![I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]](https://asset.asean.biz.id/i-will-avoid-the-death-flag--sudah-terbit-.webp)
Viten mengerjapkan kedua matanya.
Apa ini? Tidak, maksudnya situasi apa ini?
Viten kini berada di kamarnya yang megah, kamar yang dia tempati setelah dinobatkan menjadi Raja Asher. Cahaya luna diam-diam menelisik kisi-kisi jendela sehingga hal tersebut menjadi satu-satunya sumber penerangan di dalam ruangan yang gelap.
Namun, apa yang visi Viten lihat lewat manik merahnya adalah darah. Pekat. Membuatnya merasa mual setelah dirinya menelisik siapa si pemilik darah.
Darah merah itu mengucur dari luka-luka, lantas membanjiri lantai marmer, dan menciptakan genangan mungil di atasnya. Beberapa tetes darah bahkan terciprat ke karpet berbulu dan pakaian Viten sendiri.
"Y-Yang Mulia."
Suara itu memanggilnya lemah, tetapi tetap tak menghentikan Viten untuk terus menyayatkan pisau buah di lengan si pemilik rambut merah muda, mengukir luka di kulit yang pucat.
Viten seolah kehilangan kontrol dari tubuhnya sendiri, tetapi Viten tetap merasakan tubuhnya adalah miliknya.
Walau Viten telah mengetahui pasti apa situasi yang terjadi ini, Viten tetap kesulitan menghentikan gerak tubuhnya yang terus mengukir luka berdarah di kulit Serethy Matria dengan sendirinya.
Benar. Serethy Matria. Dia adalah seorang tawanan perang, tidak lebih. Lantas, untuk alasan apa Viten menganiaya gadis tak berdosa itu?
Sekali lagi, digoreskannya pisau buah di pipi Serethy. Pipi yang seolah kehilangan esensi dan daging kehidupan itu mengeluarkan darah pekat, mengalir, melewati sudut bibir dan menetes di lantai.
Tes. Tes.
Bunyi darah yang menetes dari setiap luka meneriakkan hal yang sama: kami tersiksa. Dan memohon pada Viten untuk menghentikan apa pun yang tengah dia perbuat kali ini.
Akan tetapi, tetap saja, bagi Viten yang kehilangan kontrol atas tubuhnya sendiri, untuk menghentikan dirinya sendiri dari mengukir luka yang sama di kulit Serethy berada di luar kuasanya.
"Bangunlah, dasar pelacur." Viten terkejut ketika mendengar suaranya sendiri. Itu terdengar dingin, bahkan Viten sendiri menyadarinya bahwa nada yang disisipi itu terlalu beku, seolah bukan Viten yang mengucapkannya.
Duk!
Kaki Viten yang dibalut oleh sepatu bot menendang gadis malang itu.
Duk! Sekali lagi hingga gadis malang itu memuntahkan darah dari mulutnya. Selanjutnya, gadis itu terbatuk hebat. Terdengar nyaring dan menyakitkan di ruang yang sunyi, membentuk gema.
"Yang Mulia, tolong hentikan. Ini menyiksaku, sakit, sakit sekali, Yang Mulia."
Viten menatap nyalang pada gadis yang terbaring tak berdaya sambil bersuara lemah, merintih sambil menahan segala perih yang dirasa.
"Mengapa kamu melakukan ini?" tanya Serethy lagi, partitur nada yang dikenakannya bergetar samar.
Jemari Viten bergerak lagi tanpa bisa Viten kendalikan. Jemari yang dilapisi darah oleh gadis malang itu mencengkeram dagunya erat. Manik merah bertabrakan dengan violet yang dipenuhi kaca, siap luruh apabila tidak ditahan.
"Pertanyaan yang bagus." Viten mengangguk puas. "Kau ingin tahu kenapa aku melakukan ini?"
Gadis malang itu menjerit ketika Viten menusuk bahunya, kali ini merembeskan darah hingga benar-benar membasahi gaun lusuh yang dikenakannya.
Viten menarik pisaunya, menelisik darah yang tertinggal di bilahan pisaunya dengan senyuman psikopat di bibir, lantas kembali menatap si pemilik rambut merah muda.
"Karena kau pantas mendapatkannya."
Viten bisa melihat air mata meluncur dari pipi.
"Karena kau lemah, sehingga kau tidak bisa melawan. Karena kau adalah mantan Tuan Putri Matria yang manja, sehingga kau perlu satu-dua pelajaran untuk dipelajari. Dan yang paling penting, bukankah selama sembilan belas, tidak, kini kau dua puluh tahun. Selama dua puluh tahun kau hidup, kau telah mendapatkan kasih sayang yang menakjubkan dari orang-orang di sekitarmu? Bahkan ksatria sialan itu menyukaimu, kan? Bukankah itu cukup untukmu?"
Manik violet milik Serethy menatap Viten seolah mempertanyakan apa yang salah mengenai hal tersebut. Serethy yang polos.
Viten melepaskan dagu Serethy. "Apa kau tahu? Aku tidak pernah mendapatkan segalanya, Serethy. Bahkan untuk mengemis kasih sayang pun aku tidak bisa. Itu karena aku adalah Keluarga Kerajaan yang malang. Putra Raja yang dipaksa untuk menjadi boneka sempurna tanpa cela, hingga mereka lupa bahwa orang itu memiliki hati."
"Yang Mulia. Aku tidak tahu apa pun mengenai hal itu. Tapi mengapa kamu melampiaskan segalanya padaku?"
Viten menyeringai. Sekali lagi menggores lengan Serethy dengan pisau yang sama. "Itu karena kau pantas mendapatkannya. Bukankah tidak adil jika kau terus mendapatkan hal yang baik sementara aku tidak?"
Tawa renyah mengalun di ruangan yang sunyi.
"Kamu sudah gila."
Duk! Viten menendang si pemilik rambut merah muda.
__ADS_1
"Kau benar, aku sudah gila."
Sekali lagi, disayatkannya pisau untuk melihat tetesan darah merah, mengalir, menetes ke genangan darah di ubin marmer.
Tidak ada yang menyadari kecuali Viten sendiri, bahwa luka-luka yang diukir oleh Viten pada kulit pucat itu, pulih dengan sendirinya dalam durasi waktu yang lambat.
...***...
Viten mengurut dahinya. Kantung mata di bagian bawah matanya terlihat tebal dan hitam.
Hal ini dikarenakan Viten selalu mendapatkan mimpi buruk yang sama kala dia terlelap. Mimpi buruk itu selalu menunjukkan bahwa Viten menyakiti Serethy, lagi dan lagi. Kemudian, percakapan tidak masuk akal yang diperbincangkan ketika dia menyakiti Serethy berbeda-beda setiap harinya. Terkadang membicarakan mengenai betapa baiknya kehidupan Serethy di Kerajaan Matria, kemudian membicarakan masa lalu Viten, dan hal-hal sensitif lainnya.
Viten juga mengatakan rahasia-rahasia miliknya pada Serethy yang Viten ketahui sendiri bahwa rahasia tersebut perlu dipendam hingga jantungnya berhenti berdetak. Lantas, mengapa Viten dan Serethy di mimpinya mengatakan hal-hal yang ingin Viten pendam walau balasannya adalah mati sekali pun?
Viten mendapatkan mimpi yang sama untuk satu minggu terakhir. Lebih tepatnya, ketika Clare selesai diberikan hukuman penggalan.
Viten juga telah mengumumkan kepada rakyat bahwa Alverro Cadeearo merupakan seorang buronan sekarang. Dan siapa pun yang mengirim Alverro ke hadapan Viten sekarang akan mendapatkan hadiah yang layak.
Begitu pula pada anggota keluarga yang telah dibunuh oleh Alverro. Viten memberikan kompensasi yang tidak masuk akal pada setiap anggota keluarga yang dibunuh-hampir mendapatkan pertentangan dari para rekan kerjanya.
"Yang Mulia, Anda tidak fokus lagi," ujar ajudannya dengan setumpuk kertas kerja di pelukannya.
"Pergilah."
Si ajudan mengerutkan dahi. "Lalu, bagaimana dengan pekerjaannya?"
Viten menggerakkan jemarinya, mengusir. Viten yang keras kepala tidak mungkin dipaksa sehingga si ajudan dengan wajah yang tidak puas akhir undur diri dari hadapan Viten.
"Ah, sekalian panggil pelayan ke sini," kata Viten sebelum si ajudan benar-benar menghilang dari ruang kerja Viten.
"Akan saya lakukan, Yang Mulia." Ajudan itu menundukkan kepalanya sebelum menutup pintu.
Meninggalkan Viten dengan pikirannya yang berkecamuk hebat.
...***...
"Serethy." Viten memasang senyuman lembut ketika si pemilik rambut merah muda akhirnya menampakkan dirinya.
"Kau." Manik Viten menatap Sir Derick yang masih membuntuti Serethy layaknya anak ayam dengan induknya. "Menjauhlah sepuluh meter dari kami."
"Yang Mulia, kalau saya menjauh sepuluh meter dari Tuan Putri, maka bagaimana caranya saya melindungi Tuan Putri?" jawab Sir Derick dengan senyuman ringan di bibir.
"Kau makin kurang ajar."
"Terima kasih banyak, Yang Mulia."
"Aku tidak memujimu."
"Sudahlah, Yang Mulia," sela Serethy. "Biarkan Sir Derick berada di sampingku, Sir Derick hanya akan berdiri di sini dan tidak akan menggangu apa pun yang ingin kamu bicarakan denganku. Iya, kan, Sir Derick?"
Sir Derick menganggukkan kepalanya. "Itu benar sekali, Tuan Putri."
Viten hanya menghela napas dan tidak mengatakan apa pun lebih jauh lagi.
Entah mengapa, Viten merasa lebih sensitif pada ksatria tersebut. Di mimpinya, bahkan Sir Derick merupakan ksatria penjaga Serethy.
Yang jatuh cinta padanya.
Hal itu terus membayangi Viten, mengganggunya di sela-sela kesibukannya. Mengirim sensasi aneh di hatinya ketika mengetahui bahwa pria itu menaruh hati pada Serethy.
"Jadi, Yang Mulia. Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya Serethy.
Viten menggelengkan kepalanya pelan. Kedua tangannya lalu dengan cekatan menuangkan teh beraroma herbal ke cangkir teh Serethy.
"Merupakan kehormatan bagiku karena Yang Mulia menuangkan teh secara pribadi untukku," ujar Serethy, lalu mengangkat cangkir tehnya.
Viten mengamati Serethy yang menyesap tehnya dengan gerakan elegan. Serethy melakukannya dengan sangat berkelas dan anggun. Viten lagi-lagi tertawan.
"Jadi, Yang Mulia. Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?"
__ADS_1
"Kata siapa aku memanggilmu untuk membicarakan sesuatu denganmu?" tanya balik Viten. Dia meraih kudapan ringan dan menyajikannya di depan Serethy.
Serethy menatap piring kecil berisi kudapan yang disajikan Viten dengan sorot yang aneh.
"Lalu, mengapa Yang Mulia memanggilku ke sini? Bukankah setiap kali kamu memanggilku, pasti akan ada sesuatu yang ingin dibicarakan?"
"Kali ini tidak begitu."
Viten menelisik wajah cantik Serethy. Wajah tersebut begitu memukau. Viten nyaris saja menyamakan malaikat dengan Serethy. Viten kagum pada manik violet yang seakan menyihir Viten untuk tak mengalihkan pandangnya. Pada pipi yang tak kehilangan esensi kehidupan dan tampak merona, tampak gembira. Pada bibir merah muda yang ingin sekali Viten kecup barang sekali.
Viten bersyukur bahwa keadaan Serethy berbanding terbalik dengan Serethy yang ada di dalam mimpinya.
Meskipun itu hanyalah mimpi, Viten merasa bahwa hal tersebut nyata. Itu terasa sangat nyata hingga rasanya Viten nyaris putus asa kala kehilangan kendali akan tubuhnya sendiri di dalam ruang mimpi.
"Aku memanggilmu hanya untuk melihat calon istriku," lanjut Viten dengan lembut, begitu lembut selayaknya awan-awan beterbangan di udara, tak sewajarnya dengan gelar bajingan gila yang didapat.
Viten tidak bisa menahan naiknya kurva bibir kala melihat sebaran merah tipis di pipi yang putih. Cantik sekali. Manis.
Sesuatu di dalam diri Viten bergejolak. Baru kali ini dia merasakannya. Sesuatu itu begitu menganggu, tetapi begitu menyenangkan.
Aneh ketika Viten merasakan dua hal tersebut di waktu yang sama.
"Yang Mulia, apa kamu serius hanya ingin melihatku?" tanya Serethy seolah memastikan.
"Benar."
Viten melirik jemari Serethy, di jari kirinya, terdapat cincin berlian berwarna violet, senada dengan warna matanya. Itu adalah cincin lamaran Viten yang konyol. Diam-diam menyesali bagaimana cara Viten melamar Serethy dengan situasi yang sama sekali tidak romantis dan tidak berkesan.
"Baiklah, kalau begitu."
Viten kemudian terlarut dalan konversasi yang hangat. Ini hal baru bagi Viten. Tidak pernah dalam 27 tahun kehidupannya, Viten merasa sangat gembira dengan perasaan meledak-ledak tak keruan kala berbincang dengan seseorang.
Perasaan tersebut alami.
Perasaan tersebut membuat Viten yang tidak mengenal kebahagiaan alami di dalam agenda kehidupannya, merubah figur dingin Viten menjadi pribadi lembut. Bahkan dia merasa apabila dia mati sekarang, Viten akan mati dengan sebongkah kebahagiaan di dadanya. Dan dia tidak akan menyesali hal tersebut.
Viten kian menyadari bahwa sesuatu yang bertalu-talu di dalam rongga dadanya adalah perasaan jatuh cinta. Dan ini pertama kalinya, tidak, kedua kalinya Viten merasakan hal yang sama.
Namun, perasaan pertama kali dan yang kedua kali terasa berbeda.
Perasaan jatuh untuk pertama kalinya adalah sebuah percobaan yang menyatakan bahwa dia juga memiliki perasaan. Sementara yang kedua kalinya merupakan perasaan jatuh yang sesungguhnya.
"Pendeta dari Kuil Dewi Matahari memanggilmu."
Serethy mengalihkan atensinya pada Viten.
"Lihat, kan. Apa yang kukatakan sebelumnya? Yang Mulia pasti ingin membicarakan sesuatu denganku."
"Tapi bagian dari aku yang ingin melihatmu adalah benar adanya."
Viten melihat rona merah itu lagi-lagi menyebar. Kulit yang putih membuat rona makin kontras dengan menunjukkan warnanya yang terang.
"Baiklah, Yang Mulia." Serethy berdeham singkat. "Mengapa pendeta dari Kuil Dewi Matahari memanggilku?"
"Kau adalah saintess tapi itu hanyalah gelar tidak resmi. Jadi, pendeta dari Kuil Dewi Matahari ingin menobatkanmu menjadi saintess dan memberikan gelar tersebut secara resmi."
"Baiklah, Yang Mulia. Aku akan menerima panggilan tersebut."
"Kau yakin? Kini, seluruh orang akan tahu kau adalah saintess dan bisa saja memberikanmu tekanan yang tak kau harapkan, Serethy."
"Yang Mulia terlalu meremehkanku. Aku yakin aku bisa mengatasinya."
Viten menaruh harapan besar pada Serethy. Bahwa Serethy bisa menjadi ratu yang layak untuk kerajaannya, pun menjadi seseorang yang bisa Viten cintai hingga akhir hayatnya.
Meski begitu, mimpi buruk yang sama masih menghantui Viten. Tak menghilang layaknya debu terseret angin. Masih membuntuti, membuat Viten kehilangan waktu yang cukup untuk terlelap.
Itu menyiksanya.
...***...
__ADS_1
Baru ngeh age gap antara Serethy ama Viten lumayan jauh HAHAHA. Viten 27, sementara Serethy 19. Mmhm. Apa yang kupikirkan saat menciptakan usia Viten?!