I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]

I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]
21. Latihan


__ADS_3

"Kau lemah."


Kalimat pertama yang dikatakan Viten setelah melihatku mengangkat pedang adalah "kau lemah" dengan wajah datar dan dingin andalannya.


Sialan.


Ya, kau lihat saja sendiri.


Lihat saja tubuh Serethy yang tidak padat oleh otot. Tubuh Serethy sama rapuhnya dengan batita berusia lima tahun. Alias, dia sangat lemah.


Aku bahkan bertanya-tanya kenapa tubuh Serethy bisa selemah ini. Maksudnya, apa dia tidak pernah melakukan peregangan atau olahraga ringan sebelumnya?


"Maaf karena aku sangat lemah, Yang Mulia," balasku dengan senyuman kesal di bibirku.


Viten hanya mendengus kecil. "Kau tidak bisa mengangkat pedang, lalu bagaimana dengan kompetisi perburuan itu, Serethy?"


Ya, aku sedang berlatih untuk kompetisi perburuan di akhir bulan ini. Dan Viten secara pribadi datang ke arena latihan untuk mengajariku menggunakan senjata. Aku juga sudah menanggalkan gaun-gaun cantik dan indah itu, sebaliknya aku menggunakan celana yang rupanya masih bisa menampilkan keeleganan di tubuhku.


"Aku juga memikirkan hal yang sama, Yang Mulia. Tapi jika tubuhku tidak mampu mengangkat pedang, maka aku harus bagaimana?"


Viten berdecak pelan. "Kita harus melakukan pelatihan. Kau harus membangun ototmu."


Sebelum Viten menyeretku ke dalam pelatihan otot yang terdengar mengerikan, Sir Derick sudah lebih dulu menahanku.


"Yang Mulia, bagaimana dengan panah? Jika Tuan Putri harus melakukan pelatihan otot terlebih dahulu, maka itu akan menghabiskan waktu yang cukup lama. Sementara, kompetisi perburuan adalah akhir bulan ini. Tentu itu hanya akan menghabiskan banyak waktu, bukan? Sementara itu, tujuan kita belum sepenuhnya tercapai untuk melatih teknik penggunaan senjata Tuan Putri."


Aku menatap dengan tatapan haru pada Sir Derick yang menyuarakan pendapatnya dengan tenang dan ramah. Dia sangat pengertian padaku! Wanita mana pun yang akan jadi istrinya nanti pasti akan sangat beruntung.


"Itu ide yang bagus," balas Viten. Dia lalu mengambil busur dan panah dari gudang senjata di dekat kami. Ukuran gudang itu mungil, jadi tidak sulit untuk menemukan busur dan panah.


"Apa kau pernah menggunakan panah sebelumnya?" tanya Viten sambil melirikku menggunakan sudut matanya. Sementara itu, dia memanah target yang ada beberapa meter di depannya dengan mudah.


"Aku belum pernah, Yang Mulia."


"Kalau begitu, saya akan mengajari Anda, Tuan Putri."


"Terima kasih, Sir De—"


"Tidak." Mata Viten yang merah menyipit dengan dingin, membuatku merinding. "Kau tidak bisa, Sir Derick. Aku yang akan mengajari Serethy memanah. Lebih baik kau mengasah kemampuan berpedangmu lagi karena Asher belum tentu kembali damai oleh peperangan meski telah mendapat dua kandidat ratu."


Sir Derick ingin membantah, tetapi dia menurut. Itu karena Viten adalah raja, tidak ada yang bisa membantah raja, terutama apabila raja tersebut adalah Viten.


Meski begitu, Sir Derick seolah memiliki telinga anjing yang menurun di kepalanya, dan tubuhnya berubah lesu. Sir Derick lalu berlatih pedang di sudut arena latihan.


Aww, dia manis sekali. Aku akan meminta Sir Derick untuk mengajariku memanah ketika Viten sedang sibuk.


"Jadi, Serethy."


Suara Viten membuat atensiku teralih pada pria itu.


"Lihat pergerakanku, dan kau akan tahu."


Viten lalu memegang busur di tangan kirinya, lalu meluncurkan panah menggunakan tangan yang satunya. Dan wus! Panah itu mengenai target dengan sempurna.


"Kau yang coba."


Viten menyerahkan busur dan panah padaku yang terpaku.


Maksudku, apa yang harus aku coba jika Viten sendiri melakukan segalanya dengan sangat cepat?


"Hei." Viten menarik tanganku dan memaksa busur itu ke tanganku. "Cepat lakukan. Kau tidak punya banyak waktu."


Aku mendesah kecil, lalu mencoba untuk melakukan apa yang Viten lakukan barusan.


Oke, memegang busur di tangan kiri, lalu panah di tangan kanan. Aku bisa melihat tempat kecil untuk meletakkan panah di sana, aku berinisiatif untuk meletakkan anak panahku di tempat mungil itu. Kemudian aku menahan panah di tali busur dan menariknya perlahan. Lalu wus!

__ADS_1



"Hei, Tuan Put—aaah! Apa Tuan Putri berniat untuk membunuh saya?!"


Aku memelotot pada satu individu yang hampir mengenai panahku yang nyasar. Hanya beberapa inci saja hingga panah itu akan mengenai Axel.


Ya, Axel. Pria yang kemarin baru saja memelukku dan meminta izin untuk menyayangiku ada di sini!


Axel masih trauma dengan hal barusan hingga wajahnya berubah pucat. Dia lalu mendekatiku sambil menelan ludah.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Viten dengan dingin.


Wajah pucat Axel langsung menghilang dan digantikan dengan wajah sinis. Wow, perubahan ekspresi yang cepat sekali.


"Apa maksud Anda, Yang Mulia? Saya datang untuk membantu Tuan Putri latihan karena saya sudah janji."


Viten lalu menatapku tajam dan aku hanya menggeleng pelan. Aku tidak pernah menjanjikan apa pun pada Axel.


"Ah, pasti Tuan Putri melupakannya. Tidak apa-apa. Karena saya adalah pria yang selalu menepati janjinya, maka saya datang meski Tuan Putri telah melupakan janji kita berdua."


Dia mengatakan hal-hal ambigu yang bisa saja mengarah pada kesalahpahaman dan membuat Viten makin marah.


"Ada aku di sini untuk mengajari Serethy. Kau lebih baik kembali dan membuat onar saja di bar atau menghancurkan toko-toko di ibu kota."


Aku bisa melihat kedua tangan Axel mengepal di balik punggungnya meski hanya sepersekian detik.


Aku bisa tahu kenapa dia kesal. Itu karena Axel terpaksa menjadi pembuat onar demi mengalihkan rumor buruk Krone kepadanya pribadi. Axel melakukan hal yang mulia, tetapi dengan cara yang salah.


"Saya tidak mungkin terus membuat onar dan menambah pekerjaan Anda, bukan, Yang Mulia?" Axel menyeringai kecil.


Viten menggeram. "Kau tidak boleh ada di sini!"


"Memangnya mengapa, Yang Mulia? Bukankah arena latihan bisa dimasuki siapa saja asal mendapatkan izin dari pusat?"


"Aku adalah rajanya, aku memerintahkanmu untuk tidak menjejaki arena latihan."


Ugh, menyatukan Viten dan Axel adalah ide yang buruk. Kini, mereka malah berdebat dan bahkan melupakan latihanku.


"Tuan Putri."


Aku terlonjak kaget pada suara yang benar-benar berada di dekat telingaku.


Aku menoleh dan menyadari bahwa Sir Derick ada di sampingku, hanya saja jarak kami mungkin terlalu dekat dan intens.


"Bagaimana jika kita pergi ke arena latihan lainnya?"


"Ide bagus!" Aku meraih tangan Sir Derick yang dilapisi sarung tangan latihan, lalu menariknya keluar dari arena latihan ini untuk meninggalkan Viten dan Axel berdebat berdua. Tentu aku bisa bosan hanya dengan mendengarkan mereka berdua berdebat.


Aku melirik busur dan sekumpulan anak panah yang kupegang di tangan kiriku.


"Apa kamu bisa mengajariku, Sir Derick?"


Aku bisa melihat Sir Derick tersenyum lembut yang menyejukkan hati. Jantungku nyaris meledak.


"Tentu saja, Tuan Putri."


"Terima kasih, Sir Derick."


Kami lalu tiba di arena latihan lainnya yang tidak terlalu jauh dari arena latihan sebelumnya.


"Bagaimana jika kita mulai saja, Tuan Putri?" tanya Sir Derick.


"Iya, kita langsung mulai saja. Rasanya aku sudah menghabiskan waktuku dengan sia-sia hanya untuk melihat Yang Mulia dan Tuan Muda Axel berdebat."


Aku mengembuskan napas lelah, sementara Sir Derick hanya terkekeh kecil.

__ADS_1


"Anda benar, Tuan Putri. Meski ini merupakan hal yang baik bagi saya." Sir Derick kemudian mengambil alih busur dan panah di tangan kiriku.


"Hal baik?"


"Ah, tidak, lupakan saja, Tuan Putri."


Aku menaikkan sebelah alis, tetapi hanya mengabaikannya.


"Tuan Putri, tolong pegang busur ini."


Aku mengangguk. Lalu memegang busur itu, sementara Sir Derick berada di belakangku. Dekat sekali, tetapi kedua tangannya mencoba untuk membantu pergerakanku.


"Pertama, tentukan mata dominan Anda, Tuan Putri. Jadi, jika Anda tidak kidal maka Anda harus memegang busur di tangan kiri dan panah di tangan kanan."


Aku mengangguk sekali dan memegang busur di tangan kiri dan panah di tangan kanan.


"Setelah itu, lakukan posisi tubuh yang benar. Buka kaki selebar bahu dan biarkan tubuh Anda tegak, lalu biarkan kaki Anda berbentuk huruf T."


Aku mengangguk pada penjelasan Sir Derick yang mudah sekali dipahami, lalu melakukan hal yang baru saja Sir Derick katakan.


"Lalu, arahkan busur Anda ke bawah ketika meletakkan panah di tempat ini yang dinamakan arrow rest."


Aku melirik tempat mungil yang ada di busur, jadi namanya adalah arrow rest.


Tangan Sir Derick menyentuh jemariku, menuntunku sehingga melakukan pergerakan yang benar.


"Angkat dan tarik busur Anda menggunakan tiga jari."


Aku mengangkat busur, masih dengan tuntunan Sir Derick. Tangannya hangat. Aku bisa merasakan bagaimana kulit kami saling bersentuhan.


"Lalu menarik tali busur dengan tiga jari, dan naikkan busur Anda. Bidik sasaran di depan. Terakhir, lepaskan anak panah dengan merilekskan jemari Anda."


Wus!


Anak panah mendarat dengan sempurna di papan target.


Sebenarnya, yang melakukan panahan tadi Sir Derick. Tanganku hanya membantu memegang panah dan busurnya yang sebenarnya tidak banyak berguna.


"Tuan Putri?" Sir Derick bicara di telingaku.


Aku merinding kecil, lalu menoleh untuk menatapnya, yang aku sesali. Karena kami begitu dekat. Wajah kami hampir bersentuhan ketika aku menolehkan kepala, dan Sir Derick tetap mempertahankan senyumannya yang lembut.


Deg, deg, deg.


Sial. Detak jantungku berdetak dengan sangat cepat. Memompa seluruh darahku ke pembuluh darah dengan kecepatan di luar nalar.


Menatapnya dari dekat membuatku merasa canggung, tetapi terpana.


Dia begitu tampan dan memesona. Bagaimana mungkin ada pria yang sangat tampan berdiri di sampingku?


Sebelum aku menjadi Serethy, berdiri dekat dengan pria adalah imaji belaka. Tidak akan ada pria yang mau mendekatiku. Tidak akan pernah.


Dan menjadi Serethy membuatku merasakan hal-hal seperti ini. Itu ... pengalaman baru.


"Sekarang tolong Tuan Putri coba sendiri."


Sir Derick akhirnya memberikan jarak di antara kami. Dia melangkah mundur dan memberikan busur padaku.


Aku menerima busur dengan tangan yang bergetar samar.


Uh, aku harus menjaga jarak dengan Sir Derick jika aku peduli dengan kesehatan jantung dan mentalku.


...***...


Mohon dukungannya terus, ya. Aku sayang kalian ❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Aku dapat tutorial panah dari id.wikihow.com


Bisa dicari sumbernya kalau mau biar makin paham, ya.


__ADS_2