I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]

I Will Avoid The Death Flag [Sudah Terbit]
1. Malaikat Jatuh


__ADS_3

Tidak ada yang bisa aku lakukan sebagai tawanan di penjara bawah tanah yang sempit.


Di dalam ada ranjang kecil dan toilet. Tapi siapa yang mau menggunakan toilet itu ketika pintuku sendiri terbuat dari jeruji?!


"Selamat pagi, Nona Serethy," sapa seorang pria berambut hitam yang menjadi penjagaku.


Aku tidak balas tersenyum. Ini wajar karena aku adalah tawanan. Aku harusnya marah karena menjadi tawanan, bukan beramah-tamah dengan rakyat Asher yang notabene telah menjatuhkan Matria.


Setelah diingat-ingat, pria ini memang ikut andil dalam novel. Cukup banyak dan cukup penting.


Dia adalah ksatria yang ditugaskan untuk menjagaku secara pribadi. Aneh untuk memberikan mantan Tuan Putri, yang merupakan seorang tawanan, satu ksatria untuknya. Tapi mengingat penjelasan dalam novel mengenai bagaimana kami bertemu di aula singgasana, bajingan gila itu tertarik dengan kecantikanku, maksudku kecantikan Serethy.


Makanya, dia ingin mengawasi gerak-gerikku dengan mengirim satu ksatria.


Gelarku pada pria ksatria itu adalah Malaikat Jatuh. Dia adalah satu-satunya orang yang mau mengobati luka-luka siksaan Serethy dari dua orang gila, dia juga yang menemani Serethy ketika Serethy bosan dan mengobrol banyak hal, dia juga yang membuat Serethy tidak merasa kesepian di dalam jeruji sebagai tawanan.


Lalu, mereka jatuh cinta.


Cinta yang buta.


"Aku akan membawa Nona kabur," kata Malaikat Jatuh pada Serethy di dalam salah satu dialog novel.


"Jangan! Bagaimana jika kamu dihukum? Aku tidak mau!" kata Serethy dengan air mata berderai.


"Aku tidak peduli, Serethy. Aku sangat mencintaimu. Melihatmu di balik jeruji sangat ... menyakitiku. Aku akan membawamu lari. Lalu kita akan pergi sejauh mungkin dari Kerajaan Asher, bahkan dari benua ini! Aku janji!"


Malaikat Jatuh yang mengatakan hal-hal manis membuat Serethy dalam novel tersentuh dan makin mengeluarkan banyak air mata. "Sir Derick, kamu sangat baik. Aku ingin kabur bersama denganmu. Aku ingin hidup dengan Sir Derick."


Sir Derick, Malaikat Jatuh, tersenyum bahagia sebelum menggenggam tangan Serethy lebih erat. "Aku akan mempersiapkan segalanya. Tolong tunggu aku besok malam."


"Iya, Sir Derick. Aku akan menunggu."


Sayangnya, malam yang dinantikan itu tidak akan pernah tiba.


Itu karena rencana membawa lari Serethy gagal total karena seseorang menguping pembicaraan mereka dan melaporkan hal ini langsung pada bajingan gila.


Bajingan gila memenggal langsung kepala Sir Derick dengan pedangnya, karena itu lah aku memberikan Sir Derick gelar Malaikat Jatuh. Dia sangat baik hati seperti malaikat, tetapi harus mati karena kebaikannya.


Kemudian, alur cerita menceritakan mengenai bagaimana pikiran bajingan gila itu terlalu berkabut oleh rasa cemburu hingga dia menyiksa Serethy dengan membabi buta.


Terima kasih karena adegan itu, Serethy kritis dan koma. Dan sayangnya lagi, setelah bangun dari koma dua bulan kemudian, dia disiksa lagi oleh bajingan gila karena salah paham mengenai bagaimana Serethy akan meninggalkan bajingan gila.


Terima kasih lagi pada siksaan bajingan gila, Serethy akhirnya mati.


Lalu cerita tamat.


Mengingat hal ini membuatku emosi dan ingin memukul-mukul dinding usang jeruji.


"Nona Serethy, apa Anda baik-baik saja?" tanya Sir Derick karena aku hanya memandang kosong.


Matanya yang berwarna cream sangat menenangkan, tapi tetap saja lebih baik untuk menjaga jarak dengannya. Apalagi aku juga harus menghindari perasaan jatuh cinta satu sama lain. Dia sangat baik, aku tidak mau dia dipenggal oleh bajingan gila dan aku disiksa bajingan gila.


"Apa yang membuat Anda berpikiran kalau saya baik-baik saja?"


Sir Derick melayangkan senyuman, simpatik. "Maafkan saya, Nona Serethy. Pertanyaan saya sangat bodoh."


Aku mendengus, lalu mengalihkan pandang.


"Apa Nona Serethy merasa lapar?"


Malaikat Jatuh sangat perhatian, bukan?


Aku bahkan menangis karena adegan pemenggalan yang diceritakan secara langsung dalam sudut pandang bajingan gila.


"Nona pasti lapar," putus Sir Derick. "Saya yakin pelayan akan datang untuk membawakan Nona makanan tapi ... mungkin akan sedikit telat."


Kata-kata yang halus. 'Sedikit telat' apa hingga beberapa jam dari pagi sudah berlalu dan aku masih belum diberikan sarapan?


"Saya akan meminta pelayan untuk membawakan Nona makanan."

__ADS_1


"Tidak, jangan," kataku, mencegah Sir Derick untuk pergi. "Biarkan saja. Saya tidak peduli."


"Tapi Nona merasa lapar, bukan? Bukankah lebih baik untuk mengisi perut Nona?"


"Saya tidak peduli."


"Anda harus mengisi perut Anda agar Anda bisa pulih lebih cepat dari luka-luka Anda."


Huhuhu. Malaikat Jatuh, kamu sangat baik. Tapi lebih baik berhenti menjadi orang baik padaku karena kamu bisa jadi dalam bahaya di masa depan.


"Biarkan saja saya mati," kataku dengan tenang.


"Nona Serethy. Jangan membicarakan kematian seolah itu hal yang remeh."


Aku mendengus. "Kematian adalah jalan yang terbaik setelah dilemparkan ke dalam jeruji."


Aku harus berpura-pura jahat padanya dan akan terus membicarakan kematian.


Itu karena Sir Derick sangat membenci kematian. Banyak keluarga dan teman yang meninggalkan Sir Derick akibat kematian. Sejak saat itu, Sir Derick mulai membenci takdir itu.


Dia pasti akan membenciku jika aku terus-menerus membawa 'kematian' di hadapannya. Lalu, dia tidak usah jatuh cinta padaku apalagi merencanakan kabur.


Pokoknya, aku akan menyelamatkan Malaikat Jatuh.


"Saya yakin Anda hanya putus asa," kata Sir Derick dengan tegas. "Anda hanya putus asa setelah menerima kenyataan bahwa Anda adalah tawanan perang. Lalu, Anda merasa bahwa kematian adalah satu-satunya jawaban padahal bukan begitu."


Aku nyaris menangis terharu karena Malaikat Jatuh sangat baik. Dan kenapa dia tidak membenciku karena membawa-bawa nama kematian, sih?


Ayo benci aku.


Itulah satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan kamu!


"Tinggalkan saya."


Sir Derick mengernyitkan dahi. "Anda sangat ingin hidup, bukan?"


"Sir Derick, tolong tinggalkan saya!"


Sir Derick menghela napas. "Saya akan meninggalkan Anda dan kembali dengan makanan."


Sir Derick lalu meninggalkan jeruji.


Aku lalu memukul bantal dengan gemas karena Malaikat Jatuh sangat baik. Aku terharu. Jujur. Dia kenapa baik sekali, sih?


"Orang-orang di sini dikelompokkan menjadi dua. Pertama, baik. Kedua, gila. Dan Malaikat Jatuh, kamu masuk kelompok pertama," gumamku dengan hati senang dan gembira.


"Dan bayangkan saja, Malaikat Jatuh lebih tampan daripada yang dideskripsikan dari novel gila itu!"


Benar. Sir Derick sangat tampan! Kenapa bisa ada ciptaan yang setampan itu? Menjadi tawanan perang tidak buruk juga.


Di novel, Sir Derick dikatakan memiliki rambut hitam mahoni yang memabukkan, warna matanya cream manis, tubuhnya tinggi dan berotot sebagai kapten ksatria, dia juga selalu memiliki wangi jasmin yang menenangkan di tubuhnya.


Sir Derick lalu kembali beberapa saat kemudian dengan nampan penuh makanan.


Kenapa dia yang membawa nampan makanan?! Dia ksatria, lho! Harusnya dia mengirim pelayan saja.


"Nona, tolong makan makanan Anda," kata Sir Derick setelah membuka gerbang jeruji dengan kunci yang dibawanya.


Oh, dia juga memegang kunci jerujiku? Aku tidak tahu itu.


Di novel, Sir Derick tidak mendapatkan kunci itu. Hanya bawahan bajingan gila yang memilikinya.


Dia lalu mendekati kasur kecil yang tidak pernah aku tinggalkan semenjak aku masuk ke sini.


Aku berpura-pura tidak memedulikan Sir Derick.


Sir Derick meletakkan makanan di pahaku. Sial, dia benar-benar memaksaku untuk makan.


"Nona Serethy."

__ADS_1


Aku mendelik, lalu mendengus geli. "Saya tidak membutuhkan bantuan Anda! Saya tidak membutuhkan bantuan dari Kerajaan Bajingan Asher! Tinggalkan saya!"


Rasanya melegakan setelah meletakkan nama tengah 'bajingan' dalam nama Kerajaan Asher. Aku juga marah karena dilemparkan ke dalam novel gila ini.


Aku mengharapkan bentakan Sir Derick karena rasa nasionalisme pria itu sangat tinggi.


"Makan, Nona Serethy."


Hah? Apa-apaan pria ini?


Aku menatap heran dengan kernyitan jelas di dahi karena suapan Sir Derick. Iya, si ksatria kuat dan gagah ini menyuapi mantan Tuan Putri dari Kerajaan yang jatuh dengan sesendok makanan yang ... menggoda. Sungguh, makanan itu normal dan biasa, tapi sangat menggoda.


Aku lapar.


Aku belum makan semenjak sadar aku adalah tawanan. Dan itu adalah satu setengah hari yang lalu.


Aku lalu mendengar perutku berbunyi. Aaahhh! Brengsek. Mati aku.


Aku menatap wajah Sir Derick dengan rona di pipiku. Ini memalukan!


Sir Derick hanya memberikan senyuman lembut di wajah tampannya. Tangannya masih di udara, mengharapkan aku untuk memakan suapannya.


"Saya bisa makan sendiri." Aku mengambil alih sendok di tangannya.


Sir Derick tersenyum lebih cerah. "Kalau begitu, tolong habiskan makanan Anda."


Sir Derick lalu keluar dan mengunci pintu lagi.


Aku lalu menghabiskan makananku dengan cepat.


Rasanya tidak terlalu buruk, meski rasanya cukup hambar. Itu wajar karena memberi makan seorang tawanan perang tidak perlu makanan yang megah dan enak, yang penting memberi makanan untuk membiarkan mereka bertahan hidup.


Aku lalu berguling-guling di kasur tanpa melakukan apa-apa. Membosankan sekali. Setidaknya sediakan buku atau novel. Dan jeruji ini tidak memiliki apa-apa. Bahkan cukup gelap meski disinari oleh cahaya lilin di atas meja dan di luar jeruji.


Penjara ini juga berada di bawah tanah yang membuatku tidak bisa menyadari jika ini pagi atau malam. Aku benar-benar akan buta waktu jika terus tinggal di sini.


Aku tanpa sadar terlelap dan bangun ketika seseorang menepuk bahuku.


"Sebentar lagi, Ibu," gumamku pelan, tetapi cukup keras untuk didengar di dalam jeruji kecil sunyi.


"Nona Serethy, tolong bangun."


Aku membuka mataku lebar setelah mendengar suara Sir Derick yang lembut.


Aku menepis tangannya di bahuku dengan kasar. "Apa yang Anda inginkan?"


Lalu aku menyadari ada orang lain selain kami berdua di jeruji.


"Hei, pelacur kecil. Yang Mulia Raja memanggilmu," kata pria dengan dandanan mewah padaku.


Aku mengernyit. Aku tidak tahu pria ini siapa tapi apa sudah saatnya bajingan gila itu memanggilku?


Di novel, hari kedua setelah tinggal di dalam jeruji adalah pertama kalinya bajingan gila itu memanggil Serethy ke kamarnya, tentu untuk mencari kesenangan dari Serethy. Dan jika ini sesuai dengan alur novel, ini akan gawat!


Itu karena dia akan menyiksaku alias menganiayaku seperti alur di novel.


...***...


Kamus Serethy:


- Bajingan gila A: raja


- Wanita gila A: tunangan raja


- Malaikat Jatuh: Sir Derick


Yo! What do you think about my new story? Kamu suka? Kamu cinta? Kalau begitu, bisakah aku minta dukungan kecil kalian? ❤️😌


Sampai jumpa lagi!

__ADS_1


__ADS_2