
“Jika kau tidak mau—lebih baik kau mati saja!” Riyoichi berkata sembari menyeringai dan mencondongkan senjatanya padaku.
Aku tidak peduli jika dia ingin menghabisi nyawaku. Itu lebih baik dibandingkan aku harus menikah dengannya. Apabila aku tewas di tangannya, aku berharap ayah bisa hidup dengan selamat dan berbahagia di hari tuanya.
“Kau begitu terbawa suasana, Riyoichi!”
Terdengar suara seseorang dari lantai atas, aku memalingkan wajahku dan melihat pria yang mengenakan topeng itu berdiri dengan tegap. Dia memegang senjata di tangannya.
Dor!
Dor!
Pria itu langsung menembak semua anak buah Riyoichi. Ada yang mengenai tangan, kaki dan semua anggota tubuh mereka.
Satu per satu anak buah Riyoichi tersingkir di atas lantai. Mereka yang berusaha untuk bangkit kembali langsung ditembak kembali.
Pria yang tidak memperlihatkan wajahnya itu, berjalan menuruni anak tangga dengan santainya. Dia tidak terlihat takut sama sekali dengan Riyoichi.
“Siapa kau?!” tanya Riyoichi dengan geram.
“Kau tidak perlu tahu siapa aku! Sekarang yang sudah pasti kau akan kujebloskan kedalam jeruji besi!” pria itu berkata dengan nada penekanan.
Jika aku mendengar apa yang dikatakan olehnya, apakah dia seorang polisi. Namun, semua itu belum pasti karena aku belum tahu pasti tentang dirinya.
Aku melihat apa yang hendak dilakukan oleh Riyoichi. Apakah dia akan melawan pria itu sampai titik darah penghabisan.
Pria itu melangkah semakin cepat, dia tidak banyak bicara lagi. Langsung menyerang Riyoichi, terjadi perkelahian di antara mereka berdua.
Mereka berdua sama-sama memiliki kemampuan, gerakan mereka sangat cepat. Tendangan dan pukulan dihadang dan saling membalas serangan.
Brugggg! Riyoichi terjatuh karena serangan dari pria itu. Terlihat dia sangat kesal karena sudah dikalahkan oleh orang yang tidak dikenalnya.
Aku melihat ada dua orang anak buahnya yang berhasil berdiri tegap. Entah apa yang akan mereka lakukan. Namun, yang pasti aku harus membuat mereka berdua tidak mengganggu.
Sebelum aku sampai di dekat mereka, asap menggumpal di sekitar. Rupanya mereka berdua melemparkan bom asap. Sehingga aku tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
“Hahaha ... Yuki Arsalan aku akan menemuimu lain kali!” Terdengar suara Riyoichi yang semakin lama menghilang.
“Sebaiknya kita keluar dari sini!” pinta Eriko padaku.
Aku pun berjalan keluar tetapi tingkat kewaspadaanku tidak dikurangi. Karena ini masih di area yang dipenuhi oleh musuh.
Saat keluar dari bangunan ini, aku sudah tidak melihat lagi batang hidung Riyoichi begitu pula dengan pria misterius itu.
Tidak berapa lama tiba dua mobil, terlihat beberapa orang keluar dari mobil tersebut. Terlihat luka lembam di wajah mereka. Sepertinya mereka habis berkelahi.
“Maafkan kami, Nona...,” ucap seorang pria yang mengenakan pakaian berwarna serba hitam.
Dia adalah pengawal yang paman Daichi latih untuk melindungi aku. Dia pun mengatakan jika dirinya di hadang oleh sekelompok orang. Dan akhirnya mereka terlambat tiba di tempat ini.
“Sudahlah—kalian bisa pergi ke rumah sakit, obati luka-luka kalian.” Aku memerintahkan mereka.
Mereka membungkuk dan berpamitan pada paman Daichi. Setelah berpamitan mereka pun pergi, sedangkan aku meminta paman Daichi untuk mengantar Kimiko ke rumah sakit.
Karena ada urusan yang harus kulakukan terlebih dahulu. Paman pun menuruti apa yang aku perintahkan, setelah semua ini selesai aku akan menghubungi paman Maru untuk menjemput Kimiko.
“Kau pulang dan istirahatlah!” kataku padanya seraya memerintahkan dia untuk tidak mengikuti.
Eriko menatapku dengan lekat lalu dia pergi meninggalkan aku menggunakan sebuah motor. Aku pun melihat sekeliling untuk melihat di mana motorku berada.
Aku berjalan mendekat pada motor yang ada di sebelah kananku. Itu adalah motor yang aku gunakan tadi. Kunyalakan mesin motor lalu menjalankannya meninggalkan bangunan ini.
Hatiku masih merasa belum tenang karena Riyoichi dengan mudahnya pergi begitu saja. Dan pria yang misterius itu juga terus saja mengganggu pikiranku.
Ckitttt!
Aku menghentikan motorku dengan cepat karena di depan ada seseorang yang tergeletak di tengah jalan. Berpikir sejenak apakah orang itu benar-benar membutuhkan bantuan atau ini hanya sandiwara untuk memangsa buruannya.
Lebih baik aku tidak mendekat padanya untuk berjaga-jaga. Saat hendak meninggalkannya, aku tidak bisa. Dan akhirnya aku mendekat ke arahnya, aku berusaha untuk membalikkan tubuhnya agar terlihat wajahnya.
Aku membalikkan tubuhnya perlahan, kulihat seorang pria paruh baya. Dia tak sadarkan diri, aku langsung menghubungi sebuah ambulance. Beberapa saat kemudian ambulance tiba dan membawa pria paruh baya itu ke rumah sakit.
__ADS_1
Salah satu perawat meminta nomor yang bisa menghubungi aku. Agar memudahkan mereka jika ada yang ingin ditanyakan tentang korban. Aku pun memberikan nomor ponselku.
Setelah itu aku pun melanjutkan perjalanan kembali ke rumah. Malam sudah semakin larut, aku memutuskan untuk kembali ke rumah saja.
Setibanya di rumah, aku pikir akan menemukan Eitaro. Namun, aku tidak melihatnya sama sekali. Sebenarnya dia pergi ke mana, mengapa di saat aku membutuhkan bantuannya dia selalu saja menghilang.
Di beberapa titik sudah ada penjaga yang menjaga rumah. Apakah sekarang paman Daichi mulai memperketat penjagaan rumah.
Aku melangkahkan kaki menuju kamar, badan dan hatiku terasa lelah. Tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Riyoichi.
Mengapa dia bisa bertindak seperti ini padaku, jika dia mencintaiku maka dia tidak akan melakukan semua ini.
Dia selalu saja menggunakan nama ayah untuk membuatku sangat menderita. Dan Riyu? Aku kembali tidak bisa percaya dengan ya setelah melihat paman Asamu berkunjung ke rumahnya malam-malam.
Mengapa pria yang mendekati aku dan mengetahui tentang ayah. Bersikap seperti itu, sebenarnya mereka teman atau musuhku.
Atau mungkin mereka hanya membohongi aku saja dan hanya memanfaatkan kelemahanku. Yaitu tentang keberadaan ayah.
Aku berniat untuk membersihkan diri, tetapi semua itu diurungkan. Karena aku mendengar suara mobil berhenti.
Berjalan perlahan mendekati jendela untuk melihat siapa yang baru saja tiba di tengah malam seperti ini. Apakah itu Eitaro atau paman Daichi yang sudah kembali ke rumah.
Itu Eitaro, dari mana saja dia? Mengapa dia sangat sulit di hubungi. Dan sekarang dia berusaha kembali ke rumah.
Aku bergegas berjalan menuju ke bawah untuk bertanya dia ke mana saja. Mengapa dia sangat sulit untuk dihubungi saat aku membutuhkannya.
Saat aku berjalan menelusuri anak tangga, aku melihat dia sudah berada di bawah hendak menaiki anak tangga.
“Dari mana saja kau? Mengapa kau sangat sulit dihubungi?!” tanyaku padanya.
Dia menatapku tetapi tidak menjawab apa yang aku tanyakan. Sikap diamnya seperti ini membuatku sangat kesal.
“Aku bertanya padamu, Eitaro!” bentakku.
Namun, dia masih saja diam dan tidak bicara. Dia melanjutkan langkahnya dan hanya melewatiku saja. Sekilas aku melihat luka lebah di wajahnya, apa yang sudah terjadi dengannya.
__ADS_1
“Apakah dia berkelahi dengan orang?!”