![I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]](https://asset.asean.biz.id/i-will-avoid-the-death-flag--sudah-terbit-.webp)
"Tuan Putri?"
Tubuhku tersentak dan mulai kaku.
Kesiur angin yang menelusup lewat tepi jubahku membuatku makin menggigil kedinginan. Aku berada di balkon kamarku, siap-siap lompat dari lantai dua kamarku. Tidak benar-benar lompat karena aku sudah menyiapkan tali tambang untuk membantuku turun.
"Tuan Putri, Anda hendak ke mana?" Sir Derick bertanya sambil membuka lebar pintu balkon kamarku.
Aku tersentak lagi dan mulai melangkah mundur.
Ini sudah tengah malam! Kupikir pria itu telah meninggalkan kamarku untuk istirahat, tapi kenapa dia malah ada di sini?
"Sir Derick? Kenapa kamu ada di sini?"
"Seharusnya saya yang menanyakan itu pada Anda, Tuan Putri."
Tubuhku menggigil. Bukan, bukan karena angin malam yang bermain-main denganku, tetapi karena nada suara Sir Derick yang terdengar begitu berbeda.
Bahkan sorot wajahnya pun mengatakan hal lain selain kelembutan yang tertera, sehingga aku yang sama sekali tidak terbiasa dengan perubahan ekspresi wajah ini, mulai ketakutan.
Sir Derick melangkah maju dan aku mengambil langkah mundur. Kami melakukan hal yang sama sebanyak tiga kali hingga aku berada di ujung balkon. Pinggangku menyentuh pagar pembatas dan aku masih berusaha untuk mundur. Itu karena Sir Derick tetap mengikis jarak kami berdua. Aku bahkan bisa merasakan deru napas Sir Derick di pipiku.
"S-Sir Derick? Bukankah kamu terlalu dekat?"
Sir Derick menyangga tangan kanannya di pagar pembatas, tepat di sampingku. Aku bahkan bisa merasakan pakaiannya menggesek jubahku.
"Saya bertanya sekali lagi. Anda hendak ke mana?"
Aku meneguk ludah dan mengalihkan pandanganku. Sir Derick begitu mengintimidasi. Apakah ini kekuatan seorang komandan ksatria yang sebenarnya? Aku tidak pernah merasakan intimidasi yang begitu kuat sebelumnya, itu karena aura yang Sir Derick keluarkan di sekitarku adalah aura positif yang menyenangkan.
"A-Aku-"
Bahkan bicara pun gugup. Sial!
"Tatap mata saya, Tuan Putri."
Jemari Sir Derick yang dilapisi sarung tangan putih menyentuh daguku, lalu menariknya sehingga manik kami saling bertemu.
Cream dan violet bertemu pandang.
Ini seharusnya menjadi rencana yang sempurna untukku. Di hari keempat aku disuruh untuk beristirahat, aku menunggu hingga tengah malam, di mana biasanya Sir Derick akan menyerahkan penjagaanku pada anak buahnya. Itu karena aku menyuruh Sir Derick untuk mendapatkan istirahat yang cukup.
Aku sudah memastikan dengan betul bahwa Sir Derick dan anak buahnya sudah bertukar tempat. Sehingga aku bisa memulai rencanaku untuk menyelinap.
Menyelinap keluar istana.
Meski mungkin aku yang terlalu bodoh karena berharap bisa membodohi komandan ksatria yang tentunya terpilih bukan karena kebetulan, tetapi melalui seleksi ketat.
"Ke mana Anda hendak pergi?" tanya Sir Derick lagi. Akan tetapi, suaranya yang lembut telah kembali. Intimidasi yang dikeluarkan pria itu menghilang dan aura positif khas Sir Derick kembali lagi ke indra perasa.
Mungkin Sir Derick menyadari tubuhku yang bergetar samar, sehingga dia kembali menjadi Sir Derick yang aku kenal.
"Kuil Dewa Matahari," balasku sambil mengalihkan pandang.
"Mengapa pergi ke kuil ketika tengah malam, Tuan Putri? Dengan menyelinap pula. Apakah tidak bisa pergi pada siang hari dengan saya yang menjaga Anda?"
Aku menggeleng perlahan. "Ini harus menjadi pertemuan yang rahasia."
"Dan mengapa itu?"
"Ini berhubungan dengan kompetisi untuk menjadi ratu."
Aku bisa mendengarkan helaan napas Sir Derick.
"Apa Anda sangat ingin menjadi seorang ratu?"
Mendengar kalimat Sir Derick membuatku memaksakan diri untuk menatap wajahnya. Dan tubuhku menegang. Itu adalah sorot yang terlihat begitu menyedihkan. Aku belum pernah melihat ekspresi seperti itu di wajahnya.
Aku menggigit bibir.
__ADS_1
"Tuan Putri, apa Anda sadar bahwa apa yang Anda lakukan adalah berusaha untuk memenangkan kompetisi untuk menjadi ratu Kerajaan Asher?" lanjut pria itu lagi.
"Sir Derick, tidak ada yang salah dengan keinginan untuk menjadi seorang ratu, bukan?" balasku, mati-matian menekan getaran dalam vokalku.
Jeda.
Aku tidak bisa menafsirkan sorot apa yang Sir Derick perlihatkan padaku, tetapi aku bisa merasakan sebuah perasaan kecewa di dalam diri Sir Derick.
"Menjadi ratu adalah menikah dengan Yang Mulia," gumam Sir Derick, meski aku masih bisa mendengarnya karena jarak kami begitu dekat.
Tiba-tiba, pita film di benakku berputar. Itu adalah sebuah adegan di satu malam di mana aku baru saja terbangun dari koma dan Sir Derick mengungkapkan segalanya ketika aku tidur, padahal aku sebenarnya tidak tidur dan mendengarkan seluruh perasaan Sir Derick di sana.
Sir Derick mencintaiku. Itu jelas. Karena dia sendiri yang mengungkapkannya. Mungkin inilah sebabnya Sir Derick merasa kecewa.
Menjadi ratu adalah menikah dengan Viten. Sir Derick benar. Dan ini pula yang membuat Sir Derick merasa patah hati. Aku tidak bisa membalas cinta Sir Derick dan sebagai gantinya, aku menikahi Viten untuk menjadi Ratu Asher. Namun, bukankah lebih baik membiarkan pria itu patah hati daripada dipenggal Viten seperti cerita di novel?
Aku meneguhkan hatiku. Intinya, aku akan menyelematkan Sir Derick dari penggalan terkutuk itu.
"Aku tahu itu," balasku.
Manik cream Sir Derick yang lembut menganalisis wajahku. "Apa Anda mencintai Yang Mulia?"
"Aku tidak bisa menjawabnya."
Sir Derick hanya menghela napas perlahan sebelum kembali memberi jarak di antara kami. Akhirnya aku bisa kembali bernapas dengan lega.
Namun, helaan napas lega itu tidak berlangsung lama ketika Sir Derick berlutut di depanku.
"Apakah Anda ingat Sumpah Ksatria yang pernah saya janjikan pada Anda? Sumpah itu masih berlangsung, Tuan Putri. Jadi, mohon, masukkan saya ke dalam rencana Anda. Saya akan menjaga Anda."
Aku menahan napas. Sir Derick, mengapa dia melakukan semua ini hanya untukku?
Aku bukan Serethy yang asli. Ketika Sir Derick mencintaiku seperti ini, aku seolah telah merebut sesuatu yang seharusnya menjadi milik Serethy yang asli.
Namun, aku memang harus mengumpulkan kekuatan yang cukup untuk kelangsungan hidupku selanjutnya. Jadi, Sir Derick yang merupakan komandan ksatria adalah peran yang cocok untuk terus melindungiku.
"Baiklah, Sir Derick. Aku memperbolehkanmu untuk mengikutiku."
Kedua pasang mata kami saling bertemu dan aku tersenyum kecil.
"Dengan syarat, diamlah." Aku meletakkan jari telunjuk di bibir. "Jangan pertanyakan segala hal padaku meski kamu penasaran setengah mati, jangan bicarakan hal ini pada orang luar, jangan bereaksi lebih pada apa yang aku lakukan, dan tetap tenang. Apa yang harus kamu lakukan adalah hanya dengan berdiri di belakangku. Apa kamu bersedia?"
"Saya bersedia, Tuan Putri."
Begitulah bagaimana Sir Derick akhirnya ikut menemui Kardinal di ruangan pribadinya di Kuil Dewa Matahari.
Arcelio Barnett adalah seorang kardinal di Kuil Dewa Matahari yang dipilih langsung oleh seorang Paus. Pria itu memiliki warna rambut mint dan iris mata berwarna hijau, usianya 25 tahun, putra ketiga Duke Barnett, dan dia merupakan pribadi yang sangat ramah dan pengertian. Intinya, tipe pria baik-baik yang cocok untuk dipacari atau bisa dinikahi sekalian. Begitulah apa yang dikatakan Angelina padaku ketika aku masih tinggal di Kastil Matahari.
"Tuan Putri," sapa Arcelio dengan nada hormat. Rambutnya yang sewarna mint sedikit bergoyang ketika pria itu menunduk singkat. "Silakan duduk."
Arcelio mempersilakan aku untuk duduk di atas sofa yang ada di ruangannya. Aku mengambil tempat di sofa single dan Sir Derick berdiri di belakangku, seolah menjagaku. Dan untuk Arcelio sendiri, pria itu duduk di hadapanku yang dibatasi oleh meja bundar.
"Tuan Arcelio, saya yakin kamu telah menerima suratku?" tanyaku basa-basi.
"Ya, Tuan Putri. Meski saya sedikit kaget mengapa Tuan Putri mengirim surat pada saya dengan diam-diam dan ingin menemui saya secara diam-diam juga."
Arcelio memamerkan senyuman di wajahnya yang jujur saja terlihat sangat manis, Arcelio sama sekali tidak tampan, tapi cantik. Aku hampir salah fokus dan akan terus memperhatikan wajahnya yang cantik jika aku tidak ingat tujuanku repot-repot datang kemari.
Aku berdeham singkat, lalu tersenyum dengan penuh percaya diri. "Maka dari itu, langsung saja ke topik utamanya. Tuan Kardinal, bergabunglah dengan saya."
"Bergabung?"
"Tentu kamu tahu bahwa saya adalah salah satu dari dua kandidat Ratu Asher, bukan?"
"Anda ingin dukungan dari saya?"
"Seperti yang diharapkan dari Tuan Kardinal, kamu memang cerdas." Senyumanku makin melebar, tentu dengan penuh kepercayaan diri di dalamnya. Yah, meski aku harus memalsukan kepercayaan diri itu, aku harus terlihat seperti itu di depan Arcelio. "Tuan Arcelio, dukung saya untuk menjadi Ratu."
"Oh?" Arcelio menyeringai kecil. "Lalu, apa yang saya dapat dengan mendukung Anda?"
__ADS_1
"Saya punya kekuatan suci."
"Ya?"
Aku menghela napas, lalu mengeluarkan pisau lipat dari saku rokku. Aku lalu menusuk lenganku sendiri dengan pisau itu. Ini sedikit sakit, tapi aku cuma bisa bertahan. Darah langsung menetes dan menodai jubah cokelat yang belum sepenuhnya kulepas.
Aku tidak tahu ekspresi apa yang Sir Derick tampilkan di belakangku, aku tidak mau tahu.
"Saya bilang, saya punya kekuatan suci."
Seiringan dengan aku yang mengatakan kalimatku, cahaya emas yang terasa murni dan agung langsung menutupi lukaku. Cahaya emas itu meregenerasi sel kulitku dan mengembalikan kondisi kulitku ke sedia kala. Di lenganku, kini tidak ada luka tusukan sama sekali, bahkan bekasnya sama sekali tidak terlihat.
Dan apa yang kulihat dari Arcelio adalah bahwa pria cantik itu membuka mulutnya dengan lebar. Di matanya yang hijau, tertera keterkejutan luar biasa. Tubuhnya juga bergetar samar, aku tahu bahwa itu adalah getaran antusias.
"Tuan Arcelio, kamu begitu mengagungi Dewa Matahari, bukan?" kataku, masih dengan senyuman percaya diri. "Kekuatan suci adalah bentuk dari keagungan Dewa Matahari dan yang lebih penting, saya dengar kamu tengah meneliti kekuatan suci?"
Aku tentu saja mendengar semuanya dari Angelina. Untuk Arcelio, sepertinya Angelina punya soft spot untuk pria itu.
Sepertinya aku tidak perlu bekerja keras untuk membujuk Arcelio lagi karena binaran antusias di kedua matanya tak kunjung meredup, justru semakin tersulut.
"Saya akan mendukung Anda sepenuh hati!"
Tuh, kan. Dia mudah sekali dibujuk. Kadang-kadang obsesi terhadap sesuatu, dalam hal ini adalah Dewa Matahari dan keagungannya, tidak benar-benar membawa pengaruh yang baik.
Bagaimana jika Arcelio tertipu oleh orang-orang picik yang mengatasnamakan Dewa Matahari? Seperti Clare misalnya.
"Tapi, mohon tunjukkan kekuatan suci Anda lagi di masa depan!"
Aku tersenyum. "Tentu saja, katakan jika kamu membutuhkannya."
Arcelio tampak puas.
"Jadi, apa kamu sudah dengar bahwa dalam tiga hari, akan ada sebuah pesta di Istana?" tanyaku.
"Saya mendengarnya, Tuan Putri." Arcelio mengangguk. "Seluruh bangsawan pasti sudah dengar."
"Kamu benar. Dan saya membutuhkanmu di sana demi diri saya. Apa kamu bersedia?"
"Apa yang harus saya lakukan?"
Aku mengulurkan tanganku yang kosong ke udara, memberikan imaji sedikit, dan plop, gulungan emas muncul di telapak tanganku.
Arcelio kembali membuka mulutnya dengan penuh keterkejutan.
Gulungan emas itu berpendar di ruangan yang minim cahaya karena hanya beberapa lilin yang menyala, membuat detak jantung Arcelio makin menggebu karena suasana jadi makin melankoli.
"Ini adalah bukti bahwa Nona Clare melakukan pemalsuan terhadap firman Dewa Matahari." Aku menyerahkan gulungan emas pada Arcelio. "Kalau kamu, pasti bisa tahu kalau ini nyata atau tidak bukan?"
Arcelio menatapku dengan sorot sungguh-sungguh dan kepercayaan penuh di matanya. Dia lalu menerima gulungan emas dariku dan membaca isinya. Lima menit, Arcelio mengembalikan gulungan emas kembali ke tanganku.
Akan tetapi, sorot yang tercetak di mata hijaunya kini adalah sebuah perasaan murka.
"Beraninya!" Bahkan kedua tangan Arcelio bergetar karena marah. "Beraninya wanita itu menggunakan nama Dewa yang agung untuk kepentingan pribadi! Tidak bisa diampuni. Bahkan Dewa Matahari sendiri tidak menyukai hal ini."
"Jadi, sebagai orang yang mengagungkan Dewa Matahari, kamu pasti merasa sangat marah sampai ingin menghancurkan hidup seseorang, bukan?"
Arcelio tidak menjawab, tetapi tubuhnya yang menegang karena marah benar-benar menjelaskan segalanya.
"Apa yang harus saya lakukan di pesta itu, Tuan Putri?"
"Sepertinya kamu sudah menebak mengapa saya menggelar sebuah pesta?" Ada jeda singkat di mana aku meloloskan tawaku ke udara. "Peranmu mudah, Tuan Arcelio. Kamu hanya perlu membacakan isi gulungan emas kepada publik dan menjamin keasliannya. Orang-orang akan lebih percaya pada seorang Kardinal, yang merupakan seorang pejabat senior di dalam Kuil Dewa Matahari, dibandingkan seorang Tuan Putri yang tidak memiliki dukungannya sendiri."
"Lalu, saya akan bisa mengakhiri penderitaan Dewa Matahari?"
Um, Angelina tidak benar-benar menderita. Dia cuma marah. Tapi aku membalasnya dengan senyuman, tidak membiarkan apa pun selain kepercayaan diriku terlihat di depan Arcelio.
"Kamu akan menjadi hamba yang taat pada Dewa Matahari."
Arcelio merasakan kepuasan di dalam dirinya setelah aku memujinya dengan nama Angelina.
__ADS_1
Dia pria yang gampangan.