
Aku berjalan keluar dan di balik pintu rupanya sudah
ada Eitaro yang menungguku. Dia mengenakan pakaian yang tidak seperti biasanya
dan itu membuatku merasa aneh saja.
“Mengapa kau memakai pakaian seperti itu?” tanyaku
padanya.
“Lebih baik kau tidak menjadi wanita lemah karena
semua ini belum berakhir,” jawab Eitaro yang membuat diriku tidak paham dengan
maksud perkataannya itu.
Dia berjalan lebih dulu dariku tetapi dia menghentikan
langkahnya lalu berkata padaku agar aku mengikutinya. Setelah mengatakan itu
dia pun kembali berjalan dan aku pun mengikuti langkahnya dan tidak tahu dia
akan membawaku ke mana.
Aku melihat sebuah mobil sudah menunggu tetapi aku
tidak melihat ayah Arata sama sekali. Eitaro masuk ke dalam mobil dan dia
menyuruhku untuk masuk juga ke dalam mobilnya.
Tanpa banyak berpikir lagi aku juga masuk ke dalam
mobilnya dan aku masih merasa penasaran dengan pakaian yang aku kenakan dan
juga pakaian yang dikenakan olehnya. Semua pakaian ini adalah pakaian berkabung
dan siapa yang sudah meninggal sehingga aku dan dia harus mengenakannya.
Sopir menjalankan mobilnya meninggalkan rumah ini,
selama dalam perjalanan Eitaro sama sekali tidak bicara. Aku pun tidak ingin
bicara dengannya karena masih kesal dengan apa yang dia lakukan dan katakan
padaku serta sikapnya yang begitu dingin.
“Bisakah kau mengatakan kita mau ke mana?” tanyaku
pada Eitaro yang tidak berkata-kata.
Aku sungguh tidak bisa hanya diam dan tidak tahu apa
yang terjadi, kulihat wajahnya untuk mengetahui bagaimana ekspresinya. Dia
menatapku sehingga kedua matanya kami saling beradu.
“Kita akan ke pemakaman dan kau harus ada di sana,”
jawab Eitaro.
“Pemakaman siapa?” Aku kembali bertanya padanya.
Dia kembali terdiam, aku pun tidak akan bertanya lagi
dan menunggu hingga tiba di tempat itu. Tidak terlalu lama sopir pun masuk ke
area pemakanan dan berhenti tepat di samping mobil-mobil yang sudah ada di
sana.
Aku ke luar dari dalam mobil setelah ada seseorang
yang membukakan pintu mobil begitu pula dengan Eitaro. Dia berjalan lebih
dulu dan aku otomatis mengikutinya, dari kejauhan aku melihat Ayah Arata yang
sudah berada di tempat pemakanan ini.
__ADS_1
‘Sebenarnya
siapa yang meninggal mengapa Ayah Arata terlihat sedih?’ batinku.
Langkah kakiku terhenti saat melihat sebuah foto yang
ada di sana juga ada sebuah peti mati yang sudah siap untuk di masukan ke dalam
lubang yang ada di samping. Aku kembali berjalan mendekat melihat dengan
saksama foto itu dan sekarang aku mengingat semuanya.
“Sudah saatnya,” ucap Ayah Arata padaku.
Ayah Arata juga mengatakan padaku jika semua yang
dilakukannya saat ini adalah keinginan terakhir ayah Kenzo. Ayah menginginkan
dimakamkan di kota Paris sebab dia sudah tidak ingin kembali ke Jepang.
Aku hanya bisa mendengarkan apa yang dikatakan oleh
ayah, batinku ingin menangis tetapi air mataku tidak bisa keluar. Entah apa
yang harus aku lakukan dengan semua ini, orang yang aku cari selama ini
ternyata aku berhasil menemukannya dan itu hanya melihatnya sebentar saja dan
sekarang aku tidak bisa melihatnya lagi.
“Lakukan saja sesuai dengan apa yang ayahku inginkan,”
Aku berkata pada Ayah Arata.
Semua yang aku lihat sekarang adalah akhir dari
pencarianku dan aku juga tidak tahu apa yang terjadi pada ayah hingga terluka
sangat parah seperti itu. Aku pun kembali teringat dengan ibu, aku memedarkan kedua
menemukannya.
***
Acara pemakaman pun sudah selesai dan aku pun langsung
kembali ke rumah bersama dengan Eitaro. Aku masih tidak tahu mengapa air mataku
tidak bisa keluar padahal yang meninggal itu adalah ayah kandungku sendiri.
“Apa yang terjadi padaku? Aku bukan anak yang berbakti
hingga di hari pemakaman pun aku tidak bersedih sama sekali,”
“Jika kau ingin menangis maka menangislah dan kau
tidak perlu menahannya lagi,” Suara yang aku kenal dan aku melihat Eitaro yang
berjalan mendekat padaku.
“Untuk apa kau datang ke sini? Lebih baik kau pergi
dan tidak perlu peduli akan diriku,” timpalku yang menyuruhnya untuk pergi.
Namun, apa yang aku katakan sama sekali tidak dia
dengar dan dia duduk di sampingku, aku berpikir untuk apa dia ada di sini jika hanya
untuk membuatku kesal saja. Dari pada melihatnya ada di samping lebih baik aku
pergi saja dari kamar ini.
Saat aku hendak beranjak dia memegang tanganku lalu
dia menariknya. Sehingga tubuhku terjerembap di dalam pelukannya. Dia tidak
bicara dan aku pun tidak tahu mengapa dia melakukan semua ini padaku.
__ADS_1
“Lepaskan aku,” ucapku padanya.
“Aku tidak akan melepaskanmu hingga kau bisa
mengeluarkan semuanya di dalam pelukanku,” jawabnya dengan nada dingin dan dia
masih terus memelukku.
Entah mengapa air mata ini perlahan keluar di saat dia
memelukku dan mengatakan semua itu, aku benar-benar merasa jika di dalam
pelukannya bisa mengeluarkan semua emosi yang ada di dalam hati ini. Aku
benar-benar mengeluarkan semua emosiku sehingga tidak bisa lagi menahan suara
tangisku.
“Menangislah sepuasnya dan aku akan selalu ada di sini
untukmu,” Dia kembali berkata padaku dan memelukku semakin erat.
“Semua salahku mengapa aku tidak bisa menemukan ayah
lebih cepat. Mungkin saja jika aku menemukannya lebih cepat maka semua ini
tidak akan terjadi,” Aku terus saja merutuki diri karena semua ini merupakan
kelalaian diriku sebagai putrinya,
“Kau pun pasti berpikir jika aku adalah anak yang
tidak berbakti karena tidak bisa melindungi ayahku sendiri hingga maut
menjemputnya,” Aku kembali berkata pada Eitaro.
Aku merasakan kehangatan tubuhnya sehingga tangisku
kembali pecah ketika aku mengingat kembali semua kenangan bersama dengan ayah. Serta
ingatanku saat kemarin melihat ayah untuk terakhir kalinya sebelum ayahku pergi
untuk selama-lamanya.
Tangisku akhirnya berhenti dan aku tidak tahu sudah
berapa lama menangis di dalam pelukannya. Akan tetapi, hatiku masih terasa
sakit sebab aku masih merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada ayah.
“Aku tidak pernah menyalahkanmu atas semua hal yang
terjadi baik di dalam hidupmu atau juga di dalam hidupku. Namun, yang pasti kau
harus bisa menjadi lebih kuat lagi dari yang sebelumnya,”
Dia mengatakan semua itu padaku dan aku merasa jika
ada sesuatu hal yang masih dia sembunyikan dariku. Dan aku ingin tahu apa hal
yang disembunyikannya itu tetapi aku tidak yakin jika dia akan mengatakannya
padaku dengan sejujur-jujurnya.
Namun, aku akan mencobanya dan berharap dia akan
mengatakan yang sebenarnya dan aku berharap tidak akan ada lagi hal buruk yang
ke luar dari mulutnya itu. Aku pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya padanya.
“Katakan padaku dengan jujur … apa ada hal yang
lainnya yang belum aku ketahui?” Aku bertanya padanya degan nada menyelidiki.
“Aku takut kau belum siap dengan apa yang akan aku
katakan,” dia menjawabku sembari melihat ke arahku.
__ADS_1