![I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]](https://asset.asean.biz.id/i-will-avoid-the-death-flag--sudah-terbit-.webp)
Calmaria mengabulkan permintaan Cioten dengan memberikan paviliun yang jauh dari ibu kota sebagai tempatnya tinggal.
Chloe, pelayan pribadi Calmaria, turut tinggal di paviliun bersama Cioten sebagai pelayannya. Merupakan permohonan dari Calmaria sendiri untuk Chloe bersedia melayani kebutuhan putranya.
Di paviliun, tiada hari tanpa merasa tersiksa. Kutukan di dalam tubuhnya makin tumbuh menjadi-jadi, menyiksanya dengan telak. Namun, Cioten mampu bertahan dari setiap rasa sakit yang diderita. Cioten mampu merenggut deru napas yang ia perjuangkan dengan rakus. Cioten bertahan hidup walau pisau dua arah menodongnya.
Pisau pertama, itu adalah penyesalan ketika dia perlu bertahan sendirian dengan kutukan di tubuhnya. Namun, Cioten tahu pasti jika ia tidak bisa tinggal bersama Viten apabila ia tidak mau menghalangi jalan kakaknya menuju tujuan. Bisa dibayangkan jika Cioten di sampingnya, Viten akan terus mencari cara menyembuhkan kutukan dibandingkan melanjutkan studi untuk menjadi penguasa negara.
Pisau kedua, tinggal tanpa ksatria di sampingnya membuat Cioten dikejar oleh para pembunuh bayaran. Cioten perlu melatih otot dan seni bela diri pun berpedangnya untuk bertahan hidup.
Di suatu waktu kala Cioten menangkap pembunuh bayaran itu, senyum gila hinggap di bibirnya. Jemarinya memainkan belati pemberian Calmaria, sesekali menggoreskannya di tubuh si pembunuh.
"Apa yang harus kulakukan padamu, ya? Berani sekali kau menjejaki rumahku tanpa permisi," ujar Cioten dengan suara gembira. Tidak ada jejak-jejak kelelahan atau nada suara yang dingin kala menghadapi musuh, hanya ada keceriaan di wajahnya.
"Aku harus membunuhmu!" seru pembunuh bayaran yang sudah diikat di sebuah kursi kayu.
Cioten tertawa puas. "Terima kasih telah mengatakan bahwa nyawaku begitu berharga sehingga ada yang mengincarnya. Tapi maaf saja, aku tidak akan menyerahkan jiwaku yang penuh kutukan ini pada tangan kotormu. Meski aku tersiksa, aku masih ingin memperjuangkannya."
Ruangan dipenuhi erang kesakitan ketika Cioten tidak bisa berhenti menyiksa si pembunuh bayaran menggunakan belatinya hingga pembunuh itu mati.
Awalnya, Cioten berpikir bahwa hal yang normal untuk menyiksa pembunuh bayaran yang mengincarnya guna mengetahui siapa pengirimnya. Namun, lama-kelamaan, aktivitas tersebut terasa menyenangkan bagi Cioten yang bosan. Cioten jadi sering menyiksa para pembunuh yang mengincar nyawanya tanpa ragu-ragu.
Melodi riak suara yang membentuk harmoni mengudara, membuat rasa puas di dada membludak. Seolah iringan orkestra yang menentramkan, Cioten terus melakukan hal yang sama untuk mendengarkan melodi yang sama. Hari ini, esok, lusa. Cioten kerap melakukannya tanpa ragu, menjadikan penyiksaan sebagai pelampiasan stres akan kutukan yang mendera. Kutukan yang nyaris membuat Cioten merasa gila karena telah ratusan kali membawa Cioten ke dalam jurang pemisah antara hidup dan mati.
Itu menyiksa Cioten.
Menyiksanya hingga Cioten rasanya ingin menyerah akan kehidupan. Hingga Cioten hampir saja membuat belati kesayangannya tak bermain-main di permukaan kulit para pembunuh, melainkan kulitnya sendiri.
Melihat darah yang mengucur deras dari lengannya yang tersayat, mengirim sensasi yang menenangkan bagi Cioten. Itu menenangkan, damai, dan candu. Namun, Cioten tidak bisa melanjutkannya lagi setelah Chloe memergokinya.
Ah, mengecewakan.
Pada akhirnya, Cioten menyerah untuk menyakiti dirinya sendiri. Sebagai gantinya, dia menyiksa para pembunuh dengan lebih brutal dan lebih mengerikan. Melihat bagaimana mereka memohon akan kehidupannya pada Cioten terasa candu.
"Ah, mengapa, ya? Padahal kehidupan sangat singkat, tapi mereka memohon untuk terus hidup padahal tahu cepat atau lambat mereka akan mati," gumam Cioten setelah melihat seseorang mati karena disiksanya.
Dan Viten yang akhirnya bisa mengunjungi Cioten setelah enam tahun berlalu malah mengetahui fakta bahwa adiknya berubah menjadi seorang psikopat.
...***...
Cioten hidup dengan begitu banyak penderitaan. Tidak hanya dikutuk, Cioten tidak memiliki siapa pun di sisinya untuk menyayangi Cioten. Terdapat Chloe, tetapi pelayan itu cuma melakukan tugas yang diperintah, tidak lebih.
Tumbuh dalam kurangnya kasih sayang membuat Cioten merasa bahwa kisah kasih tak pantas dia sematkan dalam kehidupannya. Cioten merasa tak layak untuk diperjuangkan. Cioten merasa bahwa dirinya yang penuh luka dan lubang bukanlah sosok yang pantas untuk dikasihi.
Terlebih, kehilangan kontak dengan kakak yang telah tumbuh selama empat belas tahun bersamanya membuat Cioten nyaris gila. Jika saja Cioten tidak menahan diri untuk tidak mengubungi Viten atau Cioten hanya akan memengaruhi jalan Viten untuk menjadi Raja.
__ADS_1
Pada akhirnya, menahan penderitaan selama tiga belas tahun dapat terobati ketika melihat Viten dengan bangganya mengenakan mahkota Raja di kepalanya dalam acara penobatannya.
Cioten tersenyum bangga pada kakaknya yang ia kasihi.
Akhirnya, sesuai permintaan Viten, Cioten meninggalkan paviliun di luar kota dan tinggal di wilayah asal Matria untuk mengelolanya dan membangun pengaruhnya di sana. Viten awalnya tidak menyetujui, tetapi luluh ketika Cioten menyebutkan soal kutukan.
Viten menyayangi adiknya, itu jelas saja. Dan mendengarkan dari mulut adiknya sendiri bahwa kutukan itu telah singgah di tubuhnya selama tiga belas tahun membuat Viten merasa pedih.
"Takdir akan membawa kita pada tujuan jika Kakak menjadi Raja. Jangan benci Ibu, jangan benci aku, dan jangan benci diri Kakak sendiri," Cioten menggumamkan hal tersebut untuk menenangkan rasa bersalah Viten. "Maafkan aku karena tidak memberi tahu alasan mengapa kami berdua dikutuk."
Viten hidup sendirian selama puluhan tahun tanpa mengetahui mengapa ibu dan adiknya dikutuk. Itu benar-benar menyiksanya.
...***...
Pada akhirnya, Cioten kembali ke Istana Kebahagiaan setelah mendengar bahwa mantan Tuan Putri di Kerajaan Matria telah diangkat menjadi Tuan Putri Asher.
Cioten sedikit penasaran pada Tuan Putri itu sehingga dia akhirnya berkunjung ke Istana Kebahagiaan. Rasanya, sudah lama sekali Cioten tidak menjejaki istana yang dia tinggali selama empat belas tahun. Meninggalkan rasa nostalgia di dada.
"Jadi kamu, ya, Tuan Putri yang baru itu? Siapa namamu itu? Sereal? Serena? Tunggu, bukan itu."
"Serethy," potong Viten, membenarkan jawaban Cioten.
Di sanalah Cioten menemukan Serethy Asher, tanpa nama tengah, dengan perasaan pelik di dadanya kala melihat Viten yang dingin memberikan sisi lembutnya pada Serethy. Kemudian, di malam harinya, Serethy malah memergoki Cioten yang tengah membunuh bawahannya.
Bawahannya telah mengatakan omong kosong mengenai Serethy dan itu mengganggu Cioten.
Kemudian bawahannya yang lain juga mengatakan hal-hal serupa.
Cioten tidak tahu mengapa dia berakhir membunuh semua bawahannya karena satu fakta itu.
Serethy adalah gadis yang beruntung, Cioten menyetujuinya. Apabila kakaknya tidak mengangkat Serethy menjadi Tuan Putri, maka Serethy akan menjalani kehidupannya dengan penuh kemalangan.
Akan tetapi, Cioten tidak bisa diam saja setelah mengetahui bahwa bawahannya menjelekkan Serethy, orang yang kakaknya kasihi.
Cioten bisa tahu bahwa Viten memiliki sisi lembut hanya kepada Serethy dan mendengarkan mereka menjelekkan orang yang dikasihi kakaknya membuat Cioten kehilangan akal sehatnya dan membunuh mereka semua.
"Tuan Putri, ingat, ya, ini rahasia. Percakapan kita, apa yang Tuan Putri lihat, darah merah yang asik, dan permainan belati. Semua yang ada di sini adalah rahasia."
"Tentu saja, Pangeran. Aku pandai menyimpan rahasia."
Cioten menyukai sisi tangguh yang ditunjukkan oleh gadis itu. Padahal Cioten bisa tahu jika gadis itu ketakutan setengah mati.
Namun, usaha untuk tidak menunjukkan sisi lemah kepada lawan membuat Cioten merasa takjub. Hingga tanpa sadar, Cioten turut memberikan sisi lembutnya pada Serethy.
Itu cuma secuil sisi lembut yang ditujukan pada Serethy. Namun, seiring waktu berjalan, secuil perasaan perlahan berubah menjadi perasaan yang membludak tak terbendung.
__ADS_1
Cioten kagum mengenai bagaimana teguhnya Serethy dalam menghadapi masalah, dalam menghadapi Clare, dan bagaimana Serethy menyelesaikan masalahnya sendirian dengan bijak.
Itu hal yang baru bagi Cioten yang tumbuh dengan mengutamakan rasa kesepian.
Cioten tumbuh sendirian, menghadapi seluruh masalah sendirian, menghadapi rasa sunyi dan sepinya sendirian. Cioten tahu betapa menyiksanya hal yang sama. Namun, di sanalah Serethy. Menyelesaikan segalanya dengan berbekal telapak tangan kosong yang seolah berniat untuk menggenggam dunia di dalamnya. Cioten tahu bahwa menyelesaikan masalah tanpa melarikan diri adalah hal yang luar biasa, sehingga Cioten terus dibuat kagum.
Serethy menghadapi masalahnya dengan berani, sementara Cioten lari dari masalahnya.
Betapa sebuah perasaan di dada mampu membuat Cioten menjadi sosok lembut hanya pada gadis itu.
Betapa Cioten Marilion Asher menginginkan Serethy untuk terus berada di dalam sela-sela kehidupannya. Kutukan pun bukan masalah besar, asalkan ada Serethy di dalamnya, Cioten mampu bertahan.
***
Viten mengurut dahinya karena stres yang mendera.
Pemakaman Calmaria telah dilaksanakan dua hari yang lalu, sementara suasana duka di dalam istana masih belum reda. Sama halnya dengan Viten yang masih berduka. Kala melihat ajal menjemput Calmaria tepat di hadapannya, Viten merasa bahwa dunianya hancur-lebur.
Sekali lagi diingatkan, meskipun Calmaria membuat mental Viten hancur dan mencetak kepribadian gila di dalam dirinya, Viten tidak bisa membenci Calmaria. Viten tidak mau membenci Calmaria yang telah memberi warna di kehidupan abu-abu si bocah berusia enam tahun. Betapa Viten merasa bersyukur terdapat figur ibu yang mengisi peran kosong di kehidupannya.
Viten tentu saja enggan menghapus memori berharga di mana dia tertawa dan bahagia bersama Calmaria, Cioten, dan Millia, walau Calmaria telah berlaku egois pada Viten. Momen itu terlalu berharga untuk ditukar dengan setumpuk emas atau berlian. Terlalu berharga untuk ditukar dengan nyawanya sekalipun.
Viten akan terus menyayangi momen-momen yang dia rindukan. Di mana Viten bertemu dengan Calmaria untuk pertama kalinya di usia enam tahun, di mana dia akhirnya mendapatkan adik perempuan, di mana Viten akhirnya mendapatkan kasih sayang Ibu yang dia dambakan, di mana dia tumbuh dengan kasih sayang Ibu, di mana Viten didikte untuk menjadi Raja, di mana Viten ditekan dengan persepsi bahwa menjadi Raja adalah satu-satunya opsi untuk menyelamatkan segalanya.
Viten tidak mengelak dari tanggung jawab besar yang tiba-tiba ditimpakan di pundaknya.
Tanggung jawab tersebut terlalu besar di telapak tangan mungilnya yang tak akan mampu merangkul satu dunia sesuai ekspetasi Calmaria. Akan tetapi, Viten melakukan semuanya dengan teguh.
Apabila Calmaria ingin Viten menjadi Raja, akan Viten lakukan. Setidaknya, itulah cara Viten untuk berterima kasih kepada Calmaria karena telah memberikan kasih yang pernah didambakan oleh Viten, karena telah menyiratkan bahwa nyawa Viten begitu berharga untuk diserahkan kepada Dewa Kematian begitu saja.
Tok, tok, tok.
Ketukan di pintu kamarnya membuat Viten memecah lamunannya.
"Masuk." Suara Viten bergema di malam yang sunyi.
Perlahan, pintu yang diketuk terbuka dan menampilkan seorang ksatria. Ksatria itu menundukkan tubuhnya dengan santun.
"Salam Yang Mulia Raja. Maaf mengganggu waktu Anda, tetapi buronan telah ditemukan."
Viten menegakkan tubuhnya. "Alverro telah ditemukan?"
"Bukan, Yang Mulia. Itu adalah mantan Raja dan Putra Mahkota dari Kerajaan Matria yang telah runtuh."
...***...
__ADS_1
Adegan Cioten adalah bagian dari bab 13. Di sini point of view-nya Cio sementara di bab 13 adalah Serethy.
Desember 2022