I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]

I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]
34. Akhir Bagi Pendosa


__ADS_3

Alun-alun kota bisa dikatakan bising.


Tempat ini memang biasanya selalu dipenuhi oleh masyarakat yang melakukan aktivitas mereka masing-masing untuk menuai kehidupan. Akan tetapi, khusus untuk hari ini saja, mereka berkumpul untuk satu tujuan yang sama, yaitu menyaksikan seorang pendosa yang akan dihukum mati.


Di atas altar mungil, berdiri alat bernama guillotine. Itu merupakan alat pemenggalan pada zaman historikal. Digunakan untuk para pendosa yang pantas diberikan hukuman seperti ini.


Di Kerajaan Asher, penggunaan guillotine sangatlah jarang. Itu dikarenakan, apabila menggunakan alat tersebut, dosa yang telah dilakukan oleh individu sangatlah besar hingga dipermalukan sambil dipenggal di depan khalayak saja tidaklah cukup untuk menebus dosanya.


Aku menelan ludah ketika pisau besi berkilauan ditimpa sinar matahari.


Anehnya, hari ini cuaca amat cerah. Seolah Angelina sendiri, Dewi Matahari, merasakan antusiasmenya untuk hari yang dinanti.


Aku dan dua anggota keluarga kerajaan lainnya duduk di atas singgasana masing-masing. Aku duduk di sisi kiri Viten, sementara Cioten ada di sisi kanan kakaknya.


Walau cuaca terik hingga nyaris membakar kulit, kami diberikan tempat yang cocok untuk menyaksikan pemenggalan seorang pendosa dari jarak satu lantai dari tanah. Dan tentunya tempat kami tidak diterpa matahari.


"Cepat bawa pelacur itu!"


"Ke mana wanita itu? Aku makin tidak sabar melihat wajah menyedihkannya!"


"Pendosa harus diberikan hukuman yang setimpal."


"Menjijikkan sekali. Pantas dimusnahkan."


"Kudengar wanita itu hampir meruntuhkan Kerajaan Asher kami."


"Berani-beraninya wanita itu ingin menghancurkan kerajaan ini!"


"Dan apakah kamu mendengar bahwa pelaku di balik kematian Nona Krone adalah si pendosa itu!"


"Apa?! Dia sangatlah menjijikkan! Dia pantas mati!"


Ah, jujur saja. Ini berisik sekali. Sahutan demi sahutan tercipta, dipenuhi nada geram dan murka, bahkan gosip mengada-ngada mengenai seorang pendosa makin hiperbola.


Semakin aku mendengar para masyarakat memaki, aku semakin dibuat resah.


Itu karena satu-satunya orang yang melempar Clare ke dalam situasi ini adalah aku. Aku yang melempar Clare ke dalam rengkuhan guillotine, memaksa Clare untuk mengorbankan kepalanya, hingga rakyat merasa puas.


Namun, kembali lagi kepada topik awal. Apabila aku tidak membawa Clare ke dalam situasi ini, jelas-jelas Clare masih bisa hidup sekarang. Jangankan dicaci dan dimaki, Clare pasti masih bisa merasakan hidup kemewahan sebagai nona bangsawan berdarah biru.


Tiba-tiba, aku merasakan jemari menelisikku. Kehangatan menyebar kala jemariku digenggam ringan.


Aku menolehkan kepala dan langsung terikat pada manik merah itu.


"Apa kau takut?" tanya Viten dengan partitur nada yang lembut.


Semenjak lamaran konyol yang sama sekali tidak romantis itu, perilaku Viten terhadapku berubah. Dia makin lembut padaku dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bendera kematian untukku.


Aku mengulas senyuman kecil. "Aku sedikit takut, Yang Mulia."


"Ini pertama kalinya bagimu melihat hukuman ini?"


Aku menganggukkan kepala atas pertanyaan Viten.


"Benar, Yang Mulia."


"Jangan khawatir, Serethy. Waktu hukuman hanya memakan waktu sebentar. Kau tidak akan menyadarinya ketika kepala sudah lebih dulu terpenggal dan berdarah-darah. Lalu, orang itu akan mati instan. Selesai."


Hei, hei, dasar bajingan gila. Apa dia berniat untuk menenangkanku atau tidak? Mengapa dia malah makin memperjelas imaji yang ada di pikiranku?!


Aku hanya mengalunkan tawa kaku. "Baiklah, Yang Mulia."


"Heh."


Aku memelotot. Bajingan ini malah menyeringai puas.


"Aku bercanda," lanjutnya. "Jangan khawatir, Serethy. Jika kau takut, kau tidak usah melihatnya."


Aku merasakan jempol Viten mengelus punggung tanganku perlahan, berniat menenangkan.


Aku mengembuskan napas. Lihatlah mengenai betapa labilnya perasaan Viten. Barusan saja dia bertingkah psikopat, tapi sekarang dia bersikap lembut.


"Bagaimanapun, aku harus melihatnya, Yang Mulia. Sebab, akulah yang membuat pertunjukan ini."


Viten menarik satu sudut bibirnya. "Kau benar. Penulis skenario harus mengikuti jalan cerita yang dibuatnya. Namun, Serethy, ada juga penulis skenario yang tidak mampu mengikuti jalan ceritanya sendiri sehingga memilih untuk tidak membuka mata. Tidak ada yang salah dengan itu. Itu bukanlah dosa."


Wow. Aku tidak bisa berkomentar atas kalimat panjang Viten. Aku merasa baru kali ini dia mengucapkan kata-kata penuh gulali dan kalimat yang panjang.


Jemari Viten lalu naik, menuju puncak kepalaku, dan membelainya sejenak.


Aku terpaku, lantas melirik senyuman penuh kelembutan di bibirnya yang merona.

__ADS_1


"Kamu sudah melakukan segalanya dengan baik, Serethy."


Ah, sial. Aku bisa mati dengan tenang setelah mendengar nada penuh lembut dan kasih di melodi konversasi.


Kami bertukar percakapan dengan manis, tanpa menyadari ada satu insan yang terbakar kobaran cemburu.


...***...


Clare mengenakan gaun putih polos yang lusuh. Beberapa sisi bahkan sudah robek dan beberapa lagi merembeskan darah dari bekas luka yang tidak pernah diobati.


Kala Clare ditarik oleh prajurit menuju altar alun-alun, sorakan demi sorakan langsung tercipta. Bersahutan. Membentuk melodi yang nyaring.


Pandangan Clare kosong. Seolah secercah harapan yang tersisa akhirnya luruh hingga Clare tak tahu mesti melakukan apa.


"Cepat bunuh wanita itu!"


"Bunuh pendosa itu!"


Clare mengerang kecil kala melihat seorang anak kecil melempar kerikil padanya dengan keras, membuat dahi Clare yang terluka makin berdarah. Seolah menginisiasi, kerikil demi kerikil akhirnya dilemparkan pada satu tujuan yang sama.


Clare menggigit bibirnya. Perih, sakit, berdarah. Clare nyaris ingin berteriak jika dia tidak menahannya. Akibatnya, Clare menangis. Dia menangis, tersedu-sedu, seolah meluruhkan segala perasaan yang membebani.


Clare akhirnya dilemparkan kepada algojo yang bertugas untuk menjalankan proses hukuman.


Manik Clare yang hitam kemudian bertemu pandang dengan sosok yang memiliki rambut sewarna zamrud miliknya.


Eladio Cyrill berdiri di barisan depan dengan sorot mata yang dingin. Seolah menyiratkan bahwa kehadiran Clare di atas altar untuk menemui ajalnya tak lantas membuat Eladio merasa terpuruk.


Bahkan wajahnya yang tak menunjukkan reaksi apa pun kala bertemu tatap dengan Clare membuat Clare berjengit.


"Ayah!" panggil Clare dengan teriakan sendu. Clare memutuskan di saat-saat terakhir mengenai dia perlu mencurahkan sekeping harapan pada sosok tersebut.


"Ayah, tolong selamatkan aku!" Clare berteriak lagi.


Namun, satu-satunya hal yang Clare dapat sebagai balasan adalah tatapan penuh jijik di manik hitam indentik tersebut.


Betapa Clare merasa hatinya mencelos.


"Apa yang kau lakukan? Bawa dia dari hadapanku," ujar Eladio dengan dingin pada algojo yang menahan tubuh Clare.


Algojo tersebut langsung menyeret Clare ke tengah altar. Namun, sebelumnya, Clare mendengar Eladio mengatakan, "Sia-sia sekali menghabiskan uang untuk membesarkannya jika dia mati dengan tidak terhormat."


Pandangan Clare kosong. Kalimat tersebut begitu menusuk relung hatinya. Menggempur dada. Sakit sekali. Seolah ribuan tusukan pedang ke jantungnya bahkan lebih baik daripada kalimat yang dibisikkan daging tak bertulang.


Satu suara yang mendominasi mampu membungkam ratusan khalayak dan memosisikan dirinya sebagai pusat atensi.


Viten tersenyum puas di singgasananya.


"Aku menyesal terhadap kejadian yang terjadi saat ini. Mau bagaimanapun, Nona Clare memang pernah berjasa besar bagi kelangsungan kehidupan Kerajaan Asher. Akan tetapi, dosanya pula terlalu besar dibandingkan kebaikan yang pernah Nona Clare lakukan. Dengan amat menyesal, atas perwakilan Dewa Matahari, aku menjatuhi guillotine sebagai hukuman akhir bagi Nona Clare."


Pidato singkat Viten mampu menuai sorakan dari rakyatnya.


"Hidup Yang Mulia!"


"Yang Mulia Raja!"


"Kami setuju, Yang Mulia!"


"Kami mendukung keputusan Yang Mulia!"


Viten tersenyum pada khalayak yang menyetujui keputusannya. "Kalau begitu, Tuan Putri akan mengatakan beberapa patah kata di sini."


Serethy memelotot kala Viten secara tiba-tiba menyuruh Serethy untuk berbicara di depan rakyatnya.


Namun, Serethy akhirnya bangkit dari singgasana dan mendekati pagar pembatas. Ini merupakan kesempatan bagi Serethy untuk menuai opini rakyat terhadapnya. Mau bagaimanapun, mereka adalah calon rakyat Serethy dan Serethy adalah calon ratu bagi mereka.


Serethy mengembuskan napas sebelum membuka bibirnya, "Kesalahan adalah hal yang manusiawi."


Suara Serethy bergema di alun-alun, membuatnya menjadi pusat atensi dalam seketika.


"Bukan masalah bagi seseorang apabila melakukan satu-dua kesalahan. Kamu hanya perlu belajar dari kesalahan tersebut. Jika salah lagi, belajar lagi. Akan tetapi, yang kalian semua ketahui dari rumor maupun gosip yang menyebar, aku adalah seorang saintess. Aku pernah terhubung langsung dengan Angelina, Dewi Matahari."


Setelah Serethy menyebutkan Angelina, helaan tak percaya terdengar bersahutan di alun-alun.


"Angelina? Bukankah tidak ada Dewi Matahari sebenarnya?"


"Apakah Tuan Putri mengada-ngada?"


"Tidak mungkin. Kita memercayai Dewa Matahari selama ini."


"Apakah Kuil membuat kekeliruan? Itu kekeliruan yang besar sekali."

__ADS_1


"Namun, bisa saja itu benar, Tuan Putri adalah seorang saintess. Itu adalah bukti nyata ketika kekuatan sucinya melindungi Tuan Putri dari serangan."


Serethy tersenyum. Menunggu bisik-bisik mereda sebelum melanjutkan, "Benar sekali, rakyatku yang kusayangi. Dewa Matahari adalah Angelina, Dewi Matahari. Dan aku pernah terhubung dengannya. Kami bicara banyak. Itu mengenai betapa bencinya Angelina terhadap kepalsuan firman atas namanya. Mau bagaimanapun, membohongi semua orang dengan atas nama Angelina membuatnya merasa murka sehingga aku harus membuat keputusan ini.


"Aku memang mengatakan bahwa satu-dua kesalahan bukanlah masalah, tetapi terdapat perbedaan konteks apabila hal tersebut menyangkut keagungan Dewi Matahari. Angelina, merupakan sosok agung yang tak pantas disandingkan dengan tipu muslihat yang terkutuk. Sebab itulah, Angelina menginisiasi Yang Mulia Raja untuk memberikan hukuman, karena Angelina tahu pasti mengenai bagaimana kompetennya Yang Mulia Raja jika menyangkut hukuman yang setimpal atas dosa yang dibuat."


Suara rakyat bergema di alun-alun. Menyebar bagaikan api yang ditimpa oleh alkohol, berkobar.


Serethy mengatakan hal-hal dengan sangat baik. Dia mengungkapkan identitas Angelina serta menaikkan opini baik terhadap dirinya sendiri maupun Viten.


"Oleh karena itu, rakyatku yang kusayangi."


Bahkan mengatakan bahwa Serethy mencintai rakyatnya.


"Baik aku dan Angelina, menyetujui hukuman yang diberikan oleh Yang Mulia Raja."


Serethy mengalihkan pandangnya pada Clare yang menatap murka pada Serethy. Tubuhnya ditekan algojo kala lehernya menemukan tempatnya di guillotine. Air mata yang menetes dari mata hitam tersebut tidak hanya dipenuhi murka, tetapi keputusasaan.


"Nona Clare. Ini merupakan pertemuan yang singkat, tetapi aku benar-benar menghargai setiap momen yang kita berdua bagi. Maafkan segala kesalahan yang pernah aku perbuat padamu dan mohonlah ampunan pada Dewi Matahari sehingga kamu bisa mendapatkan ketenangan abadi di alam baka."


Serethy menarik satu sudut gaunnya dengan jemari kiri sementara tangan kanannya diletakkan di jantung. Perlahan, Serethy menundukkan tubuhnya.


Hal ini lagi-lagi menuai helaan terkejut dari para rakyat.


"Tuan Putri begitu baik hati."


"Bagaimana mungkin sosok seagung Tuan Putri memberikan penghormatan pada seseorang yang telah menipunya?"


"Tuan Putri adalah calon ratu yang sempurna."


"Tidak salah kami mendukung Tuan Putri."


Sorakan kini beralih mendukung Serethy dan memujinya. Menyanjungnya dengan hebat.


Serethy tersenyum kala dia kembali menegakkan tubuhnya.


"Mari kita mulai penghukumannya."


Kemudian, seorang pendeta maju dan mengucapkan doa-doa dalam bahasa kuno Asheri untuk beberapa menit ke depan. Suasana begitu khidmat kala pendeta mengucapkan doa. Setelah itu, pisau besi yang tajam dijatuhkan oleh seorang algojo.


Akhirnya, rambut panjang zamrud yang terlihat menawan terlepas dari kepala. Luruh ke tepi-tepi altar dan sesekali terbawa pawana.


Panorama berdarah tersebut tidak membuat seluruh orang yang menyaksikan merasa ngeri. Akan tetapi, mereka bersorak. Bersorak sekeras mungkin. Hingga suara bergema dalam getaran nada.


Itu sorakan seolah mereka telah terlepas dari jajahan kejahatan.


Ah, betapa akhir tersebut merupakan akhir yang menyedihkan bagi seorang pendosa.


***


Alverro menangis. Menangis hingga suara dan air matanya nyaris habis.


"Tuan Muda," panggil Ilyos. Menggunakan gelar "Tuan Duke" tidak lagi mungkin setelah Alverro dilengserkan dari posisinya sambil mendapatkan hukuman mati.


Akan tetapi, Alverro tidak bisa menghentikan isakan yang terdengar begitu pilu. Suara tersebut terdengar pecah dan hancur.


"Tuan Muda, kita harus pergi sebelum prajurit menemukan Anda," ujar Ilyos.


Alverro lalu merapatkan tudung jubah cokelatnya. Ditatapnya sekali pada tubuh terpisah Clare yang tergeletak di altar alun-alun. Tubuhnya terlihat begitu menyedihkan seolah kematiannya yang tragis tak menyebar air mata satu pun di pipi yang lain.


Ketika melihat begitu banyak darah yang menetes dan tumpah, Alverro merasa hatinya mati rasa oleh rasa sakit yang terasa tak nyata.


Kala melihat rambut zamrud itu yang terbawa angin, mahkota hijau yang tampak begitu menawan itu diinjak-injak, dan wajah pucat yang tebercak darah pekat, Alverro kembali menangis. Meluruhkan segalanya. Meluruhkan rasa perih yang mendera.


"Nona Clare," gumam Alverro.


Alverro menatap nyalang ke atas balkon, lebih tepatnya pada Tuan Putri Asher.


Di matanya yang sewarna batu safir, tercetak kemurkaan yang nyata, berkobar, layaknya api yang disulut dan dipancing untuk membesarkan kobarannya.


"Ayo pergi, Ilyos," ujar Alverro dengan suara yang serak dan membalikkan tubuhnya.


Alverro melangkahkan tubuhnya dengan sigap dan menjauhi sorakan alun-alun yang mengudara.


Di hatinya yang tersayat luka, dirapalkannya kalimat yang sama, "Aku akan balaskan dendammu, Nona Clare."


Alverro kemudian menghilang di balik bayang-bayang Kerajaan Asher, sambil membawa duka dan dendam di hatinya.


...***...


Arc 1 untuk villain berakhir! Siapa yang menantikan momen ini silakan tunjukkan diri kalian!

__ADS_1


Terima kasih telah mengikuti perkembangan cerita ini.


__ADS_2