![I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]](https://asset.asean.biz.id/i-will-avoid-the-death-flag--sudah-terbit-.webp)
Di tengah gempuran aku yang sibuk melakukan konsultasi dan penyembuhan pada rakyat, ada pesta ulang tahun Axel yang menunggu untuk dihadiri olehku.
Sejujurnya, aku merasa bahwa pesta ulang tahun akan menjadi beban terbesar bagiku. Mengapa? Itu karena Etrill dan Kallistar telah ditemukan, tentu saja pembahasan di dalam pesta tidak akan jauh membahas seputar mereka.
Aku menghela napas.
"Apa gaunnya tidak sesuai dengan keinginan Anda, Tuan Putri?" tanya Jelena yang tengah memperbaiki aksesori rumit di gaunku.
Regina dan Melanie ikut-ikutan menatapku dengan pandangan sedih karena aku kelihatan tidak bersemangat.
"Tidak. Aku menyukai gaun dan riasannya," balasku dengan senyuman kecil di bibir.
"Lantas, apa yang membuat Tuan Putri merasa terganggu?" tanya Melanie dengan sorot sedih di wajahnya.
Aku tersenyum kaku. Apakah aku kelihatan sejelas itu?
"Bukan apa-apa," jawabku dengan tenang. "Tidak perlu dipikirkan."
"Apakah ini karena Tuan Muda Axel?" tanya Regina dengan mata bulatnya yang terarah padaku.
"Ya? Memangnya ada apa dengan Tuan Muda Axel?" tanyaku balik.
"Tuan Muda tidak pernah mengunjungi istana ataupun menemui Tuan Putri lagi setelah penghukuman mendiang Nona Clare. Apakah itu menganggu Tuan Putri?"
Aku mengalunkan tawa pelan. Mana mungkin aku terganggu dengan ketidakhadiran bajingan itu. Yah, meski akhir-akhir ini ketidakhadirannya membuatku sedikit linglung. Pasalnya, anak itu selalu berkeliaran di sekitarku, seolah tidak pernah absen untuk mengekoriku selayaknya anak ayam pada induknya. Hal itu tentu saja membuatku merasa sedikit aneh.
Kami benar-benar kehilangan kontak setelah Clare dihukum. Apakah ada yang salah dengan hukuman Clare? Bukankah seharusnya Axel merasa senang karena satu-satunya orang yang menyiksa Sorena Krone di masa lalu, kini telah mendapat ganjarannya? Apakah dia tidak puas karena bukan tangannya sendiri yang menghabisi nyawa Clare?
Aku mendesis kecil. Memikirkan hal-hal tidak berguna ketika aku tengah digempur berbagai macam masalah membuatku sakit kepala.
"Sama sekali tidak mengganggu," balasku pada pertanyaan Regina. "Lagipula, aku yakin Tuan Muda Axel memiliki kesibukannya tersendiri. Bukankah Tuan Muda adalah Marquis masa depan?"
"Itu benar, sih," gumam Melanie. "Namun, biasanya Tuan Muda Axel lengket sekali dengan Tuan Putri!"
"Jadi, terasa aneh ketika sudah hampir tiga minggu Tuan Muda Axel tidak berada di sekitar Tuan Putri," sambung Regina.
"Sudahlah kalian berdua. Cepat selesaikan pekerjaan kalian, Tuan Putri harus bergegas pergi ke pesta," sela Jelena yang masih sibuk menata aksesori rumit di gaunku.
Melanie dan Regina cemberut. "Boo, Kak Jelena tidak asik!" Meski begitu, keduanya melanjutkan pekerjaan mereka untuk mendandaniku.
Aku hanya terkekeh kecil, kemudian menilik figur cantik Serethy di cermin.
Ya, tidak ada yang menggangguku sama sekali mengenai ketidakhadiran Axel. Tidak ada.
...***...
Viten mengulurkan tangannya ketika kami berdua keluar dari kereta kuda dengan lambang Kerajaan Asher di depan kediaman Krone.
__ADS_1
Seluruh bangsawan yang menghadiri acara ulang tahun langsung menunjukan atensinya terhadap kami berdua.
Aku turun dari kereta kuda yang megah, kemudian menerima uluran tangan Viten.
Kami berdua kemudian menjejaki lantai pesta, di mana seluruh bangsawan telah berkumpul dalam perkumpulan berkedok politik.
Orkestra menghentikan lantunannya, bangsawan berhenti bicara, dan semua orang di aula pesta menundukkan tubuh mereka terhadap kami.
"Salam kepada matahari dan bulan Asher, semoga kebahagiaan terus menyertai Anda berdua."
Viten mengangkat tangannya. "Jangan pedulikan aku, nikmati saja pestanya."
Seolah kalimatnya berpengaruh besar, suasana pesta kembali seperti semula. Semua bangsawan kembali berkumpul dengan kelompok sosialitanya dan saling bergosip. Bahkan membisiki aku dan Viten secara terang-terangan. Untung saja isi gosipnya adalah pembicaraan yang baik, apabila tidak, si Viten ini pasti sudah memenggal mereka.
"Aku meleleh! Mengapa Yang Mulia dan Tuan Putri kelihatan sangat cocok?!"
"Benar! Yang Mulia manis sekali pada Tuan Putri!"
"Bagaimana bisa aku tidak menyadari ada pasangan sesempurna mereka?!"
Tuh, kan, untung saja isinya bagus.
Aku tidak memedulikan bisik-bisik yang mengarah pada kami. Sebagai gantinya, kami berdua melangkahkan kaki kami ke satu tujuan yang sama, pada bintang pesta ini, yang kini tengah dikerumuni oleh bangsawan dari berbagai kalangan.
Setelah menyadari kehadiran kami, kerumunan terbelah, dan semuanya undur diri. Menyisakan bintang pesta dengan pakaian termewah yang pernah kulihat. Sebab, sebelumnya Axel lebih menyukai pakaian sederhana yang mudah untuknya bergerak.
"Salam kepada matahari dan bulan Asher." Axel menundukkan tubuhnya dengan etiket yang sempurna, kemudian mengulas senyuman lembut di bibir. Sama sekali tidak terlacak Axel si pembuat onar di wajahnya.
"Selamat ulang tahun untukmu, Tuan Muda Axel," kataku. "Kami memberikanmu hadiah, semoga kamu menyukainya."
Pelayan Viten, yang sebenarnya sudah mengekori kami berdua sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, kini maju dan menyerahkan kotak hadiah.
Axel menerimanya dengan senang hati. "Terima kasih banyak atas hadiah Anda berdua, saya merasa bahwa ini adalah pesta terbaik selama dua puluh tahun saya hidup."
"Tentu," balas Viten dengan tenang.
Aku hanya memelotot padanya. Dia sama sekali tidak memiliki peran dalam pemilihan hadiah. Namun, dia bersikeras ingin hadiah yang kupilih juga atas namanya.
"Saya akan membukanya." Axel kemudian membuka kotak beludru. Di dalamnya, bros berlian sewarna emas yang memukau terpampang. "Saya menyukainya, sekali lagi terima kasih banyak."
Axel memberikan kotak hadiah pada pelayan secara alami.
"Tentu saja, itu cukup mahal," balas Viten.
Ya ampun, pria ini.
Axel cuma memasang senyuman lembut, sama sekali tidak terpengaruh akan kalimat sarkastik Viten.
__ADS_1
"Maaf apabila saya lancang. Apakah saya boleh meminta hadiah kedua dari Anda berdua?" tanya Axel tanpa memperlihatkan sorot yang berbeda di wajahnya. Dia masih memasang senyuman lembut yang makin menawan.
"Apa itu?" tanya Viten.
"Saya ingin meminta Tuan Putri untuk berdansa di lagu kedua bersama saya."
"Kau!" Viten buru-buru menyanggah, dia menggeretakkan giginya. "Tidak. Jika kau cukup pintar, Tuan Muda Axel. Serethy adalah tunangan Raja, Ratu masa depan, mengapa kau dengan lancangnya hendak meminta Serethy untuk berdansa denganmu?"
Axel sedikit menundukkan tubuhnya. "Saya amat sangat tahu apabila permintaan saya ini begitu lancang, saya sadar diri, Yang Mulia. Akan tetapi, saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi."
Vitem menatap Axel dengan sorot tak terdefinisi di wajahnya.
"Saya benar-benar putus asa," sambung Axel. "Sejujurnya, perasaan yang meletup di dalam diri saya sulit sekali untuk dikendalikan. Saya sangat lancang, tetapi apabila Tuan Putri menyetujui permintaan saya, maka pendapat Yang Mulia pasti akan dikesampingkan."
"Bukannya bagaimana, Tuan Muda Axel," jawab Viten, seolah belum mau menyerah. "Semua orang di sini sudah tahu jika Serethy adalah tunanganku, tentu saja pria lain tidak bisa menyentuh Serethy sesuka hati. Serethy pula bukan sembarang wanita, dia calon Ratu Asher. Camkan itu, Tuan Muda Axel."
Aku bisa melihat sorot menyedihkan Axel di matanya, serta bagaimana Axel menggigit bibirnya dengan keras.
"Maafkan permintaan saya yang lancang, Yang Mulia." Axel membungkukkan tubuhnya. "Silakan nikmati pestanya."
Kemudian, Axel membalikkan tubuhnya tanpa melirikku barang sekali.
Aku tahu pasti apabila aku merupakan tunangan raja, untuk Axel menyentuhku dalam dansa tentu saja membuat opini orang lain terhadapku menurun. Itu bisa memengaruhi dukungan yang kudapat susah payah.
Namun, ada berbagai perasaan pelik kala melihat sorot kecewa di mata emasnya yang menawan. Terdapat sesuatu yang membangkitkan perasaan bersalah di dalam diri, membuatku terasa resah.
Tidak hanya itu, Axel tidak berdebat dengan Viten. Itu merupakan suatu keajaiban di mana ketika keduanya bertemu, maka selalu ada perdebatan tak berujung apabila tidak ada situasi yang memaksa keduanya untuk berhenti.
Tidak hanya itu, Axel bahkan memandangku dengan sorot yang berbeda. Biasanya, Axel yang ekspresif akan selalu mengutarakan isi hati serta pikirannya. Namun, kali ini dia begitu kaku.
Axel memaksakan dirinya untuk menampilkan peran bangsawan yang layak. Dan itu sama sekali tidak kelihatan seperti Axel.
Pada akhirnya, lamunanku terpotong oleh suara orkestra pada dansa pertama.
Aku berdansa dengan Viten di lagu paruh pertama. Kemudian berbincang dengan kepala keluarga bangsawan, rekan bisnis Viten, nona dan nyonya bangsawan, serta orang-orang yang berterima kasih padaku karena sudah membuka jasa konsultasi secara gratis tanpa dipungut biaya atau paksaan apa pun. Mereka menyanjungku dengan begitu hebat, apabila aku tidak melatih diri untuk tidak terlena, aku pasti sudah gila karena pujian.
Kemudian, ada juga yang menyebutkan Etrill dan Kallistar. Aku cuma menjawab pertanyaan mereka dengan apa yang sudah kutulis di koran gosip. Mereka kemudian mengangguk dengan puas akan jawabanku. Dan untung saja tidak ada hal menyebalkan mengenai Etrill dan Kallistar yang memaksaku untuk mengatakan omong kosong mengenai mereka.
Pesta hampir selesai, tetapi aku tidak bisa tidak merasa resah.
Axel tidak kelihatan di mana pun. Si bintang pesta seolah menghilang setelah ajakan dansanya ditolak Viten secara tegas.
Aku khawatir.
...***...
mohon dukungannya selalu 😍
__ADS_1
20 Desember 2022