![I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]](https://asset.asean.biz.id/i-will-avoid-the-death-flag--sudah-terbit-.webp)
"Tuan Putri. Anda sangat menakjubkan! Tidak hanya menyembuhkan manusia, Anda juga bisa menyembuhkan hewan."
Apa yang kudengar sedari tadi adalah bahwa Arcelio begitu mengagumiku, tidak, maksudku kekuatan suciku.
Aku hanya terkekeh canggung. Dia kelihatan seperti anak kecil ketika sedang antusias begini. Aku mempertanyakan ke mana martabat seorang kardinal yang memiliki kuasa selayaknya keluarga kerajaan?
"Betapa Anda dicintai Angelina. Ya Dewi, saya sungguhan bersyukur bisa melihat kekuatan suci sedekat ini." Arcelio tiba-tiba malah berdoa dan mengagungkan Angelina lagi.
Kecintaannya pada Dewi Matahari sedikit tidak masuk akal, tapi terserahlah, yang penting laki-laki ini senang.
Beberapa saat kemudian, Arcelio akhirnya kembali menjadi seorang Kardinal yang bermartabat.
"Maafkan saya, Tuan Putri," ujar Arcelio sambil berdeham. "Saya cuma sangat bersemangat, saya seharusnya menjaga sikap saya."
"Tidak apa-apa, Tuan Arcelio." Aku mengulas senyuman lembut. "Kamu sangat bebas, saya sampai kagum."
"Benarkah? Bukankah itu kekanakan sekali, ya, Tuan Putri?"
"Yah, memangnya apa yang salah dengan menjadi kekanakan? Tuan Arcelio, bukankah menjadi dewasa itu sangat tidak menyenangkan? Oleh karena itu, tidak ada yang salah dengan berperilaku kembali seperti anak-anak karena menjadi dewasa tidak menyenangkan."
Arcelio tersenyum lembut di wajah cantiknya. Kini, seolah cahaya matahari menjadi penerang, senyuman Arcelio tampak sangat berkilau.
"Seperti yang diharapkan dari Tuan Putri, seseorang yang dipilih secara langsung oleh Dewi Matahari yang agung. Saya akan setia kepada Tuan Putri sampai akhir hayat saya."
Aku merinding pada tekanan tersebut. Bisa-bisanya dia mengatakan hal mengerikan itu dengan mudah.
"Tuan Arcelio, tidak perlu sejauh itu. Saya tidak membutuhkan kesetiaanmu, Angelina yang lebih membutuhkannya."
Seolah tercipta sebuah pencerahan di kedua matanya yang hijau, Arcelio mengangguk. "Baiklah, Tuan Putri. Seperti yang diharapkan dari Anda."
Aku tidak mengerti di bagian mananya aku yang seperti harapannya, tetapi lupakan saja.
"Ah, ya, Tuan Putri." Arcelio menatap mataku. "Berita mengenai Anda sudah menyebar luas dan kini banyak yang mengunjungi kuil walaupun tanggal tujuh belas akan datang beberapa hari lagi."
Aku tersenyum. "Bukankah itu bagus? Artinya, mereka menaruh harapan padaku."
"Namun, bukankah jika mereka datang, mereka akan mendukung Anda untuk menjadi Ratu hanya karena kekuatan suci Anda?"
"Awalnya seperti itu, Tuan Arcelio. Mereka akan mendukungku hanya karena kekuatan suci sebagai syaratnya, tetapi lambat laun mereka akan mendukungku sebagai Serethy dan bukan saintess."
"Bagaimana bisa Anda seyakin itu?"
"Tentu saja saya sangat yakin. Kepercayaan diri adalah nomor satu, tapi tentu saja tidak melakukannya dengan berlebihan. Asalkan aku telah mencobanya, maka kita akan melihat hasilnya di kemudian hari."
"Anda memang sangat bijak."
Hah? Bijak apanya? Ini cuma ide kecil-kecilan yang tercipta karena terpepet. Rakyat makin menanyakan identitas dan kepantasan diriku menjadi Ratu. Jadi, aku harus segera mencari jalan keluarnya agar jalan menuju mahkota Ratu tidak lagi berduri.
"Terima kasih, Tuan Arcelio," kataku dengan senyuman aneh di wajah.
"Terima kasih kembali, Tuan Putri."
...***...
Tanggal tujuh belas tiba dengan cepat.
"Apa yang Anda lakukan di sini, Tuan Kardinal?"
"Anda juga sedang melakukan apa di sini, Sir Derick?"
Aku menghela napas. Semenjak pertama kali mereka bertemu, mereka senang sekali berdebat. Apakah mereka titisan Viten dan Axel atau bagaimana? Ah, entahlah, aku tidak mau memikirkannya.
Tapi jelas-jelas, semenjak aku memasuki tenda yang dibangun di halaman depan Kuil Dewi Matahari beberapa hari yang lalu, keduanya mulai berdebat ketika mereka bertemu satu sama lain.
"Saya di sini untuk menjaga Tuan Putri. Itu tugas saya sebagai ksatria penjaga Tuan Putri satu-satunya," balas Sir Derick dengan nada yang tajam.
Arcelio mendengus. "Saya di sini juga memiliki kepentingan. Tuan Putri telah berjanji untuk membantu penelitian saya mengenai kekuatan suci. Jadi, hadir di sini dan menyaksikan Tuan Putri menyembuhkan rakyatnya adalah opsi yang bagus, Sir Derick."
Aku tidak mau mendengarkan perdebatan mereka lagi dan duduk di kursiku.
Kursi itu memiliki busa beludru yang empuk dan membuatku nyaman. Di hadapanku, terdapat kursi yang serupa dengan kursi yang aku tempati. Hanya saja, kami terbatas oleh meja kayu dengan ukiran yang rumit nan elegan.
Aku sendiri mengenakan gaun berwarna putih dengan aksesori dan renda berwarna emas kali ini. Riasan di wajahku terlihat natural dan aku memuji ketiga pelayan pribadiku atas kerja keras mereka dalam mendadaniku.
Denganku yang mengenakan pakaian serba putih dan emas, kelihatan sekali bahwa aku adalah gadis suci yang dipilih langsung oleh Dewi Matahari.
Di luar tenda, sudah banyak rakyat yang mangantre dan bahkan bermalam di depan Kuil. Mereka benar-benar begitu putus asa untuk pengobatan sehingga datang beberapa hari sebelum tanggal tujuh belas.
Mereka bahkan sudah mendaftar pada para pendeta dan mendapatkan nomor urut untuk konsultasi dan penyembuhan tepat setelah berita tersebar.
Seharusnya, masih ada beberapa menit lagi sebelum ksatria yang di luar tenda mempersilakan para rakyat untuk memasuki tenda dan mengonsultasikan apa penyakit mereka, lalu aku akan menggunakan kekuatan suciku untuk menyembuhkan mereka.
Namun, secara tiba-tiba pintu tenda dibuka dengan perlahan.
Aku refleks ingin mengatakan bahwa konsultasi belum dimulai, tapi bungkam ketika melihat siapa yang memasuki tenda.
Dua pria yang berdiri di sampingku bahkan berhenti berdebat dan mulai berdiri dengan santun.
__ADS_1
"Yang Mulia Pangeran," sapa dua pria itu sambil menundukkan tubuh mereka, menyapa Keluarga Kerajaan dengan semestinya.
Aku berdiri dari kursiku. "Pangeran, apa yang membawamu kemari?"
Cioten Marilion Asher hanya tersenyum dan duduk di depanku. "Duduklah, Serethy. Kamu tidak perlu terlalu formal pada kakakmu. Yah, meski nanti kamu yang akan jadi kakak iparku."
Cioten mengalunkan tawa renyah yang kedengarannya aneh, sehingga aku hanya tersenyum canggung dan kembali menyamankan diri di kursiku.
Dua pria yang berdebat barusan bahkan sudah berdiri di sisi kanan dan kiriku, menunjukkan kehormatan mereka terhadap Keluarga Kerajaan. Yang anehnya, mereka malah bersikap seenaknya di depanku. Padahal aku juga Keluarga Kerajaan.
"Jadi, Pangeran. Apa yang membawamu kemari?" tanyaku, mengulang pertanyaan yang belum mendapatkan jawaban.
"Sudah berapa lama waktu berlalu setelah kompetisi perburuan? Tiga minggu? Waktu berjalan sangat cepat, bukan, Serethy? Waktu berjalan sangat cepat hingga terasa menyeramkan."
Cioten mengatakan hal-hal aneh. Oke, dia kelihatannya bukan Cioten. Sepertinya ada iblis yang merasukinya.
Alasannya adalah karena Cioten tidak akan menunjukkan ekspresi wajah seperti itu! Cioten yang kukenal selama hampir dua bulan ini adalah Cioten yang jahil dan hiperaktif. Dia senang bercanda dan mudah bergaul dengan banyak orang. Cioten juga ramah tanpa melihat status sosial orang tersebut. Minusnya, dia punya sisi tersembunyi yang hanya beberapa orang saja yang tahu, yaitu bahwa Cioten adalah seorang psikopat.
Namun, kini Cioten di hadapanku tampak kelihatan sendu dan rapuh. Padahal Cioten terlihat sangat kuat, tetapi rupanya dia merupakan manusia yang rapuh di sudut hati terdalamnya.
"Waktu berjalan sangat cepat hingga menggerogoti nyawaku lebih cepat juga."
Aku tersentak pada suara mendayu yang digunakan Cioten.
Bagaimana mungkin aku melupakannya? Melupakan bahwa Cioten memiliki sebuah penyakit yang bahkan tidak diketahui sebabnya. Aku terlalu terfokus pada kewaspadaan untuk tidak disiksa para karakter, kemudian terlalu memikirkan rakyat yang menunjukkan pro dan kontra mereka terhadap mahkota Ratu di kepalaku. Bisa-bisanya aku melupakan bahwa Cioten yang paling tersiksa selama ini.
Meski Cioten seorang psikopat, dia tetaplah keluargaku. Jadi, merupakan kewajibanku untuk menyembuhkan penyakitnya.
"Pangeran," panggilku sambil menggigit bibir.
"Serethy," balasnya. "Kamu tahu ketika kamu mengeluarkan kekuatan sucimu di kompetisi perburuan, cahaya itu menyebar ke seluruh area hutan. Apa kamu tahu itu?"
Aku tidak tahu, tapi aku tetap bungkam.
"Cahaya itu menyirami kami, rasanya hangat dan membuat hati tentram. Namun, ada yang berbeda denganku, Serethy. Sesuatu yang menguliti nyawaku perlahan tenang."
Jadi, intinya adalah kekuatan suci menyembuhkannya.
"Pangeran, aku akan menyembuhkanmu," kataku dengan tekad membara di kedua mataku.
"Terima kasih, aku berharap kamu bisa menyembuhkanku."
Cioten mengembuskan napasnya.
"Tapi, jangan memaksakan dirimu sendiri. Aku dikutuk Dewa Kematian, musuh dari cahayamu. Dan itu mungkin akan sedikit merepotkan untukmu. Akan sulit juga untuk menyembuhkan semuanya, jadi kuharap kau tidak memaksakan diri."
"Apakah sesulit itu untuk memulihkan kutukan?"
"Cukup sulit," balas Arcelio yang sedari tadi cuma memperhatikan. "Tuan Putri, kutukan artinya adalah tidak diinginkan kehadirannya oleh Tuhan. Apabila Yang Mulia Pangeran dikutuk Dewa Kematian, maka penyembuhan untuk beliau juga semakin kompleks. Anda harus mengetahui cara-caranya terlebih dahulu sebelum Anda menyembuhkan Yang Mulia Pangeran."
"Jadi, aku tidak bisa langsung menyalurkan kekuatan suciku?"
Arcelio menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak, Tuan Putri. Mau bagaimanapun, Dewa Kematian adalah musuh dari cahaya. Hal itu pula yang membuat penyembuhan terhadap kutukan yang diberikan Dewa Kematian menjadi rumit. Apabila salah langkah, kutukan malah akan berbalik menyerang Anda."
"Jadi, apa yang harus kulakukan?"
"Ada beberapa jurnal di ruangan saya mengenai cara-cara memulihkan kutukan, tapi saya tidak tahu apakah ini efektif jika menyangkut kutukan Dewa Kematian."
"Tidak apa-apa, kirimkan semua jurnalnya padaku," balasku.
"Baik, Tuan Putri. Saya akan segera mengirimkannya." Arcelio menunduk singkat. "Untuk saat ini, saran saya adalah dengan menenangkan kutukan yang membludak dengan mengirimkan energi suci dalam skala kecil dan perlahan pada Yang Mulia Pangeran."
Aku mengangguk atas pernyataan Arcelio. Tidak ada alasan untuk tidak memercayai Kardinal yang dibanggakan oleh Kerajaan Asher.
Oleh karena itu, aku mengulurkan tanganku. Dan Cioten, secara otomatis menggenggam tanganku.
Aku menutup mataku dan menyalurkan kekuatan suci lewat jemari kami yang bersentuhan.
Lalu, seketika aku merasa sangat kedinginan. Sepasang mata seolah menatapku tajam dan seakan ingin membuat lubang di kepalaku. Sepasang mata tersebut gelap sekali, penuh misteri, dan aku merinding karena begitu tajamnya mata itu menatapku.
Namun, aku tidak mundur. Sebagai gantinya, aku menyalurkan kekuatan suciku dengan konsisten tanpa patah-patah.
"Tuan Putri bisa berhenti jika kutukan di dalamnya telah sedikit tenang," bisik Arcelio, seakan tidak ingin memecah konsentrasiku.
Aku mengangguk perlahan tanpa membuka mataku.
Aku semakin merasakan kutukan di dalam tubuh Cioten seiringan dengan kekuatan suciku yang disalurkan secara konsisten.
Kutukan itu berupa kabut gelap yang membutakan mata dan membuat tubuh terasa dingin. Tubuhku pula terasa seperti ditusuk-tusuk oleh pedang saking tajamnya pandangan semu yang terarah padaku.
Semakin dalam, dalam, dan dalam. Hingga ke inti kutukan. Ah, kutukan itu begitu menyeramkan.
Partikel-partikel hitam memakan setiap sel yang tubuh Cioten hasilkan, membuat tubuhnya melemah dari detik ke detik, memakan organ dalamnya dan pembuluh darahnya sehingga anggota tubuh tak berjalan dengan semestinya. Aku kagum mengenai bagaimana Cioten bisa bertahan selama ini dengan derita yang sama selama bertahun-tahun.
Kabut gelap nan tebal itu seolah mengamuk kala kekuatan suci merangkul mereka. Lantas, seolah terdapat rantai mengelilingi kabut, merema tunduk. Kabut berhenti bergerak tak keruan, berhenti memakan sel yang tubuh Cioten hasilkan.
Mereka berhenti menggerogoti nyawa Cioten.
__ADS_1
Namun, seperti yang kukatakan barusan, aku hanya menenangkan kutukannya. Aku masih belum tahu cara untuk benar-benar menghilangkan kutukan tersebut. Jadi, mungkin segini saja cukup.
Perlahan, aku kembali membuka mataku.
Namun, betapa terkejutnya aku ketika melihat Cioten, pria hiperaktif yang bisanya menebar pesona di mana-mana, kini dalam keadaan kacau.
Dia menangis.
Apa aku melakukan kesalahan ketika menyalurkan kekuatan suci? Apa dia kesakitan?
"Pangeran-"
"Serethy." Cioten menggigit bibirnya. "Maafkan aku."
"Ya?" Aku mengerjapkan mataku.
"Seharusnya aku tidak datang ke sini."
Psikopat ini bicara apa sebenarnya? Dia dikutuk dan datang kepadaku adalah opsi yang tepat. Apa yang perlu disesali?
"Pangeran, kamu-"
"Kamu terlihat tersiksa. Rilekskan wajahmu."
Aku tersentak ketika jemari hangat Cioten membelai pipiku. Baru kusadari, wajahku dipenuhi keringat dingin dan dahiku mengerut. Aku tidak menyadarinya. Apakah kutukan memang berada di jangkauan kekuatan suciku?
"Serethy. Jika kamu tidak mampu melakukannya, tidak apa-apa. Aku bisa mati tanpa perlu menyesali apa pun. Aku bisa mati dengan tenang setelah menitipkan kakakku padamu dan memastikan bahwa Kakak mendapatkan kebahagiaan yang dia inginkan."
Sudut bibirku bergerak dengan kaku. Apakah bajingan psikopat ini sedang mengatakan wasiatnya?
"Pangeran, tolong tenanglah. Dan berhentilah menangis. Ke mana pribadimu yang ceria, Pangeran? Aku rindu melihat senyumanmu."
Cioten tersentak, Sir Derick dan Arcelio di belakangku mengeluarkan helaan napas tak percaya.
Sementara aku hanya mengerjap bingung. Tentu saja apa yang kukatakan pada psikopat itu tidak sungguhan. Mana mungkin aku ingin melihat senyumannya. Apakah aku gila? Aku cuma bicara omong kosong supaya psikopat itu berhenti menangis dan makin membuatku takut.
Melihat air mata di pipinya sangatlah aneh, mengingat kepribadiannya yang berbanding terbalik dengan apa yang dilakukannya sekarang.
Cioten terkekeh kecil. Dia menghapus air mata dengan saputangannya.
"Terima kasih, Serethy. Aku akan tersenyum sesuai permintanmu."
Dan dia benar-benar tersenyum. Aku bisa gila karena takut! Itu karena meski dia tersenyum, matanya tidak menunjukkannya.
Aku berdeham. "Kalau begitu, Pangeran. Soal kutukannya, aku sudah menenangkannya, tetapi hanya untuk sementara. Sebelum Tuan Arcelio memberikan jurnalnya padaku, aku akan terus menenangkan kutukannya."
"Tapi kamu terlihat begitu tersiksa. Mana mungkin aku mau melakukan hal yang sama, bukan? Lagipula menenangkan kutukan itu tidak perlu. Selama beberapa tahun ini, aku tetap bertahan hidup dengan kutukan di tubuhku."
"Tolong jangan mengatakan hal-hal yang menyeramkan, Pangeran. Kamu seharusnya menghargai nyawamu lebih jauh lagi. Jangan mengakhiri segalanya dan cepat berputus asa. Pangeran, ada seseorang yang pernah mengatakan ini padaku: bahwa kamu tidak boleh menyerah dengan begitu cepat kala ada satu kesempatan untuk membuatmu mencapai puncak."
Cioten melebarkan matanya.
"Maka, jika ada aku di sini sebagai penyembuh kutukanmu, jangan menyerah. Lagipula, aku bisa tahu batasanku, Pangeran."
Jeda untuk sepersekian saat sebelum tawa Cioten mengalun di udara.
"Dewi Matahari, lihatlah putri yang kau sayangi. Dia mengatakan hal-hal yang bijak," kata Cioten sambil berteriak, mungkin mengharapkan Angelina untuk mendengarnya.
"Seperti yang diharapkan dari Tuan Putri."
Aku mendengar gumaman Sir Derick di belakangku, tapi aku mengabaikannya.
"Tuan Putri," panggil Arcelio. "Jadwal Anda akan segera dimulai. Namun, Anda kelihatannya pucat. Apakah kita perlu menundanya hingga besok?"
Aku mengerutkan dahi. "Orang-orang di luar sana bahkan sudah menungguku dari subuh, dari beberapa hari yang lalu. Tidak, aku tidak akan menundanya."
"Tuan Putri, tolong jangan keras kepala." Kini, Sir Derick yang mengambil alih percakapan. "Meskipun tujuan Anda begitu mulia, apakah artinya jika Anda malah berakhir jatuh sakit?"
Dia yang mengkhawatirkanku sungguh manis. "Aku tahu batasanku, Sir Derick. Oleh karena itu, aku akan tetap menyembuhkan orang-orang di luar sana."
Sir Derick menghela napas. Seolah tahu kala aku memutuskan, maka tidak bisa digganggu gugat.
"Sebaliknya, Tuan Arcelio. Aku akan menunda selama setengah jam. Apakah kamu puas?"
"Baiklah jika itu mau Tuan Putri."
"Untuk meminimalisir keheranan para rakyat. Tolong sebarkan rumor bahwa aku sedang menyembuhkan kutukan Pangeran dan rupanya itu memakan waktu yang lebih banyak." Aku menatap Cioten. "Tentu aku boleh menyebar rumor itu, kan?"
Cioten menggedikan bahu. "Tidak ada yang salah dengan itu."
Baiklah, peran sebagai calon Ratu yang disenangi rakyat akan benar-benar dimulai dalam setengah jam.
...***...
Soal kutukan bla bla bla, itu pure imajinasi aku ya. Jadi kalau di cerita lain, buat sembuhin kutukan itu mudah, di sini nggak. Emang penulis banyak maunya. Jadi, anggap aja kalau di sini nyembuhin kutukan itu rumit.
Tapi boleh aku minta tolong? Sebagai referensi aku, kalian bisa komentar tentang penyembuhan kutukan yang pernah kalian baca ya. Terima kasih banyak, itu membantu aku banget <3!
__ADS_1
12 Desember 2022