
"Eitaro, aku mohon menurut saja untuk kali ini ... kita ke rumah saki sekarang ya," Aku ter terus meminta dia terus untuk pergi ke rumah sakit.
"Tidak," jawabnya singkat.
Namun, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja sebab jika tidak ditangani dengan benar maka akan semakin parah. Aku pun berlari menuju kamar untuk mengambil ponsel lalu menghubungi dokter yang biasa merawat ibu dan ayah.
Setelah menghubungi dokter aku kembali ke kara Eitaro, menjaganya sejenak sebelum dokter tiba. Sudah dua puluh menit setelah aku menghubungi dokter dan akhirnya dokter pun tiba.
"Dokter apa yang terjadi padanya?" tanyaku setelah dokter memeriksa Eitaro.
"Dia tidak apa-apa dan hanya membutuhkan banyak istirahat," jawab dokter padaku.
Dokter juga mengatakan jika Eitaro tidak boleh terlalu banyak berpikir keras dan kelelahan, serta tidak boleh bekerja dulu. Setelah mengatakan semua hal yang harus dilakukan dokter pun menuliskan resep obat yang harus di beli lalu obatnya diminumkan pada Eitaro.
"Mari Dokter," Aku berkata sembari mempersilakan dokter untuk berjalan lebih dulu.
Aku pun mengantar dokter ke luar dan sekalian menyuruh salah satu pengawal untuk membeli obat yang sudah di resepkan oleh dokter untuk Eitaro. Setelah dokter pergi, aku memutuskan untuk kembali ke kamar Eitaro untuk melihat keadaannya setelah itu akan ke perusahaan ibu sebentar.
Kunaiki anak tangga menuju kamar Eitaro dan berhenti tepat di depan pintu kamarnya, Aku membuka pintu kamarnya dan berjalan masuk. Melihat Eitaro yang terbaring lemas di atas tempat tidur sedikit membuatku merasa khawatir. Untung saja dokter sudah memeriksanya dan tidak terjadi hal yang lebih buruk padanya.
"Aku pergi ke kantor dulu jika kau membutuhkan apa-apa bisa menghubungiku," ucapku pada Eitaro yang baru saja membuka kedua matanya.
"Apa kau serius akan meninggalkan aku?" tanya Eitaro padaku dan itu membuatku semakin merasa ragu untuk meninggalkannya.
__ADS_1
Akan tetapi, aku harus pergi sebab semua dokumen yang sudah aku periksa harus segera di serahkan pada Akina, agar dia bisa menyelesaikan apa yang akan kuperintahkan. Yang kuinginkan adalah menyelesaikan semua masalah yang terjadi di perusahaan ibu sehingga aku bisa kembali mencari ayah dan aku sudah tidak peduli dengan semua urusan perusahaan karena sudah ada yang mengurusnya dengan baik.
"Aku hanya sebentar sebelum makan siang aku sudah ada di rumah dan kau harus menjadi anak yang baik ok," Aku berkata padanya dengan sedikit melunak agar dia tidak membuat masalah lagi.
Eitaro menganggukkan kepalanya dan dia juga mengatakan agar aku harus memenuhi janjiku padanya untuk tiba sebelum makan siang. Sembari tersenyum aku mengatakan padanya akan menepati janji untuk kembali ke rumah tepat waktu.
Setelah mengatakan itu aku pun berjalan ke luar dari kamar Eitaro lalu berjalan menuju kamarku untuk bersiap. Kumelangkah memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri lalu bersiap untuk pergi ke perusahaan. Setelah semuanya siap aku langsung mengambil semua dokumen yang sudah diperiksa semalam.
"Nona," sapa kepala pelayan padaku saat aku membuka pintu sudah ada dia di depan.
"Ada apa?" tanyaku padanya.
Kepala pelayan mengatakan jika obat yang dibeli sudah tiba dan dia meminta arahan padaku, Aku melihat semua obat yang sudah ada di atas nampan. Aku menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh kepala pelayan selama aku tidak ada di rumah untuk mengurus Eitaro.
Semua sudah kujelaskan padanya dan aku pun berjalan meninggalkan rumah menuju perusahaan ibu, tidak ada pengawal atau sopir kali ini sebab aku tidak ingin menggunakan mereka. Menurutku musuh-musuhku belum bergerak dan aku ingin menikmatinya ke mana saja aku pergi seorang diri tanpa ada yang mengikuti.
"Aku yakin dan kau di rumah saja untuk berjaga agar tidak ada yang mengacau," jawabku dengan nada tegas lalu masuk ke dalam mobil dan menjalakan mobilnya ke luar dari halaman rumah.
Tanpa banyak berpikir lagi aku memacu mobil dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat tiba di perusahaan, entah mengapa hati ini merasa untuk segera kembali ke rumah. Padahal baru saja beberapa menit saja meninggalkan rumah.
Kuhentikan mobil tepat di depan pintu masuk gedung perusahaan, aku langsung ke luar dari dalam mobil setelah seorang pria membukakan pintu mobil dan dia pun membawa mobilku ke tempat parkir. Sedangkan aku terus berjalan langsung menuju ruang kerjaku.
"Nona," sapa seorang wanita muda yang sudah ada di depanku.
__ADS_1
Wanita itu adalah sekretaris yang selalu memenuhi apa yang aku perlukan selama berada di perusahaan. Aku menatap wanita itu dengan tanda tanya sebab dia masih saja berdiri dan tidak mengatakan apa yang ingin disampaikan padaku.
"Ada apa? Katakan saja," tanyaku padanya dengan nada sedikit tegas.
"Ada yang ingin bertemu dengan Anda," jawabnya tanpa menyebutkan nama orang yang ingin bertemu denganku.
Tanpa banyak bertanya lagi aku pun langsung berjalan masuk ke dalam ruang kerja, saat aku membuka pintu ruang kerja sudah terlihat seorang pria tua yang tengah duduk dengan santai di atas sofa. Aku sama sekali belum pernah bertemu dengannya dan ini adalah pertama kalinya melihatnya.
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu," ucap pria tua itu padaku.
Aku berjalan mendekat pada pria tua itu dan bertanya, "Siapa Anda?"
Pria tua itu berkata jika diriku tidak mengenalnya sebab ini adalah pertama kalinya bertemu tetapi dia juga berkata mengenal ayahku. Aku terdiam sejenak dan mencerna apa yang sudah dia katakan, ayah? ayah mana yang dia maksud itulah yang menjadi pertanyaan di dalam hatiku.
"Apa yang kau maksud, Ayah Arata?" tanyaku padanya sebab aku penasaran.
Pria tua itu menggelengkan kepalanya dan mengatakan, "Bukan ... yang aku maksud adalah Ayah kandungmu."
mendengar apa yang dia katakan membuatku terkejut tetapi aku langsung duduk tepat di seberangnya dan berusaha untuk bersikap tenang. Aku ingin tahu apa yang diketahui oleh pria tua yang ada di hadapanku ini.
Dia menatapku dengan tatapan yang berbeda tetapi aku berusaha untuk bersikap tenang dan tidak akan memperlihatkan kelemahanku padanya. Sebab aku belum tahu dengan pasti siapa pria tua itu serta belum tentu apa yang dikatakannya tadi benar atau tidak.
"Katakan padaku di mana kau mengenal ayahku?" Aku kembali bertanya pada pria tua itu.
__ADS_1
Pria tua itu malah tersenyum dan tidak menjawab atas pertanyaan yang aku layangkan, dia hanya menatapku sembari tersenyum tipis. Apa yang dilakukan olehnya membuatku merasa jika pria tua itu sedang merencanakan sesuatu dan aku tidak tahu apa yang sedang ada di dalam pikirannya itu.
"Lepaskan perusahaan ini maka aku akan memberitahu di mana ayahmu," ujar pria tua itu.