Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Tidak Bisa Melawan


__ADS_3

Aku sungguh kesal dibuatnya, dia sama sekali tidak berkata apa-apa. Dan juga luka lebam di wajahnya membuatku merasa khawatir.


Dengan cepat aku melangkah mengejarnya, dia membuka pintu kamar. Saat hendak menutupnya, aku menghalaunya dan ikut masuk kedalam kamarnya.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Eitaro dengan datarnya.


Benar-benar aku dibuat bingung olehnya, apakah suasana hatinya sedang buruk. Mengapa aku merasa dia itu terkadang bersikap posesif dan terkadang bersikap sedingin es padaku.


“Dari mana kau? Apa kau tahu Kimiko—,”


“Aku tahu!” Dia menjawab sebelum aku melanjutkan perkataanku.


Dia tahu, tetapi tidak ada rasa khawatir di wajahnya. Bukankah dia memiliki perasaan terhadap Kimiko, mengapa seperti ini?


“Jika tidak ada lagi hal penting, keluarlah.”


Eitaro mengatakan itu sembari membuka pintu kamarnya. Itu artinya dia mengusirku secara tidak langsung. Namun, aku tidak mau keluar sebelum dia mengatakan mengapa dia sangat sulit dihubungi.


Dia memegang tanganku lalu menarikku keluar dan menghempaskan aku begitu saja. Terlihat sorot matanya yang kesal padaku.


“Kau sangat bodoh, Yuki Arsalan!” ucapnya sembari menutup pintu kamarnya.


 Tidak terima karena dikatakan bodoh, aku mengetuk pintu kamarnya dengan sangat keras. Memanggil Eitaro untuk membuka pintunya tetapi dia mengabaikan aku.


“Pergi! Tidurlah—aku sangat lelah!” pekiknya.


Aku menghela napas panjang lalu berjalan menuju kamar yang tidak jauh jaraknya dengan kamar Eitaro. Kubuka pintu kamar perlahan dan memasuki kamar.


Melanjutkan rencanaku yang tadi, membersihkan tubuh yang sudah lengket oleh keringat. Selesai dengan rutinitas membersihkan diri, aku memutuskan untuk beristirahat.


Kurebahkan tubuh di atas tempat tidur, menatap ke langit-langit kamar. Memikirkan apa yang baru saja terjadi itu membuatku semakin lelah. Aku memadamkan lampu kamar, sehingga cahaya kamarku redup karena yang menyala hanya lampu kecil yang ada di atas nakas.


***


Terdengar suara keributan dan itu membuatku terbangun. Kulihat dari cahaya matahari mulai menerjang kain lembut yang menutupi jendela kamarku.


Aku melihat jam dinding yang menempel di dinding, rupanya sudah siang. Suara ribut itu semakin jelas aku dengar. Sepertinya aku mengenal suara itu.


Dengan cepat aku beranjak dari tempat tidur, menuju arah suara keributan itu. Saat berjalan melewati kamar Eitaro, aku mendengar seseorang sedang memarahinya.

__ADS_1


Kubuka pintu kamar Eitaro perlahan, terlihat jelas jika ayah Arata sedang memarahinya. Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi, mengapa ayah bisa geram seperti itu.


“Kau sudah bangun, Sayang?” pertanyaan lembut itu yang sangat aku rindukan.


“Ibu ...,” Aku langsung memeluknya dengan erat.


Aku tidak mengira jika ayah dan ibu akan datang ke Kyoto. Karena aku tahu jika mereka berdua sangat sibuk dan juga harus selalu berhati-hati dalam bertindak.


Mungkin karena bisnis ayah yang selalu membuat ibu selalu berhati-hati. Semua musuhnya menginginkan kehancuran bagi ayah.


“Bagaimana keadaanmu?” Ayah bertanya padaku setelah aku melepaskan pelukan dari ibu.


“Aku baik, Ayah.”


Ayah berjalan mendekat ke arahku lalu memeluk dan mengatakan maaf. Aku bingung mengapa ayah mengatakan maaf? Setahuku ayah tidak melakukan kesalahan.


“Untuk apa Ayah meminta maaf?” tanyaku dengan penasaran.


“Atas semua yang sudah terjadi dan ayah tidak bisa melindungimu,” ungkapnya.


Apakah ayah sudah tahu semua yang terjadi padaku, apakah Eitaro yang mengatakan semuanya pada ayah dan ibu.


“Kita kembali ke Tokyo!” Ayah berkata seraya memerintahkan aku dan tidak boleh ada yang membantahnya kali ini.


“Tapi ...,”


“Tidak ada tapi-tapi! Kalian bertiga kembali ke Tokyo bersama kami!” perintah ayah.


Aku menatap ibu seraya ingin meminta bantuannya karena aku tidak ingin kembali ke Tokyo dalam waktu dekat ini. Namun, ibu menggelengkan kepalanya yang mengartikan bahwa aku tidak bisa membantah ayah kali ini.


“Ikuti apa yang Ayah kalian inginkan,” Ibu berkata dengan lembut padaku.


Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah ayah dan ibu. Yang artinya aku akan kembali ke Tokyo bersama Eitaro serta Kimiko.


“Rapikan semua barang yang akan kalian bawa, Ayah dan Ibu akan menunggu kalian di bawah!” Ayah kembali berkata padaku serta Eitaro.


Ayah dan ibu melangkah pergi keluar kamar, mungkin mereka akan menunggu di ruang tamu. Aku menatap Eitaro, dia masih saja terdiam dan rasa penasaranku semakin tinggi dengan luka lebam di wajahnya.


“Apa kau yang mengatakan semuanya pada ayah dan ibu?” tanyaku padanya.

__ADS_1


“Tidak!” jawabnya singkat lalu dia mengatakan padaku untuk segera pergi dari kamarnya.


“Ada apa denganmu, Eitaro?!” bentakku padanya.


“Sudah aku katakan tidak ada! Pergilah bereskan barangnya!” balasnya padaku dengan nada dingin.


Aku sungguh kesal dengan dia, tanpa mengatakan apa-apa lagi langsung berjalan keluar dari kamarnya. Sudah tidak ada niat untuk berdebat dengannya.


Dengan rasa kesal di dalam hati, aku berjalan ke kamar. Mengambil travel bag dan merapikan pakaian yang akan dibawa ke Tokyo.


Semua barang sudah aku rapikan, terdengar suara ketukan pintu. Aku membukanya, terlihat seorang Eriko yang sudah berdiri di depan pintu.


“Tuan Arata, menyuruhmu untuk segera ke bawah untuk sarapan,” katanya datar.


Aku mengangguk lalu berjalan ke ruang tamu untuk menemui ayah. Sedangkan Eriko mengikuti dari belakang. Kulihat Eitaro pun berjalan ke arah ayah berada.


Dia terlihat tidak peduli dengan aku, seharunya yang marah adalah aku. Namun, mengapa dia yang marah terhadapku. Aku tidak merasa berbuat salah padanya, apakah dia menyalahkan aku karena membuat Kimiko dalam bahaya.


Paman Daichi sedang bicara dengan ayah, apa yang dibicarakan oleh mereka. Dan ibu pun ikut bicara, aku benar-benar penasaran apa yang sedang dibicarakan.


“Duduklah, Sayang!” perintah ibu padaku sembari menepuk kursi di tepat di sebelahnya.


Aku berjalan mendekat lalu duduk tepat di samping ibu. Aku menatap kedua mata ibu seraya bertanya apa yang terjadi. Ibu hanya tersenyum melihatku,


“Untuk masalah perusahaan Ayah sudah meminta Daichi untuk mengurusnya dan akan di bantu dengan Eriko.” Ayah mengungkapkan apa yang tadi dibicarakan.


Rupanya ayah sudah menetapkan semua ini, kulihat juga paman Daichi tidak bisa menolak perintah ayah. Aku berpikir paman tidak akan menuruti perintah ayah Arata sebab yang akan di turutinya adalah ayah Kenzo.


Namun, dilihat seperti ini membuatku berpikir jika paman Daichi sudah sangat percaya dengan ayah Arata.


“Baiklah kita pergi sekarang!” Ayah Arata berkata sembari beranjak dari duduknya.


“Bagaimana dengan Kimiko?!” tanyaku pada ayah.


“Tidak perlu khawatir tentangnya, dia sudah di bawa oleh Maru dan Sarada.” Ibu berkata sembari mengelus-elus kepalaku lalu berdiri.


Aku pun mengikuti langkah ayah dan ibu dari belakang begitu juga dengan Eitaro. Dan akhirnya aku kembali Tokyo.


 

__ADS_1


__ADS_2