![I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]](https://asset.asean.biz.id/i-will-avoid-the-death-flag--sudah-terbit-.webp)
Viten menghela napasnya dengan berat. Ketujuh orang yang menyerang Serethy itu benar-benar menutup mulut mereka dengan rapat agar informasi mengenai mereka tidak sengaja terucap.
Meskipun beberapa prajurit spesialisasi penyiksaan telah menyiksa mereka untuk mencari tahu siapa yang mengirim mereka, mereka tetap tutup mulut.
Dan walaupun Viten sendiri yang memotong jemari mereka satu-persatu, mendengarkan jeritan mengerikan dan menyedihkan mereka bergema dalam penjara bawah tanah, mereka tetap tutup mulut.
Atau ketika tubuh mereka sudah bermandikan oleh darah merah yang pekat, yang tetesannya terus menetes ke batu bata kusam ruang penyiksaan. Ketika kulit mereka disayat, dicambuk, dipukul, dipotong. Mereka hanya menjerit, tetapi tetap tutup mulut mengenai identitas asli kelompok tersebut.
Itu adalah kesetiaan yang tidak perlu dipertanyakan kembali.
Satu-satunya informasi yang didapat dengan mudah adalah lambang perak elegan yang berada di jubah mereka masing-masing.
Itu adalah lambang burung yang tengah mengepakkan sayapnya dengan tiga buah bintang merah mengelilinginya. Itu indah dan di saat yang bersamaan sangatlah misterius.
Viten tidak pernah tahu komunitas apa yang menaungi lambang tersebut. Apakah itu sebuah faksi atau organisasi? Apa tujuan mereka, siapa pemimpin mereka, apa mereka adalah rakyat Asher atau wilayah asal Matria? Viten tidak tahu.
Namun, hipotesis pria itu mengatakan bahwa kelompok tersebut memiliki satu tujuan utama, yaitu menghancurkan Kerajaan Asher. Terbukti dari ketujuh orang yang menyerang Serethy untuk membunuhnya.
Ramalan mengatakan bahwa ratu yang dipilih langsung oleh Dewa Matahari akan memakmurkan kerajaan. Serethy merupakan salah satu dari dua kandidat ratu, di mana Serethy sendiri memiliki potensi untuk memakmurkan Kerajaan Asher seperti yang diramalkan.
Pihak lawan akan membunuh Serethy untuk mencegah kemakmuran Asher terjadi. Mereka ingin membuat Kerajaan Asher tetap di bawah bayang-bayang dan kegelapan pekat. Begitulah, apa yang bisa Viten pikirkan.
Viten menggelengkan kepalanya kecil, matanya berkabut dan Viten tidak bisa menatap dokumen administrasi di depannya dengan jelas. Viten juga makin sering kehilangan konsentrasinya sehingga bekerja akan sulit bagi Viten.
Selama tujuh hari terakhir, Viten kesulitan tidur nyenyak. Alasannya tentu saja karena dia mengkhawatirkan Serethy yang berada dalam lelapnya mimpi.
Kesehatan Viten menurun, dan Viten merasa bahwa hal ini sangat konyol. Mengkhawatirkan seorang mantan tawanan perang mengenai nasib wanita itu ke depannya, apakah wanita itu akan hidup atau mati.
Padahal, Viten tidak seharusnya mengkhawatirkan wanita itu. Viten tidak seharusnya mengangkat status sosial wanita itu dari seorang tawanan perang yang rendahan menjadi seorang tuan putri yang agung. Viten tidak perlu memberikan gaun-gaun cantik dan sepatu menawan untuk wanita itu. Viten tidak perlu memberikan wanita itu tempat untuk tinggal atau makanan mewah untuk dimakan.
Akan tetapi, sesuatu di dalam dirinya bahkan telah lebih dulu bergejolak. Hal ini terjadi ketika kedua kalinya mereka bertemu di kamar pribadi Viten.
Serethy adalah pribadi yang aneh. Di matanya, tidak tertera keputusasaan di mana sebagian besar orang akan mengira bahwa hidup mereka akan berakhir di sana. Berbeda dengan Serethy, apa yang tercetak di balik manik violetnya adalah percaya diri.
Dia sungguh percaya bahwa dia akan tetap hidup seterusnya.
Begitulah bagaimana rasa penasaran malah berkembang menjadi sesuatu yang asing dan baru. Lagi dan lagi. Hingga Viten nyaris tak tahu harus dibawa ke masa sebuah perasaan membludak di dadanya. Perasaan yang aneh, tetapi candu dan mendayu.
"Yang Mulia!"
Viten terlonjak kaget ketika ruang kerja pribadinya dibuka tanpa permisi.
Viten hampir berteriak marah pada siapa pun itu sebelum Viten menyadari bahwa orang tersebut adalah ksatria yang ditugaskan Viten secara pribadi untuk menjaga Serethy.
"Apa yang terjadi?"
Ketakutan menguasai Viten. Viten takut akan terjadi hal yang tidak menyenangkan pada Serethy. Dia berdiri dari duduknya dan mendekati si ksatria.
Namun, kekhawatiran Viten rupanya sia-sia ketika melihat sorot cerah si ksatria.
"Yang Mulia, maafkan saya karena masuk tanpa izin. Tapi, Tuan Putri! Tuan Putri membuka matanya!"
Viten tidak memedulikan ucapan si ksatria lagi dan langsung berlari menuju suatu destinasi.
Itu adalah sebuah ruangan.
Ruang kamar yang dihuni oleh orang yang Viten kini akui, dia kasihi.
Viten membuka pintu dengan cepat, membuat keempat orang di dalam sana langsung memberikan Viten atensinya.
Viten menggigit bibir bawahnya, seluruh perasaan khawatir dan ketakutan akhirnya luruh ketika mendapati si pemilik rambut merah muda menampilkan manik violetnya yang bersinar, bekerlipan seolah mencari atensi Viten, yang rupanya tidak perlu bekerja keras karena sedari tadi pun seluruh milik wanita itu telah menarik atensi Viten.
Viten mendekat, lalu dia akhirnya bisa merasakan kehadiran familier yang membuat hatinya terasa nyaman. Pipi pucat Serethy juga kini telah mengembalikan esensinya, bibirnya kembali sewarna merah alami, dan Serethy terlihat hidup.
"Serethy," panggil Viten. Sesuatu di dalam rongga dadanya bergejolak. Sungguh, demi tuhan, Viten bersyukur bahwa Serethy kembali membuka matanya.
"Yang Mulia."
Bahkan mendengarkan suaranya saja, mampu membuat hati Viten dipenuhi bunga musim semi.
"Ini pas sekali. Aku punya permintaan. Aku ingin menggelar pesta."
Dan Viten merasa bahwa bunga musim seminya luruh seketika.
...***...
Aku membuka mataku.
Ah, betapa aku berharap masih bisa tinggal di Kastil Matahari daripada di Istana Kebahagiaan. Kastil Matahari punya langit-langit yang terbuat dari awan sungguhan, itu keren. Sementara Istana Kebahagiaan, ya, itu memiliki ukiran emas yang keren, tapi awan lebih menakjubkan.
__ADS_1
Dan aku menghela napasku begitu aku menyadari bahwa aku harus terus hidup di sini sambil menerima kenyataan bahwa aku akan menjadi ratu, tidak, aku harus menjadi ratu. Ini adalah permintaan Angelina secara pribadi.
"Tuan Putri?"
Mendengar suara itu setelah sekian lama membuatku candu.
Di sudut mataku, aku bisa melihat sorot ketidakpercayaan yang tercetak jelas di manik cream yang lembut.
Betapa aku baru menyadari bahwa aku merindukan Malaikat Jatuh, Sir Derick.
"Tuan Putri!"
"Serethy!"
Dan entah mengapa, kini aku dikelilingi oleh tiga orang pria yang kuduga sudah berada di kamarku bahkan sebelum aku sadar. Mereka sedang apa di kamarku, hang out? Bergosip ria? Yah, apa pun, asalkan mereka tidak menyiksaku, itu baik-baik saja untukku.
"Selamat pagi, Sir Derick, Pangeran Cioten, dan Tuan Muda Axel," sapaku dengan tenang.
Aku lalu mencoba untuk menegakkan posisi tubuhku, yang langsung dibantu oleh ketiganya dengan sigap.
"Tuan Putri!" Axel berlutut di sampingku, tangannya menggenggam jemariku. Dan apa yang aku lihat di sini? Matanya berkaca-kaca dan sesuatu langsung luruh di sana.
Dia ... menangis?
"Anda tidak tahu betapa takutnya saya, Tuan Putri."
"Tuan Muda Axel, tolong jangan menangis," kataku, menenangkan Axel dengan membelai punggungnya.
"Saya takut Tuan Putri meninggalkan saya, saya sangat takut. Syukurlah Tuan Putri kembali sadar, saya akan memberikan banyak persembahan pada Dewa Matahari."
Wah, itu akan membuat Angelina merasa sangat senang.
"Ya, lakukan saja, Tuan Muda Axel."
"Pasti!"
Belum sempat membalas kalimat Axel, tuan muda satu itu telah lebih dulu didorong dengan kasar oleh satu eksistensi yang tidak pernah aku harapkan, Cioten.
"Ya ampun, Serethy!" Cioten kini menggenggam jemariku, menggantikan kehangatan Axel.
Axel sendiri tampak tidak puas, tetapi tidak bisa marah. Itu karena Cioten adalah pangeran dan Axel hanyalah putra Marquis.
"Kamu membuat semua orang khawatir, Serethy. Kamu seharusnya bangun lebih cepat. Satu minggu? Apakah kamu tahu betapa khawatirnya Kakak dan aku? Kami menunggumu terbangun setiap harinya. Dan syukurlah kamu membuka matamu hari ini, Serethy."
"Pangeran, aku berterima kasih padamu karena telah mengkhawatirkanku," balasku asal, aku tidak tahu harus membalas apa.
Kini, Cioten malah membelai rambut merah mudaku dengan lembut. "Aku adalah kakakmu, sudah seharusnya aku mengkhawatirkanmu, bukan?"
"Tentu saja, Pangeran. Terima kasih banyak."
Belum sempat Cioten membalas, pintu kamarku telah lebih dulu dibuka. Dan Viten masuk ke dalam kamarku dengan langkah yang pelan tapi pasti.
Viten tampak kelihatan buruk sekali. Rambutnya yang hitam malah berantakan, kantung mata di pelupuk menjadi tebal, dan apakah kulitnya memucat? Apa ada yang salah dengannya? Yah, bukannya aku peduli.
"Serethy," panggil Viten dengan nada ... lembut? Aku tidak salah dengar?
Aku memberikan Viten senyuman lebar yang manis. "Yang Mulia. Ini pas sekali. Aku punya permintaan. Aku ingin menggelar pesta."
Ya, aku harus menggelar sebuah pesta. Aku sudah mendiskusikan hal ini bersama dengan Angelina dengan tujuan menyelesaikan masalahku dengan Clare.
Sekali lagi diingatkan, Clare adalah masalahku. Dan Angelina begitu terobsesi untuk membuatku dapat mengalahkan Clare. Jadi, ini adalah langkah dari rencana pertamaku.
"Hah?"
Tidak hanya Viten yang memberiku sorot aneh, tetapi ketiga yang lain juga memberikanku pandangan sama anehnya juga.
Masuk akal.
Aku baru bangun dan apa yang aku katakan untuk pertama kalinya adalah dengan menggelar sebuah pesta. Apa aku gila? Apa aku ingin mati karena lemas setelah koma selama tujuh hari? Itu pasti apa yang dipikirkan oleh mereka.
"Apa koma membuatmu jadi kehilangan akal?" tanya Viten dengan kerutan di dahinya.
"Tentu tidak, Yang Mulia. Saya dalam keadaan yang seratus persen dapat dipastikan bahwa saya memiliki akal sehat."
"Lalu mengapa harus menggelar pesta ketika Anda baru saja bangun?" tanya Axel dengan heran.
"Aku yakin koma membuat Serethy jadi gila. Atau tidak, kepalanya masih berkabut," gumam Cioten, yang masih bisa didengar olehku.
"Aku mohon, Yang Mulia. Biarkan aku menggelar sebuah pesta."
__ADS_1
"Tidak," tolak Viten dengan cepat. "Kau baru saja bangun dari koma dan apa yang kau inginkan adalah pesta? Kau harus istirahat."
"Bagaimana kalau begini, Yang Mulia. Saya akan beristirahat selama dua hari dan menggelar pesta di hari ketiga?"
"Satu bulan."
Aku memelotot, itu terlalu lama. Angelina ingin aku melancarkan rencana secepat mungkin untuk mencegah terjadinya kepalsuan firman lagi.
Karena demi apa pun, Angelina membenci hal itu ketika namanya digunakan untuk memanfaatkan orang lain dan membohongi banyak orang seperti Clare.
Yah, hitung-hitung aku membalas jasanya karena sudah memasukkanku ke dalam novel ini. Padahal Angelina harusnya memasukkanku ke dalam novel yang lebih baik, misalnya novel tanpa psikopat dan ancaman bagi kesehatan psikologis.
Tapi lupakan saja, ini adalah sebuah kesempatan untuk menjalani kehidupan yang baru.
"Satu minggu," balasku.
"Tiga minggu."
"Delapan hari?"
"Tiga minggu."
"Sembilan hari?"
"Dua setengah."
"Sepuluh hari?"
"Serethy." Viten menatapku tajam. "Ayolah, aku hanya mengkhawatirkan kesehatanmu. Berhentilah untuk menjadi keras kepala dan buang jauh-jauh pikiran untuk berpesta. Memangnya apa yang kau dapat dari berpesta?"
"Tapi Yang Mulia, kalau tidak cepat-cepat, mungkin Nona Clare yang akan memenangkan kompetisi untuk menjadi ratu."
Viten akhirnya memberikanku atensi penuh. Sebenarnya tidak hanya Viten, aku bahkan dikelilingi oleh semua orang yang menghuni kamarku.
"Jadi, aku harus melancarkan rencanaku secepat mungkin, Yang Mulia."
Viten menghela napas. "Baiklah, satu minggu. Istirahat selama satu minggu dan pesta akan digelar. Aku yang akan mengurusnya atas namamu, jadi kau tidak perlu repot-repot dan istirahatlah."
Viten luluh ketika aku memberi tahunya bahwa Clare yang akan memenangkan kompetisi. Padahal kenyataannya, Clare sudah kalah dari awal ketika dia berniat untuk memalsukan firman Angelina, sementara akulah yang akan menjadi pemenang tetapnya.
...***...
Malam tiba, sinar luna menyisipi kaca jendela yang tirainya terbuka. Cahayanya menyinari wajah dari sosok yang ia kasihi.
Sir Derick berlutut di lantai, tepat di samping ranjang Serethy.
Sir Derick memandangi wajah tertidur Serethy dengan sorot lembut di matanya dan senyuman manis di bibirnya yang merona merah.
"Tuan Putri," gumam Sir Derick. "Anda begitu menakjubkan."
Hening.
Tangan Sir Derick naik. "Maaf, saya lancang." Lalu, jemari itu mendarat di helaian rambut merah muda Serethy. Dia lalu membelai kepala Serethy dengan lembut.
"Tuan Putri, apabila boleh jujur pada Anda, saya merasa kesal saat ini."
Jeda. Sir Derick benar-benar menikmati hal ini, menghabiskan waktu berdua dengan Serethy. Tidak bisa benar-benar dikatakan sebagai menghabiskan waktu berdua, karena Serethy sedang tidur.
Dipandanginya wajah cantik Serethy. Dipindainya segala hal mengenai Serethy. Entah pipinya yang terlihat lembut, bulu matanya yang lentik dan panjang, figur cantik layaknya seorang malaikat yang jatuh, lalu rona merah kentara di bibirnya.
Sir Derick terpana.
"Saya kesal. Anda dikelilingi oleh pria yang mencintai Anda. Mengapa, Tuan Putri? Jika Yang Mulia mungkin akan masuk akal, karena Yang Mulia-lah yang membuat Anda menjadi seorang Tuan Putri. Namun, mengapa dengan Pangeran Cioten dan Tuan Muda Axel? Mengapa mereka juga turut mencintai Tuan Putri? Tuan Putri, saya mohon, saya mohon. Apakah saya saja tidak cukup untuk mencintai Tuan Putri?"
Sir Derick tanpa sengaja mengucapkan seluruh kata-kata yang dia pendam di dalam hatinya selama ini.
Namun, Sir Derick tidak bisa berhenti mengungkapkan segalanya hingga rasa berat di dadanya larut.
Apa yang dirasakan Sir Derick ketika melihat Serethy dikelilingi oleh pria itu adalah kecemburuan yang hebat. Sesuatu di dalam diri Sir Derick bergejolak dengan hebat. Itu begitu menyakitkan ketika Sir Derick merasa cemburu, tetapi dia tidak bisa melakukan apa pun karena status sosialnya yang merupakan ksatria pribadi Tuan Putri.
Seorang ksatria pribadi seharusnya tidak mencampuri urusan majikan mereka. Tidak berhak. Karena tugas mereka adalah menjaga, bukan mencampuri.
"Tuan Putri, tolong katakan. Apa saya saja tidak cukup untuk mencintai Anda? Apa saya memang tidak seharusnya pantas untuk mencintai Anda? Tapi saya benar-benar mencintai Anda, ini begitu dalam sampai rasanya sesak."
Hening merengkuh Sir Derick.
Pria itu tidak bicara lagi dan hanya memandangi wajah tidur Serethy, sebelum akhirnya dia keluar dari ruangan.
Hal yang tidak Sir Derick tahu adalah bahwa Serethy tidak tidur, dia mendengarkan seluruh unek-unek yang dikeluarkan dirinya.
__ADS_1
"Sial, Sir Derick mencintaiku? Ini gawat," gumam Serethy dengan suara yang pelan. "Bagaimana jika alurnya malah mengikuti novelnya? Bahwa ketika Sir Derick mencintai Serethy, maka Viten akan memenggalnya? Aku tidak mau. Serethy, jadi apa yang harus kamu lakukan adalah pura-pura tidak tahu dan jangan mencintai balik Sir Derick. Kalau iya, Malaikat Jatuh akhirnya akan memulai perannya dan aku sama sekali tidak menginginkan alur novel untuk terjadi."
Serethy berniat di dalam hatinya bahwa dia tidak akan jatuh cinta pada Sir Derick, tujuannya adalah untuk melindungi nyawa Sir Derick dari penggalan bajingan gila.