Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Kekalahan


__ADS_3

Apakah aku memang harus hancur di tangan pria seperti ini. Tubuhku tidak bertenaga sama sekali, otak dan pikiranku menginginkan lepas darinya. Namun, aku tidak memiliki energi untuk melawan.


Brakkk!


Terdengar suara pintu yang dihantam dengan sangat keras. Dan itu menghentikan setiap kegiatan yang dilakukan oleh Riyoichi.


Aku menoleh untuk melihat siapa yang sudah menghantam pintu itu. Terlihat samar, seseorang yang sedang berdiri tegap. Dia menggunakan pakaian serba hitam.


“Siapa kau?! Berani sekali mengacau di tempatku!” tukas Riyoichi dengan sangat geram.


Tanpa menjawab pertanyaan Riyoichi, orang itu langsung melangkah cepat mendekat. Aku tidak tahu siapa dia karena wajahnya tertutup topeng hitam.


Pria itu menarik Riyoichi dan langsung menyerangnya tanpa memberikan kesempatan pada Riyoichi untuk menyerang balik. Aku bisa melihat dengan jelas jika Riyoichi sangat kesal dengan yang menyerangnya itu.


Brugggg!


Riyoichi terjatuh setelah mendapatkan serangan yang bertubi-tubi. Aku berusaha untuk bangkit tetapi tidak bisa. Tenagaku belum pulih benar, yang bisa kulakukan hanya terlentang sembari menyaksikan perkelahian mereka.


Orang itu langsung berjalan mendekat padaku, dia menutupi tubuhku dengan kain yang ada di atas tempat tidur. Dia pun menggendongku perlahan lalu membawaku pergi dari ruangan ini.


“Berhenti! Kembalikan wanitaku!” perintah Riyoichi.


Aku menatap matanya dan dia pun menatap mataku lalu dia berbalik melihat Riyoichi yang sudah bangkit.


“Apa kau wanitanya?” tanya pria itu padaku.


“Bukan,” jawabku dengan lirih lalu kembali melihat ke arah Riyoichi.


Riyoichi sepertinya sudah bersiap untuk menyerang. Dia berlari ke arahku dengan kepalan tangan yang hendak memukul pria yang sedang menggendong aku.


Whussss! Dengan cepat pria itu memutar tubuhku, sehingga kedua kakiku melayang dan mengenai tubuh Riyoichi.


Dia pun kembali terjatuh akibat kakiku yang melayang berputar. Jika didengar dari suaranya dan postur tubuhnya dia adalah seorang pria.


Pria ini kembali menatapku, sorot matanya seperti seseorang yang aku kenal. Dia dengan cepat memalingkan wajahnya dan kembali menatap Riyoichi yang sudah tidak sanggup berdiri lagi.


“Siapa kau?” tanyaku padanya.


“Kau tidak perlu tahu,” jawabnya padaku sembari berjalan meninggalkan kamar yang membuatku sangat muak.


Dia menatap lurus ke depan, mengapa tidak terlihat sama sekali anak buah Riyoichi. Apakah mereka sudah dikalahkan atau sedang menunggu musuh yang sedang menyerang tadi.


“Semuanya sudah aman!” ucap wanita yang tadi membantuku.

__ADS_1


Pria ini mengangguk lalu melanjutkan langkah kakinya. Tunggu dulu ada hal yang harus aku lakukan yaitu menyelamatkan paman Daichi.


“Turunkan aku—ada seseorang yang harus aku selamatkan!” pintaku pada pria itu.


“Siapa?” Dia bertanya dengan singkat dan bernada dingin.


“Paman Dachi,” jawabku.


Pria itu menatap wanita itu, tanpa banyak bicara dia pergi. Apakah dia memerintah wanita itu untuk menyelamatkan paman Daichi.


Tidak begitu lama terlihat paman Daichi yang berjalan bersama wanita yang menyelamatkan aku tadi. Wanita itu memapah paman Dachi yang terlihat sangat lemah. Begitu banyak luka lebam di sekujur tubuhnya.


“Kita pergi!” perintah pria bertopeng itu.


Di setiap jalan yang aku lalui banyak anak buah Riyoichi yang tergeletak di atas tanah tak berdaya. Apakah mereka semua sudah mati atau masih hidup, itulah yang ada dalam benakku saat ini.


Mataku terasa sangat berat, pandanganku pun mulai kabur. Apakah efek obat yang diberikan oleh Riyoichi sudah sepenuhnya bereaksi. Aku sudah tidak sanggup lagi.


***


“Nona, bagaimana perasaan Anda?”


Aku membuka mataku secara perlahan setelah mendengar seseorang menanyakan keadaanku. Kulihat di sampingku ada paman Daichi, dia terlihat sangat senang. Wajahnya masih terlihat jelas lebam akibat pukulan.


“Di suatu tempat yang aman,” jawab paman dengan lembut padaku.


Aku memejamkan kedua mataku kembali seketika semua bayangan yang dilakukan oleh Riyoichi muncul. Dengan cepat aku membuka mataku kembali dan memandang langit-langit di atas kamar ini.


“Paman akan membawakan makanan untukmu, kau tunggu sebentar ya.” Paman Daichi berkata sembari beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan aku sendiri.


Melihat cahaya yang terpantul dari jendela, membuatku merasa ingin melihat di luar sana. Karena aku penasaran di mana aku berada sekarang.


Dengan perlahan aku bangun dari tempat tidur, duduk sejenak lalu berusaha untuk berdiri. Tenagaku sudah mulai pulih, apakah efek obat yang diberikan oleh Riyoichi sudah menghilang.


Aku melangkah perlahan menuju jendela, menyibakkan tirai yang menutupinya. Terlihat di luar sana ada sebuah taman yang cukup indah bagiku.


Suasana yang membuatku familier, taman ini seperti taman yang ada di rumah dulu sebelum ayah menghilang dan aku harus tinggal di rumah ibu Lili dan ayah Arara.


Terlihat seorang wanita yang sedang berlatih, jika dilihat saksama dia adalah wanita yang menyelamatkan aku kemarin. Apakah ini adalah rumahnya.


Tidak berapa lama paman Daichi masuk kedalam kamar, dia mengatakan jika ada seseorang yang ingin makan bersama denganku. Ini sudah siang jadi dia mengajakku untuk makan siang.


“Siapa dia?” tanyaku pada paman.

__ADS_1


“Nona, akan mengetahuinya nanti!” jawab paman sembari mempersilakan aku untuk mengikutinya.


Apakah dia adalah pria yang sudah menyelamatkan aku dari tangan Riyoichi. Jika benar, aku akan langsung mengatakan terima kasih. Berkat dia aku masih bisa menjaga kesucian yang selama ini aku jaga untuk calon suamiku kelak.


 Apa yang aku pikirkan ternyata salah karena yang menunggu aku bukan seorang pria melainkan wanita yang sudah menyelamatkan aku kemarin.


Paman mempersilakan aku duduk di kursi yang sudah di geserkannya. Setelah aku duduk paman pun duduk tepat di seberangku.


Jika diperhatikan paman dan wanita itu sepertinya mereka saling kenal. Apakah mereka berdua memang benar-benar sudah saling mengenal.


“Perkenalkan namaku Eriko,” ucapnya padaku.


Paman pun mengatakan jika Eriko adalah putri angkatnya. Aku mengerutkan kening karena masih belum dapat mencerna semua yang baru aku dengar.


Sebab paman Daichi tidak pernah mengatakan jika dirinya memiliki seorang putri angkat. Setahuku paman tidak menikah dan hidupnya hanya untuk melayani ayah seorang.


“Maafkan saya, Nona ... Maaf karena tidak mengatakan semuanya pada Anda.” Paman meminta maaf padaku.


“Sebenarnya aku marah padamu Paman. Namun, aku senang akhirnya Paman memiliki seorang putri yang selalu melindungi.” Aku menjawabnya sembari melihat wajah Eriko.


Aku masih penasaran dengan pria bertopeng yang telah menyelamatkan aku. Ingin rasanya bertanya langsung pada Eriko tetapi aku menghilangkan niatku itu.


“Dan maafkan aku tidak akan memanggilmu dengan sebutan Nona, seperti Ayah memanggilmu dari kecil hingga saat ini.” Ungkapnya padaku dengan penuh keberanian.


“Eriko!” Paman memanggil Eriko dengan sedikit nada penekanan.


“Tidak masalah bagiku, kau boleh memanggilku Yuki.” Aku mengatakan itu karena lebih enak jika di memanggilku tanpa embel-embel nona.


Paman masih terlihat marah pada Eriko tetapi aku mengatakan pada paman untuk tidak perlu marah. Karena aku suka dengan sifatnya yang tegas dan tahu apa yang ada di hatinya. Sifatnya tidak jauh dengan Kimiko.


Aku kembali teringat akan Kimiko, bagaimana dengannya. Apakah dia menyadari aku menghilang atau tidak. Mana mungkin dia tidak sadar jika aku menghilang begitu pula dengan Eitaro.


Ada suara ponsel yang berbunyi dan aku sangat hafal dengan suara musik yang berbunyi. Ini adalah suara ponselku.


Paman pun menyerahkan sebuah ponsel yang masih berdering. Aku langsung mengakarnya karena itu adalah nomor Kimiko.


“Hallo...,” ucapku.


Namun, suara yang terdengar bukan suara Kimiko melainkan suara yang tidak aku kenal. Dia mengatakan jika dirinya melihat seorang wanita di pukul dan jatuh tidak sadarkan diri. Dan wanita itu di bawa pergi oleh beberapa orang menggunakan sebuah mobil.


“Apa?!” pekikku.


Bagaimana ini? Siapa yang sudah berani menculik Kimiko?

__ADS_1


__ADS_2