![I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]](https://asset.asean.biz.id/i-will-avoid-the-death-flag--sudah-terbit-.webp)
Si pembuat onar itu mencengkeram daguku dan memaksaku untuk mendongak.
Mataku bertemu dengan matanya yang berwarna emas, dan dia tersenyum miring.
Bibirnya lalu mendekati telingaku.
"Violet. Mata violet dan rambut merah muda," bisiknya padaku. "Tuan Putri Asher yang baru."
Sebelum aku sempat bereaksi, Sir Derick sudah menarik si pembuat onar untuk menjauh dariku dan berdiri di depanku untuk melindungiku.
"Tolong menjauh, Tuan Muda. Anda berlaku tidak sopan," kata Sir Derick dengan tajam.
Si pembuat onar tertawa. "Maaf atas ketidaksopanan saya Tuan Putri, senang bertemu dengan Anda." Dia lalu membungkuk dengan sopan. "Perkenalkan nama saya Axel Krone dari keluarga Marquis Krone."
Aku mempertahankan wajah poker face-ku yang biasa, tetapi aku sedikit mengernyit ketika dia memanggilku Tuan Putri dengan bebas. Padahal ini masih di bar, masih ada beberapa orang yang belum keluar dari bar.
Sir Derick membuka mulutnya. "Tuan Putri merasa tidak nyaman dengan tindakan Anda, Tuan Muda."
Axel, yang kupanggil sebagai bajingan gila B karena sudah menyiksa Serethy, menutup mulutnya dengan terkejut oleh tangannya.
"Benarkah itu, Tuan Putri? Kalau begitu, tolong maafkan tindakan Axel ini."
Dia menundukkan tubuhnya berlebihan.
"Tuan Putri. Kalau Anda tidak keberatan, bagaimana dengan jalan-jalan mengelilingi ibu kota dengan saya?"
"Tuan Putri menolak."
Axel mendengus, lalu menatap Sir Derick. "Kamu adalah ksatria Tuan Putri? Tapi maaf saja, aku bertanya pada Tuan Putri dan bukan padamu." Dia lalu kembali menatapku.
Demi apa pun yang ada di dunia novel ini, aku sangat-sangat ingin menolak tawaran mengerikan dari si pembuat onar.
Meski hanya muncul beberapa kali di novel, siksaannya pada Serethy tetap membuatku merinding.
Axel menyiksa Serethy dalam keadaan mabuk, tapi dia ingat dengan jelas kalau dia menyiksa Serethy. Sejak saat itu, dia menikmati hal ini dan entah mengapa dia mulai menyukainya.
Setiap ada kesempatan, Axel akan menyiksa Serenthy. Misalnya, membawanya ke manor Marquis dan menjadikannya pelayan. Memukulnya ketika Serethy berbuat salah dan meraba-raba tubuh malang Serethy.
Untung saja bajingan gila A menyelamatkan Serethy. Axel lalu dihukum oleh Viten hingga sekarat.
Tapi tetap saja, si pembuat onar ini mengerikan. Aku akan menghindarinya agar bisa menghindari perasaan sekarat.
"Ya, senang bertemu denganmu juga, Tuan Muda Axel. Namun, aku khawatir karena aku harus menolak tawaranmu."
Aku membalas kalimat Axel dengan wajah poker tapi tetap mempertahankan nada sopan dan santun sebagai bagian dari keluarga kerajaan.
Axel tampak kecewa dengan jawabanku. "Benarkah, Tuan Putri? Boleh saya tahu apa alasannya?"
Aku melayangkan senyuman dingin. "Aku mendengar rumor sebelumnya."
"Rumor, Tuan Putri?"
"Mengenai pembuat onar dari keluarga Marquis Krone, yaitu Tuan Muda Axel. Kamu dikenal sebagai pembuat masalah dan alkoholik. Maaf saja, aku tidak menyukai tipe pria barbar sepertimu."
__ADS_1
Axel mengerjap lalu sesaat kemudian langsung mengernyitkan dahinya dengan sorot sedih. "Bernarkah itu, Tuan Putri? Ah, saya sangat kecewa. Bagaimana mungkin kesan pertama saya bagi Tuan Putri adalah pembuat onar?"
"Maafkan aku tidak bisa menerima tawaranmu. Kalau begitu, aku akan pergi, Tuan Muda Axel. Semoga harimu menyenangkan."
Aku kemudian melewati tubuh Axel tanpa menoleh kembali. Sir Derick juga mengikutiku dengan diam. Namun, aku bisa merasakan amarah Sir Derick makin membara.
"Tenanglah, Derick," kataku sambil meraih tangannya.
Sir Derick tampak tersentak kecil, tapi balas menggenggam tanganku. "Terima kasih, Ethy. Saya tidak bisa melindungi Anda dari Tuan Muda tadi."
"Tidak apa-apa, Derick. Dia bukan lawan yang mudah. Dan sebisa mungkin aku ingin menghindarinya."
Aku menghela napas, sedikit merinding ketika mengingat adegan penyiksaan yang dilakukan Axel pada Serethy.
Mengingat hal ini membuatku ingin menemui penulis dan meninju wajahnya barang sekali. Bahkan aku ingin membakar perusahaan penerbitan yang sudah menerbitkan novel sampah ini.
"Derick. Aku akan berkeliling sebentar lagi lalu kembali ke istana. Maukah kamu menjagaku sebentar lagi?"
Sir Derick tersenyum dengan sangat cerah dan manis.
Silau!
Sial, pesona Malaikat Jatuh memang tidak ada tandingannya. Aku bisa saja mimisan sekarang. Bahkan kedua sudut bibirku hampir naik jika aku tidak menahannya.
Aku harus mempertahankan wajah poker sebagai harga diri mantan Tuan Putri Matria. Setidaknya, begitu aku menghormati Serethy yang asli.
"Tentu saja, Ethy! Saya akan melindungi Anda dengan sepenuh hati."
Aku tersenyum. Kalah. Aku mengaku kalah. Pesonanya memenangkan segalanya.
...***...
"Tuan Putri!" Jelena, yang sekarang merupakan pelayan pribadiku, membawa sesuatu seperti surat di nampan perak.
Jelena awalnya sangat kaku seperti robot, tapi aku menyuruhnya untuk tetap santai, dan Jelena akhirnya bisa menyesuaikan diri. Lagipula tiga pelayan yang melayaniku adalah bangsawan juga, jadi tidak perlu terlalu kaku hanya karena mereka berasal dari keluarga bangsawan yang sedikit lebih rendah.
Ada dua pelayan pribadiku yang selalu dekat denganku selain Jelena, namanya Melanie dan Regina. Mereka juga bertingkah sama santainya dengan Jelena setelah aku memeringati mereka agar tidak terlalu kaku.
"Ada surat untuk Anda, Tuan Putri." Jelena mengulurkan nampan perak.
Aku menatap nampan perak, tidak, surat di atasnya dengan tatapan jijik hanya dengan melihat lambang keluarga yang tertera di cap lilin.
Itu lambang elang. Lambang keluarga Marquis Krone.
Bahkan tanpa melihat siapa orang yang benar-benar mengirimnya, aku sudah tahu kalau itu pasti Axel. Siapa lagi di dalam Keluarga Marquis Krone yang mengenalku kalau bukan Axel?
Maka dari itu, untuk menghindari Bajingan Gila B sebisa mungkin, aku akan mengabaikan seluruh surat yang dia kirim tanpa membacanya.
"Jelena," panggilku lalu meraih cangkir teh di atas meja. "Bakar saja."
Jelena tampak ragu. "Tapi, Tuan Putri ...."
"Tolong bakar saja seperti kamu membakar empat surat lainnya." Aku tersenyum, tapi mataku dingin.
__ADS_1
"Akan saya lakukan, Tuan Putri." Jelena undur diri dan meninggalkan kamarku.
Kini, hanya ada Melanie dan Regina yang ikut duduk di atas sofa sambil menikmati camilan manis. Tidak lupa Sir Derick yang duduk di seberangku dengan senyum pesona malaikat. Entah mengapa, senyumnya tampak melebar ketika aku menyuruh Jelena untuk membakar surat.
"Tuan Putri, mengapa Anda menolak setiap surat dari Tuan Muda Axel bahkan tanpa membacanya?" tanya Melanie.
Regina di sampingnya mengangguk. "Bukankah Tuan Muda Axel sangat tampan?"
Axel memang tampan. Matanya berwarna emas sementara rambutnya perak. Dia dikatakan sebagai pembuat onar paling tampan di novel [Luka Serethy]. Namun, tampan bukan berarti menolerir perilaku buruknya.
"Tidak," potong Sir Derick. "Tuan Putri tidak pantas disandingkan dengan Tuan Muda Axel."
Entah aku salah dengar atau apa, Sir Derick terdengar sangat dingin.
"Memangnya mengapa, Sir Derick?" tanya Melanie dan Regina bersamaan.
Sir Derick mempertahankan ketenangannya ketika menjawab, "Tuan Muda Axel sudah menyakiti Tuan Putri di pertemuan pertama, itulah sebabnya dia tidak bisa disandingkan dengan Tuan Putri. Tidak hanya itu, Tuan Muda adalah pribadi yang terkenal sebagai pembuat onar dan alkoholik, itu adalah sesuatu yang tidak pantas bagi Tuan Putri yang mulia."
"Benarkah Tuan Muda menyakiti Tuan Putri?!" Regina tampak marah.
Melanie juga mengerutkan dahinya dengan kesal. "Itu tidak bisa dibiarkan. Ternyata, meski rumor mengatakan bahwa Tuan Muda terlihat sangat menawan, beliau tidak mungkin menjadi pasangan Tuan Putri dengan sikap seperti itu!"
"Benar! Kita harus membakar setiap surat dari Tuan Muda!"
Aku melirik sekilas kepada Sir Derick dan menyadari bahwa dia mengeluarkan ekspresi kepuasan di wajahnya. Eh, kenapa dengannya?
Beberapa saat kemudian, Jelena memasuki kamarku dengan terburu-buru. Tingkahnya juga tampak tidak sabaran dan panik.
"Tuan Putri," panggil Jelena dengan napas tidak beraturan.
"Jelena. Ada apa?"
Melanie dan Regina juga melihat Jelena dengan ekspresi bertanya-tanya.
"Maaf mengganggu waktu Anda, Tuan Putri. Namun, ada tamu."
"Tamu?"
Aku mengerjap.
Siapa yang mau bertamu padaku? Ditambah, kalau aku ingat mengenai hal-hal yang dilakukan orang berdarah biru, jika seseorang ingin bertamu, seseorang tersebut harus mengirimkan surat terlebih dahulu. Jika tidak, maka itu adalah tindakan yang tidak sopan, terlebih bagi keluarga kerajaan.
"Siapa yang mengunjungi Tuan Putri tanpa pemberitahuan?" Suara Sir Derick sangat dingin.
"I-Itu Tuan Marquis Agara Krone dan putranya, Tuan Muda Axel Krone."
Aku merasakan kalau hatiku mendingin.
Sial.
...***...
Halo lagi pembaca yang baik! Aku harap kamu nggak bosan dengan cerita ini hehe.
__ADS_1
Gimana dengan chapter ini menurut kalian? Apa yang perlu diperbaiki? Karena opini kalian terbuka di sini. Itu bisa aja memperbaiki gaya tulisan aku yang salah, lho, jadi jangan sungkan ya.