Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Membius


__ADS_3

Pada akhirnya aku menolak untuk mencuri chip itu dan aku sudah lama tidak mendengar kabar dari Riyoichi. Kalau dipikir-pikir mungkin sudah satu bulan lamanya.


Dan musuh-musuhku juga belum bergerak lagi, ketenangan ini merupakan fatamorgana saja. Aku yakin jika sebentar lagi akan terjadi sesuatu yang membuatku harus bertindak.


Ponselku berdering, melihat layar ponsel siapa yang menghubungi aku. Senyumku merekah, dia adalah Riyu. Selama satu bulan ini dia selalu bersikap baik dan selalu membuatku merasa terlindungi.


Entah mengapa aku menyukai sikapnya itu padaku, dia selalu ada untukku. Meski Riyu selalu berdebat dengan Eitaro jika bertemu. Namun, itu tidak masalah bagiku.


Riyu mengirimkan pesan singkat padaku, dia ingin bertemu denganku. Dan dia sudah memesan sebuah restoran untuk makan malam hari ini.


Aku pun membalas pesannya yang mengatakan setuju dengan ajakannya. Riyu membalas lagi dan mengatakan akan menjemput aku di rumah.


Kusimpan ponselku lalu mengerjakan semua pekerjaan yang belum terselesaikan. Dan semua ini harus selesai sebelum jam pulang. Sebab aku harus bersiap-siap untuk makan malam bersama Riyu.


“Ada apa denganmu? Kau terlihat senang,” tanya Kimiko yang terlihat baru saja masuk ke ruanganku sembari membawa beberapa dokumen di tangannya.


“Kau membawa dokumen lagi? Aku ingin cepat pulang dan bersiap untuk makan malam,” jawabku dengan sedikit menekuk bibir.


Kimiko terkekeh lalu menyodorkan dokumen padaku dan menyuruhku untuk cepat memeriksanya. Dia akan menunggu aku untuk menyelesaikan semuanya.


“Apa kau yakin dengan Riyu Ozora?” tanyanya padaku yang baru saja membuka lembaran dokumen untuk dibaca.


“Aku tidak tahu yang pasti aku merasa dia adalah pria yang baik dan aku akan mengorek informasi di mana keberadaan ayahku,” jawabku lalu kembali mengerjakan pekerjaanku.


Tidak terdengar lagi suara dari Kimiko tetapi aku tahu dia masih belum puas dengan jawaban yang aku berikan. Namun, aku pun tidak tahu mengapa hati ini ingin percaya padanya.


Meskipun Eitaro tidak menyukai Riyu dan mereka selalu berdebat jika bertemu. Semua dokumen sudah aku baca, ada beberapa yang harus diperbaiki dan ada pula yang sudah sesuai dengan apa yang aku harapkan.


“Perbaiki yang harus di perbaiki, aku akan pulang lebih awal untuk bersiap-siap.” Aku berkata pada Kimiko.


“Baiklah ... Selamat bersenang-senang,” jawabnya padaku sembari beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruanganku.

__ADS_1


Aku mengambil ponsel dan tas lalu berjalan keluar kantor. Berjalan menuju area parkir dan memasuki mobil lalu menjalankannya keluar dari area parkir.


Dalam perjalanan pulang, ponselku berdering kulihat nomor yang tidak kukenal. Kuabaikan telepon itu karena tidak membuatku merasa harus menjawabnya.


Selama dalam perjalanan pulang nomor itu terus saja menghubungi aku. Dan akhirnya aku menghentikan mobilku tepat di depan rumah. Mengangkat teleponnya, terdengar suara seorang pria aku sangat mengenalnya. Dia adalah Riyoichi.


Riyoichi mengajak aku bertemu ada yang ingin dijelaskan padaku. Namun, aku menolaknya karena sudah tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Dan juga dia tidak bisa membuatku percaya akan semua informasi mengenai keberadaan ayah saat ini.


Aku langsung menutup sambungan teleponnya, keluar dari mobil dan berjalan menuju rumah. Sepertinya Eitaro juga belum kembali dari perusahaan.


Lebih baik aku langsung bersiap-siap untuk makan malam dengan Riyu. Mungkin dia akan menjemputku tepat waktu sebab dia tipikal yang selalu tepat waktu bahkan tiba sebelum waktunya.


Sebelum membersihkan diri aku menyiapkan dress yang pas untuk malam ini. Sepertinya dress pendek berwarna putih ini cocok untuk malam ini. Sekarang saatnya membersihkan diri.


Selesai sudah rutinitasku membersihkan diri, aku pun langsung mengenakan dress yang tadi sudah aku pilih. Sekarang tinggal merapikan riasan wajahku saja.


Terdengar suara lantunan musik yang menandakan ada seseorang yang sedang di depan pintu rumahku. Apakah itu Riyu. Namun, ini belum saatnya di menjemput.


Dia benar-benar tiba sebelum saatnya penjemputan, untung saja aku sudah siap dengan semuanya. Aku berjalan menuju nakas untuk mengambil ponsel dan tas kecil yang akan kubawa malam ini.


Saat aku membuka pintu rumah, apa yang aku lihat tidak sesuai dengan apa yang aku kira. Aku berpikir yang datang adalah Riyu tetapi yang datang adalah Riyoichi.


Dia terlihat sangat berbeda sekali, wajahnya begitu lesu dan aku tidak tahu apa yang sudah terjadi padanya. Apakah dia sakit? Jika sakit mengatakan tidak ke rumah sakit malah mendatangi aku.


“Mau apa kau kemari?!” tanyaku dengan nada dingin.


“Aku merindukanmu,” jawabnya dengan senyum khasnya.


“Cih ... Rindu? Apa aku tidak salah dengar?” timpalku.


“Kau sangat cantik, apa kau akan pergi bersama Riyu?” Dia kembali bertanya padaku.

__ADS_1


Aku menjawab apa yang sebenarnya dan memang aku akan pergi makan malam dengan Riyu. Dia mengatakan padaku untuk tidak bertemu dengan Riyu dan harus ikut dengannya.


“Untuk apa aku ikut denganmu? Bukankah kau selama ini membohongi aku, 'kan?!” Aku balik bertanya padanya.


“Aku tidak bohong padamu dan kau harus ikut denganku, Sayang!” balasnya padaku dengan nada menggoda seperti biasanya.


Namun, aku tidak mau karena aku yakin dia memiliki niat buruk. Tangannya mulai bergerak ingin menyentuh wajahku tetapi aku menghindar.


Dia terlihat tersenyum tipis, aku tidak tahu apa yang ada dalam benaknya. Kuharap dia tidak akan membuat masalah kali ini denganku kalau iya, aku akan menghajarnya tanpa ampun.


“Pergi kau!” bentakku padanya.


“Aku pergi denganmu!” dia menjawabku lalu menarik tanganku dan tubuhku terjerembap dalam pelukannya.


Bug! Aku melayangkan pukulan pada perutnya untuk melepaskan diri dari pelukannya. Dia pun melepaskan tangannya yang mendekapku dengan erat tadi.


“Kau harus ikut denganku, Sayang!” katanya padaku dengan nada yang membuatku merasa jijik.


Dia memasukkan tangannya ke saku celana, apa yang akan dikeluarkan olehnya. Apakah senjata? Dia benar-benar pria yang busuk, mengapa aku sempat percaya padanya kemarin.


Aku harus waspada terhadapnya, kulihat di belakangnya ada dua orang pria yang berpakaian layaknya seorang preman. Apakah mereka berdua adalah temannya.


“Apa mereka temanmu?!” tanyaku padanya.


Dia membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang aku tunjuk. “Iya,” jawabnya singkat lalu tangannya kembali menarik tanganku.


Gerakan tangannya begitu cepat, sehingga ku tidak bisa menghindar. Sial mengapa aku bisa lengah menghadapi pria busuk seperti dia.


“Lepaskan aku!” pekikku.


Dia tidak menjawab tetapi aku bisa merasakan napasnya yang begitu panas. Dan itu membuatku merasa tidak nyaman. Dia benar-benar sangat berbeda dengan Riyoichi yang aku kenal kemarin.

__ADS_1


“Istirahatlah dengan tenang, Sayang!” bisiknya padaku.


Apa yang ingin dia lakukan, dia membekapku dengan sapu tangan yang baunya begitu menyengat. Apakah dia ingin membiusku.


__ADS_2