Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Wanita Misterius


__ADS_3

Di mana aku? Mengapa kepalaku terasa sangat berat. Tanganku mengapa terikat, sebenarnya apa yang sudah terjadi padaku.


“Kau sudah bangun, Sayang?”


Aku mencari siapa yang sudah bertanya padaku, kulihat Riyoichi sedang duduk di sebuah kursi dengan santainya.


“Apa yang kau lakukan padaku?” tanyaku dengan lirih padanya.


“Sudah aku katakan bukan—bahwa kau harus ikut denganku!” jawabnya sembari beranjak dari duduknya lalu mendekat padaku.


“Kau sudah gila Riyoichi—cepat lepaskan aku!” tukasku.


Dia menyeringai lalu tangannya menyentuh bibirku. Aku menggerakkan kepalaku ke kanan dan kiri agar tangannya lepas dari bibirku.


“Kau begitu bodoh—seharusnya kau memilih bersamaku bukan dengan Riyu si pendosa itu!” katanya dengan penuh kebencian yang menyebut Riyu bajingan.


“Pendosa? Apa aku tidak salah dengar? Bukankah kau yang pendosa sebab sekarang kau menyekap aku!” timpalku.


Dia terkekeh-kekeh mendengar apa yang aku katakan. Riyoichi pun berkata andai saja aku tidak membantah atau menolaknya maka semua ini tidak akan terjadi.


“Kau menipuku bukan? Sebenarnya kau tidak tahu di mana ayah!” kataku padanya.


“Aku tahu di mana ayahmu tetapi kau sendiri yang memilih orang untuk berada di pihakmu! Apa kau tahu Sayang—ayahmu dalam bahaya sekarang ini. Namun, kau malah jatuh cinta pada seorang Riyu Ozora!” Riyoichi menjawab dengan santainya.


“Itu adalah hak aku untuk mencintai siapa pun termasuk Riyu!” kilahku.


“Iya. Dan kau salah mencintai orang tahu!!” timpalnya dengan nada marah lalu memukul tembok yang tepat berada di atas kepalaku.


Salah? Mengapa aku salah mencintai orang, Riyu adalah orang yang baik. Dia bersedia mengorbankan tubuhnya untuk menghalau peluru yang hendak menembus tubuhku.


“Tidak. Aku tidak salah, Riyu adalah orang yang baik. Dia menghalau peluru untukku dan itu hampir merenggut nyawanya dan juga dia pun akan mengatakan di mana ayahku berada,” ungkapku padanya.


Riyoichi kembali terkekeh, dia beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju jendela. Melihat keluar jendela, entah apa yang sedang dilihat olehnya.


“Kau belum mengenal Riyu Ozora, dia seperti penyakit yang akan menggerogotimu hingga kau kehilangan nyawamu.” Dia berkata dengan sangat jelas padaku meski dia berdiri di dekat jendela.

__ADS_1


Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan olehnya. Riyu tidak mungkin seperti itu, malahan Riyoichi yang terlihat seperti iblis yang ingin menghabisi nyawaku dan membuatku menderita.


Terdengar suara ketukan pintu, dia berjalan mendekat ke pintu lalu membukanya. Aku melihat seorang wanita yang berpakaian serba hitam, dia membisikkan sesuatu pada Riyoichi.


Setelah membisikkan sesuatu pada Riyoichi, wanita itu sekilas melihatku lalu pergi. Dia menutup kembali pintu kamar, berjalan mendekat padaku.


Terdengar suara ponsel yang berdering, aku tahu pasti ini adalah ponselku. Apakah mereka sudah tahu jika aku menghilang dan sekarang sedang mencari keberadaanku.


Riyoichi mengalihkan pandangannya menuju arah suara ponselku. Dia berjalan mendekati suara itu, dia mengambil tasku lalu mengambil ponsel yang ada di dalam tas.


Dia melihat layar ponselku, muncul senyum miring dari bibirnya. Jarinya menekan layar menggeser layar ponselku.


Tanpa izinku dia langsung saja mengangkat telepon yang berasal dari ponselku. Terlihat sangat jelas dia sangat senang, siapa yang menghubungi ponselku dan dia menjadi seperti itu.


Dia mendekat lalu menekan loud speaker, terdengar suara Riyu. Dia terus memanggil-manggil namaku.


“Riyu...,” Aku memanggil namanya.


Terdengar suaranya yang mengatakan jika aku harus tenang. Dia akan menjemputku dan tidak akan membiarkan Riyoichi lepas dengan mudah.


 Riyoichi membawa ponselku pergi dari ruangan ini, dia tidak banyak bicara lagi. Apakah dia hendak merencanakan sesuatu untuk melukai Riyu.


Tidak. Aku tidak akan membiarkan semua itu, dia tidak boleh menyakiti orang yang berada di dekatku saat ini. Hanya Riyu yang bisa membawaku pada ayah, sebelum itu dia harus tetap hidup.


Terdengar suara tembakkan yang berasal dari luar. Aku tidak tahu siapa yang datang, tidak begitu lama seorang wanita masuk kedalam. Dia dengan langkah cepatnya mendekat padaku.


“Jangan melawan—jika kau ingin selamat!” katanya padaku sembari melepaskan ikatan di tangan dan kakiku.


Baiklah aku tidak akan melawan dulu, aku ingin melihat apa yang sudah terjadi di luar sana. Apakah Riyu sudah menemukan tempat ini.


“Apa kau berharap Riyu Ozora yang menyelamatkan dirimu?!” tanya wanita itu dengan nada dingin.


Aku merasa jika wanita ini mengenal Riyu, sehingga dia berkata seperti itu. Namun, aku yakin jika Riyu akan menyelamatkan diriku dari tangan Riyoichi.


“Mengapa kau melepaskan aku? Apa kau tidak takut jika Riyoichi menghabisimu jika tahu hal ini,” Aku kembali bertanya padanya.

__ADS_1


“Aku bukan anak buah Riyoichi atau pun Riyu Ozora!” jawabnya dengan enteng.


Jika dia bukan anak buah Riyu atau Riyoichi lalu dia siapa? Mengapa tadi aku melihat dia berbisik pada Riyoichi.


“Lalu siapa kau?” Aku sungguh penasaran dengan wanita ini.


“Kau tidak perlu tahu!” Dia menjawab tanpa ada keraguan.


Dia benar-benar tertutup, sebenarnya siapa yang sudah menyuruh dia untuk menyelamatkan aku. Ayah, tidak mungkin ... Apakah Eitaro atau Kimiko. Jika melihat sikap mereka, aku yakin mereka berdua tidak akan mengirim seseorang untuk menyelamatkan aku.


Mereka sendiri pasti akan bergerak untuk menyelamatkan diriku. Apakah mereka tidak tahu jika Riyoichi menyekapku. Kuharap mereka berdua baik-baik saja.


“Jangan banyak berpikir tentang siapa aku! Sekarang yang harus kau pikirkan bagaimana pergi dari keributan ini!” ungkapnya padaku.


Sepertinya dia tahu apa yang sedang aku pikirkan. Namun, apa yang dikatakan olehnya benar, untuk saat ini yang harus aku pikirkan adalah pergi dari tempat ini.


“Kau tunggu di sini! Ada yang harus aku ambil!” kata wanita itu lalu dia pergi meninggalkan aku.


Ada sebuah jendela kecil, aku mendekat lalu melihat ke luar dari balik jendela kecil itu. Terlihat banyak penjahat yang sedang adu tembak tetapi aku tidak tahu siapa yang menyerang Riyoichi.


“Ayo!” wanita itu berkata padaku.


Aku melihat wanita itu tidak membawa apa-apa selain senjata api yang ada di tangannya. Dia pun menyerahkan senjata api padaku.


“Pegang ini—aku yakin kau bisa menggunakannya!” ucapnya tanpa memandang wajahku.


Sepertinya dia mengenalku, kalau tidak mengapa dia bisa tahu jika aku bisa menggunakan senjata api. Aku harus berhati-hati, masih banyak anak buah Riyoichi di sekeliling. Apakah aku bisa keluar dengan selamat dari sini? Musuh yang harus aku hadapi begitu banyak.


“Dengar kita harus berpencar—aku akan menunggumu di gerbang belakang!” ungkapnya padaku.


Wanita itu pun berkata jika dia akan membersihkan musuh di jalur menuju pintu belakang. Mungkin dia tidak ingin aku mengacau itu sebabnya dia bekerja sendiri. Atau ini adalah misi yang harus dijalankan olehnya.


Aku melewati sebuah ruangan, dari balik pintu aku mendengar suara seseorang yang meminta tolong. Aku ragu-ragu apakah harus menolong orang itu atau tidak.


Suaranya begitu pilu, akhirnya aku membuka perlahan pintu itu. Secara pelan-pelan pintu terbuka, mataku terbelalak saat melihat apa yang ada di dalam ruangan itu.

__ADS_1


“Mengapa Paman ada di sini?”


__ADS_2