
Sudah diputuskan jika aku akan menerima keinginan Riyoichi untuk mengambil sebuah chip dari tangan Riyu. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan ini tepat atau tidak sebab aku sama sekali tidak tahu di antara mereka berdua mana yang kawan atau lawan.
“Kapan kita akan bertemu dengan Riyoichi?” Kimiko bertanya padaku sembari duduk di atas sofa.
“Kita tunggu saja dia yang menghubungi,” jawabku sebab aku tidak bisa menghubungi nomor yang digunakannya kemarin.
“Kapan kau kembali?!” Eitaro bertanya pada Kimiko.
Dia sedikit terkejut itu bisa terlihat dari ekspresinya, semalam dia tidak kembali ke rumah karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan olehnya. Sehingga dia tidak mengetahui kepulangan Kimiko ke rumah.
Aku semakin tidak mengerti dengan Eitaro, sebenarnya dia itu menyukai Kimiko atau tidak. Terkadang terlihat mencemaskan Kimiko tetapi terkadang suka kesal jika ada Kimiko.
“Kemarin dia tiba di Kyoto,” Aku berkata seperti itu karena Kimiko hanya diam dan tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh Eitaro.
“Aku tidak bertanya padamu! Biar dia yang menjawabnya!” tukas Eitaro.
Ada apa dengannya? Mengapa dia bersikap seperti itu padaku. Bukannya sejak beberapa hari yang lalu dia bersikap sangat baik padaku. Dan sekarang dia kembali seenaknya seperti ini.
“Keluar kalian berdua—selesaikan masalah kalian di luar kamarku!” perintahku dengan nada tinggi sebab aku kesal dengan sikap Eitaro.
Mereka membuatku pusing saja, sebenarnya bagaimana sih hubungan mereka berdua itu. Apakah mereka saling suka atau tidak dan mengapa Eitaro selalu menggodaku jika tidak ada Kimiko.
Terdengar suara lantunan musik dari ponsel yang tergeletak dibatas nakas, aku langsung berjalan menuju nakas dan mengambilnya. Melihat di layar ponsel siapa yang menghubungi. Nomor yang tidak aku kenal, apa yang menghubungiku adalah dia.
“Hallo,” ucapku.
Suara yang aku kenal, dia adalah Riyoichi. Aku mendengar apa yang dikatakan olehnya. Dia bertanya apakah aku bersedia untuk membantunya untuk mengambil chip yang berada di tangan Riyu.
Aku mengatakan padanya bersedia untuk mengambil chip di tangan Riyu tetapi aku meminta informasi yang aku inginkan tentang keberadaan ayah. Dia setuju dengan apa yang aku inginkan.
Riyoichi mengatakan jika besok sore ingin bertemu denganku untuk merencanakan semua misi pencurian chip. Aku menyetujuinya dan dia memintaku untuk menemuinya di sebuah apartemen.
__ADS_1
Dia mengatakan jika besok siang akan memberikan alamat apartemen yang menjadi tempat pertemuan kami. Aku tidak mengatakan jika Kimiko akan ikut bersama. Karena hanya Kimiko yang akan dijadikan partner selain Riyoichi.
Setelah mengatakan itu semuanya dia memutuskan sambungan teleponnya dan aku menyimpan kembali ponsel di atas nakas. Kuhempaskan tubuh ke atas tempat tidur dengan memandangi langit-langit kamar.
Aku berpikir apakah dia benar-benar akan memberikan semua informasi tentang keberadaan ayah. Namun, ada sesuatu yang tidak bisa kupercaya darinya dan entah apa itu.
Prang!
Apa itu? Mengapa di luar berisik sekali, apakah Kimiko dan Eitaro bertengkar. Dengan cepat aku bangun lalu berjalan keluar dari kamar untuk melihat apa yang sudah terjadi.
Suara kegaduhan yang tadi kudengar sudah tidak terdengar lagi, aku menyapu seluruh ruangan dengan kedua mata untuk mencari keberadaan mereka berdua. Namun, aku tidak menemukan mereka, sebenarnya di mana mereka?
“Hentikan semua ini, Eitaro!”
Terdengar teriakan Kimiko yang menyuruh Eitaro untuk berhenti, aku dengan cepat mencari di mana suaranya. Mereka ada samping rumah, aku berjalan dengan cepat menuju mereka berdua.
“Apa yang sedang kalian sebagian, hah?!” tanyaku dengan nada menyelidiki.
“Tidak ada! Dan kau ingat ini Kimiko—sampai kapan pun aku tidak akan menyerah!” jawab Eitaro lalu berjalan meninggalkan aku dan Kimiko yang terlihat masih sangat kesal.
“Ada apa dengan kalian? Apa yang kalian debatkan?!” tanyaku sembari melihat ke arahnya.
“Aku tidak tahu apakah ini bisa diceritakan atau tidak—lebih baik kita fokus untuk misi mendapatkan chip itu. Apa sudah ada kabar dari Riyoichi?” ucapnya yang mengalihkan pembicaraan.
Aku katakan saja padanya jika tadi Riyoichi menghubungi aku dan meminta bertemu besok sore di sebuah apartemen. Dan aku pun mengajaknya untuk ikut bersama untuk menemui Riyoichi.
Kimiko mengangguk lalu dia beranjak dari duduknya dan pamit padaku untuk berisi lebih dahulu. Dia mengatakan sudah merasa sangat lelah dengan semua kejadian hari ini.
Dia masih saja menyembunyikan sesuatu tentang hubungannya dengan Eitaro. Aku akan memberikan kesempatan baik dia atau Eitaro untuk mengatakan semuanya padaku.
Kuharap mereka berdua bisa jujur padaku tentang permasalahan yang sedang terjadi. Aku tidak ingin jika mereka berdua selalu saja berdebat atau perang dingin.
__ADS_1
Angin malam ini tidak terlalu dingin, aku beranjak dari duduk lalu melangkahkan kaki menelusuri taman di samping rumah. Bulan yang sangat indah, meski tidak ada bintang yang menemani.
Jika melihat bulan seperti ini aku kembali teringat akan kenangan bersama ayah Kenzo. Ayah selalu mengajakku untuk berkeliling taman yang sangat luas di belakang rumah sembari menikmati cahaya bulan.
“Aku rindu padamu ayah,” gumamku dan tak terasa air mata menetes di kedua pipiku.
Tidak akan pernah aku lupakan setiap perlakuan ayah yang memperlihatkan tanda kasih sayangnya padaku. Ingin rasanya aku kembali ke masa lalu untuk menikmati semua kehangatan darimu ayah.
“Kau merindukan ayahmu?” tanya seseorang dari belakang lalu ada sepasang tangan yang melingkar di tubuhku.
Suara itu aku kenal, dia adalah Eitaro. Aku menghapus air mata yang membasahi kedua pipi lalu melepaskan kedua tangannya dari tubuhku. Namun, dia tidak mau melepaskannya.
“Menangislah jika itu bisa membuatmu lega, aku akan selalu ada di sini untuk menemanimu.” Dia berkata dengan lembut.
“Lepaskan aku! Siapa yang mau menangis?!” kataku sembari berusaha melepaskan kedua tangannya.
“Aku tidak percaya padamu, Yuki! Karena kau selalu berbohong!” timpalnya.
Aku sudah tidak bisa melakukan apa-apa jika dia sudah berkata seperti itu sebab aku tidak bisa menahan rasa sedih atas kerinduanku pada ayah. Tidak ada yang bisa mengerti aku selain Eitaro.
Dia selalu ada jika aku sedang merasa sedih seperti ini, aku ingat sewaktu dulu. Eitaro menemukan aku yang sedang bersembunyi di taman pada malam hari. Malam itu aku menangis karena merasa rindu terhadap ayah Kenzo dan aku tidak ingin ibu Lili atau ayah Arata melihat kesedihanku.
Dari saat itulah dia selalu bisa menemukan aku di saat sedang menangis karena merindu pada ayah Kenzo. Dia sudah seperti adikku sendiri tetapi Eitaro sudah berubah dan aku tidak tahu mengapa dia berubah.
“Apa yang kau permasalahkan dengan Kimiko?” tanyaku setelah mereda rada sedih.
“Tidak ada masalah apa pun! Lebih baik kau segera masuk kamar dan istirahat!” jawabnya sembari menyuruhku untuk masuk kedalam kamar.
Dia melepaskan pelukannya lalu berjalan meninggalkan aku yang sudah terlihat tenang. Sikapnya sama dengan Kimiko yang selalu mengalihkan pembicaraan jika aku bertanya tentang permasalahan mereka berdua.
“Apa yang terjadi dengan kalian berdua?”
__ADS_1
_______________________________________________
macan banyak maunya xixixi, jangan lupa kasi like dan komen dong dong dong ... jangan lupa juga kasi rate kalo vote ga menolak juga hehe.