Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Penyelamatan Part 2


__ADS_3

Perlahan dan pasti aku memutar gagang pintu ruangan yang sudah tidak terjaga ini. Dengan pelan aku membuka pintu, melihat dengan saksama apa yang ada di dalamnya.


Mataku terbelalak dengan apa yang aku lihat, aku melangkah dengan cepat memasuki ruangan itu. Terlihat seorang wanita yang terikat di sebuah kursi, tubuhnya penuh dengan luka lebam akibat pukulan.


Siapa yang sudah tega melakukan semua ini padanya, apakah orang itu tidak memiliki perasaan sama sekali. Dia adalah seorang wanita, mengapa orang-orang itu memukulinya dengan tidak memiliki hati seperti ini.


“Akhirnya kau tiba, Yuki...,”


Mendengar suaranya yang lirih itu membuat kedua kakiku langsung berlari mendekat padanya. Aku langsung memeluknya dengan erat. Semua ini adalah salahku, jika saja aku tidak berurusan dengan Riyoichi mungkin semua ini tidak akan terjadi.


“Maafkan aku ... Sungguh aku minta maaf,” kataku pada Kimiko yang menatapku.


“Kau bodoh Yuki ... Cepat lepaskan ikatannya!” perintahnya padaku dengan nada yang lemah.


Aku langsung membuka ikatan yang mengikat kedua kaki dan tangannya. Dia benar-benar terlihat lemah tetapi dia berusaha dengan sekuat tenaga untuk berdiri dengan kedua kakinya sendiri.


“Apa kau kuat?” Aku kembali bertanya padanya karena sangat khawatir dengannya.


“Kau jangan meremehkan aku! Aku masih sanggup untuk melawan para bajingan itu!” imbuhnya padaku.


Kimiko berusaha terlihat kuat di depanku tetapi aku tahu jika dia sudah tidak sanggup lagi untuk menahan semuanya. Dia terlihat sangat lelah dengan apa yang sudah terjadi padanya.


Aku memapahnya dengan perlahan keluar dari ruangan yang sangat pengap itu. Tidak bisa aku bayangkan dengan penyiksaan yang dilakukan oleh para penjahat itu pada Kimiko.


Melihat sekeliling tidak ada anak buah Riyoichi, ini sangat aneh karena aku tahu penjagaan mereka sangat ketat. Mengapa ini tidak terlihat salah satu batang hidung mereka.


“Apa kau sanggup? Kita harus menuruni anak tangga itu,” tanyaku pada Kimiko.


“Aku masih sanggup,” jawabnya padaku dengan penuh percaya diri.


Aku pun berjalan perlahan menuruni anak tangga sembari memegang tangan Kimiko. Aku tidak sanggup melihatnya seperti ini, mungkin setelah pergi dari sini aku akan menyuruh paman Daichi untuk mengantarnya kembali ke Tokyo.


Kimiko lebih aman saat ini di Tokyo bersama pamannya Maru dan bibi Sarada. Jika dia masih berada di dekatku yang ada malah dia selalu dalam bahaya.


Prok!


Prok!


Terdengar suara tepuk tangan seseorang, aku melihat sekeliling guna mencari siapa orang yang bertepuk tangan. Dan apa yang aku pikirkan benar, dia adalah Riyoichi.

__ADS_1


Terlihat senyum yang memuakkan muncul dari ujung bibirnya. Dia berjalan dan berhenti tepat di tengah-tengah ruangan yang terlihat begitu besar ini. Dia memberikan isyarat pada anak buahnya untuk membawaku dan Kimiko ke arahnya.


“Kau sungguh berani mendatangiku seorang diri, Yuki Sayang.” Dia berkata dengan nada menggoda.


“Kau pria tidak tahu malu—hanya berani menyerang wanita dan menganiayanya dengan sangat kejam!” tukasku padanya.


Dia menyeringai, tidak terlihat sedikit saja rasa bersalah dari wajahnya. Yang ada hanya wajah bengisnya, seraya ingin melahap kami berdua.


Melihat wajahnya yang seperti ini sungguh membuatku sangat muak. Aku menyesali mengapa dulu sempat percaya padanya. Dan membuat Kimiko mengalami semua ini.


“Kau bisa berdiri sendiri?” Aku bertanya dengan lirih pada Kimiko.


“Aku masih sanggup,” jawabnya padaku sembari melepaskan tangannya yang tadi memegang tanganku.


Aku memasang tubuhku untuk melindungi Kimiko sebab aku tahu jika Riyoichi akan menyuruh anak buahnya untuk melumpuhkan aku.


“Hentikan semua ini Yuki, ikutlah bersamaku maka kau akan mendapatkan semua yang kau inginkan termasuk bertemu dengan ayahmu!” ungkapnya padaku.


Apa aku tidak salah dengar dengan apa yang dikatakan olehnya. Dia akan membuatku bahagia dan mempertemukan diriku dengan ayah.


Namun, aku tidak bisa percaya dengan apa yang dikatakannya begitu saja. Karena dia pria yang sudah berani terhadapku dan juga Kimiko. Dan dia juga sudah memukuli Kimiko hingga sedemikian rupa.


Beberapa orang mulai menyerangku dengan pukulan dan tendangan. Aku bertahan dari setiap serangan mereka, terlihat sangat jelas jika mereka adalah anak buah Riyoichi yang sangat kuat.


Akan tetapi, aku adalah Yuki Arsalan. Wanita yang tidak akan menyerah dengan keadaan apa pun. Andai saja kemarin aku tidak di bius oleh Riyoichi mungkin Kimiko tidak akan mengalami semua ini.


Bug!


Bug!


Whussss!


Aku berusaha menyerang balik setelah ada kesempatan lalu diakhiri dengan tendangan yang sangat kuat. Satu orang tersingkir di atas lantai tetapi yang lainnya masih bisa berdiri tegap.


Mereka yang masih berdiri tegap kembali menyerangku. Namun, aku berhasil menghindari setiap serangan yang mereka layangkan padaku.


Aku melihat mereka sudah mulai kelelahan dan inilah saatnya bagiku untuk menyerang balik mereka semua. Sekilas kumelihat Riyoichi yang sedang tersenyum melihat aku yang menyerang semua anak buahnya.


Brugggg! Satu per satu anak buahnya berhasil aku lumpuhkan. Mereka meningkat kesakitan dan tidak bisa berdiri lagi. Namun, aku belum bisa bernapas lega karena anak buah Riyoichi masih banyak.

__ADS_1


“Wanitaku memang hebat, aku ingin tahu sampai di mana kemampuanmu dalam menghadapi semua anak buah yang sudah kulatih ini.” Riyoichi berkata sembari menyuruh empat orang untuk menyerangku.


Mereka berempat berjalan mendekat, sepertinya mereka tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk melumpuhkan aku.


Aku sudah siap dengan jurusku, tiba-tiba Kimiko mendekat dan dia pun terlihat sudah bersiap-siap untuk bertarung bersamaku.


“Kita bertarung bersama,” ucap Kimiko sembari bersiap dengan jurusnya.


“Istirahatlah biar mereka aku yang menghadapi!” perintahku padanya.


Dia masih saja berdiri tegap di sampingku, meski terlihat masih lemah. Namun, dia memiliki keinginan yang kuat untuk melawan mereka.


Aku sudah tidak bisa memaksanya untuk beristirahat, maka akan kubiarkan dia bertarung dengan mereka untuk melepaskan semua amarahnya pada mereka.


“Baiklah, selamat bersenang-senang!” kataku padanya karena para musuh sudah mulai bergerak.


Bug!


Bug!


Whussss!


Pukulan demi pukulan melayang di antara kami, sesekali juga tendangan dilayangkan para musuh pada kami berdua. Aku sekilas melihat Kimiko, dia berhasil melawan mereka.


Sekarang aku harus fokus pada lawanku, aku bertahan selama beberapa menit sebab mereka menyerang terus-menerus. Bagiku itu tidak masalah karena aku pun sedang mencari titik lemah dari lawanku.


Aku tersenyum karena tidak begitu lama sudah terlihat kelemahan dari dua lawanku. Dengan cepat aku menyerang bagian vital mereka.


Brugggg! Mereka terjatuh di atas lantai, meringis kesakitan dan tidak lama kemudian tak sadarkan diri.


Brugggg!


Musuh yang melawan Kimiko pun terjatuh satu per satu. Aku tersenyum melihat itu, dia benar-benar wanita yang tangguh. Dia bisa bertarung meski kondisi tubuhnya sedang tidak baik..


“Bagaimana? Apa kau takjub padaku?” tanya Kimiko dengan nada menyombongkan diri.


Aku kembali tersenyum lalu berjalan mendekat padanya. Dan mengatakan jika aku sangat bangga padanya, berharap semua ini bisa selesai secepatnya. Sehingga aku bisa mengirimkannya ke Tokyo untuk penyembuhan semua luka-lukanya.


Dor!

__ADS_1


Terdengar dentuman senjata api sehingga membuatku terkejut. Siapa yang sudah menembakkan pelurunya?


__ADS_2