
Sudah satu minggu lebih Kimiko tidak memberiku kabar, tiba-tiba dia sudah muncul di kantor dengan wajah tanpa bersalah sama sekali. Dia memasang wajah ceria.
“Ingat pulang kau?!” Aku bertanya dengan nada datar.
Dia tersenyum lalu tertawa kecil dan berjalan mendekati aku, tanpa rasa bersalah langsung memelukku.
“Sudah jangan marah ya? Aku minta maaf,” katanya sembari melepaskan pelukannya.
“Sekali lagi kau tidak memberi kabar—aku tidak mau berteman lagi denganmu!” timpalku.
Dia tersenyum lalu mengangguk, setelah itu dia pamit padaku untuk kembali ke ruangannya. Karena dia sudah satu minggu lebih dia tidak bekerja, maka banyak pekerjaan yang menanti.
Aku bisa bernapas lega sekarang sebab aku akan mulai memikirkan apa yang diinginkan oleh Riyoichi. Apakah aku harus membicarakan semua ini dengan Kimiko.
Sepertinya aku harus mengatakan semua ini pada Kimiko sebab bagaimanapun juga dia adalah partnerku dalam setiap misiku. Akan aku bicarakan dengannya siang nanti.
Aku duduk di kursi kerja, dengan setumpuk dokumen yang harus aku periksa dan membubuhinya dengan tanda tanganku. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, kulihat jam yang melingkar di pergelangan tangan sudah menunjukkan waktunya makan siang.
Tok!
Tok!
“Masuk!” perintahku pada seseorang yang berada dibalik pintu.
Pintu pun terbuka, terlihat Kimiko berjalan masuk kedalam ruangan dan dengan senyum khasnya mengajakku untuk makan siang di luar. Ini adalah waktu yang pas untuk membicarakan masalah Riyoichi.
“Kita makan siang di luar,” ucapku sebelum Kimiko mengatakan sesuatu.
“Ok,” jawabnya singkat.
Aku pun beranjak dari duduk, mengambil tas yang tersimpan di atas meja lalu berjalan keluar ruangan serta diikuti Kimiko dari belakang. Dia mengatakan untuk menunggu sebentar karena akan mengambil tas di ruang kerjanya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama baginya untuk mengambil tas karena ruang kerjanya terlewati olehku. Setelah itu kami menuju area parkir dan memasuki mobil.
“Kita makan siang di mana?” tanya Kimiko padaku.
__ADS_1
“Naritaya Yakiniku,” jawabku sembari menjalankan mobil keluar area parkir.
Dalam perjalanan aku terus memikirkan bagaimana mengatakan tentang rencana Riyoichi yang ingin menyuruhku untuk mengambil chip yang ada di tangan Riyu. Yang menurutku tidak mudah untuk dilakukan jika benda itu tidak disimpan dalam brangkas. Karena chip selalu dibawa oleh Riyu ke mana saja.
“Jangan melamun—tujuan kita sudah terlewat,” ucap Kimiko yang menyadarkan aku dari lamunan.
Aku memperlambat laju mobil lalu mencari jalan untuk memutar arah setelah menemukannya aku langsung berbelok arah. Tibalah aku di restoran yang ingin aku kunjungi.
Kimiko turun terlebih dahulu baru aku menyusulnya, dia menungguku sejenak lalu berjalan bersama memasuki restoran tersebut. Dia menatapku sejenak seraya bertanya ada apa denganku.
Sebenarnya aku memang sudah ingin mengatakan semuanya padanya, lebih baik sekarang mencari tempat yang nyaman untuk makan dan membicarakan semuanya.
“Kita duduk di sana!” kata Kimiko sembari menunjuk suatu tempat.
Sepertinya itu adalah tempat duduk yang nyaman bagiku untuk menyantap makan siang dan membicarakan semuanya pada Kimiko. Aku pun berjalan menuju tempat duduk tersebut.
Seorang pelayan mendekat padaku, dia menanyakan apa menu makanan yang hendak dipesan. Aku memilih menu yang aku inginkan begitu pula dengan Kimiko, restoran ini adalah salah satu restoran di Kyoto yang menyajikan makanan halal bagi seorang muslim.
Sehingga banyak pengunjung muslim yang makan di restoran ini, rerata mereka semua adalah para turis yang sedang berlibur ke sini. Jika aku melihat orang Indonesia maka aku akan teringat akan ibu Lili karena beliau adalah wanita asli keturunan Indonesia.
Kimiko sudah memesan apa yang diinginkannya begitu pula denganku, pelayan tersebut mengecek ulang semua pesanan kami. Setelah semuanya tepat, dia pergi untuk menyiapkan apa yang sudah kami pesan.
“Ada yang ingin kau katakan padaku, Yuki?” tanyanya padaku dengan nada menyelidiki.
“Iya—ada yang ingin aku katakan padamu,” jawabku sembari menghela napas untuk bersiap menceritakan semuanya.
Aku pun menceritakan semua padanya tentang keinginan Riyu yang menginginkan aku untuk menjauhi Riyoichi. Sedangkan Riyoichi menginginkan aku mencuri sesuatu dari Riyu.
“Apa yang diinginkan Riyoichi dari Riyu?” Kimiko kembali bertanya setelah mendengarkan ceritaku.
“Chip,” jawabku singkat.
Dia kembali melayangkan pertanyaan padaku tentang isi chip itu tetapi aku tidak tahu apa isinya begitu pula dengan Riyoichi. Karena yang tahu tentang isi dari chip itu hannyalah tuannya saja.
“Apa kau sanggup mencuri chip itu?” Kimiko hanya bertanya dan bertanya padaku.
__ADS_1
“Aku tidak tahu sebab chip itu selalu berada di dalam cincin yang dikenakan oleh Riyu,” ungkapku padanya.
Sebelum memutuskan terima atau tidak, beberapa pelayan tiba dengan pesanan yang kami pesan tadi. Mereka menatanya dengan rapi di atas meja, setelah itu pergi dan mengatakan selat menikmati hidangan yang sudah disajikan.
“Kita makan dulu! Baru memutuskan apa yang akan dilakukan,” Kimiko berkata sembari mulai menyantap makanan yang dipesannya.
Aku pun mulai menyantap semua hidangan yang sudah tertata rapi di atas meja. Saat sedang menikmati semuanya, entah mengapa aku merasa ada seseorang yang selalu memperhatikan. Dengan pelan aku menendang kaki Kimiko seraya memberi tanda bahwa ada sesuatu yang janggal, dia pun mengerti dengan apa yang aku lakukan.
“Aku tahu,” jawabnya sembari kembali menyantap makanan.
Apa mungkin orang-orang itu adalah suruhan dari paman Asamu, semua pertanyaan melayang dalam benakku. Paman benar-benar tidak akan melepaskan aku begitu saja. Ada baiknya aku akan menjalankan rencana agar dia tidak bisa kembali masuk ke perusahaan untuk menekan pergerakannya.
“Aku sudah selesai, sebaiknya kita kenali ke perusahaan saja!” ujarku pada Kimiko.
Kukatakan padanya juga untuk bersikap seperti biasa saja, jangan memperlihatkan bahwa kita mengetahui keberadaan mereka. Biarkan mereka beranggapan bahwa diri kita ini mudah dikelabui.
Kimiko mengangguk lalu berjalan mengikuti langkahku dengan santainya. Dalam perjalanan menuju perusahaan, mereka masih saja mengikuti kami tetapi tidak terlihat pergerakan mereka yang hendak mengadang.
“Sepertinya mereka hanya diperintahkan untuk mengawasi saja,” kata Kimiko sembari melihat ke belakang melalui kaca spion mobil.
“Iya—aku menyadari dari beberapa hari ke belakang!” timpalku.
“Apa perlu kita berhenti dan menghajar mereka semua!” tanyanya dengan nada bersemangat.
Mungkin dia sudah lama tidak melemaskan otot-otot di tubuhnya sehingga dia sudah tidak sabar untuk menghajar mereka semua. Namun, aku melarangnya karena mereka tidak berniat untuk mencelakai.
Berbeda halnya jika mereka sudah menghalau jalan lalu menyerang tanpa alasan yang jelas. Barulah aku akan bertindak dan memberikan kesempatan pada Kimiko untuk bersenang-senang. Untung saja Kimiko paham dengan maksudku, dia hanya diam memperhatikan saja pergerakan mereka.
“Sebaiknya kita terima saja mencuri chip itu, jika chip itu berhasil di dapat ada baiknya kita membukanya dan mencari tahu apa isinya. Barulah kita serahkan chip itu pada Riyoichi.” Kimiko memberi saran padaku.
“Akan aku pikirkan semua dengan masak!” kataku.
______________________________________________
Ayo-ayo jangan lupa kasi like dan komen ya, senyum lembut dari macan. Oh iya satu lagi hehe jangan lupa kasi bintang lima ya.
__ADS_1