I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]

I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]
16. Koran Gosip Madam Kricia


__ADS_3

"Nona."


Seorang pria menurunkan jubahnya dari kepalanya hingga menampilkan rambut berwarna emas yang berkilauan ditimpa sinar luna, lalu dia mendarat dengan lihai di atas kusen jendela.


Senyuman pria itu langsung cerah ketika dia melihat rambut zamrud familier, milik seseorang yang dia sayangi.


"Nona. Aku mendapatkan informasi besar."


Pria itu melompat kecil dari jendela dan menutupnya agar angin malam tidak memasuki kamar nonanya dan membuat nonanya sakit lebih jauh lagi.


"Apa itu?"


Wanita yang duduk di atas ranjang bertanya dengan nada yang dingin. Akan tetapi, nada dingin itu seakan tidak memengaruhi pria itu untuk merubah ekspresi wajahnya. Seolah-olah dia sudah terbiasa dengan hal yang sama untuk berulang kali.


"Rexanne."


Clare mengerutkan dahinya, tetapi matanya tetap dingin. "Bahasa kuno Asheri, Rexanne, yang artinya ratu? Memangnya ada apa dengan bahasa itu?"


Pria itu berjalan mendekati Clare dan berlutut di samping ranjang, kedua tangannya lalu menggenggam tangan penuh bekas luka cambukan Clare secara hati-hati, enggan membuat daging rapuh itu makin kehilangan esensinya.


"Nona Clare, tolong jangan marah."


"Verro."


Suara Clare membuat Verro makin sigap mengeluskan jemari Clare di wajah Verro dengan penuh kelembutan dan sayang. Sesekali, Verro mengecup jemari Clare.


"Tuan Putri sialan itu. Tuan Putri yang sangat brengsek itu mendapatkan nama tengahnya, Nona Clare, itu Rexanne, yang artinya ratu."


Hening selama beberapa saat, Verro pun tidak mendapatkan reaksi berarti dari Clare yang duduk mematung. Lalu, tepat setelah beberapa menit, tawa mulai mengudara di ruangan yang auranya makin mencekam.


"HAHAHA! DASAR BRENGSEK!" jerit Clare hingga batas pita suaranya. "Dasar ******, pencuri, murahan, bajingan."


"Nona Clare-"


"Diam!" bentak Clare, kedua tangannya lalu menjambaki rambutnya sendiri. "Ini salah wanita bajingan itu! Jika saja dia mati! Jika saja dia mati! Aku pasti ratunya di sini! Aku ratunya!"


"Nona Clare!" Verro menarik tangan Clare yang menjambaki rambutnya sendiri. Beberapa helaian rontok langsung luruh begitu kedua tangan itu menghentikan aktivitasnya, beberapa bahkan tersangkut di jemari Clare. "Tolong jangan sakiti dirimu, Nona Clare. Sakiti saja aku."


Clare berteriak frustrasi lalu melampiaskan segalanya terhadap Verro yang menerima seluruh kekerasan Clare dengan tenang.


"Verro," panggil Clare di sela-sela napasnya yang tercekat. "Ambil seluruh dana untuk putri Duke ini, lalu suap beberapa pendeta miskin."


Verro menatap Clare.


"Kau mengerti, kan, apa yang harus kau lakukan, Verro-ku? Kau tidak akan membiarkan aku tersiksa seperti ini, kan?"


Verro melayangkan senyuman lembut dan penuh kasih sayang. "Tentu saja, Nona Clare. Aku akan melakukan segalanya untukmu. Bahkan memberikan nyawaku."


...***...


Dulu sekali, pernah turun firman langsung dari Dewa Matahari kepada Kerajaan Asher.

__ADS_1


"Jika seorang wanita mendapat nama Ratu langsung dari-Ku, maka wanita itu akan memakmurkan kerajaan."


Itu turun tepat satu abad yang lalu.


Dan sejak saat itu pula, Kerajaan Asher bersusah-payah untuk menemukan wanita mana yang dianugerahi nama yang berarti ratu oleh Dewa Matahari.


Akan tetapi, kasus ini cukup rumit, tidak, bisa dikatakan mustahil.


Itu karena firman Dewa Matahari tidak pernah turun lagi semenjak satu abad yang lalu. Maka, tidak akan pernah ada wanita yang mendapatkan anugerah berupa nama yang berarti ratu. Jika pun ada, wanita-wanita itu pasti berbohong. Sebab, firman Dewa tidak semata-mata bisa turun sesuka hati. Melainkan lewat perantara. Biasanya, perantara Dewa Matahari adalah pendeta di Kuil Dewa Matahari.


Namun, saat ini, terdapat satu kasus di mana seorang gadis mendapatkan anugerah langsung dari Dewa.


Itu adalah sebuah nama.


Mungkin terdengar sederhana dan tidak memiliki makna yang besar.


Akan tetapi, mungkin nama inilah yang Kerajaan Asher cari-cari selama satu abad terakhir. Kerajaan yang ingin memakmurkan kerajaannya yang tidak pernah damai karena peperangan. Dan peperangan terakhir Asher adalah melawan Matria.


Kerajaan Asher juga tidak pernah mendapatkan ratu yang waras. Salah satu dari puluhan ratu selama satu abad terakhir yang menduduki posisi tertinggi kedua di Kerajaan Asher, kebanyakan adalah orang gila.


Biar kuingatkan lagi, novel ini adalah novel gila yang kulemparkan keluar jendela setelah membacanya.


Misalnya, ibu Viten dan Cioten. Dia meninggal karena dibunuh selir, padahal dia ratu? Bukankah itu gila?


Kemudian ada Ibu Suri yang juga gila. Memisahkan Viten dan Cioten, membuang yang termuda ke paviliun yang sangat jauh dari istana hanya untuk dendam tidak berwujud di hatinya. Itu sangat gila, kan? Padahal Cioten tidak melakukan kesalahan apa pun hingga pantas untuk diasingkan.


Aku mengurut dahi karena memikirkan hal-hal yang membuat kepalaku berputar.


Rexanne.


Itu adalah nama yang kudapat ketika aku mempersembahkan darahku pada Dewa Matahari di air suci.


Aku tidak bisa membaca huruf kuno yang terukir di air suci, tapi pendeta agung bisa membacanya.


Itu nama tengahku.


Dan di sana, Viten kembali bertanya padaku apakah aku mau menikahinya?


"Tidak, hanya saja, ini adalah anugerah dewa, Serethy. Aku tidak memaksamu, lagipula kita adalah saudara yang disumpah."


Itulah kata Viten setelah pria itu bertanya dengan baik-baik apakah aku ingin menikah dengannya.


Yah, lagipula itu masuk akal. Anugerah inilah yang Kerajaan Asher cari selama satu abad terakhir. Dan kini Asher hampir mendapatkannya, lalu apa mereka akan melepaskanku dengan mudah sekarang? Jelas tidak. Pasti akan ada beberapa usaha yang dilakukan oleh rakyat Asher juga.


"Tuan Putri, ini koran gosip yang Anda minta." Jelena mengulurkan nampan perak yang di atasnya terdapat koran gosip yang lumayan populer di kalangan borjuis dan proletar.


Aku menghela napas, tetapi tanganku meraih koran gosip dengan anggun.


Aku tidak harus mengeluh ketika aku yang meminta Jelena untuk mendapatkan koran gosip ini untukku.


Namun, aku mendapatkan tekanan hanya dengan membaca buletin besar di halaman awal koran.

__ADS_1


[Koran Madam Kricia yang Panas].


Itu nama yang sangat tidak efektif, tapi memiliki banyak orang untuk berlangganan di dalamnya untuk setiap bulan.


"Tuan Putri, apa Anda ingin teh?" tanya Regina, menyembulkan diri dari balik pintu.


Tampaknya pelayanku yang satu itu tahu mengenai betapa tidak baiknya suasana hatiku akibat masalah itu.


Meski Viten telah mengatakan pada semua orang yang hadir di upacara pemberian nama tengah agar tidak menyebarluaskan nama ini, entah mengapa nama 'Rexanne' malah tersebar ke seluruh kontinen.


Hal ini membuat suasana menjadi heboh dan tidak terkendali.


Aku tidak akan heran jika banyak rakyat jelata yang mengunjungi istana agar aku segera melangsungkan pernikahan dengan Viten.


Aku tersenyum pada Regina. "Itu bagus, Regina. Kuharap aku bisa mendapatkan sesuatu yang dapat menenangkan diriku."


Regina melayangkan senyuman cerah. "Baik, Tuan Putri! Saya akan segera membawanya." Lalu gadis itu berlari kecil di lorong, terdengar dari suara langkah kakinya.


Aku menghela napas pelan dan kembali membaca gosip yang ditulis oleh Madam Kricia.


Tuan Putri Serethy dikenal sebagai putri yang memiliki nilai tambahan di setiap aspek. Bahkan kecantikan yang dimiliki Tuan Putri sangat menguar sehingga dia memiliki banyak keberuntungan bahkan ketika Kerajaan Matria telah runtuh saat ini.


Keberuntungan itu bisa dilihat dari mengenai betapa beruntungnya Tuan Putri Matria yang seharusnya adalah tawanan perang berbalik menjadi seorang Tuan Putri di Asher. Bahkan mendapatkan Berkat Dewa!


Tuan Putri dianugerahi nama Rexanne, yang artinya ratu. Meski benci mengakuinya, Tuan Putri dapat memakmurkan Kerajaan Asher apabila Tuan Putri menikahi Yang Mulia Raja Viten Asher. Akan tetapi, beberapa saksi mengatakan bahwa Tuan Putri telah menolak lamaran pernikahan sebanyak dua kali. Betapa sombongnya sifat itu?


Koran gosip itu lalu menceritakan masa lalu Serethy yang aku pun tidak tahu kebenarannya. Bahkan sesekali menyebut soal mantan raja dan mantan putra mahkota Matria yang tengah dalam pelarian dan kini poster mereka dipasang di setiap sudut kerajaan sebagai buronan.


Aku awalnya berniat untuk mencari informasi mengenai Serethy di masa lalu. Akan tetapi, aku tidak bisa langsung mencerna seluruh berita ini, di mana berita ini diterbitkan oleh koran gosip yang perlu dipertanyakan lagi kebenarannya.


Beberapa saat kemudian, Regina kembali dengan troli berisi camilan manis dan tea set.


Regina mulai menuangkan teh yang mengepulkan asap panas ke dalam cangkir mahal yang klasik, aku suka tekstur dan ukiran di keramiknya, menimbulkan estetika yang menarik.


"Silakan, Tuan Putri," ujar Regina.


Aku meraih cangkir teh dan menghirup harumnya melati di sana. Aku mendesah ringan karena harum melati membuat stresku sedikit menghilang.


"Terima kasih, Regina."


"Bukan apa-apa, Tuan Putri. Jangan sampai koran gosip ini menekan Tuan Putri!"


Aku tersenyum kecil pada perhatian Regina. "Omong-omong, di mana Sir Derick dan Melanie? Aku melihat Jelena juga barusan, tapi dia menghilang?"


"Maafkan saya, Tuan Putri. Namun, kami tetap mempertahankan penjagaan pada Tuan Putri pada keamanan yang maksimal."


"Aku tidak membutuhkan jawaban yang itu?"


"Ketiga orang yang disebutkan oleh Tuan Putri barusan sedang menghalau marabahaya yang lebih mengerikan. Misalnya para wartawan di luar yang menyelinap masuk."


Aku tersenyum canggung lalu menyesap teh agar kembali menenangkan pikiranku yang berkecamuk.

__ADS_1


Wartawan yang menyelinap ke istana? Istana Kebahagiaan? Istana di mana raja dan pangeran tinggal-sekarang ada tuan putri juga? Aku sedikit khawatir dengan keadaan leher mereka nantinya. Jika Viten tahu siapa identitas mereka, pasti kepala mereka akan terpenggal di guillotine cepat atau lambat. Pokoknya, mereka benar-benar tolol jika menyelinap masuk ke istana yang keamanannya juga tidak perlu dipertanyakan.


__ADS_2