I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]

I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]
45. Mengungkapkan


__ADS_3

Akhirnya aku menemukan pria itu setelah berdalih akan mencari udara segar karena suasana pesta begitu mencekik pada Viten.


Di balkon yang jauh dari suasana pesta, orang yang pernah mengambil banyak peran di dalam novel asli untuk menganiaya Serethy, sedang duduk di sofa yang nyaman di balkon yang luas. Panorama malam adalah satu-satunya yang ditilik oleh manik emas di pemuda berambut perak. Sesekali, jemarinya menggoyangkan gelas wine dan menyesap isinya perlahan, berusaha menikmati momen yang ada.


Di atas meja, tiga buah botol wine berjajar. Dua di antaranya sudah habis diteguk, sementara satu botol lainnya hanya tersisa setengah.


Ketika manik Axel yang dibayangi sinar rembulan di angkasa sana berpendar keemasan kala bersitatap dengan violet milikku, aku melihat keterkejutan di dalamnya. Buru-buru Axel meletakkan gelas wine dan menegakkan tubuhnya.


Axel berdiri di depanku, kemudian melakukan salam.


"Salam kepada bulan Asher, semoga kebahagiaan terus menyertai Anda," sapanya, membuat dahiku mengerut mengenai betapa kakunya dia.


Hei, ke mana si pembuat onar yang ekspresif?


"Tuan Muda Axel," panggilku, membuat Axel kembali menegakkan tubuhnya. "Mengapa sang bintang pesta menghilang dari pestanya sendiri?"


Axel tampak gelagapan. Pipinya yang memerah karena pengaruh alkohol membuatnya terlihat makin jelas bahwa dia memiliki masalah yang terkunci dalam benak, bingung hendak melampiaskannya ke mana. Meski wajahnya memerah, aku bisa tahu bahwa Axel sama sekali tidak mabuk. Bisa dilihat dari sorot matanya yang jernih.


"Sa-Saya—"


"Tuan Muda Axel," potongku dengan nada tegas. "Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?"


Axel menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa, Tuan Putri. Anda tidak perlu risau."


Aku menghela napas. "Sesuatu mengganggumu."


Diam-diam aku masih bisa mendengar suara orkestra yang dimainkan walau jarak balkon dari aula pesta cukup jauh.


"Saya tidak apa-apa, Tuan Putri. Tidak perlu dipikirkan."


Aku mengembuskan napasku dengan berat. Dia jelas-jelas menyembunyikan sesuatu. Namun, mengapa dia tidak mengatakan masalahnya saja padaku? Bukankah kita bisa dikatakan cukup dekat sekarang? Melihatnya seperti ini cukup membuatku frustrasi.


"Tuan Muda, bagaimana jika kita berdansa?" ajakku.


"Y-Ya?" Axel membulatkan matanya yang emas. "S-Saya tidak mungkin menerimanya, Tuan Putri. Saya tidak bisa lancang—"


"Tidak apa-apa," potongku. "Tidak ada siapa-siapa di sini yang akan menilai kita berdua semau mereka."


Alasan mengapa Viten menolak hadiah kedua Axel adalah karena ratusan pasang mata di lantai pesta akan menilai seolah mereka paling benar. Akan tetapi, hanya ada kami berdua di sini yang membuat kami tidak perlu khawatir dengan pandangan menusuk orang lain.


Aku bisa melihat manik Axel bergetar samar, tetapi dia menundukkan tubuhnya sembari mengulurkan tangannya padaku.


Aku menerima uluran tangannya dan kami langsung mengikuti irama orkestra samar yang terdengar. Menjejaki satu-persatu petak dansa di lantai balkon, menari dengan bebas selayaknya kepakan sang burung, saling merengkuh, saling membagi kehangatan, saling menatap, menabrakkan violet serta emas di titik dan masa yang sama.


Dalam jarak yang begitu dekat, aku bisa melihat sorot emas yang dipenuhi oleh misteri. Aku sangat ingin tahu apa saja yang ada di balik misteri itu. Sangat-sangat ingin tahu apa saja yang disembunyikannya sampai aku merasa frustrasi.


"Apakah kamu kesal padaku?" tanyaku di tengah-tengah gerakan dansa kami.


"Saya mana mungkin merasa kesal pada Anda, Tuan Putri," balas Axel. Kali ini, senyuman lembut terlukis di wajahnya, membuat si bintang pesta kelihatan makin menawan.


"Aku pikir kamu kesal karena aku mengambil alih penghukuman Nona Clare," kataku. "Padahal kamu yang begitu marah dengan apa yang telah diperbuat Nona Clare pada keluargamu."


Tangannya di pinggangku mengerat, menarikku makin dalam ke rengkuhannya.


"Tidak, Tuan Putri. Saya tidak merasa kesal pada Anda, pun tidak merasa dendam karena Anda yang mengambil alih hukuman terhadap Clare. Justru saya merasa amat senang karena Tuan Putri mampu membalaskan dendam saya dan dendam Sorena. Tidak ada yang lebih memuaskan daripada hal tersebut."


Aku memutar tubuhku, Axel menangkap pinggangku. Kami saling berbagi petak dansa dan kembali menari sesuai studi tata krama, disertai sinar rembulan yang menelisik.


"Lalu mengapa Tuan Muda terasa berbeda?"


Axel bungkam. Dia kembali memutar tubuhku dan menangkap pinggangku lagi.


Axel bungkam untuk beberapa detik ke depan sebelum dia membuka bibirnya, "Saya merasa kecewa."


Jeda. Axel tengah memperdebatkan apakah dia harus mengutarakan isi hatinya ataukah tidak.


"Saya sungguhan senang karena dendam di hati saya terbalas. Akan tetapi, di waktu yang sama, saya merasa hati saya hancur, Tuan Putri."

__ADS_1


Aku mengerutkan dahi. "Mengapa?"


"Ratu Asher."


Ah.


"Anda menyatakan diri Anda sebagai Ratu Asher dengan telak, seolah tidak menerima ganggu gugat. Apakah Anda tahu maksud dari pernyataan Anda sendiri? Menjadi Ratu Asher adalah menikah dengan Yang Mulia."


Jadi, itulah yang mengganggu Axel. Hal yang sama yang dirasakan oleh Sir Derick.


"Dan betapa saya merasa hancur kala mendengar informasi tersebut meluncur langsung dari bibir Anda. Saya benar-benar putus asa, saya merasa bahwa saya tidak memiliki harapan lagi untuk memiliki Anda. Karena demi Dewi Matahari, saya mencintai Anda. Saya mencintai Anda dari hati saya. Itu murni karena sebuah perasaan kagum di dada saya."


Musik orkestra terhenti, pertanda bahwa paruh lagu telah berakhir. Dansa kami ikut terhenti dan aku cuma terpaku mendengarkan penjelasan Axel.


"Sebenarnya, ketika saya menyatakan dukungan penuh terhadap Anda untuk menjadi Ratu Asher di pesta Clare, saya melakukannya tanpa saya sadari. Di hadapan saya adalah Clare, membuat saya tidak bisa berpikir jernih, dan membuat saya mengeluarkan omong kosong dari bibir saya. Saya mendukung Anda untuk menjadi Ratu hanya untuk dendam di hati saya. Padahal nyatanya, saya sama sekali tidak ingin Anda menjadi Ratu."


Axel menarik napas. Mencoba untuk mempersiapkan mentalnya sebelum mengutarakan perasaannya lebih dalam dan lebih jauh lagi.


"Kemudian, Anda akhirnya dinyatakan menjadi Ratu Asher. Saya senang, tapi saya juga sedih. Saya senang Anda bisa mencapai mimpi Anda, tetapi saya sedih ketika menyadari bahwa Anda tidak bisa berdiri di sisi saya, tidak bisa bersama saya. Saya benar-benar merasa hancur saat itu.


"Dada saya sakit sekali. Membutuhkan waktu yang cukup lama hingga saya pulih dan berdamai dengan keadaan. Karena mau menyanggah kebenarannya untuk puluhan kali pun, mau menolak fakta yang sama untuk ratusan kali pun, kenyataan yang sama akan terus menampar saya, bahwa Anda akan terus bersama Yang Mulia. Di sisi Yang Mulia selalu, membentuk keluarga, dan hidup bahagia. Memikirkannya membuat saya nyaris merasa gila."


Napas Axel memburu setelah dia selesai dengan kalimatnya. Wajahnya yang memerah karena pengaruh alkohol membuat Axel terlihat seolah dia benar-benar putus asa dan tak tahu mesti melakukan apa lagi.


Aku cukup terpana dengan betapa kompleksnya permasalahan ini. Aku tidak akan pernah menyangka jika Axel bisa mencintaiku juga. Meski saat itu dia sudah pernah meminta izin untuk menyayangiku, tetapi kupikir terdapat perbedaan konteks dalam hal sayang dan cinta. Namun, rupanya, hal yang tidak kuketahui adalah bahwa perasaan Axel berkembang semakin besar, semakin melukai Axel, semakin membuatnya hancur.


"Tuan Muda Axel—"


"Tidak apa-apa, Tuan Putri," potong Axel bahkan sebelum aku berniat untuk membalas kalimat panjangnya. "Jangan mengasihani saya, tidak perlu membalas perasaan saya, dan tidak perlu merasa bersalah. Ini adalah perasaan saya. Sayalah yang dengan lancangnya membiarkan hati saya dimasuki Tuan Putri hingga sulit rasanya untuk menyangkalnya. Akan tetapi, selama saya menghabiskan waktu dengan Anda, saya merasa senang bukan kepalang. Saya akan terus menghargai momen yang sama. Kini, saya sedang mencoba mengikhlaskan Tuan Putri bersama Yang Mulia. Semoga Anda bahagia selalu bersama Yang Mulia, Tuan Putri."


"Tuan Muda Axel, terima kasih sudah berani mengutarakan perasaanmu. Aku menghargainya."


Ketika mendengar kalimatku, Axel tetap dirundung kekecewaan di wajahnya tetapi mencoba untuk tetap teguh.


"Aku tahu betapa sulitnya untuk menahan segalanya sendirian. Tuan Muda Axel sangat menakjubkan. Terima kasih telah mencintaiku dan maafkan aku."


Hei. Siapa yang mengatakan kalau aku mencintai bajingan psikopat itu? Tidak, kok. Meski akhir-akhir ini dia sedikit melembut padaku, tapi tetap saja aku tidak mencintainya.


"Saya akan menunggu undangan pernikahan Anda segera," sambung Axel.


Mendengarnya membuatku merinding. Siaapa yang menentukan siapa yang kusukai, hah?


Tapi si Axel ini benar-benar. Aku menghela napas.


"Setelah aku menikah, apakah kamu tetap akan mencintaiku?" tanyaku.


"Saya tidak yakin perasaan saya akan menghilang dengan begitu cepat. Saya yakin perasaan saya akan terus hinggap di tempat yang sama."


"Jadi, bagaimana kalau kau jadi selirku saja?" Jeda. "Tapi aku bercanda."


Meski aku sudah mengatakan kalau aku bercanda, Axel masih belum bisa menyembunyikan keterkejutan di wajahnya.


Seolah tersadar, Axel kemudian menepuk dadanya yang berdebar.


"Saya pikir Tuan Putri serius. Sayang sekali," desahnya.


Hei, apanya yang sayang sekali?! Aku tidak habis pikir kalau dia benar-benar menginginkan posisi itu jika memang ada.


Namun, apakah Ratu boleh mengambil selir juga sebagai pasangannya? Di beberapa novel yang pernah kubaca, bisa-bisa saja, sih. Dan bukannya ide buruk juga untuk menarik Axel jadi sel—cukup, Serethy, jangan menambah masalah.


Aku menghela napas. "Aku hanya bercanda. Tidak usah dianggap terlalu serius."


"Namun, jika ada, saya ingin posisi itu," gumamnya yang masih bisa kudengar.


Aduh, apakah aku salah bicara, ya. Candaanku malah dianggap serius.


"Kalau begitu, Tuan Muda Axel, bagaimana jika kamu kembali ke aula pesta? Bintang di pesta ini seharusnya tidak meninggalkan pesta terlalu lama."

__ADS_1


"Kalau begitu, saya akan pergi lebih dulu. Kita tidak bisa kembali secara bersamaan apabila tidak ingin menuai rumor yang tidak-tidak."


Masuk akal.


Skandal perselingkuhanku dengan Axel pasti akan tersebar jika aku kedapatan kembali dengan Axel ke pesta.


Axel mengulurkan tangannya, aku tanpa ragu menerima ulurannya. Axel mengecup punggung tanganku, kemudian tersenyum lembut.


"Semoga kebahagiaan menyertai Anda, bulan Kerajaan Asher."


Axel undur diri dengan senyuman yang lebih ringan di bibir.


Sepertinya pengungkapan perasaan itu membuat bebannya sedikit menghilang. Yah, aku cukup senang.


Aku mendekati tembok pembatas dan sedikit bersandar di sana, menilik bayang dewi bulan di angkasa.


Beban di hatiku pun turut luruh.


...***...


Axel menuangkan wine di kedua gelas di atas meja, kemudian menyerahkan salah satunya ke hadapan Viten.


"Tidak saya sangka Yang Mulia ingin berbincang dengan saya," kata Axel, membuka topik untuk pertama kalinya.


Viten menggoyangkan gelas alkohol sebelum menyesapnya perlahan. "Yah, anggap saja aku adalah raja bijak yang ingin menyelesaikan perkara yang tidak pernah usai di antara kita."


Axel tersenyum sambil menatap gelas alkoholnya. "Sorena, ya?"


Hening di ruangan pribadi pesta.


"Saya turut bahagia dengan pertunangan Anda dengan Tuan Putri," sambung Axel, dia menatap Viten tepat di matanya. Emas dan merah bertabrakan. "Akan tetapi, saya berharap Anda tulus mencintai Tuan Putri."


Viten mengerutkan dahinya. "Aku tulus mencintainya."


Axel tersenyum. "Syukurlah kalau begitu." Axel menyesap alkohol dalam sekali teguk, lantas kembali menuangkan alkohol di gelasnya sendiri. "Saya cuma risau jika Yang Mulia cuma mencintai Tuan Putri karena Tuan Putri begitu mirip dengan Sorena. Mengenai bagaimana rambut merah muda, mata violet, dan perilaku lembut. Saya hanya takut Tuan Putri menjadi korban atas perasaan Anda yang belum selesai. Saya takut apabila Yang Mulia cuma tidak bisa berpaling akan perasaan Anda terhadap Sorena dan melampiaskannya kepada Tuan Putri. Mau bagaimanapun, kisah Anda sama sekali belum usai, bahkan baru saja dimulai, tetapi terpaksa diselesaikan."


Pegangan Viten di gelasnya mengerat. "Aku mencintai Serethy dengan tulus."


Axel tersenyum lembut. "Kalau begitu, saya merasa kerisauan di hati saya berkurang."


Viten menghela napas, lalu menghabiskan alkohol di gelasnya dalam sekali teguk.


"Aku sudah tidak tergila-gila lagi pada Sorena," ujar Viten, Axel memosisikan atensinya. "Lagipula, mau tidak mau aku tidak bisa bertahan di titik yang sama. Aku harus terus maju. Dan terjebak dalam masa lalu dengan Sorena bukanlah pilihan yang baik, di mana seharusnya aku harus melepasnya. Melepas Sorena."


Axel tersenyum. "Terima kasih banyak sudah mencintai adik saya. Bagi Sorena yang berusia sembilan tahun, memang bukan usia yang pantas baginya menyandang kisah kasih, tetapi saya yang paling tahu betapa bahagianya Sorena kala mendapatkan atensi Anda."


Rasanya, baru kali ini Axel dan Viten terlibat dalam percakapan serius tanpa perdebatan tidak perlu. Hal ini membuat suasana ruangan menjadi terasa lebih tenang.


"Terima kasih kembali karena pada saat itu, aku yang kesulitan mengekspresikan perasaan, dapat merasakan perasaan asing di hatiku," balas Viten dengan tenang.


Axel terkekeh kecil. "Membayangkan bahwa remaja berusia tujuh belas jatuh cinta pada bocah berusia sembilan tahun."


"Kau." Viten hanya menghela napas. "Terserah. Sorena adalah masa laluku yang tidak bisa kubuang begitu saja, dia terlalu berharga untuk dibuang dari pikiranku. Akan tetapi, aku bisa memastikan bahwa yang kucintai adalah Serethy. Ada perbedaan rasa di dadaku ketika aku memikirkan Sorena dan Serethy. Aku lebih merasa hidup kala bersama Serethy."


"Saya harap perasaan itu akan menetap dalam diri Anda, Yang Mulia. Mohon buat Tuan Putri merasa bahagia selama hidupnya. Jika tidak, saya yang akan merebut Tuan Putri dari tangan Anda."


Viten menyeringai. "Coba saja."


"Dengan senang hati." Axel tersenyum lebar.


Kini, baik Axel dan Viten telah merasa lebih baik setelah mengungkapkan segala yang terpendam di dada. Di mana keduanya terus memendam hal yang sama hingga nyaris gila.


Permasalahan masa lalu yang belum usai memang perlu diselesaikan untuk memulai kisah yang baru. Itulah mengapa Axel perlu memastikan bahwa Viten benar-benar mencintai Serethy ataukah dia hanya terjebak dalam obsesi bernama Sorena untuk dilampiaskan pada Serethy.


Sejujurnya, baik Axel serta Viten tidak pernah membenci satu sama lain. Walaupun keduanya diam-diam pernah saling menyalahkan atas kematian satu eksistensi yang berharga, keduanya tidak bisa saling membenci. Terdapat ikatan kuat di mana keduanya masih menjadi teman bermain dan rekan.


Perdebatan kecil-kecilan adalah bagaimana cara mereka menyampaikan rasa dan dukungan mereka terhadap satu sama lain. Sebab, bagi keduanya yang telah kehilangan sosok berharga dalam kehidupan, mereka merasa sangat hancur hingga tak tahu mesti melampiaskannya dengan cara apa.

__ADS_1


__ADS_2