
Sudah dua hari ini aku belum mendapatkan kabar dari paman Daichi. Apakah paman tidak mengalami kesulitan dalam mencari keberadaan ayah. Mengapa begitu sulit mencari ayah padahal sudah sedikit lagi.
Aku mendapatkan pesan dari paman Daichi, dia mengirimkan sebuah foto. Iya. Foto itu adalah ayah, jika dilihat dari foto itu keadaan ayah sangat baik. Aku bersyukur jika keadaan ayah baik-baik saja dan paman Asamu tidak berhasil menemukan ayah.
Dengan cepat aku menekan nomor ponsel paman Daichi, guna menanyakan apakah ayah sudah ada bersama dengannya atau bagaimana. Namun, ponsel paman Daichi mendadak tidak bisa di hubungi padahal baru saja mengirim pesan padaku.
“Yuki—kau mendapatkan undangan untuk sore ini,” ucap Kimiko sembari menyerahkan undangan padaku.
Aku membuka undangan tersebut, membaca secara perlahan siapa yang sudah mengundang. Nama yang tidak kukenal sama sekali, sebenarnya siapa orang ini?
“Kau mengenalnya?!” tanyaku pada Kimiko.
Dia menggelengkan kepalanya tetapi yang pasti dia mengatakan jika orang yang mengundang ini adalah orang yang sangat penting. Sehingga lebih baik aku menghadiri pesta kebun sore ini.
“Baiklah—kita siap-siap!” Aku berkata pada Kimiko karena bagaimanapun dia harus ikut.
Saat aku sudah bersiap, begitu pula dengan Kimiko. Aku melihat Eitaro yang sedang duduk di sofa sembari membaca sebuah dokumen yang ada di tangannya.
Dia melihat ke arah Kimiko tetapi hanya sekilas lalu dia melihat ke arahku. Aku semakin penasaran sebenarnya apa yang sudah terjadi antara Kimiko dan Eitaro. Apa mungkin mereka berdua memiliki hubungan yang sangat dekat.
Namun, aku selalu melihat mereka berdua selalu saja berdebat jika bertemu. Lebih baik aku pikirkan nanti saja, sekarang yang terpenting adalah pergi ke pesta kebun. Karena aku ingin tahu siapa sebenarnya orang yang sudah mengundangku ini.
“Kalian sudah siap?!” Eitaro bertanya padaku dan Kimiko.
Aku mengangguk, jika dilihat dari penampilannya dia berpakaian sangat rapi. Apakah dia akan pergi ke suatu pesta juga? Atau akan menghadiri sebuah rapat? Pertanyaan itu muncul dalam benakku.
“Apa kau akan pergi juga?” Aku bertanya pada Eitaro.
Dia tersenyum, lalu mengatakan jika dirinya akan ikut bersama denganku. Aku sedikit terkejut bagaimana dia tahu jika aku akan pergi ke pesta, bukankah yang mengetahui semua ini adalah aku dan Kimiko.
“Untuk apa kau ikut? Bukankah kau orang yang sibuk?!” Kimiko bertanya dengan nada dingin.
__ADS_1
“Ayo kita pergi!” ucap Eitaro.
Mengapa dia terlihat kesal dengan apa yang di ucapkan oleh Kimiko. Ini benar-benar sangat mencurigakan, aku harus mencari tahu dengan serius masalah mereka berdua.
***
Setibanya di pesta kebun yang diadakan oleh orang yang misterius ini. Aku menyuruh Kimiko dan Eitaro untuk selalu berhati-hati, mungkin semua ini adalah jebakan yang direncanakan oleh paman Asamu.
Rupanya banyak juga para tamu undangannya, jika aku perhatikan semua orang yang hadir adalah para pengusaha dari Kyoto dan luar Kyoto pun hadir.
“Apa kau sudah tahu siapa nama orang yang mengundang kita ke sini?!” Aku bertanya pada Kimiko.
Kimiko menggelengkan kepalanya, dia masih belum bisa mengetahui siapa orang itu. Sepertinya orang itu sangat pandai menyembunyikan identitasnya. Aku harus berhati-hati.
Meski ini pesta kebun, kenapa aku merasa pengap? Mungkin sudah banyak tamu undangan yang sudah hadir. Lebih baik aku berjalan-jalan untuk menghilangkan rasa pengap ini, entah mengapa aku merasa jika akan terjadi sesuatu dan tidak tahu apa itu.
Aku pun mengatakan pada Eitaro untuk selalu berada bersama Kimiko. Setelah mengatakan itu, aku langsung berjalan meninggalkan mereka. Dengan berjalan sendiri sembari melihat rumah ini karena aku merasa ada yang aneh dengan rumah ini.
Ada sebuah pintu, apa aku harus masuk ke sana? Mengapa pintu itu membuat rasa ingin tahuku meningkat. Aku melangkah mendekat lalu membuka pintu tersebut. Mataku terbelalak saat melihat apa yang ada di balik pintu itu.
Tanpa aku sadari kedua kaki ini melangkah memasuki taman ini, melihat dengan perasaan takjub. Sedikit demi sedikit aku serasa kembali ke masa kecilku yang bermain bersama ayah di taman.
“Siapa Anda? Mengapa Anda berada di sini?!”
Seseorang bertanya padaku, aku membalikkan tubuh lalu melihat orang yang bertanya padaku. Rupanya seorang wanita paruh baya, dia terlihat sangat lembut dengan senyumnya itu.
“Maafkan saya, jika sudah lancang masuk tanpa izin.” Jawabku dengan lembut.
Wanita itu tersenyum lalu mengatakan tidak mengapa, dia pun menyuruhku untuk duduk di sebuah gazebo. Aku melangkah menuju gazebo tersebut, terlihat sudah ada minuman dan camilan yang tertata rapi di atas meja.
“Apa Nona salah satu tamu undangan Tuan Muda?” tanyanya padaku.
__ADS_1
Aku mengangguk lalu bertanya padanya siapa pemilik dari rumah ini. Karena aku tidak tahu siapa nama yang mengundang ke pesta ini. Sesaat wajahnya terkejut tetapi dengan cepat dia bisa berubah, dia tersenyum lalu mengatakan jika aku akan mengetahuinya sebentar lagi.
Dengan lembut pelayan ini menuangkan minuman ke dalam gelas lalu menyuruh aku untuk menikmati semuanya. Aku mengatakan jika semua ini tidak perlu karena sebentar lagi akan kembali ke pesta kebun.
“Tidak perlu terburu-buru untuk kembali ke pesta—temani aku sebentar di sini!” wanita paruh baya itu mengatakan dengan lembut.
“Maaf Nyonya apakah Anda adalah pemilik dari rumah ini?!” Aku bertanya karena merasa aneh saja dengan wanita yang ada di hadapanku ini.
Dia tersenyum kalau mengangguk dan berkata, “Nona, bisa memanggil saya Yuna!”
Ponselku berdering, aku melihat layar ponsel tertera nama Kimiko. Aku meminta izin untuk mengangkat telepon, lalu beranjak dari duduk dan berjalan sedikit untuk mengangkat telepon.
Kimiko menyuruhku untuk segera menemuinya karena pesta akan segera di mulai. Setelah mengatakan itu Kimiko memutuskan sambungan telepon. Aku pun berjalan mendekat nyonya Yuna untuk pamit undur diri.
“Itu temanmu? Pasti kau sudah di tunggu olehnya?” tanya nyonya Yuna padaku.
“Iya—saya pamit undur diri Nyonya Yuna, saya senang bisa bertemu dengan Anda.” Aku berkata sembari membungkukkan tubuhku, menandakan rasa hormat pada orang yang lebih tua.
“Tunggu! Siapa namamu?!” Nyonya Yuna bertanya padaku.
Aku tersenyum lalu mengatakan “Yuki Arsalan, Nyonya bisa memanggil saya Yuki.”
Setelah mengatakan itu, aku berjalan meninggalkan nyonya Yuna di dalam gazebo. Saat aku berjalan untuk menuju pesta berlangsung, terdengar suara orang yang sedang merencanakan sesuatu hal yang sangat berbahaya.
Sebenarnya aku tidak ada niat untuk ikut campur dalam hal ini tetapi aku teringat akan nyonya Yuna. Hatiku merasa tidak suka jika ada orang yang hendak mengacau di pesta orang yang baik.
Aku berjalan mendekat secara perlahan agar mereka tidak menyadari keberadaanku. Rencana mereka terdengar sangat teliti, sepertinya rencana ini sudah di atur dari jauh-jauh hari.
___________________________________________
Hai gaes mohon maaf update-nya belum bisa setiap hari ya tetapi saya usahakan untuk update.
__ADS_1
Ada baiknya follow instagram macan ya @macan_nurul karena di instagram akan ada informasi tentang semua karya macan.
Terimakasih