Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Tidak Perlu


__ADS_3

"Ada apa? Mengapa kau selalu saja membuat masalah?" tanyaku tanpa melihat ke wajah Eitaro.


Eitaro tidak menjawab apa yang aku tanyakan, kumendongak dan melihat wajahnya ada luka lebam dan dia langsung masuk begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata. Aku pun menutup pintu kamar lalu mengambil kotak obat yang ada di bawah nakas.


"Makannya jangan terlalu banyak main pukul," ujarku sembari duduk di samping dia yang sudah duduk di atas tempat tidur.


Kubuka kotak obat itu dan mulai mengobati luka yang ada di wajahnya, aku sangat kesal dengan apa yang dia lakukan tadi. Apakah dia tidak berpikir dengan tenang dan langsung berkelahi dengan Riyu begitu saja.


Tanpa henti aku terus mengatakan apa yang ada di dalam hatiku dan semua rasa kesal yang sudah aku pendam selama beberapa hari ini terhadapnya. Namun, dia sama sekali tidak menimpali apa yang aku katakan tadi.


"Berhentilah memarahiku ... aku lelah," Eitari berkata dan dia langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurku dengan santainya.


"Hai ... bangun dan pergi sana ke kamarmu," perintahku padanya tetapi dia masih tidak peduli dengan apa yang aku katakan.


"Aku lelah dan mau tidur," jawabnya sembari menyelimuti tubuhnya.


Aku menghela napas dan sudah tidak tahu lagi harus berkata apa padanya, ya sudahlah aku biarkan saja dia untuk tidur. Saat dia tidur aku lebih baik kembali menyelesaikan semua pekerjaanku yang belum selesai.


Jam yang ada di bawah kamarku berdenting yang menandakan sudah pukul dua malas malam, pundakku terasa pegal dan semua dokumen sudah selesai aku baca dan periksa. Rupanya ada seseorang yang benar-benar ingin menjatuhkan perusahaan ibu dan sepertinya di mulai dari kantor cabang ini.


"Apakah aku bisa dengan cepat menyelesaikan apa yang sudah terjadi di perusahaan ibu? Lantas bagaimana dengan pencarian ayahku yang sampai saat ini belum menemukan titik terang."


Terdengar suara Eitaro yang bergumam dan aku itu tidak terlalu jelas sehingga aku memutuskan untuk mendekat ke arahnya. Dia terlihat gelisah aku menjulurkan tangan lalu menyentuh keningnya dan terasa panas.


"Rupanya dia demam,"


Tanpa banyak berpikir lagi aku kembali mengambil kotak obat dan mengambil obat untuk meredakan demamnya, sebelum itu aku mengambil handuk kecil dan air yang kumasukkan ke dalam sebuah mangkuk besar yang ada di dalam kamar mandiku. Semua yang aku perlukan kusimpan di atas nakas di dekatnya agar memudahkan untuk kuambil.

__ADS_1


"Eitaro, bangunlah dan minum obatnya," Aku berkata dengan nada pelan dan memegang pundaknya.


"Aku tidak mau," gumamnya sembari kembali memasukkan kepalanya ke dalam selimut.


"Jangan seperti anak kecil ... cepat bangun dan minum obatnya jika tidak aku akan membawamu ke ruah sakit," Aku kembali berkata padanya dengan nada yang mengancam.


Aku langsung menarik selimutnya dan menyuruhnya meminum obat seperti yang biasa dilakukan oleh ibu padanya. Mungkin dengan cara itu dia mau melakukan apa yang aku perintahkan.


"Ada apa dengan ...,"


Sebelum dia melanjutkan kalimatnya aku langsung memasukkan obat pada mulutnya dan dia terlihat sangat kesal dengan apa yang aku lakuan padanya. Meski dia terlihat kesal tetapi dia tidak marah lalu dia mengambil gelas yang ada di tanganku, dia meminum air yang ada di dalam gelas itu hingga habis.


Setelah dia meminum obatnya dia pun kembali merebahkan tubuhnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut, saat dia sudah tidur aku pun menempelkan handuk kecil yang sudah aku masukkan ke dalam air serta memerasnya sedikit. Semuanya sudah aku lakukan dan aku pun kembali berjalan menuju sofa untuk merapikan dokumen yang masih berantakan di atas meja.


Dokumen sudah rapi dan rasa kantuk pun mulai merasuki, aku memutuskan untuk tidur di atas sofa. Kuambil selimut yang ada di dalam almari lalu kembali berjalan menuju sofa. Kurebahkan tubuhku di atas sofa dengan selimut yang sudah ada di atas tubuh dan mematikan lampu yang ada di dekatku.


Terdengar suara alarm yang biasa berbunyi di pagi hari, aku pun membuka kedua mata dan melihat di atas tubuh sudah ada selimut yang sangat tebal. Bukankah ini adalah selimut yang ada di atas tempat tidur yang semalam di pakai oleh Eitaro, mengapa sudah ada di tubuhku?


Aku langsung  duduk lalu melihat ke arah tempat tidur dan melihat jika Eitaro sudah tidak ada di sana. Apakah dia sudah bangun dan bagaimana keadaannya? Lebih baik aku memeriksanya saat ini.


Saat hendak berjalan menuju kamar Eitaro ponselku berdering, dengan cepat aku mengambil ponsel yang ada di atas nakas. Kulihat nomor yang tertera, di sana ada tulisan ibu.


"Halo Bu ...," Aku berkata setelah mengangkat teleponnya.


Ibu langsung berkata padaku dan aku mendengarkan apa yang ingin disampaikan ibu, tidak ada hal yang bisa membuatku menyela ibu yang sedang berbicara. Ibu meminta maaf karena tidak mengabariku pergi begitu saja dan meninggalkan beberapa masalah yang terjadi di kantor cabang.


Namun, ibu percaya padaku bisa mengurus semuanya dan juga ibu memintaku untuk menjaga Eitaro selama ibu dan ayah tidak ada. Setelah mengatakan apa yang ingin di sampaikan ibu pun langsung menutup sambungan teleponnya karena ada suara ayah yang memanggil.

__ADS_1


Entah mengapa aku merasa ada hal yang disembunyikan oleh ibu dan juga ibu tidak mengatakan akan pergi ke mana. Apa semua ini hanya perasaanku saja atau semua yang aku pikirkan terlalu berlebihan saja.


"Aku berharap ibu dan ayah akan baik-baik saja dan tidak dalam masalah,"


Setelah memutuskan sambungan telepon ibu, aku teringat dengan pesan ibu tentang Eitaro, aku pun langsung berjalan ke luar menuju kamar Eitaro untuk melihat bagaimana keadaannya.


"Eitaro, apa kau ada di dalam?" tanyaku padanya sembari mengetuk pintu kamarnya.


Aku sudah mengetuk beberapa kali dan bertanya padanya tetapi tidak terdengar suaranya yang memberikan izin untuk masuk. Tanganku memegang gagang pintu dan memutarnya berharap pintunya tidak terkunci.


Pintunya tidak terkunci dan aku pun langsung membuka pintu kamarnya lalu masuk ke dalam kamar, terlihat Eitaro yang terbaring di atas tempat tidur. Aku berjalan mendekat ke arahnya serta memeriksa keningnya.


"Kau masih demam ... kita ke rumah sakit saja ya?" tanyaku pada Eitaro yang sedang memejamkan kedua matanya.


"Tidak perlu," jawabnya lalu dia membuka kedua matanya.


Dia berkata jika sebentar lagi semuanya akan baik-baik saja dan dia memintaku untuk membuatkan bubur tetapi aku masih khawatir terhadapnya. Aku juga mengatakan padanya jika tadi ibu menghubungi serta mengatakan untuk menjaganya.


"Kita ke rumah sakit saja ya?" Aku kembali meminta Eitaro untuk ke rumah sakit karena aku tidak bisa membiarkannya begitu saja.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2