I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]

I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]
40. Dewa Kematian


__ADS_3

Saya merasa cringe dengan chapter ini. 49% disarankan untuk skip chapter, 51% disarankan untuk lanjut baca 🙏


***


"Selamat pagi, Yang Mulia Ratu. Anda datang lagi hari ini," sapa pustakawan sambil menundukkan tubuhnya sesuai tata krama.


Calmaria tersenyum lembut. Walau wajahnya masih pucat dan kelihatan tidak memiliki sinarnya, setidaknya Calmaria sudah mau kembali beraktivitas seperti biasanya kala satu bulan telah berlalu.


"Selamat pagi. Tolong jangan ada yang mengangguku dulu, ya," balas Calmaria.


Pustakawan hanya mengangguk menyetujui. Pikirnya bahwa hal ini normal saja bagi orang yang masih dilanda perasaan duka. Bahwa menenangkan diri sendirian di perpustakaan yang sunyi adalah opsi yang sempurna.


"Tentu saja, Yang Mulia Ratu. Perpustakaan adalah milik Anda seorang."


Calmaria balas tersenyum sebelum melanjutkan langkahnya. Dibawanya langkah kaki yang dibalut oleh sepatu tinggi itu untuk memasuki bangunan perpustakaan yang megah. Ribuan buku ditata di dalam rak-rak bertingkat, menciptakan labirin ruangan.


Calmaria tetap melanjutkan langkahnya menuju ujung lorong perpustakaan, lalu terhenti di sebuah dinding. Ditiliknya perlahan cat dinding berwarna gading, lantas dibukanya pintu rahasia di dalamnya.


Benar. Pintu rahasia. Tidak ada yang mengetahui ruangan apa yang tersembunyi di balik pintu tersebut kecuali dirinya, atau mungkin Roth juga mengetahuinya.


Perlahan, Calmaria memasuki pintu dan menutupnya dengan meminimalisir suara yang dihasilkan. Ruang rahasia tersebut selayaknya gua yang ditinggalkan. Gelap, berdebu, dan pengap.


Calmaria mengeluarkan pemantik dari saku gaunnya dan menyalakan lilin. Calmaria perlu melewati lorong pendek untuk tiba di dalam sebuah ruangan yang sunyi.


Suasana yang dikeluarkan oleh ruangan itu adalah dingin, membuat tubuh diam-diam menggigil. Cat dinding yang telah terkelupas membuat suasana yang gelap makin terasa menyeramkan, lampu gantung mewah yang berdebu, meja dan kursi kayu, kemudian rak buku setinggi dua kaki yang hanya diisi oleh puluhan buku.


Calmaria meletakkan lilin di atas meja, kemudian meraih salah satu buku yang terselip di rak buku. Dibaliknya lembaran kertas tua yang menguning, beberapa bahkan sudah robek sana-sini, tetapi masih mampu ditangkap artinya oleh visi.


Akan tetapi, seluruh lembaran buku dipenuhi huruf-huruf yang tak semua orang bisa mengenalinya. Itu adalah bahasa kuno Asheri.


"Membangkitkan kematian merupakan hal yang tabu," gumam Calmaria, membaca paragraf pertama dalam bahasa kuno Asheri yang telah dia hafal di luar kepala setelah membacanya ratusan kali. "Namun, bukan berarti tidak mungkin."


Matanya bergulir ke bagian bawah halaman kertas.


Cara untuk terhubung dengan Dewa Kematian.


Visi Calmaria memburam dan setelah dia menyadarinya, air mata menetes deras di pipi.


"Bersabarlah, Millia. Ibu akan kembali memelukmu. Di bawah tanah pasti sangat dingin, bukan?"


Tubuh Calmaria bergetar tak terkendali seiringan dengan tangis yang meluap.


...***...


"Ibu, ke mana kita akan pergi?" tanya Cioten dengan sedikit antusias.


Bagaimana tidak? Setelah satu bulan berduka, Calmaria akhirnya kembali menemui remaja berusia empat belas tahun tersebut.


Hal itu tentu membuat Cioten merasa senang bukan main. Calmaria akhirnya dapat pulih dari duka yang mendera sehingga akhirnya memutuskan untuk kembali berinteraksi seperti sebelumnya. Seperti ketika ada Millia di sisi mereka, seperti sebagaimana janji Calmaria untuk mengisi posisi kosong si kembar sebagai ibu yang baik.


"Perpustakaan," balas Calmaria, jemarinya mengelus rambut hitam Cioten dengan penuh sayang.


"Eh? Mengapa?" Nada suara Cioten terdengar kecewa. "Aku tidak suka buku, Ibu."


"Tidak apa-apa, Cioten. Temani Ibu di sana saja, ya? Mungkin kita akan sedikit mengobrol juga."


Mendengar kalimat terakhir Calmaria membuat binaran di kedua mata Cioten semakin cerah.


Rasanya, sudah lama bagi remaja tersebut untuk membagi waktunya bersama ibunya. Terlebih, di saat Calmaria kehilangan Millia. Seolah jiwanya ikut terenggut bersama putrinya, Calmaria selayaknya boneka tanpa jiwa. Calmaria kelihatan mati dan layu.


Cioten kini merasa bersyukur karena Calmaria bisa kembali menjadi Calmaria yang Cioten kenali lagi. Menjadi ibunya yang menawan dan terus menebar tawa serta kasih.


Diam-diam Cioten menghapus perasaan tak enak di hatinya kala Calmaria hanya ingin menemui Cioten, tanpa Viten. Di mana ketika jadwal dia bertemu dan berbincang ringan dengan Calmaria, pasti ada Viten di sisinya. Jadi, rasanya benar-benar aneh hanya untuk menghabiskan waktu berdua saja seperti ini.


"Selamat pagi, Yang Mulia Ratu dan Yang Mulia Pangeran," sapa pustakawan. "Jarang melihat Anda datang dengan Pangeran kemari, Yang Mulia."


Calmaria mengulas senyum lembut di bibir. "Selamat pagi. Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan putraku. Sudah lama kami tidak bertemu."


"Itu terdengar sangat menyenangkan, Yang Mulia. Akan saya pastikan tidak ada yang memasuki perpustakaan."


"Terima kasih."


Calmaria kemudian menuntun langkah Cioten untuk memasuki perpustakaan lebih dalam. Melewati ratusan rak buku yang membentuk labirin. Lantas, dibukanya pintu rahasia. Melewati adegan yang sama seperti yang dilakukan Calmaria kemarin, keduanya tiba di sebuah ruangan yang kelihatannya normal, tetapi tetap menebar perasaan curiga di dada.


Cioten menatap punggung Calmaria dengan tatapan pelik di matanya.


"Ibu, di mana ini?" tanya Cioten.


Calmaria meletakkan lilin di atas meja, membuat lingkaran rune di atas lantai akhirnya mendapatkan giliran untuk ditampilkan.


Di lantai, terlukis lingkaran sempurna dengan bahasa kuno Asheri sebagai abjadnya. Tidak hanya itu, lingkaran rune ditulis dengan tinta darah yang pekat dan amis.


Manik Cioten semerah darah bergetar samar ketika dia melirik rune yang dilukis di atas lantai. Cahaya lilin yang berpijar hanya mampu membayangi sedikit dari rune yang dilukis, tetapi mampu membuat tubuh Cioten merinding hebat.


"Cioten, Sayang. Kamu mau temani Ibu bermain sebentar?"


Cioten merasa ada hal yang aneh ketika Calmaria meraih satu buku bersampul polos di dalam rak buku. Lantas, ketika lembarannya yang menguning dibuka, Cioten bisa melihat lingkaran rune mencurigakan yang ditulis dalam bahasa kuno.


Cioten mengambil langkah mundur. Ini cuma insting, tetapi sebagai Pangeran yang mendapatkan pelatihan dan studi yang ketat, Cioten bisa merasakan situasi yang berbahaya akan segera ditujukan padanya.


Calmaria akhirnya berbalik dengan senyuman lembut di wajah dan buku di antara jemari.


"Cioten Sayang. Kamu merindukan Millia juga, bukan? Kalian bertiga selalu bersama-sama dan kehilangan Millia membuatmu sangat terpukul, bukan?"


"Ibu, aku memang merindukan Millia. Tapi, apa yang sebenarnya Ibu coba lakukan?"


"Ibu mencoba untuk merenggut kembali Millia dari Dewa Kematian," balas Calmaria. Senyuman lembut di wajahnya terasa aneh, bahkan Cioten gemetar ketakutan.


Cioten mengambil langkah mundur secara perlahan. "Tidak, Ibu. Apa pun yang akan Ibu lakukan sekarang, Ibu tidak bisa mendapatkan Millia kembali! Sadarlah, Ibu! Millia sudah mati!"


"Berisik! Millia cuma direnggut dari sisiku, Cioten! Ibu hanya mau merenggut kembali apa yang Ibu punya!"


"Ibu sudah gila!"


Cioten berusaha untuk lari, tetapi Calmaria dengan mudah menyeret Cioten setelah melempar buku yang ia pegang ke sembarang arah.


"Ibu, membawa Millia kembali ke dunia adalah hal yang tabu!"


Calmaria mendorong tubuh Cioten ke tengah-tengah lingkaran rune yang telah dibuatnya.


"Seharusnya Ibu tahu itu sendiri!" lanjut Cioten.


Calmaria tidak membalas, tetapi jemarinya mengambil sebilah belati di saku gaunnya. Belati tajam itu berpendar, membayangkan refleksi Cioten di dalamnya.


"Ibu." Vokal Cioten terdengar bergetar seiringan dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Ini demi Millia. Bukankah kamu pernah mengatakan bahwa kamu akan melakukan apa pun untuk Millia?"


"Menghidupkan yang mati adalah melawan hukum alam, bahkan melawan hukum Dewa! Ibu tidak bisa melaku—!" Cioten memotong kalimatnya dengan erangan keras kala belati yang dipegang Calmaria menusuk permukaan kulit lengannya.


Calmaria menelusuri permukaan kulit Cioten dengan belatinya, membuat luka semakin melebar dan darah mengucur deras. Darah yang menetes akhirnya menodai lingkaran rune, membanjirinya dengan darah Cioten. Membuat panorama mengerikan di dalam ruang rahasia menjadi sebuah tragedi.


Dengan napas memburu dan rasa takut di dada, Calmaria membuka bibirnya, "Yang kepada kegelapan turun ke dasar bumi, yang telah memberkati kami dengan misteri-Nya, yang mengalahkan lentera cahaya beserta sinarnya, yang menyelimuti kami dengan pekatnya malam. Oh, Dewa Kematian yang Agung. Kupersembahkan darah agung keturunanmu dan terimalah persembahan suciku. Berikanlah aku kuasa untuk merubah takdir sebagaimana Kau yang bisa melakukannya."


Diiringi oleh desis perih yang dikeluarkan Cioten, tubuhnya yang telah terbaring lemas di tengah lingkaran rune, Calmaria mengucapkan kalimatnya untuk menyanjung dan memuji Dewa Kematian. Lantas, mengulanginya selayaknya sebuah mantra.


Kemudian tiba-tiba, asap tipis sewarna hitam yang membutakan pandangan keluar secara perlahan dari lingkaran rune yang dibanjiri darah. Ruangan rahasia kini diselimuti kabut gelap.


"Siapa yang mencoba untuk merubah takdirku? Hihihi!"


Suara yang bergema di dalam ruangan membuat getaran di tanah. Tinnitus kemudian menyerang telinga untuk sepersekian detik.


"Oh! Ratu Asher-ku! Oh, hihihi!" Suara itu tertawa dengan puasnya, membuat perasaan merinding di kulit makin menjadi. Suara yang terdengar gila. "Hihihi! Kau melakukan hal yang bagus! Bagus sekali! Ah, persembahan! Sudah berapa lama aku tidak mendapatkannya?! Dan itu adalah keturunanku! Oh, hihihi!"

__ADS_1


Baik Calmaria dan Cioten merinding dengan mendengarkan suara tersebut.


Suara tersebut tak sewajarnya sama dengan suara yang dihasilkan oleh manusia. Di dalam vokal yang bergetar oleh rasa antusiasme yang menggebu, terdapat tekanan di tiap kalimat, mengirim rasa merinding di permukaan kulit. Tak hanya itu, partitur nada yang dihasilkan oleh suara tersebut membuat pundak terasa berat dan perut terasa mual. Seolah apabila Calmaria melakukan satu kesalahan dalam langkahnya, nyawa bisa terenggut kapan saja.


"Terima kasih banyak atas persembahanmu, hihihi! Sekarang, katakan paddaku apa permintaanmu."


Walau takut, Calmaria memaksakan suaranya untuk ikut bergema dalam ruangan.


"S-Saya menginginkan putri saya kembali, Dewa Kematian yang agung! Tolong jangan renggut Millia dari saya!"


"Hihihi! Permintaan yang sangat kurang ajar. Namun, akan kukabulkan."


Jawaban Dewa Kematian membuat sorot ketakutan Calmaria menghilang dan digantikan dengan sorot penuh harap yang terpancar di matanya yang hitam. "Benarkah itu, Dewa?"


"Hihihi! Dewa tidak akan berbohong! Akan kukabulkan."


Calmaria menundukkan tubuhnya. "Terima kasih, terima kasih!"


"Hihihi! Aku suka kau! Akan kukabulkan permintaanmu, Ratu Asher. Asalkan kau harus memberikanku persembahan yang lebih banyak! Untuk membangkitkan jiwa yang sudah mati membutuhkan lebih banyak persembahan!"


Calmaria menegakkan tubuhnya. "Ya?"


"Jangan berlaku polos, Ratu Asher. Cepat berikan darah anak itu lagi! Berikan padaku semuanya hingga tetes terakhir, hihihi!"


Manik Calmaria yang hitam bergetar. Ditiliknya Cioten yang seolah telah kehilangan esensi kehidupan di tubuhnya. Wajahnya pucat selayaknya mayat hidup, pakaian yang basah oleh darah, luka yang begitu parah, darah yang menggenang di sekitar tubuhnya seolah hendak menenggelamkan Cioten dalam darahnya sendiri. Cioten kelihatan sekarat.


"Ta-Tapi, putra saya akan mati jika saya memberikan persembahan lebih pada Anda."


Suasana menjadi janggal dengan anehnya.


"AH! KAMU SAMA SAJA DENGAN MANUSIA LAIN!"


Calmaria berjengit. Suara itu tampaknya telah kehilangan kesabarannya dan membuat langit-langit ruangan bergetar. Menjatuhkan partikel debu dan kerikil.


"Berikan persembahan atau Millia yang kau sayangi tidak akan pernah kembali!" ancam Dewa Kematian dengan nada suara yang mengerikan. Suara itu membuat Calmaria bergetar hebat dan bahkan tidak mampu menegakkan tubuhnya.


Calmaria dilanda keraguan. Diliriknya putranya untuk kali terakhir. Digigitnya bibir bawah dengan keras. Benaknya memperdebatkan banyak hal, hatinya bimbang, kepalanya dipenuhi kepelikan yang kentara.


Calmaria bisa saja membunuh Cioten sekarang untuk menuruti permintaan Dewa Kematian. Akan tetapi, niatan untuk membunuh itu luntur kala pita film di kepalanya diputar. Segala reka adegan yang menampilkan interaksi hangat antara ibu dan anak. Mengenai bagaimana mereka menikmati momen-momen yang sama, menghargai dan mengasihi setiap pertunjukkan di dalamnya. Kemudian, bagaimana mungkin Calmaria menuruti permintaan lancang sang dewa? Millia memang kembali ke sisinya apabila Dewa Kematian mengatakan hal yang sebenarnya, tetapi apakah Calmaria benar-benar harus membayar ganti ruginya dengan kematian Cioten?


"Apa yang kau pikirkan! Cepat! Jiwa anakmu ada di tanganku! Apa kau tidak menginginkan anakmu kembali?!"


"Dewa—"


"Cepat! Lakukan itu!"


Calmaria menggigit bibirnya, perlahan meneguhkan hatinya. Dia tidak bisa mundur. Ya, Calmaria tidak bisa mundur setelah dia mati-matian mempelajari bahasa kuno Asheri untuk memahami isi buku di ruang rahasia. Calmaria telah menghabiskan ribuan detik berharga hanya untuk memahami lingkaran rune yang seharusnya akan membawa Millia kembali ke dalam rengkuhannya. Kemudian, telah mengeraskan hatinya untuk memenuhi syarat tabu, yaitu dengan mempersembahkan darah agung yang berasal dari keturunan Dewa Kematian itu sendiri.


Viten akan menjadi Raja di masa depan, tentu Calmaria tidak bisa memosisikan Viten sebagai tumbal untuk membahayakannya. Hal itulah yang membuat Calmaria menjadikan Cioten sebagai gantinya.


Semuanya telah Calmaria rencanakan dengan begitu sempurna. Calmaria tidak bisa mundur lagi, dia tidak akan mungkin mundur. Namun, mengorbankan kehidupan Cioten untuk menarik jiwa yang telah berada di alam baka? Apakah keputusannya telah tepat? Bimbang.


"Ibu ...."


Mendengar suara lemah tersebut membuat Calmaria berjengit. Ditatapnya putra yang ia kasihi, terbaring tak berdaya di atas lingkaran rune. Melihatnya membuat hati kecil Calmaria terasa perih.


"Ibu, bunuh aku," tambah Cioten dengan suara gemetar. "Tidak apa-apa, Ibu. Jika ... Jika ini untuk Millia, tidak apa-apa. Aku akan melakukan apa pun demi Millia, itu yang kujanjikan padanya."


"Ah! Aaahh!" Calmaria menjerit dengan keras, membuat suarnya bergema di ruangan. Direngkuhnya putra yang ia kasihi, tak peduli apakah darah yang menggenang akan ikut menyelimuti tubuhnya. "Tidak, tidak, Cioten! Jangan pergi, Ibu tidak mau. Mana mungkin Ibu mau!"


Air mata mulai menetes di kedua pipi Calmaria, lantas jatuh ke lantai, tercampur dengan darah merah di lantai.


Cioten dengan susah payah mengusap air mata Calmaria dengan jemari berdarahnya. "Ibu tidak bisa mundur. Lanjutkan saja, Ibu. Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Bawa Millia kembali."


"Aaahhh! Cepatlah, ******! Lanjutkan! Biarkan aku memulihkan kekuatanku! Dasar bajingan tidak berguna!"


Dewa Kematian ikut menjerit, mengirim getaran di tanah. Buku-buku di dalam rak perlahan jatuh dan isinya ternodai oleh darah Cioten yang menggenang.


"Tidak! Dewa Kematian! Saya mohon, terima persembahan yang sudah saya berikan dan berikan putri saya kembali!"


Air mata Calmaria menetes makin deras. Dipeluknya tubuh lemas dalam rengkuhannya semakin erat. Seolah enggan kehilangan untuk yang kedua kalinya.


"Tidak, tidak, tidak. Saya tidak mau membunuh putra saya." Calmaria terisak hebat, tubuhnya bergetar keras, akal sehatnya seolah telah melayang, diganti oleh perasaan takut berlebih yang membayanginya.


"****** sialan! Aaahhh! Dasar brengsek! Kukutuk kau dan putramu! Kukutuk kalian!"


Suara Dewa Kematian menjadi samar disertai teriakan yang menggema, kabut tebal pun menutupi tempat rahasia secara sempurna. Membutakan mata. Akan tetapi, kabut tebal kini luntur, seolah-olah setiap partikel kabut memasuki pori-pori kulit dan bersarang di dalamnya.


"HAHAHA! Kutukanku bekerja, kau akan menyesal telah menolak permintaanku! Kau! Kau akan hidup dengan penderitaan dan darahmu akan dijadikan sebagai makananku ketika kau mati!" Dewa Kematian tertawa dengan gila. Namun, suara gila itu perlahan menghilang dan suasana mengerikan di dalam ruang ikut menghilang secara tiba-tiba.


Sebagai gantinya, cahaya emas yang hangat menyelimuti ruangan.


"Apa yang kalian lakukan?"


Kini, suara agung yang berbanding terbalik dengan suara gila Dewa Kematian, mengintervensi. Tidak seperti Dewa Kematian yang mengirim rasa takut ketika ia membuka suara, suara kali ini mengirim rasa hangat dan nyaman di dada.


"Aku sudah menyegel bajingan itu dan kamu mencoba membangkitkannya? Tidak hanya itu, kamu mencoba untuk membunuh putramu sendiri?"


Calmaria menelan ludahnya. Perasaan bersalah mendominasi dadanya dengan telak.


"Calmaria."


Calmaria tersentak dan makin memeluk tubuh lemas Cioten dengan erat.


"Persembahan yang coba kamu lakukan telah gagal dan Dewa Kematian sudah kugesel kembali. Seharusnya kamu tahu sendiri apabila melawan hukum dewa adalah tabu. Sayang sekali, Calmaria. Tidak ada jalan untuk membangkitkan yang telah mati, sebagai gantinya, kamu dan putramu malah mendapatkan kutukan dari Dewa Kematian."


"Apa yang harus saya lakukan?" Calmaria bergumam dengan suara yang bergetar.


"Tidak ada. Jika kamu melakukan sesuatu, itu akan semakin hancur."


Tangis Calmaria meledak.


"Saya menyesal. Sungguh menyesal. Tolong biarkan putra saya, biarkan putra saya saja yang hidup!"


"Tidak apa-apa. Aku akan menyembuhkan lukanya, tetapi kutukan dari Dewa Kematian berada di luar jangkauanku. Aku tidak bisa menyembuhkan yang satu itu."


Perlahan, cahaya emas membanjiri tubuh lemah Cioten. Cahaya itu meregenerasi sel-sel yang telah dilukai oleh belati Calmaria, membuatnya kembali seperti sedia kala.


Tubuh Cioten yang lelah akhirnya tak mampu membendung rasa kantuk yang membayangi tubuhnya, lantas ia menutup matanya.


Calmaria makin merengkuh tubuh Cioten seerat mungkin, seolah tak ingin memiliki kesempatan untuk kehilangan putranya lagi.


"Terima kasih," balas Calmaria dengan lemah. "Namun, apa yang harus saya lakukan? Salahku, ini salahku. Putraku dikutuk dan itu salahku."


"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Dan jika kamu memiliki keberanian untuk menyalahkan diri, kamu harusnya melakukannya untuk melindungi putramu."


Calmaria mengerang, hatinya terasa sesak. Ini salahnya. Jika saja Calmaria tak begitu terobsesi untuk menghidupkan kembali Millia, ini tidak akan pernah terjadi.


Calmaria hanya berpikir bahwa darah yang dipersembahkan tidak akan membahayakan nyawa putranya, tapi rupanya dia salah. Persembahan yang diinginkan Dewa Kematian adalah dengan membunuh putranya. Dan mana mungkin Calmaria akan menukar kehidupan Cioten dengan Millia? Mana mungkin Calmaria hendak merenggut nyawa Cioten untuk menukarnya dengan nyawa Millia?


"Calmaria," panggil suara agung tersebut. "Jadikanlah Viten seorang raja dan takdir akan membawamu pada tujuanmu. Hanya sampai sini aku membantumu, jangan berhubungan dengan Dewa Kematian lagi. Ingat pesanku, Calmaria, Sayangku."


Suara yang agung berubah samar, kemudian menghilang diikuti cahaya emas yang terasa agung.


Di dalam heningnya ruangan, hanya terdengar isakan yang lolos dari bibir Calmaria.


***


"Bagaimana bisa ini terjadi?" Roth memandang tubuh Cioten dengan pandangan yang putus asa. "Aku tidak bisa kehilangan anakku untuk yang kedua kalinya. Dewa Matahari yang agung, tolong selamatkan nyawa putraku."


Roth menggenggam erat tangan putranya dengan kasih sayang di dadanya. Namun, daripada kasih sayang, kekhawatiranlah yang lebih menguasai.


Setelah Calmaria keluar dari perpustakaan dengan tubuhnya dan Cioten yang bersimbah darah, Roth merasa bahwa jantungnya telah berhenti bekerja. Tanpa bertanya lebih jauh, Roth meminta Dokter Kerajaan dipanggil. Akan tetapi, anehnya, baik tubuh Calmaria dan Cioten tidak memiliki luka di mana pun walau tubuh mereka dibanjiri darah. Hanya saja, Calmaria bungkam dan tak mengatakan apa pun untuk menjelaskan situasi.

__ADS_1


Tak hanya itu, Calmaria seakan kehilangan jiwanya, bahkan lebih ketika Millia mati. Calmaria terus memandang kosong ke satu titik dan perih di dada Roth makin menjadi. Istri yang dia sayangi, serta putra yang dia kasihi, dalam keadaan yang buruk. Bagaimana bisa Roth tetap merasa baik?


Kemudian, setelah beberapa jam berlalu. Roth dan Viten yang tak pernah meninggalkan sisi Cioten akhirnya melihat bahwa remaja itu telah membuka matanya, membuat manik merah yang tersembunyi di dalam kelopak menunjukkan visinya.


"Cioten!" panggil Viten dengan nada syukur. "Cioten, kamu akhirnya bangun! Kamu tidak tahu—"


Viten membulatkan matanya ketika erangan kesakitan Cioten memotong kalimatnya, kemudian adiknya terbatuk dengan hebat, kemudian darah merah dan hitam dimuntahkan dari tenggorokannya.


Pupil Roth bergetar. "Dokter! Panggil Dokter kemari!"


***


"Ibu."


Calmaria menatap putranya dengan sorot penyesalan. Perlahan, visinya memburam dan kaca yang telah ditahan pun luruh dengan sendirinya.


"Maafkan Ibu," ujar Calmaria dengan suara yang bergetar.


Cioten menggenggam erat jemari Calmaria yang terasa dingin. "Tidak apa-apa, Ibu. Ibu tidak perlu merasa bersalah."


"Tidak! Bagaimana bisa Ibu tidak merasa bersalah?" Tangis Calmaria menjadi. "Ibu pendosa! Ibu menyesali segalanya, Cioten."


Sudah satu minggu semenjak Cioten dinyatakan bahwa dia dikutuk Dewa Kematian. Hanya beberapa orang kepercayaan saja yang mengetahui hal ini. Bahkan Madam Kricia, pengasuh si kembar, tampak tidak mengetahui hal yang sama. Selama satu minggu itu pula, Cioten harus menyesuaikan diri dengan kutukan yang menggerogoti nyawanya. Di hari pertama, Cioten muntah darah. Di hari ketiga, Ciotan demam tinggi. Di hari kelima, Cioten mati suri. Pada akhirnya, di hari ketujuh Cioten menyesuaikan diri dengan kutukan di tubuhnya.


Cioten melayangkan senyuman lembut di bibirnya, seolah bencana yang terjadi di dalam tubuhnya bukanlah masalah yang besar.


"Tidak apa-apa, Ibu. Tidak apa-apa."


Cioten menenangkan Calmaria dengan sabar.


Sejujurnya, kala Cioten melihat lingkaran rune yang dilukis di lantai, Cioten langsung bisa tahu ke mana lingkaran itu akan membawanya. Cioten sendiri tahu apabila menghidupkan yang mati merupakan tabu, tetapi Cioten diam-diam mendukung rencana Calmaria.


Ketika Calmaria menyeret tubuh Cioten ke lingkaran rune, Cioten bisa saja kabur. Dia tentu saja lebih kuat dari Calmaria setelah menerima pelatihan yang ketat. Akan tetapi, Cioten tidak melakukannya. Apalagi ketika melihat sorot keputusasaan di wajah Calmaria membuat Cioten tak mampu kabur. Sebab, Cioten tahu apa obat dari segala luka yang diderita Calmaria. Apabila membangkitkan Millia berjalan sesuai rencana, Calmaria bisa kembali seperti semula. Maka, masalah selesai. Namun, tidak disangka bahwa rencana gagal dan sebagai gantinya Cioten mendapat kutukan di tubuhnya.


"Ibu, aku punya permintaan."


Kalimat Cioten mampu membuat Calmaria mengangkat kepalanya.


"Katakan pada Ibu."


"Satu-satunya cara untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menjadikan Kakak sebagai Raja, bukan? Aku mendengarnya dengan samar, suara agung yang menenangkan itu."


"Ah." Calmaria mengangguk perlahan.


"Selama satu minggu ini, Kakak tidak fokus pada pelajarannya," lanjut Cioten.


"Itu karena Viten mengkhawatirkanmu," jelas Calmaria. "Kamu dikutuk dan cara menyembuhkannya saja tidak diketahui. Tentu saja Viten mengkhawatirkanmu."


"Itulah masalahnya, Ibu."


Calmaria mengerutkan dahinya.


"Jika aku berada di samping Kakak, maka Kakak tidak akan fokus dengan pelajarannya untuk menempuh jalan menjadi Putra Mahkota. Jika jalan tersebut sulit ditempuh, maka menjadi Raja adalah hal yang mustahil. Oleh karena itu, Ibu, tolong biarkan aku keluar dari istana."


Manik Calmaria bergetar, dia menggelengkan kepalanya kuat. "Tidak, Cioten, tidak. Ibu tidak mau kehilanganmu. Tinggallah di sisi Ibu."


Cioten mengalunkan tawa pelan. "Ibu tidak kehilanganku, aku hanya keluar istana, tidak lebih."


"Lalu mau ke mana kamu, Nak?"


"Jauh dari Istana, jauh dari Kakak." Cioten menilik wajah Calmaria dengan senyum tabah di wajah. "Kutukan itu membuatku sakit, lantas, membuat Kakak khawatir apabila tubuhku makin melemah dari hari ke hari. Apabila aku tetap di sini, hanya akan memengaruhi peluang Kakak untuk menjadi Raja. Ketimbang memikirkan jalan menuju Raja, Kakak pasti akan berusaha untuk menyembuhkan kutukanku. Jadi, Ibu, tolong berikan aku paviliun di luar kota, aku akan tinggal di sana."


"Tidak, Cioten. Mengapa kamu harus melakukan ini? Biarkan kami menjagamu. Biarkan Ibu menjagamu."


"Tidak, Ibu. Kakak harus menjadi Raja dan aku hanya akan menghambatnya." Cioten mengembuskan napas, dielusnya pipi Calmaria yang pucat. "Ibu tidak mau mengabulkan permohonanku?"


Tubuh Calmaria bergetar. "Akan Ibu kabulkan."


***


Cioten keluar dari istana bahkan tanpa memberi tahu Viten. Hal tersebut membuat Viten, kakak kembarnya, merasa kebingungan.


Dan ketika Viten menanyakan hal tersebut pada Calmaria, Calmaria justru menjawabnya dengan, "Jadilah Raja."


"Tentu? Tentu saja aku akan menjadi Raja, Ibu. Namun, ke mana Cioten?" Viten bertanya dengan menekan rasa penasaran yang membludak karena kehilangan sisi lembut Calmaria di wajahnya.


"Apa pelajaranmu selanjutnya? Ekonomi? Pergi dan temui gurumu. Kamu harus cepat-cepat jadi Raja. Ini demi Cioten."


Calmaria selalu mengatakan bahwa apa yang dia tekankan pada Viten adalah demi Cioten. Hal tersebut tentu saja tidak membawa dampak yang baik. Viten yang sama sekali tidak tahu-menahu mengenai kondisi yang diderita adiknya, hanya mendapati bahwa Cioten pergi dari istana dan Viten malah diberi tekanan berlebihan untuk menjadi seorang Raja. Sehingga Viten terus menyalahkan diri atas apa yang terjadi. Bahwa kesalahannya Cioten meninggalkan istana, bahwa kesalahannya Viten tidak melakukan yang terbaik, bahwa kesalahannya Viten terus mengecewakan Calmaria.


Calmaria pun mengatakan bahwa apabila Viten ingin menemui adiknya, Viten harus melakukan pencapaian yang berarti sebelum akhirnya bisa menemui Cioten.


Calmaria yang Viten kenal telah seratus persen menghilang, berubah menjadi sosok dingin yang kolot. Calmaria yang lembut, yang menebar tawanya, yang menyayangi Viten selayaknya putranya sendiri, yang telah merawat dan membesarkan Viten, yang telah mengasihi Viten, kini telah menghilang.


Bohong apabila Viten tidak kecewa. Saking kecewanya ia, Viten bahkan tak mampu mengutarakannya.


...***...


Tiga tahun kemudian, Viten merasa bahwa tubuhnya lemas setelah mendengar informasi yang sama.


Calmaria dikutuk Dewa Kematian. Namun, baik Roth dan Viten baru mengetahuinya setelah waktu berjalan lama.


Calmaria yang menekan Viten untuk menjadi raja, Calmaria yang membuat Viten merasa tersiksa atas tekanan, Calmaria yang mengutuk Viten karena tidak becus dalam studinya, Calmaria yang berubah menjadi sosok yang tidak Viten kenali, kini terbaring tak berdaya di atas ranjang. Menunggu ajal menjemput.


Selama tiga tahun ini, Calmaria menyembunyikan kutukannya dari semua orang. Sama dengan Cioten yang memilih untuk bersembunyi.


Namun, tentu saja hal tersebut membuat Viten makin hancur.


Sebab, mau seberubah apa pun Calmaria, di hati Viten, Calmaria tetap menjadi ibunya yang hangat dan lembut.


Calmaria adalah sosok figur Ibu yang sempurna bagi Viten. Meskipun tekanan tersebut telah melukai mentalnya dan merubah kepribadian Viten menjadi sosok tak berperasaan dan keras kepala, Viten tetap menyayangi Calmaria.


Viten tidak bisa membenci ibunya.


***


Eladio Cyrill mencintai kakaknya, Calmaria Belith Asher. Bagaimana tidak? Calmaria telah merawat Eladio ketika kedua orang tua mereka telah mengabaikan keduanya dan hanya berfokus pada bisnis keluarga.


Calmaria adalah orang yang terus berada di samping Eladio, membacakan Eladio dongeng sebelum tidur, yang memeluk dan mengecup rambut Eladio, yang membantu Eladio dalam pelajarannya, yang memanaskan susu di tengah malam untuk membantu Eladio terlelap, dan merawat Eladio hingga dia tumbuh menjadi seorang Duke yang layak.


Sayangnya, kepribadiannya memang terlalu dingin untuk anak seusianya. Sehingga orang selalu salah sangka apabila dia merupakan seseorang berdarah dingin. Namun, hanya Calmaria saja yang membela Eladio dan menyuruh Eladio untuk tidak memikirkan rumor buruk mengenai Eladio sendiri. Itu hanya sekadar rumor, Calmaria sendirilah yang paling tahu mengenai perilaku hangat dan lembut adiknya.


Calmaria hanyalah satu-satunya keluarga yang Eladio miliki, sehingga kala dia mendengar bahwa kakaknya dikutuk dan tak bisa meninggalkan ranjang hanya untuk menunggu ajalnya, Eladio merasa kehidupannya hancur berkeping.


Dan pemberi kutukan adalah Dewa Kematian.


Oleh karena itu, Eladio membunuh banyak orang. Membunuh para pelayan yang melakukan kesalahan kecil untuk mempersembahkan jiwanya pada Dewa Kematian guna menukar kutukan kakaknya dengan kesembuhan.


Eladio terus membunuh walau tangannya gemetar. Perasaan yang mendominasi tak kalah kuat dengan ketakutan yang mendera. Itu adalah ketakutan akan Dewa Kematian, ketakutan pada orang-orang yang dibunuhnya, ketakutan pada kehilangan kakaknya, ketakutan yang mengejarnya.


Karena demi Tuhan, Eladio bahkan rela menukar kutukan dalam tubuh Calmaria dengan nyawanya sendiri.


Namun, mau sebanyak apa pun, Eladio membunuh, itu tidak pernah cukup. Dewa Kematian dengan brengsek meminta lebih banyak pengorbanan dan Eladio terus melakukannya. Bahkan mendukung Clare yang menyiksa para pelayan hingga mereka mati. Berharap jiwa-jiwa yang mereka kumpulkan akan mampu menukar kutukan Calmaria dengan kesembuhan.


Sayangnya, ketika Eladio tahu bahwa Calmaria telah menemui ajalnya di ranjangnya sendiri, Eladio merasa hatinya hancur berkeping dengan penyesalan yang begitu dalam. Penyesalan yang tak terhingga hingga rasanya memuakkan dan menyesakkan, hingga Eladio nyaris ingin membunuh jiwa di dalam dirinya sendiri.


Kehilangan Clare dan Calmaria membuat Eladio merasa gila.


Eladio kini sendirian, lagi.


...***...


Jujurly, bab ini sulit sekali untuk ditulis. Niatan update pagi jadi lapur karena nulisnya susah banget dan ketika revisi sedikit cringe hahah. Terutama scene di ruang rahasia? Um, aneh banget tapi emang harus begini ceritanya. semoga kalian bisa menikmati ceritanya dan pssstt chapter ini lebih panjang daripada chapter-chapter sebelumnya.

__ADS_1


Desember 2022


__ADS_2