengah dijambak Kallistar. Untung saja aku tidak merasakan sakit karena kekuatan suciku.


"Memangnya kenapa? Apa kau iri karena aku mendapatkan banyak hak istimewa dibandingkan kau yang menjadi buronan dengan kepalamu yang dihargai lima juta ash?"


Prang! Etrill melempar cangkir teh di tangannya ke lantai hingga pecah berkeping. Etrill lalu mendekatiku dengan sorot murka tertanam di wajahnya.


"Harusnya kau membalas budi padaku," kata Etrill di depan wajahku, matanya menyorotku dengan dingin. "Aku sudah memungutmu meskipun kau cuma anak haram rendahan. Harusnya kau tidak besar kepala setelah diangkat jadi Tuan Putri di kerajaan bajingan ini."


"Ayah, sekarang dia calon ratu." Kallistar tertawa keras. "Calon ratu apanya? Dia sama sekali tidak kompeten, Kerajaan Asher pasti runtuh kalau dia jadi Ratu."


Etrill mendengus. "Kerajaan Asher runtuh jika dia jadi ratu, bukankah kita bisa saja menyingkirkan dua burung dengan satu batu?"

__ADS_1


"Ayah benar. Si ****** ini memang harus jadi ratu."


Para bajingan ini. Aku geram sekali sampai tidak bisa berkata-kata.


"Dan dengan kami sebagai keluarga dari pihak ratu, bukankah itu adalah posisi yang sempurna dengan mengelakkan kenyataan bahwa kami adalah mantan buronan?"


Plak! Aku tidak bisa menahan diri dan menampar pipi bajingan di hadapanku sekeras mungkin.


Etrill mengerutkan dahinya atas perasaan perih di pipi. "Dasar gila. Kau sama saja dengan ibumu yang murahan itu, Serethy."


Perlahan, aku merasakan tangan kasar Etrill mencengkeram leherku.


Aku tertawa kecil, ironi sekali. Angelina tidak mengatakan bahwa keluarga asli Serethy sangat gila dan abusif. Terbukti dari bagaimana Kallistar tidak segan-segan menjambak rambutku atau Etrill yang sedang mencoba untuk mencekikku.


"Kau bajingan sombong tidak tahu terima kasih." Cekikan Etrill mengerat di leherku, seolah benar-benar berniat untuk merenggut napas yang kuhirup. "Serethy, aku sangat ingin membunuhmu dengan kedua tanganku. Kau memuakkan. Kau terus mengingatkanku pada—"


Belum selesai Etrill mengutarakan kalimatnya, pintu ruangan terbuka dengan kasar.


Dengan gerakan yang begitu cepat dan tak bisa diikuti oleh mata biasa, sebilah pedang telah menyentuh leher Etrill, sementara Kallistar tahu-tahu sudah dibanting ke lantai.


Aku membelalak. Inikah kekuatan asli seorang komandan ksatria?!


"Lepaskan tangan kotormu dari Tuan Putri," ujar Sir Derick dengan napas memburu. Ditekannya bilah pedang ke leher Etrill.


Etrill mendengus dan melepaskan cekikannya padaku.


Dasar bajingan gila, dia benar-benar berniat untuk membunuh putrinya sendiri.


"Tuan Putri, Anda tidak apa-apa?" tanya Sir Derick. Entah mengapa, kulit di pipinya memerah dan napas yang ditariknya memburu.


"Aku tidak apa-apa, Sir Derick."


Sir Derick menganggukkan kepalanya, lantas menyembunyikan tubuhku di punggungnya.


Sir Derick pun makin menekan pedang ke leher Etrill hingga darah mengucur deras dari permukaan kulit yang pucat.


"Brengsek," gumam Kallistar sambil mencoba untuk menegakkan tubuhnya yang nyeri.


Kini, di hadapan Sir Derick berdiri Etrill dan Kallistar yang penampilannya sudah kacau hanya dengan satu buah gerakan Sir Derick.


Seperti yang diharapkan dari Sir Derick, komandan ksatria yang layak.


"Apa tujuan kalian?" tanya Sir Derick, menekankan tiap suku kata di kalimatnya. "Beraninya ... Beraninya kalian menyakiti Tuan Putri! Bukankah Tuan Putri adalah keluarga kalian?!"


"Apakah ... Apakah kalian semua cuma berpura-pura lembut di hadapan Tuan Putri saat di penjara bawah tanah?"


Kallistar mendengus. "Tentu saja, bajingan kuat. Mana sudi aku menganggap dia sebagai adikku."


Manik Sir Derick yang berwarna cream bergetar. Bilah pedang yang masih ditodongkan ke leher Etrill pun turut bergetar samar.


"Kenapa? Kenapa?! Bukankah Tuan Putri mencintai kalian?! Mengapa kalian membalas cinta Tuan Putri seperti ini?!" Sir Derick tiba-tiba berteriak dengan marah.


Sementara itu, aku terdiam. Aku tidak pernah sekalipun mengatakan pada Sir Derick bahwa aku mencintai keluargaku? Lalu, mengapa dia malah mengambil persepsi yang salah mengenai bagaimana pandanganku terhadap keluargaku? Apakah karena percakapan singkat di penjara bawah tanah itu sehingga Sir Derick menyalahartikan kalimatku?


"Kau, Ksatria," Etrill membuka bibirnya setelah sekian lama bungkam. "Tutup mulutmu, kau tidak tahu apa-apa mengenai kami."


Napas Sir Derick makin memburu. Dia menarik pedangnya dan mengembalikannya ke sarung.


"Saya akan memberi tahu Yang Mulia," kata Sir Derick sambil melirikku yang masih bersembunyi di punggungnya.


"Tidak," kataku.


Sir Derick mengerutkan dahinya. "Mengapa, Tuan Putri? Mereka sudah menyakiti Tuan Putri! Padahal mereka sudah diselamatkan oleh Tuan Putri dari jerat kematian!"


"Ayah, Kakak." Aku mengabaikan Sir Derick dan melirik dua pria itu dari balik punggung Sir Derick. "Jamuan minum teh sudah berakhir, silakan kembali ke ruangan kalian."


Etrill dan Kallistar sama sekali tidak protes dengan membalikkan tubuh untuk  meninggalkan ruangan.


"Tuan Putri!" sela Sir Derick.


Aku meraih tangannya yang berbalut sarung tangan. "Tenangkan dirimu."


"Bagaimana bisa saya merasa tenang, Tuan Putri?! Tahukah Anda betapa cemas dan sakitnya hati saya ketika melihat mereka menyakiti Anda?!"


"Tenang," kataku, mengulang kalimatku.


Sir Derick menggigit bibirnya keras. "Katakan pada saya, Tuan Putri. Mengapa Anda melepas mereka? Apakah karena Tuan Putri begitu menyayangi mereka?"


Malaikat yang satu ini bicara apa, sih? Menyayangi mereka? Mendengarnya saja nyaris membuatku mual.


"Tentu tidak, Sir Derick."

__ADS_1


"Katakan pada saya alasannya. Akan saya tolerir apabila alasan tersebut masuk akal. Dan jika tidak, saya akan langsung melaporkan hal ini pada Yang Mulia."


Aku mengembuskan napasku. Sir Derick dikuasai emosi yang tak pernah dia tunjukkan padaku.


"Aku tidak bisa langsung menyerahkan mereka karena aku harus memegang kalimatku di koran gosip. Aku akan memberi hukuman pada mereka, setelahnya aku akan mengasihi mereka. Apa kata orang jika aku tiba-tiba memberi hukuman? Hal ini akan berdampak pada pengaruhku menjadi—"


"Pengaruh, pengaruh, pengaruh! Tuan Putri! Persetan dengan pengaruh itu! Mengapa Anda tidak memikirkan diri Anda sendiri?! Mereka berniat untuk membunuh Anda dan siapa yang peduli dengan pengaruh Anda menjadi ratu?!"


Aku terkesiap pada Sir Derick yang tiba-tiba membentakku. Ini pertama kalinya Sir Derick menaikkan nada suaranya padaku, dengan emosi membara di sorotnya, apalagi manik cream yang mulai berkaca-kaca.


Sir Derick memegang kedua bahuku. "Tuan Putri, memangnya seberapa penting pengaruh itu hingga Anda tidak memikirkan diri Anda sendiri? Mengapa Anda selalu memikirkan hal-hal yang bisa dicemaskan nanti saja dibandingkan hal-hal yang perlu dicemaskan saat ini?"


Aku mengerutkan dahiku dan menepis kedua tangan Sir Derick di bahuku. Tiba-tiba aku merasa kesal.


"Itu sangat penting," tekanku. "Sir Derick, sekali lagi, pengaruh itu sangat penting! Mungkin kamu tidak tahu karena kamu tidak pernah menjadi aku! Kamu tidak mengerti perasaanku! Dan kamu tidak mengerti ketakutanku! Apabila aku tidak menjadi ratu, apabila pengaruh ratu menghilang satu-persatu setelah susah payah kubangun ...! Maka, aku juga akan mati dengan cara yang berbeda dari cekikan ayah dan kakakku!"


Napasku memburu ketika aku meneriakkan kalimatku.


Aku sangat ingin meneriakkan pada pria itu mengenai betapa pentingnya pengaruh ratu. Mengapa itu? Karena jika aku tidak memiliki pengaruh, maka aku tidak akan bisa bertahan hidup. Selayaknya sebuah sponsor di dunia nyata, aku tidak akan bisa bertahan di dunia kejam tanpa dukungan siapa pun.


Jika pengaruh sebagai ratu hancur, maka orang-orang akan menusukkan pedang mereka padaku dan membunuhku dengan cara mereka sendiri. Itu mengerikan.


Bagiku yang sudah bertahan hidup dengan sedemikian rupa di dalam novel brengsek ini, aku telah melewati banyak ketakutan yang mendera. Mau bagaimanapun, takdir Serethy adalah mati. Dan itu mutlak. Namun, aku mematahkan garis takdir dan tidak ada jaminannya jika aku akan terus bertahan hidup ke depannya tanpa perlindungan.


Di dunia pada abad kerajaan yang terasa menyenangkan, abad ini memiliki sisi gelapnya pula. Kerajaan tidak akan segan-segan memenggal seseorang yang tak memiliki pengaruh untuk melindungiku, kerajaan akan membunuhku jika aku melakukan kesalahan sekecil apa pun. Selayaknya Selene. Selayaknya kesalahan yang dilakukan Selene.


Memikirkannya membuatku nyaris gila. Aku tidak tahu apakah aku benar-benar bisa bertahan dari kehidupan terkutuk ini. Satu-satunya kekuatan bagiku adalah dengan mengumpulkan sebanyak mungkin pengaruh dari rakyat Asher. Dukungan dari rakyat, kehormatan yang diberikan para bangsawan, dan pengakuan sebagai ratu Asher dari semua kalangan.


Sebab, kesalahan setetes tinta di lautan yang kulakukan akan menenggelamkan ribuan kebaikan yang berlalu.


Aku melirik iris cream Sir Derick yang terlihat begitu menyedihkan. Perlahan, air mata menetes dari sana, seolah menahannya di balik kelopak sudah tak mampu ia lakukan.


"Maafkan saya, Tuan Putri." Sir Derick berlutut di depanku. Bahunya berguncang keras, isakannya terdengar nyaring, tetapi ia memaksakan dirinya untuk bicara walau kata yang diutarakan menjadi tidak jelas, "Maafkan saya. Saya sangat lancang, Tuan Putri. Saya cuma ksatria Tuan Putri, tidak memiliki kuasa untuk ikut campur dalam kehidupan Tuan Putri."


Aku melihat bahu Sir Derick yang bergetar dengan perasaan pelik di dada, tetapi aku memutuskan untuk melewati tubuhnya dan keluar dari ruangan.


Aku menggigit bibirku seiringan dengan langkah kaki yang kutempuh di lorong besar istana.


Aku membentaknya. Aku tidak sengaja. Aku merasa bersalah sekarang.


Bahkan semenjak aku belum menjadi Serethy, aku selalu membentak orang lain dengan kasar jika mereka membuatku kesal atau tidak mengerti keadaanku. Oleh karena itu, aku memilih diam dan mengabaikan semuanya agar aku tidak meledakkan emosiku di hadapan mereka dan membuat mereka membenciku.


Akan tetapi, aku meledakkan segalanya pada Sir Derick. Aku minta maaf padamu Sir Derick, tapi aku akan memenangkan diri terlebih dahulu sebelum menemuimu dan meminta maaf dengan tulus.


...***...


Sir Derick merasa sedikit khawatir ketika Serethy memintanya untuk berjaga di balik pintu karena perasaan mengganjal di hatinya. Namun, Sir Derick berusaha untuk mengacuhkan perasaan tak enak hati di dada. Tato di balik jantungnya pun sedikit terasa panas. Itu adalah tato ketika Sumpah Ksatria terbentuk, merupakan tanda bahwa Sir Derick akan melindungi Serethy bahkan dengan mengorbankan nyawanya sekalipun.


Dan benar saja apa kata hatinya, jantungnya seolah diremas kuat sehingga Sir Derick kesulitan bernapas. Ini adalah pertanda bahwa lady yang dilindungi tengah berada dalam kondisi yang membahayakan nyawanya.


Tanpa pikir panjang, Sir Derick langsung mendobrak pintu tanpa memedulikan napasnya yang terasa sesak. Dan betapa murkanya ia ketika melihat Kallistar menjambak rambut Serethy dan Etrill yang mencekik Serethy.


Akal sehat Sir Derick seolah menghilang dan apa yang dia pikirkan adalah menyelematkan Serethy.


"Pengaruh, pengaruh, pengaruh! Tuan Putri! Persetan dengan pengaruh itu! Mengapa Anda tidak memikirkan diri Anda sendiri?! Mereka berniat untuk membunuh Anda dan siapa yang peduli dengan pengaruh Anda menjadi Ratu?!"


Hingga tanpa sadar, Sir Derick membentak gadis yang ia kasihi. Sir Derick bahkan tersentak ketika mendengar suaranya yang naik, atau ketika melihat sorot terkejut di manik violet Serethy.


Sir Derick tidak bermaksud untuk membentak gadis yang ia kasihi. Hanya saja, Sir Derick cukup muak dengan pengaruh yang berusaha Serethy dapatkan dengan mati-matian.


Pertama, menemui Arcelio dan menyayatkan pisau ke lengannya. Sir Derick ingin berteriak marah ketika melihat darah yang mengucur deras, tetapi menahan diri karena syarat Serethy untuk mengikutinya adalah dengan berdiri di belakangnya dan bungkam, tanpa ikut campur.


Kemudian, di mana Serethy susah payah menenangkan kutukan Cioten, di mana Sir Derick pula tahu bahwa menenangkan kutukan adalah menyiksanya.


Lantas, Serethy akan melakukan apa pun untuk menarik pengaruh ke belakang punggungnya seperti menyembuhkan ribuan rakyat Asher dengan kekuatan sucinya. Seolah mendapatkan pengaruh dari seluruh orang di negara ini merupakan kewajiban baginya, bahkan tanpa memikirkan risiko bagi tubuhnya sendiri.


Serethy kelelahan, Sir Derick bisa tahu. Menyembuhkan ribuan rakyat Asher bukanlah hal yang mudah meskipun kekuatan suci Serethy sangat kuat. Jika bisa, Sir Derick ingin menentang keputusan ini dan menyadarkan Serethy bahwa dia tak perlu berkorban banyak untuk Kerajaan Asher.


Sir Derick merasa muak melihat gadis yang dikasihinya mendera luka yang disembunyikan di balik permukaan kulitnya dengan lihai.


Sir Derick turut patah apabila Serethy hancur.


Dan betapa Sir Derick tak bisa menghentikan isakannya ketika Serethy meninggalkan ruangan. Perih, perih di dadanya tak terbantahkan.


"Maaf, Tuan Putri," gumam Sir Derick. "Maafkan aku, Serethy."


...***...


Aku berharap kalian nggak memandang Serethy bahwa dia naif di sini. Nggak (menurut pandangan penulis), itu karena pengaruh di zaman kerajaan itu sangat penting. Menurut pengetahuan yang aku punya dari membaca dan menonton, bahkan ratu yang memiliki pengaruh pun bisa dipenggal mati kalo rajanya nggak suka. Apalagi ratu yang bahkan nggak punya pengaruh? Lebih parah malahan. Dan juga, di Asher, udah berabad-abad ratu yang dinobatkan nggak ada yang waras. Oleh karena itu, Serethy terlalu paranoid dan terlalu mentingin pengaruh.


Tapi itu opini penulis, kalian bisa beropini sesuka hati kalian, bebas. Aku nggak mau kalian salah paham saja, okey?

__ADS_1


Kalau gitu, semoga hari kalian menyenangkan terus ya <3!


__ADS_2