Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Tidak Bisa Menangis


__ADS_3

Aku berjalan keluar dan di balik pintu rupanya sudah


ada Eitaro yang menungguku. Dia mengenakan pakaian yang tidak seperti biasanya


dan itu membuatku merasa aneh saja.


“Mengapa kau memakai pakaian seperti itu?” tanyaku


padanya.


“Lebih baik kau tidak menjadi wanita lemah karena


semua ini belum berakhir,” jawab Eitaro yang membuat diriku tidak paham dengan


maksud perkataannya itu.


Dia berjalan lebih dulu dariku tetapi dia menghentikan


langkahnya lalu berkata padaku agar aku mengikutinya. Setelah mengatakan itu


dia pun kembali berjalan dan aku pun mengikuti langkahnya dan tidak tahu dia


akan membawaku ke mana.


Aku melihat sebuah mobil sudah menunggu tetapi aku


tidak melihat ayah Arata sama sekali. Eitaro masuk ke dalam mobil dan dia


menyuruhku untuk masuk juga ke dalam mobilnya.


Tanpa banyak berpikir lagi aku juga masuk ke dalam


mobilnya dan aku masih merasa penasaran dengan pakaian yang aku kenakan dan


juga pakaian yang dikenakan olehnya. Semua pakaian ini adalah pakaian berkabung


dan siapa yang sudah meninggal sehingga aku dan dia harus mengenakannya.


Sopir menjalankan mobilnya meninggalkan rumah ini,


selama dalam perjalanan Eitaro sama sekali tidak bicara. Aku pun tidak ingin


bicara dengannya karena masih kesal dengan apa yang dia lakukan dan katakan


padaku serta sikapnya yang begitu dingin.


“Bisakah kau mengatakan kita mau ke mana?” tanyaku


pada Eitaro yang tidak berkata-kata.


Aku sungguh tidak bisa hanya diam dan tidak tahu apa


yang terjadi, kulihat wajahnya untuk mengetahui bagaimana ekspresinya. Dia


menatapku sehingga kedua matanya kami saling beradu.


“Kita akan ke pemakaman dan kau harus ada di sana,”


jawab Eitaro.


“Pemakaman siapa?” Aku kembali bertanya padanya.


Dia kembali terdiam, aku pun tidak akan bertanya lagi


dan menunggu hingga tiba di tempat itu. Tidak terlalu lama sopir pun masuk ke


area pemakanan dan berhenti tepat di samping mobil-mobil yang sudah ada di


sana.


Aku ke luar dari dalam mobil setelah ada seseorang


yang membukakan pintu mobil begitu pula dengan Eitaro. Dia berjalan lebih


dulu dan aku otomatis mengikutinya, dari kejauhan aku melihat Ayah Arata yang


sudah berada di tempat pemakanan ini.

__ADS_1


‘Sebenarnya


siapa yang meninggal mengapa Ayah Arata terlihat sedih?’ batinku.


Langkah kakiku terhenti saat melihat sebuah foto yang


ada di sana juga ada sebuah peti mati yang sudah siap untuk di masukan ke dalam


lubang yang ada di samping. Aku kembali berjalan mendekat melihat dengan


saksama foto itu dan sekarang aku mengingat semuanya.


“Sudah saatnya,” ucap Ayah Arata padaku.


Ayah Arata juga mengatakan padaku jika semua yang


dilakukannya saat ini adalah keinginan terakhir ayah Kenzo. Ayah menginginkan


dimakamkan di kota Paris sebab dia sudah tidak ingin kembali ke Jepang.


Aku hanya bisa mendengarkan apa yang dikatakan oleh


ayah, batinku ingin menangis tetapi air mataku tidak bisa keluar. Entah apa


yang harus aku lakukan dengan semua ini, orang yang aku cari selama ini


ternyata aku berhasil menemukannya dan itu hanya melihatnya sebentar saja dan


sekarang aku tidak bisa melihatnya lagi.


“Lakukan saja sesuai dengan apa yang ayahku inginkan,”


Aku berkata pada Ayah Arata.


Semua yang aku lihat sekarang adalah akhir dari


pencarianku dan aku juga tidak tahu apa yang terjadi pada ayah hingga terluka


sangat parah seperti itu. Aku pun kembali teringat dengan ibu, aku memedarkan kedua


menemukannya.


***


Acara pemakaman pun sudah selesai dan aku pun langsung


kembali ke rumah bersama dengan Eitaro. Aku masih tidak tahu mengapa air mataku


tidak bisa keluar padahal yang meninggal itu adalah ayah kandungku sendiri.


“Apa yang terjadi padaku? Aku bukan anak yang berbakti


hingga di hari pemakaman pun aku tidak bersedih sama sekali,”


“Jika kau ingin menangis maka menangislah dan kau


tidak perlu menahannya lagi,” Suara yang aku kenal dan aku melihat Eitaro yang


berjalan mendekat padaku.


“Untuk apa kau datang ke sini? Lebih baik kau pergi


dan tidak perlu peduli akan diriku,” timpalku yang menyuruhnya untuk pergi.


Namun, apa yang aku katakan sama sekali tidak dia


dengar dan dia duduk di sampingku, aku berpikir untuk apa dia ada di sini jika hanya


untuk membuatku kesal saja. Dari pada melihatnya ada di samping lebih baik aku


pergi saja dari kamar ini.


Saat aku hendak beranjak dia memegang tanganku lalu


dia menariknya. Sehingga tubuhku terjerembap di dalam pelukannya. Dia tidak


bicara dan aku pun tidak tahu mengapa dia melakukan semua ini padaku.

__ADS_1


“Lepaskan aku,” ucapku padanya.


“Aku tidak akan melepaskanmu hingga kau bisa


mengeluarkan semuanya di dalam pelukanku,” jawabnya dengan nada dingin dan dia


masih terus memelukku.


Entah mengapa air mata ini perlahan keluar di saat dia


memelukku dan mengatakan semua itu, aku benar-benar merasa jika di dalam


pelukannya bisa mengeluarkan semua emosi yang ada di dalam hati ini. Aku


benar-benar mengeluarkan semua emosiku sehingga tidak bisa lagi menahan suara


tangisku.


“Menangislah sepuasnya dan aku akan selalu ada di sini


untukmu,” Dia kembali berkata padaku dan memelukku semakin erat.


“Semua salahku mengapa aku tidak bisa menemukan ayah


lebih cepat. Mungkin saja jika aku menemukannya lebih cepat maka semua ini


tidak akan terjadi,” Aku terus saja merutuki diri karena semua ini merupakan


kelalaian diriku sebagai putrinya,


“Kau pun pasti berpikir jika aku adalah anak yang


tidak berbakti karena tidak bisa melindungi ayahku sendiri hingga maut


menjemputnya,” Aku kembali berkata pada Eitaro.


Aku merasakan kehangatan tubuhnya sehingga tangisku


kembali pecah ketika aku mengingat kembali semua kenangan bersama dengan ayah. Serta


ingatanku saat kemarin melihat ayah untuk terakhir kalinya sebelum ayahku pergi


untuk selama-lamanya.


Tangisku akhirnya berhenti dan aku tidak tahu sudah


berapa lama menangis di dalam pelukannya. Akan tetapi, hatiku masih terasa


sakit sebab aku masih merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada ayah.


“Aku tidak pernah menyalahkanmu atas semua hal yang


terjadi baik di dalam hidupmu atau juga di dalam hidupku. Namun, yang pasti kau


harus bisa menjadi lebih kuat lagi dari yang sebelumnya,”


Dia mengatakan semua itu padaku dan aku merasa jika


ada sesuatu hal yang masih dia sembunyikan dariku. Dan aku ingin tahu apa hal


yang disembunyikannya itu tetapi aku tidak yakin jika dia akan mengatakannya


padaku dengan sejujur-jujurnya.


Namun, aku akan mencobanya dan berharap dia akan


mengatakan yang sebenarnya dan aku berharap tidak akan ada lagi hal buruk yang


ke luar dari mulutnya itu. Aku pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya padanya.


“Katakan padaku dengan jujur … apa ada hal yang


lainnya yang belum aku ketahui?” Aku bertanya padanya degan nada menyelidiki.


“Aku takut kau belum siap dengan apa yang akan aku


katakan,” dia menjawabku sembari melihat ke arahku.

__ADS_1


__ADS_2