I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]

I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]
3. Tuan Putri


__ADS_3

Aku benar-benar berada dalam mimpi yang menyenangkan dan aneh sekarang.


Meskipun aku sangat-sangat menyadari bahwa ini bukanlah mimpi melainkan kenyataan. Ke-nya-ta-an. Namun, kenyataan ini terlalu indah bagiku yang berpikiran akan terus tinggal di balik jeruji sempit, gelap, pengap, dan tidak nyaman.


Topik gosip pasti akan mengatakan hal seperti ini: "Mantan Tuan Putri Serethy Matria, putri kedua dari kerajaan Matria yang sudah jatuh, kembali memulai kehidupan nyaman dan mewahnya di Kerajaan Asher, Kerajaan yang mengalahkan Kerajaan Matria."


Sial. Tapi tidak terlalu sial. Setengah sial.


Ketika bangun dari tidur di balik jeruji besi di pagi hari, banyak pelayan yang menyambutku sambil membungkukkan badan mereka dalam-dalam, lalu mengatakan, "Selamat pagi, Tuan Putri Serethy."


Aku heran kenapa mereka tetap memanggilku Tuan Putri dibandingkan Nona karena aku adalah mantan Tuan Putri.


Lalu mereka membawaku—menyeretku—ke istana megah yang aku tidak tahu namanya.


Aku lalu dimasukkan ke dalam bak mandi dengan sabun wangi, dimandikan dengan susu dan bunga, lalu pelayan memijat tubuhku, memberiku perawatan pada tubuhku yang tidak aku mengerti. Pokoknya, segalanya sangat nyaman dan membuatku rileks hingga aku terlena.


Setelah itu, aku didandani dengan gaun paling mewah dan rambutku yang berwarna merah muda ditata.


Ini sangat menyenangkan hingga rasanya seolah bermimpi.


"Tunggu, kenapa aku dibawa ke sini?" tanyaku setelah memperoleh kembali akal sehatku karena kenyamanan ini begitu memabukkan.


Aku adalah tawanan perang, harusnya aku tetap berada di jeruji besi yang kecil dan gelap di penjara bawah tanah, bukan istana mewah seperti ini.


"Dengan segala hormat, Jelena ini akan menjawab," kata salah satu pelayan yang sibuk dengan gaunku. "Yang Mulia Raja memerintahkan pelayan-pelayan di Istana Kebahagiaan untuk melayani Tuan Putri Serethy dan memerintahkan Tuan Putri untuk terus tinggal di Istana Kebahagiaan ini."


Raja? Ini pasti kerjaan si bajingan gila!


"Tunggu, aku adalah tawanan perang. Kenapa aku harus didandani dengan mewah? Dan aku bukan Tuan Putri. Kerajaanku sudah jatuh."


"Dengan segala hormat, Jelena ini akan menjawab."


Dan kenapa dia mengulang kalimat itu seperti robot?


"Karena Yang Mulia Raja tertarik pada Anda, Tuan Putri Serethy. Dan Yang Mulia Raja baru saja mengumumkan kepada publik bahwa Anda adalah Tuan Putri Kerajaan Asher yang baru."


Hahhh?! Apa katanya? Jadi Tuan Putri Kerajaan Asher?


Bajingan gila sialan itu! Kenapa dia memutuskan sesuatu dengan seenak jidat?


"Apa? Aku tidak tahu apa pun mengenai hal ini. Bagaimana bisa Yang Mulia Raja melakukan hal ini padaku?"


"Dengan segala hormat—"


"Langsung jawab saja."


"Baik, Tuan Putri. Seperti yang sudah saya katakan, Yang Mulia Raja sangat tertarik dengan Anda."


" Di mana baj—maksudku, di mana Yang Mulia Raja sekarang? Aku akan menemuinya."


"Yang Mulia berada di ruang kerjanya sekarang."


"Iya, dan di istana mana ruang kerjanya?"


"Istana Kebahagiaan, Tuan Putri."


Hah? Tunggu, istana ini kan istana di mana aku didandani!


Aku berdiri dari kursi rias.


Pelayan yang menata rambutku langsung tersentak. "Tuan Putri, rambut Anda belum selesai—"


Aku tidak menunggu pelayan untuk menyelesaikan kalimatnya karena aku sudah berjalan menuju pintu kamarku yang diukir rumit tapi megah. Setelah membuka pintu, aku berjalan keluar dengan langkah yang tegas.


"Tuan Putri, Anda hendak ke mana?"


"AH!" Aku terkejut dengan suara lembut yang berada di luar kamar hingga aku tanpa sadar memukul pemilik suara itu.


Sir Derick hanya tersenyum lembut meski sudah dipukul keras olehku. Ya ampun, pesona Malaikat Jatuh.


"Sir Derick, kenapa Anda ada di sini?"


Sir Derick menunduk hormat. "Ya, Tuan Putri. Yang Mulia Raja memerintahkan saya untuk menjadi ksatria pribadi Tuan Putri. Dan tolong jangan bicara formal pada saya, Tuan Putri."


"Sir Derick, Anda—"

__ADS_1


"Jangan bicara formal, Tuan Putri." Dia tersenyum seperti malaikat setelah memotong kalimatku.


"Jadi, apakah kamu tahu apa yang sedang terjadi padaku?"


"Jika apa yang Tuan Putri maksud adalah menjadikan Tuan Putri Serethy Matria sebagai Tuan Putri Serethy Asher, seluruh orang sudah mengetahui hal ini."


Aku menatap Sir Derick dengan pandangan kosong.


Kenapa hanya aku yang tidak tahu apa-apa?!


"Sir Derick, tunjukkan ruang kerja Yang Mulia Raja," kataku dengan kosong dan tajam.


"Menjadi kehormatan bagi saya, Tuan Putri. Silakan ikuti saya."


Aku lalu mengikuti Sir Derick berjalan di lorong besar.


Aku baru menyadari kalau lorong ini sama dengan lorong ketika aku mengunjungi kamar bajingan gila kemarin.


Jadi, kemarin aku mengunjungi Istana Kebahagiaan, ya? Dan sekarang aku akan tinggal di Istana Kebahagiaan dengan bajingan gila? Tidak, terima kasih. Seperti gelar yang kuberikan, dia adalah bajingan gila, alias psikopat.


"Ini ruangan Yang Mulia Raja, Tuan Putri," kata Sir Derick setelah menunjuk ruangan dengan pintu besar yang mewah.


Ukiran emas di kayu putih juga menarik perhatian. Sial, seberapa kaya dia?


Aku mengetuk pintu beberapa kali, lalu mendengar suara bajingan gila di dalam.


Aku lalu membuka pintu dan menghampiri bajingan gila yang duduk di balik meja kerjanya.


"Oh, kau tidak terlihat menyedihkan lagi seperti kemarin." Bajingan gila, yang sekarang ingin kuhantam kepalanya dengan tempat lilin, tersenyum puas.


"Apa ini, Yang Mulia?" kataku dengan tajam.


"Ho. Pitamu belum selesai, tuh," kata bajingan gila sambil menunjuk bagian kiri rambutku.


Siapa peduli dengan pita, jelaskan saja hal ini dasar bajingan!


"Yang Mulia, saya menginginkan penjelasan," kataku dengan dingin.


Bajingan gila mulai tertawa. "Aku menjadikanmu Tuan Putri Asher karena kau tidak ingin jadi selirku."


"Itu karena kau sangat menarik," kata bajingan gila lalu menyandarkan punggungnya di sandaran beludru. "Kau tidak mau jadi selirku, padahal wanita lain akan menerimanya dengan senang hati."


"Itu karena saya adalah tawanan perang. Bukankah akan merusak reputasi Anda jika saya menjadi selir Anda?"


"Tidak akan ada yang membantah Raja."


Dia pribadi yang keras kepala dan tidak mau salah. Aku bisa menebaknya. Tidak, sejujurnya ini dijelaskan dalam novel.


Bajingan gila, tidak, Viten Asher adalah seseorang yang keras kepala dan tidak pernah menerima kesalahan. Jika Viten Asher menginginkan A maka harus A, tanpa menerima B. Perintahnya mutlak dan penggalan jika menolak.


Dia memiliki pribadi yang buruk sekali.


Namun, aku yakin jika pribadi seperti ini sangat berkaitan dengan inner child yang diceritakan dalam novel.


"Namun, saya adalah tawanan perang, Yang Mulia."


"Lalu kenapa? Aku ingin kau jadi putri Asher, maka kau jadi putri Asher."


Tuh, kan.


"Tapi saya yang berkonflik, Yang Mulia."


Bajingan gila mengangkat alis, heran. "Apa itu?"


"Harga diri saya."


"Hm?"


"Harga diri saya sebagai mantan Tuan Putri Kerajaan Matria terluka, Yang Mulia. Anda juga pasti akan mendengar berbagai opini mengenai saya yang menjilat Yang Mulia agar saya bisa menjadi Tuan Putri Asher."


"Persetan dengan opini."


"Tapi saya tidak bisa melakukan itu, Yang Mulia. Saya adalah mantan Tuan Putri kerajaan Matria, orang-orang akan memandang saya buruk dan hal itu juga akan menodai reputasi Anda di publik. Penguasa mana yang menjadikan tawanan perang sebagai bagian dari Kerajaan?"


"Kubilang, persetan dengan opini publik. Aku tidak peduli itu, maka kau juga tidak harus peduli."

__ADS_1


Aku mengernyit. Bajingan ini sangat menyebalkan hingga aku ingin menendangnya dengan jurus karate yang aku pelajari di dunia asalku.


"Anda adalah penguasa Asher, tidak seharusnya Anda mengabaikan opini publik. Pendapat itulah yang menjadi kekuatan Anda dan membangun kerajaan."


"Aku tahu itu. Tapi aku hanya ingin kau menjadi bagian dari Keluarga Kerajaan. Kau sudah telanjur mendapat nama Asher di belakang namamu, terima saja nasibmu karena sudah terlambat untuk mengubahnya."


Aku mengutamakan ekspresi kosong dan tajam yang memang ditujukan untuk seluruh orang di dunia ini sebagai tanda harga diri Tuan Putri, tapi bajingan gila tampaknya tidak terpengaruh oleh hal itu.


Tapi, memikirkan untuk menjadi Tuan Putri Asher ....


Lagipula, aku tidak benar-benar mengenal Kerajaan Matria. Aku tidak pernah tinggal di sana sebelumnya. Aku tidak perlu benar-benar menganggap Matria sebagai rumahku.


Aku bangun di sini dalam perjalanan ke Kerajaan Asher, jadi aku sama sekali tidak mengenal kerajaan asal Serethy.


Di dalam novel juga tidak diceritakan banyak mengenai Kerajaan Matria kecuali kerajaan ini runtuh karena peperangan dengan Kerajaan Asher. Wilayah asal Matria menjadi bagian dari Asher dan Serethy tidak memiliki wewenang lagi sebagai darah biru di keluarga Matria.


Hanya itu.


Isi novel ini hanya memfokuskan berbagai penyiksaan yang dialami oleh Serethy dari dua pihak dan betapa menderitanya Serethy.


Lebih tepatnya, novel psikopat yang entah kenapa bisa diterima perusahaan penerbitan ini cuma menjelaskan luka-luka Serethy. Lalu penulis novel membunuhnya di akhir. Wow, novel brengsek.


Dan menjadi Tuan Putri Asher membuatku bisa menghindari siksaan, bukan?


Bajingan gila tidak memiliki alasan untuk menyiksaku, apalagi wanita gila yang merupakan tunangan bajingan gila. Mereka tidak akan menyentuhku dengan alat-alat berbahaya.


Aku juga tidak memedulikan opini publik, toh aku tidak mengenal mereka.


Jadi, bukan hal yang buruk untuk menjadi bagian dari Asher, kan?


Tapi aku akan jual mahal sedikit. Sekaligus menjamin kalau bajingan gila tidak akan menyiksaku di masa depan.


"Mengapa, Yang Mulia?"


Bajingan gila menopang dagunya di atas meja. "Apanya?"


"Mengapa Anda menjadikan saya Tuan Putri Asher. Saya tidak memiliki hubungan darah dengan Asher, saya juga tidak memiliki hubungan apa pun dengan keluarga Asher, saya hanyalah tawanan perang. Lalu, mengapa Anda menjadikan saya sebagai bagian dari Asher?"


"Itu karena kau tidak mau jadi selirku, bukankah aku sudah mengatakannya?"


"Namun, itu tidak masuk akal."


"Apa yang tidak masuk akal? Aku hanya ingin membawamu ke dalam silsilah keluarga. Kau menolak menjadi selir dan aku memutuskan untuk menjadikanmu Putri Asher."


Keluarga, ya?


Ya ampun, sosok yang menyedihkan.


"Anda tidak ingin menyiksa saya?"


Bajingan gila menatapku dengan pandangan aneh. "Menyiksamu? Kenapa aku harus melakukannya?"


Aku menyipitkan mata. "Anda hanya ingin saya menjadi bagian keluarga Anda?"


"Benar."


Aku menghela napas lega di dalam hati.


Aku menghindari bendera kematian pertama!


Bajingan gila, oke, akan kupanggil namanya mulai sekarang, Viten tidak menunjukkan intensi apa pun untuk menyakitiku seperti di dalam novel.


Dia benar-benar hanya ingin aku menjadi keluarganya.


Ya sudah, lah. Aku akan menjadi bagian dari keluarganya. Karena ini Keluarga Kerajaan dan bukan sembarang keluarga. Jadi, tidak akan ada yang akan kurang ajar padaku, kan? Ditambah, menghabiskan masa hidupku di Istana megah dibandingkan penjara gelap.


Bukankah aku mendapatkan permata tersembunyi dalam tumpukan jerami?!


Aku membuka mulutku sebelum pintu ruang kerja Viten didobrak dengan paksa.


Seorang wanita dengan aura elegan tapi tampak antagonis muncul di sana.


Rambutnya yang zamrud dan iris mata hitam.


Aku menahan ekspresiku untuk berubah begitu menyadari kalau dia adalah tunangan Viten, si wanita gila!

__ADS_1


__ADS_2