I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]

I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]
38. Tidur Abadi


__ADS_3

"Kudengar kau banyak menyembuhkan orang hari ini."


Tak, Viten meletakkan cangkir teh di atas tatakan dengan bunyi nyaring.


Sinar rembulan memasuki kisi-kisi jendela ruang kerja Viten. Di mana kini, terdapat satu sudut spesial untuk kami yang selalu berkumpul berdua untuk minum teh. Bisa dikatakan bahwa setelah lamaran konyol itu, Viten kerap kali mencoba untuk menyisihkan waktunya untukku.


Aku melirik tiga buah lilin di atas meja yang berpendar, lantas menjawab, "Itu benar, Yang Mulia. Namun, meski sudah melakukan konsultasi seharian, aku bahkan belum menyembuhkan setengah dari yang datang ke kuil. Terpaksa, beberapa bagian dari yang datang bahkan harus bermalam lagi di halaman kuil."


Viten mendengus. "Biarkan saja. Mereka terlalu rakus."


"Kamu kejam sekali pada rakyatmu, Yang Mulia. Bukankah hal yang masuk akal apabila mereka menginginkan kehidupan tanpa penyakit? Setidaknya, Anda memberikan beberapa akomodasi untuk mereka yang bermalam di kuil."


"Aku bukan kau yang menghabiskan dana bagi Tuan Putri untuk mengakomodasi mereka. Aku tidak mau mengikutimu yang membuatkan mereka tenda untuk tidur atau memberi makanan dan minuman secara gratis."


Aku terkekeh kaku. Kini, sebagai Tuan Putri, aku kehabisan dana untuk kugunakan pada hal-hal mewah selayaknya nona bangsawan lainnya. Yah, bukannya aku benar-benar peduli ketika di hadapanku saat ini merupakan sebuah atau seorang dompet berjalan.


Jika menilai situasinya, apabila aku meminta segunung emas, Viten pasti akan langsung menghadiahkannya padaku dengan senang hati.


"Apakah kamu tidak senang karena itu uangmu?" tanyaku sambil memamerkan senyuman polos dan lembut.


Viten mengerutkan dahi. "Tidak. Itu uangmu ketika aku sudah memberikannya padamu."


"Maka, tidak ada yang salah dengan membantu para rakyat." Aku meraih cangkir teh di atas meja. "Aku juga tentu tidak bisa membiarkan semua orang mati karena kedinginan dan kelaparan saat menanti giliran mereka tiba. Sudah sepantasnya bagiku untuk memberikan mereka kenyamanan, bukan?"


"Kau licik sekali." Viten menuangkan teh ke cangkirku yang kosong. "Kau itu menyuap mereka. Kau tahu itu?"


"Aku tahu, Yang Mulia. Namun, itu sudah hukum alam ini. Mereka yang lemah akan tunduk pada siapa pun yang mengulurkan tangannya pada mereka."


Viten melirikku dengan sorot aneh di matanya. "Aku bahkan mendapat beberapa laporan dari bangsawan dan ucapan terima kasih mereka karena kau sudah menyembuhkan penyakit yang diderita oleh mereka. Katanya, kau berhasil membuat mereka mempertahankan keturunan mereka yang sekarat dan bisa meneruskan marga keluarga mereka dengan bangga. Lalu, banyak juga nona-nona muda yang ingin menjadi teman sosialitamu. Atau nyonya bangsawan yang sangat tertarik padamu. Atau bagaimana mereka mau menandatangani perjanjian politik denganku asalkan anak mereka diselamatkan dari penyakit mematikannya. Ada juga yang menyerahkan tambang permata mereka secara sukarela untukmu. Faksi yang awalnya menentangku pun menjadi luluh dan bekerja sama denganku."


Viten menutup matanya dan mengembuskan napasnya secara perlahan. Kala dia membuka matanya dan menampilkan manik merah yang berpendar dalam kilauan luna, itu merekah. Sudut bibirnya naik, membuat panorama di hadapanku makin terlihat begitu menawan dan bisa-bisa membuatku tertawan.


"Bagaimana bisa kamu membalikkan kerajaanku seperti ini, Serethy? Tidak pernah dalam bayanganku, kau akan menjadi sosok yang memutar balik takdir."


Memutar balik takdir? Pria ini bicara apa?


Namun, aku hanya mengulas senyuman kecil. "Bukankah aku sangat menakjubkan, Yang Mulia?"


Viten mengangguk dengan cepat. Di matanya yang merekah, tercipta bunga-bunga musim semi yang bermekaran. Memukau, dia terpukau.


"Sangat. Kau sangat menakjubkan. Aku jadi sangat ingin memberikanmu apa pun yang kau mau sebagai gantinya."


"Akan kupegang kalimatmu, Yang Mulia."


Viten tertawa kecil.


Ya ampun, pribadi psikopatnya kini benar-benar menghilang dan berubah menjadi pribadi yang lebih lembut, santai, serta ceria. Bukannya aku tidak bersyukur. Aku sangat bersyukur bisa merubah takdir malang Serethy di dalam novel menjadi kehidupan yang layak untuk dijalani.


"Koran gosip yang ditulis Madam Kricia juga cukup memersuasi. Mau bagaimanapun, cara Madam Kricia meyakinkan khalayak di dalam tulisannya tak bisa membuatku berhenti kagum."


Aku tersenyum. "Itu benar, Yang Mulia. Dan juga, Madam Kricia memegang ucapannya dengan mengucapkan hal-hal yang aku jawab selama wawancara berlangsung."


"Tentu saja. Jika Madam Kricia melebihkannya, mungkin Madam ingin mati."


Aku mengembuskan napas. "Meski Madam Kricia adalah pengasuhmu ketika kamu masih kecil?"


"Aku memang berterima kasih padanya karena telah mengasuhku saat aku kecil, tetapi jika dia membuat Kerajaan Asher menusukkan pedangnya padamu, aku tidak akan segan untuk mengangkat pedangku padanya."


Aku mengerutkan dahi untuk menyembunyikan perasaan salah tingkah di hatiku. Bajingan gila ini tahu dengan jelas bagaimana membuatku salah tingkah dengan mengatakan hal-hal yang manis.


"Ahem, Yang Mulia. Dan koran gosip itu membuatku mendapatkan banyak dukunganku sendiri."


Salah satu sudut bibirnya naik, membentuk seringaian. "Kini, banyak rakyat yang mulai menaruh perhatian padamu, Serethy. Ada banyak orang yang mendukungmu untuk menjadi Ratu. Meski kontroversi masih belum benar-benar berakhir, tapi rata-rata dari seluruh rakyat Asher telah menyatakan dukungan mereka terhadapmu. Dan untuk itu saja, kau melakukannya dengan sangat hebat. Aku sangat bangga padamu."

__ADS_1


Aku tersenyum. "Senang mendengar pujianmu."


"Kau akan banyak mendengar hal yang sama di masa depan."


Aku hanya tertawa canggung.


"Dan kau juga menenangkan kutukan Cioten," lanjut Viten, terus menyambung percakapan seolah tak ingin momen ini cepat-cepat berakhir. "Aku tahu itu adalah kutukan Dewa Kematian. Namun, aku bahkan tidak tahu mengapa Dewa Kematian memberikan Cioten kutukan."


Viten bahkan tidak tahu mengapa Cioten dikutuk. Itu informasi baru bagiku. Namun, sebenarnya apa alasan Dewa Kematian mengutuk Cioten? Pria itu, jika ditilik dari masa lalu kelamnya, bukankah dia merupakan anak laki-laki yang polos? Lantas, untuk alasan apa Dewa Kematian dengan kejamnya menanam kutukan di dalam tubuh Cioten?


Aku membawa tepi cangkir ke bibirku, menghirup wanginya. "Aku hanya bisa menenangkan kutukannya untuk sementara waktu. Aku masih belum tahu cara untuk menghapus kutukan itu sepenuhnya. Apa yang kulakukan selama ini hanyalah menunda kematian Pangeran."


"Itu saja sudah lebih dari cukup." Viten mengangguk. "Aku sangat ingin melihat Cioten hidup hingga dia mati di usia tua. Kau tahu, Serethy? Aku sangat ingin Cioten menemukan seseorang yang dia cintai, menjalani kasih, membuat keluarga, dan hidup bahagia tanpa perlu terkekang. Itu saja sudah cukup bagiku."


Aku mengerutkan dahi. "Lalu, bagaimana denganmu?"


Viten tampak kebingungan ketika aku malah menyebutkan namanya. "Aku?"


"Ya. Bagaimana denganmu, Yang Mulia? Apakah kamu juga benar-benar bahagia atas pilihan yang kamu ambil? Apakah kamu juga benar-benar bisa bebas dan mengekspresikan apa yang kamu suka tanpa khawatir, Yang Mulia?"


Wajahnya kini berubah kaku. Dia kesulitan mengutarakan jawabannya. Viten terus membuka dan menutup mulutnya, seakan kata yang berada di ujung lidah malah lari kembali ke tenggorokan dengan sendirinya.


"Aku—"


Belum sempat mendengar jawaban Viten, kami telah lebih dulu terinstrupsi dengan ketukan tak berirama di pintu. Terkesan terburu-buru.


"Yang Mulia!" Kemudian, pintu dibuka dengan kasar. Staf yang bekerja di istana membungkuk dalam. "Maafkan saya karena sudah tidak sopan! Namun, Ibu Suri! Ibu Suri tengah menemui ajalnya!"


"Apa?"


Aku bisa melihat wajah Viten yang berubah aneh. Campur aduk emosi di wajahnya membuatku kesulitan untuk membaca ekspresinya.


"Ibu Suri mengharapkan Anda untuk berada di proses kematiannya." Staf itu menegakkan tubuhnya dan memandangku lurus. "Ibu Suri juga mengharapkan kehadiran Anda, Tuan Putri."


...***...


Ibu Suri seharusnya merupakan selir elit dari kalangan bangsawan, tetapi karena Ratu Asher mati diracuni, status sosialnya tiba-tiba naik dan dia diangkat menjadi Ratu.


Akan tetapi, putri kandungnya menghilang di satu waktu. Rumor mengatakan bahwa putri malang itu telah dijual untuk menjadi budak atau dibunuh. Hingga sekarang, tak pernah ada lagi rumor yang menyebar mengenai putri itu. Seolah eksistensinya sendiri telah luntur dan mati.


Ketika kami tiba di Istana Permata, tempat tinggal Ibu Suri, banyak pelayan dan ksatria yang berkumpul di satu waktu.


Dan kala kami tiba di ruang kamar Ibu Suri, kamarnya telah ramai oleh orang yang berkumpul.


Beberapa pelayan berbaris di sudut kamar, sebagian bahkan terisak dan sebagian lagi menahan tangisnya. Kemudian, Eladio Cyrill, duduk di samping Ibu Suri sambil menggenggam jemarinya yang pucat dan kurus.


Cioten, entah mengapa, dia tidak bisa menahan berat badannya sendiri dan bersandar di sudut ruangan.


Akhirnya, Viten maju.


Ibu Suri, Calmaria Belith Asher, terbaring tak berdaya di atas ranjang dengan pandangan kosong mengarah ke plafon kamarnya.


Rambutnya yang berwarna zamrud dan iris mata hitam, seolah telah menjadi ciri khas bagi Cyrill. Kemudian, wajah pucat dan tubuh yang sangat kurus, beberapa bagian tubuhnya bahkan menunjukkan lekukan tulang di permukaan kulitnya, serta pipi yang tirus seakan kehilangan harap dan esensi di dalamnya.


Calmaria terlihat menyedihkan.


"Ibu Suri," panggil Viten. Vokal dalam partitur nada yang dikenakannya terdengar bergetar dengan samar.


Calmaria menggerakkan matanya, lalu susah payah menaikkan kedua sudut bibirnya menjadi senyuman yang tipis.


"Lihatlah." Suara Calmaria bergema di ruangan yang penuh isak tangis.


Bahkan Eladio Cyrill, pria yang kehilangan putrinya dengan wajah yang dingin, tampak putus asa.

__ADS_1


"Lihatlah, putraku yang telah menjadi raja," lanjut Calmaria dengan susah payah. Seakan nyawanya telah berada di ujung tenggorokan.


Suara Viten pecah. "Ibu Suri?"


"Tidak apa-apa, putraku. Mendekatlah."


Viten mendekat dan bersimpuh di depan Calmaria.


Melihat interaksi keduanya membuatku kebingungan. Bukankah seharusnya Viten membenci Calmaria? Calmaria adalah satu-satunya penyebab Viten tidak mendapatkan kasih sayang keluarga. Satu-satunya alasan yang memisahkan Viten dan Cioten. Satu-satunya orang yang mengirim Cioten ke paviliun yang jauh dari istana. Satu-satunya alasan yang menekan Viten untuk menjadi Raja yang baik. Satu-satunya orang yang telah menyakiti Viten secara mental.


Lantas, mengapa kematian Calmaria membangkitkan duka di hati Viten?


"Tuan Putri."


Aku tersentak kala suara lemah Calmaria memanggilku.


"Mendekatlah."


Ragu sejenak, aku ikut bersimpuh di samping Viten.


Jemari kurus yang hanya menampilkan tulang di setiap buku jarinya mengelus rambutku.


"Kamu adalah calon Ratu yang baik. Aku bisa tahu itu. Aku bisa tahu hanya dengan mendengarkan rumor mengenaimu, Tuan Putri. Aku mendukungmu sepenuhnya." Calmaria mencoba untuk tersenyum di bibirnya yang pucat. "Jika kamu memiliki keturunan nanti, tolong kasihi anakmu."


Aku tidak menjawab dan hanya mengulas senyuman tipis.


"Putraku," panggil Calmaria dengan penuh kasih di matanya pada Viten. "Kamu akan terus menjadi putraku yang hebat, begitu pula Cioten. Kamu telah bekerja keras menjadi Raja dan memenuhi tanggung jawab besar sebagai Raja. Ibumu ini bangga padamu."


Manik Viten bergetar. Tak lama kemudian, kaca yang ditahan mati-matian olehnya luruh.


"Tidak apa-apa. Menangis saja," sambung Calmaria. "Menjadi raja bukan berarti tidak menjadi manusia. Kamu bisa menangis."


Setelah mendengarkan nada sayu Calmaria, pundak Viten bergetar dengan hebat.


"Ibu, Ibu, Ibu."


Viten mulai merengek dan memanggil ibunya dengan isakan, seolah Viten merupakan seorang anak berusia lima tahun yang kehilangan ibunya di pasar malam.


"Putraku, Viten dan Cioten. Ibumu ini bangga pada kalian berdua. Viten, maafkan Ibu telah menabur luka di hatimu. Dan Cioten." Calmaria melirik Cioten di sudut kamarnya, lalu tersenyum lebih lebar tetapi sendu. "Maafkan Ibu. Kesalahan Ibu terlalu banyak untukmu, maafkan Ibu."


Calmaria tersenyum, tetapi air matanya menetes di sudut mata. Dan di saat yang bersamaan, matanya yang berwarna hitam bersembunyi di balik kelopak mata.


Tangis langsung meledak di dalam ruangan, bersahutan, menunjukkan bahwa merekalah yang paling sedih atas tidur abadinya sang mantan ratu.


Dokter Kerajaan maju dan memeriksa denyut nadi Calmaria. Namun, Dokter Kerajaan hanya menggeleng dan kembali mundur.


Tangis mulai pecah dan runtuh.


Beberapa pelayan jatuh terduduk seolah tak mampu menerima kenyataan. Begitu pula Cioten yang langsung melarikan diri dari dalam ruangan.


Aku yang sama sekali tidak mengerti keadaan hanya bisa bungkam. Menyaksikan bagaimana bajingan gila di sampingku terlihat pecah dan hancur karena kematian ibunya.


Itu adalah sisi yang baru bagiku.


Aku menggigit bibir. Suasana duka di mana-mana membuat hatiku terasa sesak.


...***...


Masuk masa lalu si kembar, are you ready?


Besok aku akan update lagi, mohon nantikan ya 😍❤️


13 Desember 2022

__ADS_1


__ADS_2