![I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]](https://asset.asean.biz.id/i-will-avoid-the-death-flag--sudah-terbit-.webp)
Cara membaca Cadeearo adalah Kadiaro jika kalian belum tahu.
...***...
Apa yang Alverro takuti adalah rasa kesepian. Itu adalah ketika Alverro benar-benar hanya memiliki dirinya sendiri untuk bersandar.
Alverro belum mendapatkan marga Cadeearo saat itu.
Alverro hanyalah anak malang yang lahir dari selir Duke Lloyd Cadeearo. Alverro tidak diperlakukan dengan baik oleh semua orang yang berada di kediaman Cadeearo. Mereka hanya berbuat baik pada Duchess dan putra mereka yang masih bayi.
“Apa yang dilakukan anak pelacur di pesta ini?”
“Dengar, ya, walau Duke Llyod mencintai ibumu yang seorang pelacur itu, dia hanya dijadikan sebagai selir rendahan.”
“Duke Lloyd pasti hanya mencintai Duchess. Jadi, jangan pernah bermimpi untuk menjadi Cadeearo dengan darah rendahan di tubuhmu!”
Sepupu dan anak dari selir Duke lainnya terus menghina Alverro di setiap pesta yang dia hadiri.
Mereka selalu mengatakan hal-hal buruk mengenai Alverro. Bahkan, walaupun Alverro sebenarnya tidak melakukan dosa apa pun di dalam kehidupannya, orang-orang lain akan memandang kehadiran Alverro sebagai sebuah kejahatan.
Ibunya adalah pelacur. Itu benar. Mereka benar. Hanya saja, Alverro tidak suka ketika ibunya dimaki dan diejek. Memangnya putra mana yang menginginkan ibunya untuk direndahkan?
Ibunya bekerja sebagai pemuas nafsu para pria, lalu Duke Lloyd mencintainya ketika Duke sedang melakukan inspeksi di duchy. Kemudian, Alverro lahir dari hubungan tanpa pernikahan, yang membuat statusnya sebagai anak haram rendahan.
Ibunya diangkat sebagai selir, tetapi kenaikan status sosial tidak membuat semuanya berjalan baik-baik saja. Justru, seluruh orang memperlakukan Alverro dan ibunya dengan sangat kejam di balik punggung Duke. Seolah-olah sebuah alasan mengenai tidak perlu menghormati anak haram adalah hal yang membuat mereka terus melakukan hal-hal terkutuk pada Alverro.
Hal itu pula yang membuat Alverro hanya bergantung pada dirinya sendiri. Bertahan sendirian. Lagi dan lagi. Hingga rasanya menyesakkan. Sebab, beban tersebut terlalu berat di pundaknya yang terlalu rapuh.
...***...
“Apa yang kamu lakukan di sana?”
Alverro mendengarkan nada suara yang tenang tertuju padanya.
Suara itu tidak familier di telinganya, sehingga ketika Alverro mendongak, Alverro langsung bertemu pandang dengan manik hitam legam yang asing. Akan tetapi, seolah Alverro telah terjebak dalam sihir, dia tidak dapat mengalihkan pandangannya dari danau gelap penuh misteri yang tercetak di bola matanya.
“Bersembunyi?” lanjut gadis kecil itu. Sepertinya dia lebih muda dari Alverro dan tubuhnya juga beberapa inci lebih pendek dari Alverro.
“Ya.” Alverro mengangguk kecil. Dia bersembunyi di taman labirin mawar di taman kediaman Cadeearo. Berlari. Berlari dari para penindas Alverro. “Aku bersembunyi.”
“Mengapa?”
“Aku takut. Mereka benar-benar jahat kepadaku.”
“Mereka jahat kepadamu?” Gadis kecil itu mendekatkan tubuhnya pada Alverro. Kini, Alverro bisa melihat figur dan postur wajahnya dengan lebih jelas lagi.
Gadis itu mengenakan gaun pesta berwarna pastel dan itu terlihat sangat cocok di tubuhnya. Rambutnya yang zamrud begitu memukau hingga Alverro kesulitan mengalihkan pandang. Akan tetapi, apa yang paling Alverro suka adalah bagaimana kedua pasang danau yang penuh dengan misteri itu meniliknya. Alverro menyukainya.
Alverro menganggukkan kepalanya. “Mereka jahat padaku. Mereka selalu mengataiku bahwa aku adalah anak pelacur dan aku tidak pantas untuk hidup.”
Gadis itu mendengus. “Seseorang yang kukenal pernah mengatakan bahwa kau harusnya melawan mereka.”
“Siapa seseorang itu?”
“Ibuku.”
Alverro mengerjap. Dia tidak tahu harus berbuat apa.
“Sebagai Cyrill, kita harus melawan jika ada seseorang yang merendahkan harga diri kita." Jeda sejenak. "Hei, berapa usiamu?”
“Bukankah kamu seharusnya menanyakan namaku terlebih dahulu?”
“Terserah. Siapa namamu?”
“Alverro.”
“Cadeearo?”
“Aku tidak dapat marga keluargaku.”
“Cadeearo brengsek.”
Alverro tersentak. Kepalanya lalu menengok ke sana dan kemari, seolah memastikan hanya ada mereka berdua di labirin mawar ini.
Alverro lalu mengembuskan napasnya lega setelah memastikan tidak ada yang menguping pembicaraan mereka.
“Kau harus melawan, Verro.”
“Namaku Alverro—“
“Kupanggil kau Verro. Jadi, Verro. Kau harus mulai melawan mereka. Kau sangat menyedihkan hingga aku nyaris memberikanmu perasaan simpatik milikku. Jadi, katakan Verro, apakah kau tertarik pada sebuah permainan? Sebuah permainan untuk menunjukkan siapa yang lebih pantas mendapatkan kursi Duke Cadeearo?”
***
Mengenal Clare membuat kehidupan Alverro terasa lebih hidup.
Alverro tidak lagi merasakan rasa kesepian yang menyiksa, atau ketika dia membutuhkan seseorang untuknya bersandar, Alverro bisa menemukan Clare.
Di matanya yang biasanya hanya menatap sepasang sepatunya, Alverro kini bisa menegakkan kepalanya dan bahkan memandang rendah para sepupunya.
Usia Alverro adalah dua belas tahun saat itu ketika dia akhirnya memutuskan untuk mengikuti permainan yang disebutkan oleh Clare. Dan ini adalah permainan pertama, yaitu membuat rencana gila; membunuh Duchess dan putranya.
Awalnya Alverro menolak keras. Membunuh orang lain memiliki risiko yang besar. Sebab, Alverro tidak yakin dapat menanggung segalanya di atas telapak tangannya yang kecil.
Namun, Alverro berhasil.
Duchess dan putranya terlibat dalam kecelakaan kereta kuda dan Alverro sama sekali tidak dikaitkan atas kecelakaan tersebut. Orang dewasa pasti akan berpikiran bahwa anak-anak berusia dua belas tahun tidak akan mampu membunuh orang lain, sehingga mereka mengabaikan Alverro dengan mudahnya.
Rumor mengenai kecelakaan kereta kuda dilebih-lebihkan dan akhirnya malah saling menuduh orang-orang yang dikira bisa terlibat dalam kecelakaan.
Kecelakaan itu terjadi pada musim panas, di mana tanah menjadi tandus dan udara menjadi kering. Mungkin orang-orang mengira bahwa kuda kehausan dan akhirnya melompat dari tebing karena gila.
Tidak ada yang tahu bahwa orang-orang yang dibayar Clare-lah yang memancing kuda gagah untuk memasuki jalan yang salah dan akhirnya terjatuh dari tebing setinggi ratusan kaki karena salah langkah.
Begitulah bagaimana Alverro akhirnya mendapatkan marga Cadeearo setelah ibunya diangkat menjadi Duchess. Yah, mau bagaimanapun ibu Alverro adalah selir yang dicintai oleh Duke Lloyd.
“Permainan belum berakhir,” kata Clare sambil tersenyum tenang. Tangannya mengangkat cangkir teh di atas meja dengan pergerakan yang indah, layaknya terpaan sayap kupu-kupu, kemudian menyesap teh dengan anggun.
Alverro terpana, tetapi berusaha untuk merasionalkan pikirannya. Clare hanyalah gadis yang membantu Alverro untuk mendapatkan marga Cadeearo, tidak lebih. Dan menaruh perasaan pelik pada gadis itu itu bukanlah opsi yang bagus.
“Permainan itu belum berakhir, Verro. Kau tahu sendiri, kan, bahwa sistem yang dianut oleh keluargamu adalah persaingan keturunan untuk mendapatkan kursi Duke? Kau harus melihat beberapa permainan yang menyenangkan lagi ke depannya.”
Seolah terpengaruh hebat oleh perkataan Clare, Alverro akhirnya mulai membunuh satu-persatu seluruh keturunan Cadeearo, dibantu oleh Clare.
Tentu saja pembunuhan tersebut sangat bersih, tidak ada bukti dan jejak tak berguna yang menunjukkan bahwa pelaku utamanya adalah Alverro.
“Nona Clare, kenapa kamu mau melakukan semua itu?” tanya Alverro, di satu musim panas di mana usianya kini menginjak lima belas tahun.
Alverro melirik Clare yang duduk di atas kursi dalam acara minum teh.
“Verro, aku akan menjadi ratu.”
Alverro mencoba untuk mendengarkan Clare lebih jauh lagi dengan menatap matanya.
“Aku akan jadi ratu dan menunjukkan bahwa otakku tidak udang, otakku bisa digunakan pada hal-hal yang menguntungkan. Dan bagaimana aku bisa menuntun orang lain terhadap lubang kematian mereka jika mereka berulah.”
“Mengapa kamu ingin menjadi ratu, Nona Clare?”
“Apa aku belum mengatakannya padamu, Verro? Aku ingin menjadi ratu agar Ayah mencintaiku.”
Sebagai seorang putri yang mengharapkan kasih sayang ayahnya, Clare telah melakukan banyak pengorbanan. Banyak sekali pengorbanan hingga apabila Clare melakukan satu langkah yang salah, leher Clare akan terjebak dalam kalung rantai layaknya anjing dan dihina. Lebih parahnya, Clare akan mati.
“Kenapa kamu begitu ingin Tuan Duke mencintaimu, Nona Clare?”
“Mengapa? Itu adalah impianku dari kecil, Verro. Dari ketika aku belajar bicara dan menulis. Aku selalu mempertanyakan di mana keberadaan sosok Ayah pada Ibu, tetapi Ibu selalu mengalihkan pembicaraan. Justru karena hal itu, aku menjadi sangat penasaran dan menginginkan kasih sayang itu.”
Alverro mengerti rasa obsesi Clare. Karena Alverro sendiri merasakan hal yang sama. Alverro ingin dicintai semua orang. Alverro tidak membutuhkan punggung dingin mereka atau hinaan demi hinaan yang terlontar padanya.
Baik Alverro dan Clare, keduanya menginginkan hal yang serupa; kasih sayang. Keduanya terlalu rakus pada sebuah obsesi untuk mendapatkan perasaan abstrak tersebut sehingga lupa bahwa tak semua harapan bisa terkabulkan layaknya membalikkan telapak tangan.
...***...
Clare hanya bisa mengusap punggung itu perlahan.
Itu pasti cukup berat, tidak, justru sangat berat. Clare tahu dengan jelas bagaimana rasanya penderitaan tersebut. Penderitaan bahwa kehilangan sosok seorang ibu di dalam kehidupan mereka.
"Brengsek," gumam Alverro.
Mata Alverro yang dihiasi manik safir kini mengeluarkan cairannya. Akan tetapi, sorot yang dipancarkan di dalamnya adalah kemurkaan yang nyata.
"Ibu meninggal dan tidak seorang pun datang untuk menangisinya kecuali aku?" Suara Alverro bergetar.
"Ada aku, Verro." Clare membelai rambut Alverro dengan lembut. Seolah mengatakan bahwa Alverro tidak sendiri kala menjalani ini. Ada Clare.
"Bajingan-bajingan itu ... mereka membunuh ibuku."
Clare tidak bisa berhenti tersenyum ketika Alverro terus mengatakan hal-hal buruk mengenai mereka.
Perlahan, Clare mendekati telinga Alverro, lantas berbisik, "Mereka perlu hukuman, bukan? Apa kamu mau aku mengurusnya?"
Clare tidak membutuhkan jawaban kala mata Alverro dipenuhi sorot murka.
Satu minggu kemudian, seorang selir mati secara mendadak. Itu adalah kematian yang aneh karena penyebabnya tidak diketahui, tetapi dia mati dengan seluruh kulitnya yang menggelap.
...***...
“Bajingan!”
Alverro menatap putra terakhir keturunan Cadeearo dari selir muda dengan sorot yang dingin, yaitu putra terakhir dari Cadeearo yang masih hidup.
Anak itu menggenggam erat-erat pakaian Alverro hingga kusut.
"K-Kau! Rupanya kau yang membunuh semua keturunan Cadeearo!"
Alverro hanya memandang anak itu dengan tatapan rendah. Seolah menunjukkan bahwa Alverro-lah yang berada di atas, di puncak, lebih dari siapa pun. Tidak terbantahkan. Lantas, laki-laki di depannya seakan meminta duel dan berakhir dengan kehilangan nyawanya sendiri.
Akhirnya, anak dari selir terakhir mati dan tubuhnya terjatuh di lantai dengan debam pelan. Pakaian Alverro berakhir kusut, tetapi Alverro lebih memedulikan hal-hal seperti menghapus bukti-bukti penting yang akan menuntun pihak keamanan dan hukum kerajaan untuk menuduh Alverro menjadi pelaku kejahatan.
Alverro memandang tubuh anak itu sekali lagi. Di bibirnya dipenuhi oleh darah dan kulitnya menjadi biru karena racun menyebar dengan sangat cepat.
__ADS_1
Alverro tersenyum puas. Kini, hanya dia satu-satunya keturunan Cadeearo.
***
"Peperangan dengan Kerajaan Matria semakin memanas," ujar Clare sambil mengangkat cangkir teh yang baru saja disajikan.
Alverro yang duduk di hadapan Clare mengangguk kecil, ikut meraih cangkir teh, dan menghirup wanginya secara perlahan.
"Ya, hampir seluruh ksatria di Cadeearo dikirim menuju medan perang. Termasuk Duke Cadeearo sendiri, menyisakan saya di sini untuk mengurus duchy sebagai penerus Cadeearo yang sah."
Rumah kaca tempat keduanya minum teh cukup sejuk, terlebih ketika musim panas hampir tiba. Dan juga, ada alasan spesifik mengapa rumah kaca ditentukan sebagai tempat mereka selalu bertemu.
Kedap suara.
Itu adalah rumah kaca dengan kaca yang tebal sehingga suara tidak menembus keluar. Hal ini memudahkan keduanya untuk membagi rencana demi rencana agar membawa keduanya menuju puncak yang diidamkan.
"Usiamu sembilan belas sekarang," kata Clare.
"Itu benar, Nona Clare."
Clare tersenyum kecil. "Apakah kamu sudah cukup puas dengan posisi ini? Bukankah kamu menginginkan posisi yang lebih? Katakan padaku, Verro, maka aku akan mengabulkannya dengan mudah."
Alverro mengembuskan napasnya kecil. "Bagaimana mungkin aku tidak menginginkannya, Nona Clare? Aku sangat menginginkan hal itu. Posisi saat ini sama sekali tidak memuaskanku."
"Benar. Dibandingkan dengan penderitaan yang kamu alami dari Cadeearo, hal itu tentu belum cukup untukmu."
Jemari Clare menyelinap di atas meja, lalu akhirnya menemukan jemari Alverro. Itu dingin bagi Alverro. Rasanya beku walau musim panas hampir tiba.
"Aku akan membunuh Duke. Apa kamu puas?" tanya Clare dengan senyuman tenang di bibirnya.
Sesuatu di dalam diri Alverro bergejolak. Perlahan, senyumnya terlukis di bibir merah muda.
"Ya, Nona Clare. Aku sangat puas." Alverro tersenyum dengan begitu lembut.
"Kalau begitu, akan aku mengurus semuanya."
...***...
Cadeearo berkabung.
Duke Lloyd mati dalam peperangan Asher-Matria.
Itu adalah kematian yang tragis. Di mana kematian tersebut mengambil latar waktu tengah malam dan prajurit Matria-lah yang bertanggung jawab.
Kematian Duke Lloyd merenggut empat puluh persen kekuatan Asher. Di mana peran besar dalam memutar balikkan situasi peperangan adalah dengan kekuatan Duke Cadeearo.
Akhirnya, pada tengah malam itu pula, peperangan dilangsungkan. Walaupun peperangan itu telah melanggar peraturan perang yang disepakati oleh kedua belah pihak.
Namun, Asher menganggap bahwa peperangan ini sebagai bentuk pembelaan diri. Membela terhadap kerajaan sendiri karena Matria telah melakukan kecurangan dengan mengambil nyawa yang merupakan akar dari kekuatan Asher secara diam-diam.
Di malam itu pula, jeritan dan teriakan terdengar lebih kencang dan memekakkan. Darah mengucur membentuk jalur sungai pekat yang memuakkan. Prajurit yang mati terinjak-injak dan ksatria saling menodongkan pedang, menyelamatkan harga diri mereka dari hal tabu berupa kekalahan.
Raja Asher jelas-jelas tidak senang karena kehilangan hampir sebagian kekuatan Asher. Raja Asher saat itu, Roth Valentino Asher, membombardir Kerajaan Matria dengan serangan yang sengit.
Raja Roth tidak terima apabila kecurangan dalam peperangan dianggap sebagai angin lalu. Sebab, kematian Duke bisa saja menyebabkan kekalahan telak pada Kerajaan Asher.
Pada akhirnya, peperangan di tengah malam tersebut mengambil korban jiwa yang banyak. Namun, bukan dari pihak Asher, tetapi dari pihak Matria.
Hal-hal yang tidak diketahui kedua kerajaan adalah terdapat papan catur di atas medan peperangan. Terdapat seseorang yang menggerakkan pion-pion sesuai apa yang dia inginkan.
Itu adalah pencapaian yang menakjubkan. Dengan melempar satu batu untuk membunuh dua burung.
Clare Cyrill berhasil membunuh Duke Lloyd dan memecah belah Kerajaan Matria.
Sebab, Duke Lloyd tidak dibunuh oleh Matria. Akan tetapi, oleh utusan Clare.
Kerajaan Asher yang menganggap bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh Kerajaan Matria membuat Asher langsung menyerang Matria secepat kilat, tanpa peringatan, membuat persiapan Matria tidaklah matang. Terlebih, itu tengah malam dan seluruh prajurit sedang beristirahat.
Satu minggu setelah peperangan malam hari, Alverro Cadeearo dinobatkan sebagai Duke muda karena tidak ada keturunan Cadeearo lainnya setelah dibunuh habis.
...***...
"Bagaimana bisa aku membalas kebaikanmu, Nona Clare?"
Sorot Alverro kini melembut pada Clare.
Alverro selalu merasa bahwa hidupnya begitu beruntung. Takdir membawanya menemui Clare sehingga merubah seluruh reka kehidupan Alverro yang seharusnya telah ditakdirkan menjadi akhir yang tragis.
Alverro selalu mengira bahwa kehidupannya sebagai putra Duke akan berakhir buruk. Sebab, Alverro tidak memiliki marga Cadeearo, tidak dianggap sebagai Cadeearo, dan tidak mendapatkan perlakuan yang baik dari orang-orang di sekitarnya.
Orang-orang selalu menindas Alverro. Membuat kehidupannya bagaikan terlempar ke dalam kobaran neraka.
Akan tetapi, labirin bunga mawar merubah segalanya.
Seakan kehidupannya merupakan sebuah labirin itu sendiri, Alverro menelusuri jalur yang membuatnya bisa keluar dari labirin sehingga kehidupannya berubah menjadi lebih baik.
Tidak hanya mendapatkan marga Cadeearo seperti tujuan awalnya, Alverro justru merupakan seorang Duke itu sendiri.
Dan semua ini terjadi karena wanita di depannya, Clare Cyrill. Satu-satunya orang yang memedulikan Alverro di titik terendahnya. Satu-satunya yang bisa mengerti seluruh kegelapan dan dendam di hatinya, sehingga akhirnya bisa membantu Alverro untuk menyingkirkan para hama.
Apa yang Alverro rasakan seharusnya merupakan sebuah perasaan yang normal. Perasaan selayaknya Alverro melihat malaikat penyelamatnya, heroin dalam kehidupannya sendiri. Akan tetapi, perasaan demi perasaan itu berkembang, menjadi sesuatu yang tidak Alverro ketahui.
Alverro mengerjap. Tidak lupa kala Clare memanggilnya dengan panggilan sayang, jantungnya berdebar tak keruan.
"Mengapa itu, Nona Clare? Mengapa aku harus menjadi Duke yang baik?"
"Agar kamu dicintai rakyatmu."
Alverro menatap mata hitam Clare dengan penasaran, meminta jawaban lebih.
"Lalu tinggallah di sisiku, jangan mengkhianatiku. Jika aku menjadi ratu nanti, kamu harus terus berada di sampingku. Membantuku. Menjadi tangan kananku. Jika rakyat mencintaimu, mereka akan mendukungku untuk menjadi ratu karena kamu mengasihiku. Karena mata seorang Duke yang baik tidak pernah salah bagi rakyat. Sebab, apa yang rakyat inginkan adalah kehidupan damai di bawah naungan kekuasaan yang baik, sehingga hati mereka akan merasa tenang dalam menjalani kehidupan mereka. Maka, Verro, bantu aku menuju ke puncak. Mungkin permainan itu sudah selesai untukmu, tetapi belum selesai bagiku, Verro. Aku belum menyelesaikan permainan ini."
Apa yang Alverro rasakan saat itu adalah perasaan yang campur aduk.
Kagum, sebab Clare begitu memikirkan segalanya dengan matang. Jika hipotesis Alverro benar, rencana ini sudah dimulai ketika keduanya pertama kali bertemu. Clare menyusun rencana-rencana rumit untuk mendudukkan Alverro di kursi Duke, lantas menghapus bukti-bukti pembunuhan keturunan Cadeearo dengan sangat hebat sehingga turut menghapus kecurigaan dari kedua belah pihak. Itu menakjubkan. Dan Alverro tidak bisa berhenti kagum padanya.
Lalu marah, sebab Alverro tahu bahwa apa yang Clare inginkan belumlah cukup. Apa yang Clare tuju adalah mahkota ratu di kepalanya, sehingga permainan ini akan terus berlanjut, dan menyakiti hati Clare lebih dalam lagi.
Kemudian, kecewa. Itu adalah perasaan yang menyebar di mana-mana, di setiap inci tubuhnya. Itu adalah perasaan kecewa karena apabila Clare menjadi ratu, lantas Alverro tidak tahu perlu di ke manakan perasaan yang membara di hatinya.
Perasaan itu abstrak. Alverro bahkan tidak dapat menerkanya.
Namun, perasaan itu mendominasi. Alverro memiliki keinginan untuk membawa Clare di sampingnya, menguncinya, apabila perlu mengikatnya sehingga Clare tidak akan lari. Alverro begitu ingin menyentuh Clare. Menggenggam jemarinya dan mengecup bibirnya.
Itu perasaan yang membara hingga hatinya terasa sesak dan sakit.
Sakit karena tahu bahwa kemungkinan Alverro untuk memiliki Clare adalah nol. Sakit karena tahu bahwa Clare tidak menginginkan Alverro, tetapi mahkota ratu. Sakit karena tahu, jika Clare menjadi ratu, maka Alverro tidak bisa menikahinya.
Itu adalah perasaan yang pelik.
"Nona Clare benar." Alverro menyembunyikan perasaannya dan tersenyum lembut. "Permainan belum selesai. Aku akan melakukannya, Nona Clare. Menjadi Duke yang baik, sehingga rakyat akan mendukung Nona Clare untuk menjadi ratu."
"Benar. Kamu harus membalas budimu."
"Aku akan melakukannya."
...***...
"Tuan Duke, Anda tidak fokus hari ini," kata Ilyos, ajudan Alverro. Ilyos memperhatikan tuannya yang duduk di balik meja kerja, tetapi pikirannya tidak tertuju pada hal yang sama.
Alverro menggigit bibirnya keras sebagai respons. "Aku sudah melakukan yang terbaik."
Ilyos tidak memberikan reaksi berarti dan hanya menganggukkan kepalanya. "Anda benar."
"Lalu mengapa Nona Clare .... Mengapa Nona Clare tetap terobsesi menjadi ratu?" Alverro menarik rambutnya yang berwarna emas dengan frustrasi. "Kukira jika aku melakukan pekerjaanku dengan baik, aku bisa membuat Nona Clare jatuh padaku. Tapi tidak, Nona Clare justru semakin dekat dengan bajingan itu!"
Nada geram Alverro di suaranya membuat Ilyos sedikit menggigil kedinginan.
Ilyos memang baru bekerja selama tiga tahun sebagai ajudan Alverro, lebih tepatnya semenjak Alverro dinobatkan menjadi Duke. Akan tetapi, bekerja dengan Alverro membuat Ilyos mengetahui seluk-beluk kehidupan Alverro. Terlebih, mengenai bagaimana tuannya begitu terobsesi pada Clare.
Masuk akal bagi Ilyos, yang menganggap bahwa Clare adalah malaikat yang menarik Alverro dari lubang kegelapan yang pekat. Di mana di dalam kegelapan tersebut, hanya ada penderitaan bagi Alverro. Kemudian, selayaknya malaikat baik hati, Clare menarik Alverro dari sana dan memberikan Alverro segala yang dipinta.
Marga Cadeearo, membunuh semua yang menindas Alverro, dan menjadikan Alverro sebagai Duke.
"Menurut saya, tidak sopan memanggil Putra Mahkota sebagai bajingan," jawab Ilyos tanpa menghilangkan kesopanan di suaranya.
Alverro meringis dan mengacak rambutnya. "Tapi secara teknis, Nona Clare saja yang mendekati bajingan itu. Sementara bajingan itu sepertinya membenci Nona Clare karena insiden Krone."
Ilyos juga tahu mengenai kebenaran di balik nona muda Krone. Menjadi ajudan Alverro adalah sebuah pertaruhan nyawa. Di kala satu informasi rahasia yang penting itu mengudara di alun-alun kota, maka Ilyos akan bertemu dengan malaikat kematiannya.
"Lalu kenapa Nona Clare harus mendekati bajingan itu?! Bukankah aku saja sudah cukup, Ilyos? Bukankah aku sudah sangat cukup? Aku bisa mencintainya, aku bisa memberinya kasih sayang, aku bisa memberikan kehidupan yang bahagia bagi Nona Clare. Tapi kenapa?!" Brak! Alverro memukul mejanya keras, membuat botol tinta bergetar dan isinya tumpah, menodai kertas-kertas.
Ilyos membersihkan kekacauan dengan tenang.
"Nona Clare tidak pernah melirikku, Ilyos. Apa yang Nona Clare pedulikan adalah mahkota ratu. Memangnya apa yang spesial dari mahkota ratu?"
"Terkadang, Tuan Alverro, ada hal-hal yang mereka pikirkan bahwa posisi itu tidak memuaskan mereka. Dan mereka akan melakukan apa pun untuk meraihnya."
Alverro memandang Ilyos.
"Nona Clare tidak puas hanya dengan pertunjukan yang kurang asik. Nona Clare menginginkan tirai pertunjukan masih tetap dibuka untuk mencari pertujukkan yang lebih menegangkan."
Alverro mengembuskan napasnya berat, menyandarkan punggung ke sandaran beludru.
"Jadi maksudnya, Nona Clare ingin kekuasaan yang lebih lagi. Nona Clare tidak ingin posisi Duchess, Nona Clare ingin posisi Ratu. Posisi yang bisa menggerakkan segalanya di atas telapak tangannya," balas Alverro dengan nada kecewa.
Apa yang Alverro tidak ketahui adalah apa yang Clare inginkan hanyalah kasih sayang yang mustahil.
Sebab, Cyrill adalah keluarga penghasil ratu. Wanita yang lahir sebagai Cyrill, apabila tidak menjadi ratu, maka tidak akan dianggap sebagai hal yang berguna lagi.
...***...
Satu tahun kemudian, peperangan dengan Kerajaan Matria usai dengan Kerajaan Asher sebagai pemenangnya.
Raja dan Putra Mahkota di Kerajaan Matria kabur dan dijadikan sebagai buronan, sementara tuan putri dijadikan tawanan.
Di saat yang sama pula, Viten Darren Asher naik tahta karena Roth Valentino Asher mati karena sakit parah.
Selain dijadikan sebagai raja, Viten juga merupakan pahlawan perang yang telah mengalahkan Matria.
__ADS_1
Hal ini membuat Clare tidak mundur untuk posisi ratu, justru semakin memuja posisi tersebut.
Alverro membantu setiap pergerakan Clare. Namun, hal itu tidak membuat Alverro menyembunyikan perasaannya seperti dulu. Ada di satu masa kala Alverro menyatakan perasaannya, apa yang Clare katakan adalah, "Aku tahu. Tapi aku mencintai Yang Mulia Raja."
Maka, Alverro tak bisa melakukan apa pun lagi selain mendukung Clare. Alverro tidak mencoba untuk menghapus perasaan di dadanya. Sebab, perasaan itulah yang membuat Alverro terasa semakin hidup. Sebuah perasaan di mana dia, orang kejam yang telah membunuh seluruh keturunan Cadeearo dan keluarganya, masih bisa juga merasakan antusiasme karena cinta.
Cinta adalah hal yang alami. Cinta tidak dapat dipaksakan.
Akan tetapi, tidak ada yang mengira bahwa satu rencana Clare mengalami kegagalan.
Itu adalah insiden di mana Clare akhirnya sangat putus asa sehingga harus melakukan sesuatu yang berisiko besar.
Karena alasan itu, Clare dijatuhi hukuman mati. Begitu pula Alverro. Posisinya sebagai Duke akan dilengserkan dan Alverro akan menjalani kehidupan abadi bersama Clare di alam baka. Atau itulah apa yang Alverro pikirkan sebelumnya di balik jeruji penjara.
Alverro menyadari bahwa dia tidak menginginkannya. Alverro tidak menginginkan akhir yang buruk bagi kisah mereka berdua. Keduanya pantas untuk hidup, pantas untuk mencari kebahagiaan mereka, dan meraih asa keduanya.
Alverro hanya menginginkan cinta Clare, lalu hidup bahagia bersama. Impian itu begitu sederhana, tetapi tidak mampu Alverro wujudkan.
Maka, inilah apa yang Alverro lakukan sekarang.
Ketika prajurit membawa makan siang ke selnya, Alverro menghajar prajurit itu sekuat tenaga. Lalu, memutar kepalanya hingga dia mati. Alverro mencuri pedang di pinggang prajurit itu dan keluar dari jeruji besi.
Alverro tidak merasakan apa pun di dadanya ketika membunuh semua penjaga dan prajurit di penjara.
Penjara ini jauh dari istana pusat sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk meminta bantuan. Namun, sebelum mereka meminta bantuan, nyawa mereka telah lebih dulu meregang.
"Nona Clare, tunggu aku."
Alverro mengangkat tudung jubahnya yang dia curi dari prajurit yang terbunuh, menyembunyikan pakaian mewahnya yang kini telah lusuh dan dipenuhi oleh bercakan darah.
Alverro menyelinap sebisa mungkin menuju penjara bawah tanah. Membunuh siapa pun yang menghalangi langkahnya.
Hingga akhirnya, wajah berdarah dingin Alverro dipenuhi senyuman lembut.
"Nona Clare." Alverro membuka tudung jubah.
Akan tetapi, senyuman lembut itu hanya berlangsung beberapa saat setelah melihat kondisi Clare.
Nona mudanya sekarat. Itu jelas-jelas terlihat dari bagaimana luka-luka berdarah yang tidak diobati masih mengeluarkan darah dan nanah. Luka goresan pisau, luka cambukkan, luka kekerasan fisik lainnya yang ditampilkan di kulit pucat Clare. Hal itu membuat mata biru Alverro dipenuhi oleh kemurkaan.
Tubuhnya bergetar. Trang! Dia memotong gembok penjara dengan pedangnya, lalu memasuki jeruji.
Alverro secara perlahan membawa Clare ke dalam pelukannya. Berhati-hati, enggan membuat Clare pecah lebih jauh lagi. "Nona Clare, ya Tuhan. Tolong, bertahanlah."
Alverro merasa matanya seolah tersengat sesuatu dan cairan bening langsung menetes di pelupuk, mengalir di pipi, membentuk jalur sungai mungil.
"Nona Clare, apa kamu sadar? Aku akan membawamu pergi. Mari kita hidup berdua saja, Nona Clare. Apa yang kubutuhkan hanyalah kamu, Nona Clare. Aku—"
Plak!
Sebelum Alverro menyelesaikan kalimatnya, sengatan perih di pipinya telah lebih dulu memotong kalimatnya.
"Nona Clare?"
Apa yang Alverro lihat dari manik Clare adalah kegelapan pekat. Itu begitu gelap hingga Alverro tidak yakin apakah sepotong lilinnya yang berpijar akan mampu meneranginya.
"Bajingan! Apa yang kau lakukan?!" bentak Clare. Dia mendorong tubuh Alverro yang menggendongnya dan dia jatuh terduduk di atas lantai keras.
"Nona Clare? Kumohon, jangan seperti ini, Nona Clare."
Alverro meraih jemari Clare, tetapi Clare membalasnya dengan tamparan keras di pipi.
"Alverro Cadeearo!"
Alverro tersentak, tubuhnya membeku. Ini adalah kali pertama Clare memanggilnya dengan nama lengkap. Verro, Verro, Verro, nama panggilan itu menggema di benaknya.
"Apa yang ingin kau lakukan?! Kabur?! Ke mana?! Sampai kapan kau akan kabur?!"
Mendengar nada menyedihkan Clare membuat Alverro tak kuasa menahan tangisnya. Dia tidak bisa berhenti terisak. Justru hatinya yang sesak tak kunjung menahan tangisnya untuk pecah, malah menyuruh Alverro untuk meluruhkan segalanya.
"Nona Clare. Maafkan aku, maafkan aku karena telah gagal." Alverro berusaha meraih Clare, tetapi Clare bergerak mundur hingga punggungnya menyentuh dinding.
"Pergi! Aku tidak mau hidup lagi! Aku tidak mau hidup lagi! Kau dengar itu?!"
Seluruh tubuh Alverro bergetar. Itu adalah perasaan takut dan marah. Alverro takut Clare akan mati dan marah pada siapa pun yang membuat kondisi Clare jadi seperti ini.
"Jangan bicara seperti itu, Nona Clare. Kumohon." Alverro menggigit bibirnya hingga berdarah. "Kumohon, waktu kita tidak banyak. Akan ada yang datang untuk menangkapku, jadi mari kita lari—"
Plak! Clare memberikan tamparan di pipi Alverro sekali lagi.
"Untuk apa, Verro? Aku bukan ratu, aku bukan ratu! Hidup tanpa menjadi ratu sama sekali bukan kehidupan yang berguna! Aku adalah sampah!"
"Nona Clare. Kamu bukan sampah. Bukankah apa yang Nona Clare lakukan sedari kamu kecil adalah sebuah keajaiban? Lihatlah apa yang kedua telapak tangan Nona Clare lakukan untuk merubah dunia ini. Itu menakjubkan, Nona Clare."
Alverro merasa dadanya makin sesak kala Clare akhirnya pecah. Isakan itu terdengar begitu menyedihkan dan bagaikan melodi pedih bagi Alverro.
"Nona Clare."
"Ayah membuangku."
Alverro menatap mata Clare.
"Ayah membuangku, Verro. Katanya, aku bukanlah Cyrill. Katanya aku tidak berguna."
"Kamu tidak seperti itu, Nona Clare."
"Aku melakukan segala hal untuk menjadi ratu, bahkan dengan cara terkotor sekalipun." Tawa Clare mengalun di udara. Tawa itu terdengar menyesakkan hingga udara terasa mencekik. "Jadi, Verro. Untuk apa lagi aku hidup? Aku lelah sekali. Bukankah sudah waktunya bagiku untuk beristirahat?"
"Ja-Jangan bicara seperti itu, Nona Clare. Aku dan kamu akan lari, kita akan bertahan hidup."
"Dan dihantui dengan segala penderitaan? Aku tidak mau, Verro. Biarkan aku mati."
"Mana mungkin aku membiarkan Nona Clare mati! Jangan gila! Bagaimana mungkin aku melihat orang yang kucintai dipenggal mati?!"
"Jika kamu mencintaiku, Verro, maka kamu tidak akan membawaku ke dalam kehidupan neraka lebih jauh lagi."
Alverro tersentak.
"Dunia ini neraka bagiku. Dunia ini tidak mencintaiku. Jika aku lari, maka aku akan dikejar oleh ketakutanku sendiri. Dikejar oleh bayang-bayang kegagalan, di mana aku tidak bisa menjadi ratu. Verro, jika kamu mencintaiku, biarkan aku mati."
Tangis Alverro pecah. Itu memilukan bagi seorang Duke yang terlihat begitu kuat untuk menjadi sosok yang terlihat hancur.
"Nona Clare, lalu bagaimana denganku? Jika kamu mati, aku akan ikut denganmu."
"Jangan gila, Verro. Hiduplah. Kamu pantas untuk hidup. Kamu belum melakukan dosa apa pun di tanganmu. Yang membunuh seluruh Cadeearo adalah aku yang merencanakan hal-hal buruk adalah aku."
"Aku ikut andil dalam hal itu, Nona Clare. Jangan salahkan dirimu sendiri."
"Tapi aku yang memulai permainannya."
Alverro tidak bisa melihat nona mudanya dengan jelas karena visinya kian memburam. Air mata menetes dengan deras.
"Verro."
"Ya, Nona Clare?"
"Hiduplah dan balaskan dendamku. Bunuh putri bajingan itu. Lalu, nyalakan api di atas Asher, bakar segalanya hingga menjadi abu."
Suara Alverro bergetar ketika dia membuka mulut, "Aku berjanji, Nona Clare. Aku akan membalaskan dendammu. Tolong lihat aku dari tempatmu berada, tolong lihat aku yang menuntaskan dendammu, dan menepati janjiku padamu."
"Ya."
Suara-suara langkah kaki makin terdengar, sahutan dan teriakan para prajurit yang sedang mencari Alverro semakin keras.
"Pergilah."
Alverro menggigit bibir. "Aku mencintaimu, Nona Clare. Aku sangat-sangat mencintaimu, jadi kumohon, hiduplah dengan tenang di alam keabadian."
Alverro akhirnya membawa Clare ke dalam sebuah ciuman yang lembut. Itu adalah ciuman yang hanya menekan salah seorang, tidak berusaha menyakiti, tetapi untuk meluruhkan perasaan yang terkubur di hati.
Alverro menarik diri, mengecup rambut zamrud Clare, dan menyatukan dahi mereka.
Alverro merasakan tangis Clare dan dirinya mengudara, membuat harmoni yang nyata. Itu seharusnya indah, tetapi itu menyakiti keduanya.
Ah, sungguh memilukan bagi Alverro untuk menuruti apa yang cintanya inginkan.
Akan tetapi, Alverro mencintai Clare. Apabila Alverro mencintai Clare, maka Alverro tidak akan membiarkan cintanya untuk menetap dalam lingkaran penderitaan tanpa ujung.
Itu memang menyakiti Alverro ketika dia tidak bisa membayangkan Clare di sela-sela kehidupannya lagi. Tidak akan ada Clare, tidak akan ada suaranya yang menenangkan, tidak akan ada sosoknya yang menyentuh Alverro untuk mengatakan bahwa Alverro telah melakukan semuanya dengan sangat baik.
Alverro melepaskan Clare. Lalu, menggigit bibirnya untuk menelan isakan yang hampir lolos.
"Nona Clare." Suara Alverro bergetar dan dia tidak menyembunyikan isaknnya lagi. "Aku mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu."
Suara langkah kaki yang menuruni anak tangga terdengar.
Mata Clare yang hitam tenggelam di manik biru Alverro.
"Duke Alverro pasti di sini!"
"Cepat cari dia!"
Alverro mengecup bibir Clare sekilas sebelum menegakkan tubuhnya, mengangkat pedangnya, dan berbalik.
Dia meninggalkan jeruji Clare tanpa menolehkan kepalanya kembali. Tahu apabila dia menoleh, maka Alverro akan kembali dan memilih mati bersama Clare.
Di lorong sempit penjara bawah tanah, Alverro mengayunkan pedangnya. Menari-nari di atas udara dengan indah, layaknya sayap kupu-kupu. Akan tetapi, sayap kupu-kupu itu mematikan.
Setiap Alverro bergerak, nyawa meregang.
Penjara bawah tanah kini menjadi tempat sebuah tragedi.
Puluhan mayat tergeletak, menghasilkan sungai darah yang mengental dan bercampur, teriakan kesakitan yang masih bertahan hidup mengudara, dan tangis serta permohonan ampun akan nyawa mereka sendiri menjadi melodi yang pilu.
Alverro membunuh semua orang dengan air matanya yang masih mengalir. Sebelum akhirnya dia pergi, meninggalkan penjara bawah tanah, lari dari istana, lari dari penderitaannya.
Sebagai putra Duke, tidak, sebagai Duke, Alverro tidak mampu menarik nona mudanya sebagai pasangannya. Dan berakhir kehilangan segalanya.
...***...
__ADS_1
Why I'm crying while writing this? ༎ຶ‿༎ຶ Ini sama sekali nggak sedih, kan? Aku cuma impressed dengan Alverro yang cinta banget sama Clare. Tapi kupikir ini chapter yang aneh? Well, whatever aku udah nulis ini, yang penting jadi /nunjukkin jempol.