Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Memgancam


__ADS_3

Sudah satu minggu berjalan setelah peristiwa penyerangan itu. Riyu pun sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit.


Riyoichi kembali menghubungi aku, dia menanyakan apakah rencana untuk pencurian chip akan dijalankan lebih cepat atau tidak. Sebab semua rencana yang semula akan dilakukan dalam waktu dekat batal.


Dia ingin kembali bertemu denganku untuk membicarakan masalah pencurian itu. Aku sudah menolaknya tetapi dia memaksa ingin bertemu denganku.


Dan pada akhirnya aku setuju untuk bertemu dengannya. Namun, hatiku mengatakan jika mencuri dari Riyu itu bukanlah hal yang baik. Entah mengapa timbul perasaan itu.


Apakah karena Riyu telah menyelamatkan diriku dari tembakkan musuh. Sehingga aku merasa berhutang budi padanya, sekarang aku mulai merasa bimbang.


Riyoichi mengirimkan alamat padaku, alamat itu adalah sebuah cafe. Sekarang harus mencari alasan untuk keluar dari rumah. Sebab Eitaro selalu mengawasi aku semenjak peristiwa penyerangan itu.


Aku pun sangat sulit untuk menemui Riyu, untung saja dia memaklumi tingkah posesif Eitaro yang menurutku sudah berlebihan. Apakah aku meminta ibu saja untuk menghilangkan sifat posesif Eitaro.


Argggg ... Apa yang aku pikirkan, mana mungkin ibu akan menuruti aku untuk mengubah sikap putranya itu. Yang ada nantinya Eitaro akan mengatakan pada ibu tentang penyerangan itu.


“Aku akan ke kantor sebentar—aku harap kau tidak keluar rumah dulu!” katanya padaku dengan penekanan.


Aku menatap Kimiko seraya ingin dia membantuku. Namun, dia malah menyetujui apa yang dikatakan oleh Eitaro. Sejak kapan dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Eitaro, bukankah mereka berdua selalu berdebat.


“Aku akan mengurus pekerjaanmu, lebih baik kau istirahat di rumah dulu!” Kimiko berkata persis dengan apa yang dikatakan oleh Eitaro.


Itu membuatku sangat kesal, mengapa mereka berdua bisa klop dalam hal ini. Sungguh menyebalkan jika mereka berdua sudah satu pemahaman.


Mereka sudah pergi ke perusahaan, sepertinya aku bisa pergi untuk bertemu dengan Riyoichi. Aku ingin lihat apa yang akan dilakukan olehnya jika aku membatalkan misi untuk mencuri dari Riyu.


Untung saja Eitaro tidak memerintahkan beberapa anak buahnya untuk berjaga di rumah. Sebenarnya dia sama seperti ayah yang bisa memerintahkan banyak anak buahnya demi melindungi orang terdekatnya.


Aku langsung menuju cafe di mana Riyoichi menunggu, saat dalam perjalanan dia menghubungiku terus apakah aku akan datang atau tidak.


Pria itu sungguh tidak memiliki kesabaran sama sekali. Bukankah aku sudah mengatakan padanya akan menemuinya untuk membicarakan semuanya.


Mobil aku hentikan tepat di sebuah cafe di mana aku dan Riyoichi bertemu. Aku melangkahkan kaki masuk ke cafe tersebut lalu mencari di mana posisi dia berada.


Ada seorang pria yang menggunakan sebuah topi berwarna hitam, dia melambaikan tangannya padaku. Aku melihatnya dengan saksama terlebih dahulu, dia membuka topinya. Rupanya dia adalah Riyoichi.


Aku berjalan mendekat ke arahnya lalu duduk tepat di hadapannya. Sebelum aku berkata, dia sudah mulai membuka pembicaraan.

__ADS_1


“Bagaimana keadaanmu?” tangannya padaku.


“Baik,” jawabku singkat.


Dia terdiam dan menatapku dengan lekat, entah apa yang dicarinya dariku. Tidak ada sedikit senyum yang keluar dari ujung bibirnya. Dia tidak seperti biasanya jika bertemu denganku.


“Kapan kau akan memulai misimu?” tanyanya padaku dengan serius.


“Aku membatalkan misiku,” jawabku padanya.


Dia terlihat tidak suka dengan apa yang aku ucapkan. Aku tahu jika membatalkan misi ini itu artinya dia tidak akan memberikan informasi tentang ayah.


“Apa kau yakin? Bagaimana dengan ayahmu?” Riyoichi kembali bertanya denganku dengan tatapan yang begitu tajam.


“Jika kau mau menyatakan tentang ayahku maka katakan saja! Tidak perlu dengan menyuruhku untuk mencuri!” timpalku.


Benar. Jika dia ingin membantuku bertemu dengan ayah, sudah tentu dia akan mengatakannya padaku tanpa menyuruh aku untuk mencuri sesuatu dari Riyu.


“Apa karena dia menghadang peluru—sehingga kau membatalkan semua ini?!” Riyoichi kembali bertanya padaku.


“Jika kau ingin bertemu dengan ayahmu, maka ambillah apa yang aku inginkan. Jika tidak—jangan harap kau bisa bertemu dengan ayahmu hingga maut menjemput!” Riyoichi berkata sembari berjalan meninggalkan aku.


Apa? Mengapa dia mengatakan semua itu padaku, maut? Maksudnya apakah ayahku sedang dalam keadaan kritis. Tidak. Tidak mungkin, dia pasti hanya menggertak saja.


“Tunggu!” perintahku pada dia.


Terlihat dia menghentikan langkahnya lalu aku pun beranjak dari duduk. Berjalan mendekat padanya dan mengatakan jika gertakan yang dilakukannya tidak akan berhasil padaku.


“Kita lihat saja nanti dan kau jangan menyesalinya!” timpalnya padaku dengan nada dingin lalu berjalan dengan santainya keluar dari cafe.


Apakah ini sifat Riyoichi yang sesungguhnya, mengapa dia mulai mengancamku dengan keselamatan ayah. Aku pikir dia adalah pria yang baik yang akan mempertemukan aku dengan ayah.


Namun, aku salah, dia adalah pria yang busuk yang hanya menginginkan sesuatu dengan mengancam orang. Kita lihat saja, setelah aku tahu di mana ayah dari Riyu. Aku akan membalasnya.


 Iya. Riyu, lebih baik aku menemuinya untuk bertanya tentang keberadaan ayah sekarang. Aku yakin dia akan mengatakan keberadaan ayah, tanpa syarat apa pun.


Aku mengambil ponsel dari dalam tas, lalu menekan nama Riyu. Nada sambung terdengar beberapa kali tetapi dia tidak mengangkatnya. Mungkin dia sedang sibuk.

__ADS_1


Saat aku hendak mematikan ponsel, dia mengangkatnya. Namun, terdengar suara seorang wanita yang tidak begitu mengenakkan bagiku.


Siapa wanita ini mengapa dia bisa mengangkat ponsel Riyu dengan mudahnya. Terdengar suara yang begitu penuh dengan hasrat, apakah Riyu sedang bermain dengan wanita itu.


Sungguh menjijikkan, aku langsung menutup sambungan teleponnya. Mungkin wanita itu adalah kekasihnya, ya sudahlah—aku akan kembali saja ke rumah sebelum Eitaro dan Kimiko tahu aku tidak ada di rumah.


Aku baru saja tiba di rumah, tubuhku terasa lemas padahal aku sudah membaik dari semua luka yang kuterima saat peristiwa itu. Kuhempaskan tubuhku ke atas setempat tidur, mencoba untuk memejamkan mata.


Ponselku berdering dan aku membuka kedua mata untuk melihat siapa yang menghubungi aku. Saat melihat layar ponsel tertera nama Riyu. Apakah dia sudah selesai dengan wanitanya lalu menghubungi aku.


“Hallo,” kataku setelah menangkap teleponnya.


Dia bertanya padaku apakah tadi menghubunginya, aku katakan saja iya. Dan juga mengatakan jika tidak ingin mengganggu pekerjaan yang dengan wanitanya.


Riyu terkekeh, dia mengatakan padaku untuk segera membuka pintu rumah. Karena saat ini dia sedang ada di depan pintu rumahku.


Aku langsung terperanjat karena dia sudah ada di depan pintu rumahku. Dengan cepat aku berjalan menuju pintu untuk membukakan pintu rumah.


Benar saja, dia sudah ada di depan pintu rumahku. Senyumnya yang lembut muncul di ujung bibirnya. Aku langsung mempersilakan dia untuk masuk kedalam rumah.


“Mau minum apa?” tanyaku padanya.


“Apa saja yang kau buat aku akan meminumnya,” jawabnya.


“Jika kuberi racun apa kau akan meminumnya juga?” celotehku.


“Iya,” timpalnya.


Tidak masuk akal, yang ada nantinya semua anak buahnya akan mengejarku dan menghabisiku dengan sangat menderita.


Aku pun berjalan menuju pantry dan mengambil minuman yang ada di dalam lemari pendingin. Ada dua botol minuman yang biasa aku minum jika bersama Kimiko atau Eitaro, sepertinya aku harus mengurus Kimiko untuk belanja lagi.


“Aku pikir kau akan membuatkan aku teh,” kata Riyu dengan nada menggoda.


“Bukankah terserah aku? Tadi kau mengatakan itu, 'kan?” kilahku.


Dia tersenyum kembali, terlihat jelas jika dia sedang berusaha menggodaku. Sekarang apa tujuannya datang ke rumahku?

__ADS_1


__ADS_2