
Sebenarnya apa yang ingin disampaikan oleh Kimiko pada Riyu, aku penasaran dan ingin tahu apa yang hendak dia katakan. Dan aku memutuskan untuk pergi saja karena sudah tidak ada kepentingan dengan urusan mereka berdua.
Aku juga yakin jika Kimiko bisa menjaga dirinya serta Riyu tidak mungkin menyakiti Kimiko. Tanpa banyak berpikir lagi aku langsung masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan standar menuji rumah.
“Aku berharap jika mereka berdua bisa menyelesaikan semuanya,”
Ponselku berdering dan aku mengambil ponsel yang ada di samping tas tepat di samping. Melihat nomor yang tertera di layar adalah ibu dan aku langsung menghentikan mobil di depan sebuah taman.
“Halo,” ucapku pada ibu yang ada di seberang telepon.
Aku mendengar suara ibu yang begitu berbeda, terdengar napasnya yang terengah-engah. Dia mengatakan agar aku tidak banyak bicara dulu dan mendengarkan apa yang ingin di sampaikan olehnya.
“Ada apa denganmu, Bu?” Aku kembali bertanya pada ibu yang berhenti bicara tetapi masih terdengar deru napasnya.
Ibu kembali berbicara dan aku terus mendengarkan apa yang dikatakannya tetapi rasa khawatir dalam hatiku semakin membesar. Aku merasa jika sudah terjadi sesuatu padanya dan semua itu tidak bisa aku kendalikan.
“Bu, katakan di mana kau? Aku akan pergi ke sana lalu menjemput dirimu,” aku kembali bertanya pada ibu di mana keberadaan dirinya.
Namun, ibu masih tetap saja tidak mengatakan di mana posisinya saat ini. Terdengar juga suara tembakkan yang membuatku semakin tidak tenang dan aku bertanya pada ibu apa yang sudah terjadi.
“Ibu ... jangan tutup teleponnya aku mohon katakan di mana kau berada,” Aku terus bertanya padanya tetapi dia tidak menjawab pertanyaan yang aku layangkan padanya.
Kembali terdengar suara tembakkan dan sambungan telepon pun terputus. Aku terus berteriak memanggil ibu dan kembali menghubunginya tetapi nomor ponselnya tidak dapat dihubungi.
Tanpa banyak berpikir aku menyalakan mesin mobil dan memacunya dengan kecepatan tinggi menuju rumah. Aku yakin Eitaro tahu di mana keberadaan ibu saat ini dan aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya karena hanya ibu yang aku miliki setelah ibuku meninggal dan ayah Kenzo menghilang.
__ADS_1
Selama di dalam perjalanan menuju rumah aku terus merasa khawatir dan tidak tahu apa yang harus dilakukan . Ibu benar-benar membuatku semakin khawatir serta suara tembakkan itu.
Aku menghentikan mobil tepat di depan pintu dan ke luar dari mobil lalu bertanya pada pengawal yang ada di dekatku, “Di mana Eitaro?”
“Tuan Muda, ada di kamarnya,” jawab pengawal itu padaku dan aku langsung berlari menuju kamar Eitaro.
Tanpa memikirkan apa-apa lagi aku berlari menaiki anak tangga dan akhirnya tiba di depan kamar Eitaro. Aku tidak mengetuk pintu kamarnya dan langsung membukanya begitu saja.
“Kau tahu di mana ibu bukan? Cepat katakan di mana dia berada?” tanyaku langsung pada Eitaro.
“Bersiaplah dan ikut denganku,” jawab Eitaro yang menyuruhku untuk ikut dengannya.
“Ke mana kau mau membawaku?” Aku kembali bertanya padanya dengan nada selidik.
Eitaro menegaskan kembali padaku untuk ikut saja dan tidak banyak bicara. Aku juga melihat dia sudah bersiap dengan tas yang biasa dia gunakan untuk bepergian jauh.
Aku berbalik dan melihat seorang pelayan yang sudah membawa tas yang biasa aku bawa jika pergi dengan jarak jauh. Semuanya semakin membuatku merasa penasaran dan tidak ada yang bisa mengatakan apa yang sudah terjadi.
“Bawa semuanya ke dalam mobil,” perintah Eitaro pada pelayan wanita yang membawa tasku juga.
Eitaro berjalan terlebih dahulu meninggalkan kamarnya dan aku masih bingung dengan semua yang terjadi. Mengapa dia tidak mengatakan semuanya sejelas mungkin padaku.
Terdengar suara Eitaro yang memintaku untuk cepat, aku pun tersadar dari lamunan dan berjalan mendekat padanya. Kulihat dia sedang berdiri di depan pintu ke luar sepertinya sedang menungguku.
“Cepat sebelum terlambat,” Eitaro kembali berkata padaku dengan nada datar lalu dia berjalan dan masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Aku langsung berjalan dan masuk ke dalam mobil, duduk di sampingnya. Pintu mobil pun tertutup karena seorang pengawal menutup pintu mobilnya dan mobil berjalan meninggalkan rumah.
“Katakan padaku apa yang sudah terjadi pada ibu? Aku yakin kau tahu semuanya dan apa kau tahu tadi ibu menghubungi aku,” tanyaku pada Eitaro.
Kukatakan juga dengan suara tembakkan dan juga deru napas ibu yang sepertinya sedang di kejar-kejar oleh seseorang. Setalah kukatakan semuanya dia bergeming dan itu membuatku semakin kesal saja.
Aku menarik dasi yang masih melingkar di lehernya lalu wajah kami saling berhadapan. “Katakan padaku dan jangan diam saja.”
“Akan aku jelaskan jika kita sudah tiba di sana dan aku harap kau tidak terlalu banyak bicara,” Eitaro berkata padaku dengan nada datar.
Mendengar apa yang dikatakan olehnya dengan nada seperti itu akhirnya aku diam dan tidak banyak bicara lagi. Meski di dalam hatiku masih begitu banyak pertanyaan dan juga rasa khawatir terhadap ibu saat ini.
Tidak berapa lama mobil berhenti di bandara, aku tidak paham dengan semuanya tetapi mengingat perkataan Eitaro aku pun tidak bertanya lagi. Dan terus mengikuti ke mana pun dia pergi sehingga aku bisa mengetahui akan ke mana dirinya.
Ponselku berdering dan aku mengambilnya dari dalam tas, kulihat nama yang tertera di layar ponsel. Kimiko menghubungiku dan aku pun mengangkat teleponnya.
Dia bertanya di mana aku sebab saat ini Kimiko sudah ada di rumah dan dia tidak menemukanku. Dia juga mengatakan jika semua pelayan serta pengawal yang ada di rumahku tidak mengetahui kepergianku.
“Kita harus pergi kau matikan ponselmu itu,” perintah Eitaro dan aku pun mengatakan pada Kimiko akan menghubunginya lagi.
Setelah mengatakan itu aku pun memutuskan sambungan teleponnya lalu menonaktifkan ponselku. Terlihat sebuah jet pribadi yang sudah siap untuk pergi.
Eitaro pun langsung masuk ke dalam jet pribadi itu dan aku juga mengikutinya. Sebenarnya dia akan membawaku ke mana, apakah dia akan membawaku ke tempat ibu berada saat ini.
Aku berharap jika dia mengajakku ke tempat ibu dan aku bisa mengetahui apa yang sudah terjadi padanya. Seorang wanita mempersilakan aku untuk duduk dan aku pun duduk tepat di dekat Eitaro.
__ADS_1
Dia hanya diam dan tidak banyak bicara, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu dan tidak ingin ada yang mengganggunya. Sebenarnya aku ingin bicara dengannya mengenai keadaan ibu tetapi tidak mungkin jika melihat raut wajahnya yang seperti itu.