![I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]](https://asset.asean.biz.id/i-will-avoid-the-death-flag--sudah-terbit-.webp)
Aku dan Clare memasuki hutan tempat arena perburuan digelar setelah selesai mendengarkan peraturan yang diumumkan oleh raja Asher sendiri.
Itu adalah peraturan yang sangat rumit. Yah, masuk akal karena ini adalah kompetisi bagi kedua kandidat ratu di masa depan. Misalnya, kedua kandidat ratu tidak diperbolehkan untuk saling menyerang satu sama lain, dibantu oleh pihak ketiga, jangan berbentrokan, jangan bermusuhan, jangan melukai satu sama lain, dan puluhan peraturan lainnya yang terpaksa kudengarkan hingga selesai karena manik merah Viten begitu mengintimidasi.
Viten menunjukkan sorot mata yang mengatakan, "menanglah dan jadi ratu!". Dengan tekanan itu, aku berhasil mendengarkan peraturan yang diucapkan oleh Viten hingga akhir.
Aku dan Clare tentu saja memilih arah yang berbeda untuk meminimalisir kami yang berbentrokan ketika berburu kelinci. Aku memilih jalan ke timur, sementara Clare ke barat.
Viten mengatakan bahwa kelinci mudah diburu sebelumnya. Kelinci biasanya bersembunyi di sekitar semak-semak. Dan aku diwajibkan untuk menghindari hutan yang lebih dalam karena di sana adalah tempat tinggal para hewan buas yang tentunya tidak akan bisa aku hadapi.
Srek, srek, srek.
Suara sepatuku dan rerumputan yang beradu membuat harmoni di udara yang sunyi. Hutan ini benar-benar sepi. Namun, alih-alih merasa takut, aku merasa hatiku tenang.
Well, dikelilingi oleh para psikopat di sekitarku membuatku tidak bisa berhenti waspada. Dan itulah sebabnya aku bisa merasakan ketenangan untuk sesaat di dalam hutan ini.
"Kelinci, kelinci, di mana kamu."
Aku mencari para kelinci di dalam semak-semak. Setidaknya, pasti ada satu-dua sarang mereka yang tersembunyi, kan?
Tiga puluh menit. Itu adalah waktu yang diberikan pada kedua kandidat untuk memburu tiga kelinci. Dan waktu telah berjalan selama sepuluh menit di sini.
Aku bisa membayangkan Clare tengah mati-matian memburu tiga kelinci dan membawa hasil buruannya kembali ke garis awal.
Itu menggelikan. Itu karena dia akan mencoba untuk memenangkan kompetisi dan jadi ratu, kan?
Aku cukup santai.
Tentu saja karena aku tidak terlalu menginginkan kemenangan berpihak kepadaku. Aku hanya melakukan ini karena kompetisi perburuan digelar atas firman Dewa. Mungkin saja dengan mengikuti kompetisi ini, aku bisa berinteraksi dengan Dewa Matahari meski sedikit, entah itu berbicara secara langsung atau diwakili oleh pendeta. Aku tidak masalah.
Aku membawa diriku sendiri memasuki hutan lebih dalam. Tidak terlalu dalam, mungkin dua persepuluh area hutan. Itu karena para kelinci bersembunyi dengan sangat baik. Aku kesulitan menemukan mereka.
Sementara itu, aku malah banyak menemukan musang atau rubah yang tidak perlu kuburu karena mereka bukan targetku.
Aku berjongkok di sekitar semak-semak yang lebat. Jemariku yang dilapisi sarung tangan kulit langsung mencari-cari para kelinci itu lewat sela semak-semak.
Oke, tidak ada.
Sesaat setelah aku bangkit. Wus!
Aku membeku dan senyuman kaku terlukis di bibirku yang mulai memucat.
Itu anak panah. Menggores tanah tepat setengah jengkal di sampingku.
Jika aku masih berjongkok, mungkin saja anak panah itu sudah menembus punggungku dan aku akan mati kehabisan darah.
Dengan cepat, aku membalikkan tubuhku. Tidak ada siapapun.
Aku memegang erat busur dan mengambil anak panah yang tersampir di punggungku. Meletakkan anak panah di rest arrow, aku bersiap-siap.
Ada yang menyerangku. Meskipun sosok itu bersembunyi, aku yakin bahwa targetnya adalah aku, dan bukan kelinci-kelinci itu.
Aku tidak yakin jika sosok itu adalah Clare karena kami mengambil arah yang berbanding terbalik. Sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk menyusulku dan melakukan percobaan pembunuhan. Yah, lebih baik berburu para kelinci daripada memburuku, bukan?
"Siapa di sana." Suaraku bergema. Membuat para serangga beterbangan dan bersembunyi. "Tunjukkan dirimu, bajingan!"
Srek!
Dengan satu ayunan, seseorang mendarat di sisi kiriku. Dia melompat dari atas pohon yang berdaun lebat, menyembunyikan dirinya di dalam dedaunan.
Namun, aku tidak tahu apa yang membuatnya menuruti perkataanku untuk menunjukkan dirinya sendiri. Dia adalah orang yang tolol atau orang yang memiliki rencana.
Sosok itu mengenakan jubah hitam yang panjang, menutupi seluruh tubuhnya, wajahnya tidak terlihat karena tudung jubah yang panjang. Di tangannya, terdapat busur dan di punggungnya, tersampir puluhan anak panah.
Oke, tenang.
"Siapa kau?" tanyaku sambil mengangkat busur, memosisikannya pada sosok itu untuk menjadi target anak panahku.
"Senang bertemu dengan Anda, Tuan Putri."
Itu adalah suara pria. Aku belum pernah mendengar suaranya. Dia asing. Aku meningkatkan kewaspadaanku.
"Katakan padaku, apa kau musuhku atau kawanku?"
"Tuan Putri berada di balik punggung malaikat, sementara saya adalah raja iblis."
"Metafora yang indah untuk menunjukkan bahwa kita adalah lawan."
"Terima kasih atas pujian Anda." Pria berjubah hitam itu berjalan perlahan ke arahku. "Apa Tuan Putri tahu mengenai kisah Putri yang dikurung di menara? Jika tidak, saya ceritakan secara singkat. Seorang penjahat menangkap Tuan Putri dan memasukkannya ke dalam menara. Lalu, pangeran menyelamatkan Putri. Tamat. Nah, di sini saya akan melakukannya. Bedanya, saya akan mengirim Tuan Putri ke neraka alih-alih menara. Jadi, jangan berharap siapa pun akan menyelamatkan Tuan Putri di sini."
__ADS_1
Aku mendengus iritasi. Dia benar-benar brengsek. Kami bahkan tidak saling mengenal dan dia malah menginginkan nyawaku. Seolah aku akan memberikannya dengan mudah.
Aku terkekeh mengejek. "Berharap seseorang akan menyelamatkanku? Kau salah, bajingan brengsek. Aku tidak pernah mengandalkan seseorang untuk melindungi nyawaku. Nyawaku dilindungi oleh diriku sendiri."
Wus! Aku melepaskan anak panah. Pria itu mengelak, panahku tertancap di pohon.
Wus! Aku melepaskan anak panah lagi.
Ini sulit. Panahan adalah senjata jarak jauh. Aku harus memberi jarak.
Aku melangkah mundur sambil melepaskan anak panah. Senjatanya juga adalah panah, tapi tidak ada yang tahu senjata apa lagi yang disembunyikan lewat jubahnya yang lebar.
Aku berlari mundur, bersembunyi di belakang pohon sambil mengintip. Dia mengerjarku.
Wus! Melepaskan anak panahku lagi, aku berlari menghindari pria itu, oke akan kupanggil dia sebagai Pria Berjubah A sekarang.
Persetan, aku harus membuat jarak agar panahku berguna.
Tanpa sadar, aku berlari memasuki hutan lebih dalam. Setelah menyadari bahwa suasana semakin aneh, aku merutuki diriku sendiri.
Aku bodoh.
Berniat untuk menyelamatkan diri dari pemburu tetapi malah memasuki kandang singa? Bukankah dua pilihan itu menunjukkan akhir yang sama? Bunuh diri?
Namun, Pria Berjubah A jadi kehilangan jejakku karena aku berlari kesetanan untuk menghindarinya.
Jarak kami adalah tiga puluh meter. Dan kuharap panahku yang satu ini bisa melukainya meski sedikit.
Aku meletakkan anak panah di arrow rest, menarik tali panah, dan wus! Panah itu melesat. Namun, lagi-lagi pria itu mengelak. Dia pandai mengelak.
Sialan.
Dan kini dia jadi tahu di mana aku berada.
Wus!
Anak panah tertancap beberapa sentimeter di depan kakiku.
"Jangan lari lagi, Tuan Putri. Kita bukanlah kucing dan anjing. Jadi, tolong diamlah."
"Seolah aku akan melakukan hal gila itu."
"Heh. Anda sangat berani padahal nyawa Anda berada di ambang kematian."
"Mengapa saya perlu memberi tahu Tuan Putri ketika Anda akan mati sebentar lagi?"
Aku bisa membayangkan seringain keji yang dibuat pria bajingan itu di balik tudung jubahnya.
Ketika Pria Berjubah A mengangkat busur, tiba-tiba terdengar jejak kaki samar yang mendekat. Serentak. Dan itu adalah jumlah yang banyak.
Dan untuk waktu yang singkat, aku telah dikepung oleh beberapa orang berjubah hitam yang sama dengan pria yang telah mengerjarku sebelumnya. Bedanya, di jubah itu terdapat semacam lambang berwarna perak yang rumit tetapi terlihat indah dan elegan.
"Oi, kenapa kau mengejar target lebih dulu dan tidak menunggu kami?" Seorang pria dengan jubah berlambang menepuk bahu Pria Berjubah A.
Aku bisa merasakan kebingungan yang dikeluarkan oleh Pria Berjubah A.
"Siapa kalian?" Suara Pria Berjubah A membuat sebagian besar orang-orang dengan jubah berlambang kebingungan.
"Kau bukan kelompok kami?" Pria yang sebelumnya menepuk bahu pria bajingan itu menatap rekan-rekannya dengan bingung. Hanya sesaat sebelum kembali melirik Pria Berjubah A dengan waspada. "Apa tujuanmu di sini?"
"Tenanglah. Sepertinya tujuan kita sama."
Lalu, aku bisa merasakan banyak pasang mata menatapku dari balik tudung jubah mereka.
Tenang, Serethy Rexanne Asher. Ketenangan adalah kunci utama dari segalanya. Jika aku menunjukkan kelemahanku di hadapan mereka, maka aku akan tamat di sini. Dan aku sama sekali tidak ingin mengakhiri kehidupanku di sini.
Aku menyeringai kaku lalu meraih panahku, menjadikan ujung panah sebagai senjata.
Aku tidak mungkin menggunakan busur dengan jarak kami yang terlalu dekat. Busur adalah senjata jarak jauh, jadi nyaris mustahil untuk menggunakan senjata itu di mana jarakku dengan para orang berjubah adalah dua hingga tiga meter.
Kecuali aku berlari dan menjaga jarak, aku bisa saja menggunakan senjataku. Namun, menganalisis dari berapa jumlah mereka, ada setengah lusin, dan mereka sama-sama mengincar nyawaku. Tidak mudah untuk kabur dengan panah dan tubuh lemah Serethy.
"Hahaha!" Tawa menggelegar terdengar dari yang bisa kusimpulkan sebagai ketua kelompok para orang dengan jubah berlambang. Aku akan memanggilnya Pria Berjubah B.
"Kalau begitu, tidak perlu ada permusuhan dari kita, kan." Pria berjubah B menepuk pundak Pria Berjubah A berkali-kali. Musuh dari musuhmu adalah rekan, begitu? Heh, ini menggelikan.
"Itu benar. Aku hanya ditugaskan untuk membunuh Tuan Putri, begitu juga kalian. Maka, kerja sama di antara kita akan mempermudah tugas."
"Betul! Hahaha!" Pria Berjubah B tertawa lagi. Tingkat humornya sangat rendah. Dia lalu berbalik dan menatap anggota kelompoknya. "Semuanya, angkat senjata kalian! Lakukan sesuai rencana. Kelompok A, tangkap Tuan Putri jika wanita lacur itu mau kabur. Kelompok B, bunuh! Hahaha!"
__ADS_1
Itu tawa psikopat yang membuat adrenalin terasa semakin menantang. Oke, dunia ini tidak beres. Tidak ada satu manusia pun yang beres di dunia ini.
Setelah Pria Berjubah B mengucapkan komandonya, anggota kelompoknya segera berpencar ke arahku.
Aku menusuk lengan si antek-antek dengan panahku. Dalam. Dan itu mengeluarkan banyak darah hingga menyulut kemarahan di pihak lain.
Brengsek.
Tenang, Serethy.
Tapi tenang apanya?! Kedua lenganku kini ditahan oleh antek-antek si pria berjubah. Sialan. Kekuatan mereka tidak main-main. Well, begini saja. Bayangkan jika setengah lusin pria berotot menangkap satu wanita lemah sendirian. Bukankah ini adalah definisi sebenarnya dari kalah jumlah?!
"Dasar, brengsek!" teriakku. Suaraku bergema di udara, mengundang tawa dari Pria Berjubah B.
"Ternyata mudah." Pria itu maju, lalu mencengkeram rahangku. "Aku tidak tahu kenapa Pemimpin menyuruh tujuh orang termasuk aku hanya untuk menangkap satu pelacur ini. Padahal dia sangat lemah."
Aku sangat ingin menendang wajahnya.
"Tubuhnya bagus."
Aku sama sekali tidak ingin mendengarkan kalimat picisan seperti itu.
"Bagaimana rasamu, ya?"
Menjijikkan.
"Ketua, apa langsung kita bunuh saja?" Si antek bertanya, membuat Pria Berjubah B memelotot.
"Itu adalah tugas kita, tapi sedikit sayang jika tidak merasakan wanita ini sedikit."
"Heh, bajingan." Suaraku dipenuhi rasa geram, mataku disoroti oleh kemurkaan. Dia telah melukai harga diri banyak wanita dengan mengatakan hal-hal seperti itu. "Kau pikir aku akan melepaskanmu saja?! Dasar brengsek. Aku adalah Tuan Putri! Kau—"
Plak!
"Mau kau Tuan Putri atau bukan, kau tidak berkuasa lagi sekarang. Tidak akan ada yang menyelamatkanmu. Jadi, menurut saja."
"Hahaha!" Aku tertawa. Keras. Membuat si ketua kelompok kebingungan. "Menurut saja?! Seolah aku akan melakukannya!"
Aku menendang ************ Pria Berjubah B dengan sekuat tenaga. Pria itu tidak waspada sama sekali dan langsung berteriak kesakitan.
Antek-anteknya murka dan mulai memukuliku.
Hanya dua detik setelah aku dipukuli dan sring! Cahaya emas menguar begitu menyilaukan dari tubuhku. Membuat orang-orang yang mengelilingiku berteriak kesakitan karena cahaya itu menusuk retina mata mereka.
"I-Ini—!"
Teriakan mereka menggema, satu-persatu terdengar pula kata-kata kasar yang keluar dari mulut mereka. Mereka kedengaran sangat kesakitan. Seolah mata mereka akan buta. Seolah ribuan pisau menyayat kulit mereka hingga mati.
Padahal apa yang kurasakan adalah kehangatan. Tubuhku terasa hangat dan nyaman. Luka-luka lebam dan goresan yang dihasilkan oleh permainan kejar-kejaran itu sembuh dengan sendirinya.
Dan juga, cahaya emas yang menyilaukan ini tidak menyakiti mataku dan tubuhku seperti para pria berjubah bajingan itu.
Aku tidak tahu apa cahaya ini, tapi aku seolah bisa merasakan cahaya ini merupakan milikku.
Teriakan para pria berjubah langsung mereda. Dan satu-persatu jatuh ke tanah dengan gedebuk pelan.
"Ugh!" Aku bisa merasakan kepalaku sakit. Sesuatu memasuki benakku. Dan kedua bibirku terbuka secara tiba-tiba. Aku bicara, tetapi bukan aku yang bicara.
"Anak-anak tidak tahu diri."
Kini, di udara, terdengar dua suara. Suara pertama adalah milikku, tetapi yang kedua adalah asing. Namun, suara kedua itu menunjukkan kekuasaan, kekuatan, martabat, dan keagungan di saat yang sama. Sementara itu, cahaya emas juga masih menguar dengan menyilaukan. Menyinari hampir seluruh area hutan di dekatku. Ke udara, ke sela-sela dedaunan dan semak, ke dalam tanah, segalanya.
Aku juga bisa merasakan kemarahan meledak di dalam diriku, tetapi di saat yang sama bukanlah milikku.
"Kalian adalah bajingan yang tidak berhak untuk hidup karena telah menyakiti anakku. Kalian adalah anak-anak terkutuk. Aku adalah Dewi Matahari, dan kalian tidak akan mendapat restuku melainkan kutukan."
Setelah itu, cahaya menghilang dengan cepat. Dan aku kehilangan kesadaran.
***
"Sial, sial, sial. Nona Clare!"
Alverro berlari sekencang mungkin menuju barat dengan jubah hitam lebarnya yang kini telah berantakan. Tudung jubahnya yang panjang terlepas dan menampilkan rambut emasnya yang berkilau setelah ditimpa cahaya matahari.
Alverro menggigit bibir, menahan rasa sakit yang membuat kulitnya terbakar.
Di mata safirnya yang indah, kini menetes darah dengan deras. Matanya terluka dan cairan pekat itu terus mengalir dari pelupuk matanya.
Rasanya tentu menyakitkan, tetapi dia berjuang untuk menyusul Clare yang ada di bagian barat hutan.
__ADS_1
Setelah Serethy mengeluarkan kekuatan sucinya, Alverro langsung melarikan diri dari sana meski harus menderita luka.
"Nona Clare! Tidak ada yang memberi tahu bahwa wanita itu adalah saintess!"