Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Penyelamatan Part 1


__ADS_3

Ponselku bergetar, aku langsung melihat siapa yang menghubungi. Nama yang tertera di layar ponsel adalah Riyu.


Ada apa dia menghubungi aku malam-malam begini, lebih baik aku tidak menjawabnya. Untuk tidak membuatnya curiga jika aku tidak berada di rumah.


“Mengapa kau tidak mengangkatnya? Itu mengganggu tahu!” kata pria itu dengan sedikit nada kesal.


Aku menghela napas lalu mematikan daya ponsel, sehingga tidak ada yang bisa menghubungi aku malam ini. Lagi pula aku pun merasa bersalah padanya karena sudah mengganggu konsentrasinya.


Dia masih fokus dengan apa yang ada di depannya, aku terus menatapnya karena penasaran bagaimana wajahnya di balik penutup wajah berwarna hitam itu. Dan aku merasa jika di dekatnya merasa sudah mengenalnya.


“Jangan menatapku terus! Fokuslah dengan apa yang ada di depanmu!” katanya padaku.


Sial ucapnya begitu pedas, mengapa juga aku terus menatapnya. Sehingga dia merasa percaya diri jika dirinya memesona.


Ayo fokus Yuki, aku mengatakan itu dalam hatiku. Lebih baik aku berjalan memutar, siapa tahu ada celah aku bisa memasuki bangunan tua itu.


Aku hendak mengatakan apa yang ada di salah benakku padanya. Namun, semua itu aku urungkan karena dia mengatakan jika dirinya sudah mengetahui jalan masuk ke bangunan tua itu.


“Ikuti aku!” perintahnya padaku.


Dia berharap aku selalu ada di belakangnya, sebenarnya aku tidak ingin selalu ada di belakangnya. Aku bisa melakukan semuanya sendiri, jika bersamanya aku merasa dia selalu berusaha melindungi aku.


Dia benar-benar memikirkan semuanya dengan baik, sehingga kami berdua bisa masuk ke dalam bangunan itu. Dengan jalan perlahan aku mengikutinya dari belakang.


Dug!


“Apa yang kau lakukan? Kalau jalan lihat dengan matamu!” katanya dengan lirih padaku karena aku menubruk punggungnya.


“Ada apa denganmu? Mengapa selalu memarahiku—lagian yang salah kau yang berhenti mendadak bukan aku!” timpalku padanya dengan nada pelan.


“Menyebalkan!” sambungnya sembari melanjutkan langkah kakinya.


Huh ... Yang menyebalkan adalah dia bukan aku, sungguh aku baru pertama kali bertemu dengan pria seperti dia.


Srettt!


Dia menarik tanganku lalu tubuhku masuk dalam dekapannya. Aku berusaha untuk melepaskan diri dari dirinya. Namun, dia tidak melepaskan tangannya dari tubuhku.


“Diam! Kau lihat itu,” bisiknya padaku.

__ADS_1


Aku memalingkan wajahku ke arah dia menunjukkan dengan kata-katanya itu. Benar saja ada beberapa orang yang sedang berjalan dengan memegang senjata api di tangannya.


Suara detak jantungnya begitu jelas kudengar, dia bisa bertindak setenang ini. Namun, detak jantungnya begitu cepat.


Secara perlahan dia melepaskan dekapannya, pria itu kembali fokus untuk mencari keberadaan Kimiko. Dan aku pun sama, dari pada kami selalu berdua lebih baik kami berpencar.


“Bagaimana jika kita berpencar?” tanyaku padanya.


Dia terdiam sejenak mungkin memikirkan apa yang aku katakan tadi. Terlihat keraguan dari sorot matanya, apakah dia ragu jika aku bisa mengatasinya para musuh yang sedang berjaga.


“Percaya padaku, aku tidak akan membuat kacau kalau ini!” kataku kembali padanya.


Namun, dia masih tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Apakah dia menilai diriku tidak memiliki kemampuan.


“Lakukan apa yang ingin kau lakukan dan ingat berusahalah untuk tidak tertangkap!” imbuhnya padaku sembari berjalan meninggalkan aku.


Aku menghela napas lalu berjalan berbeda arah dengan pria itu. Mengapa aku tidak bertanya siapa namanya, sehingga memindahkan diriku untuk memanggilnya.


Ahhh ... Sudahlah lebih baik sekarang aku fokus mencari keberadaan Kimiko dan berharap jika dia baik-baik saja. Aku melihat dua orang sedang berjaga-jaga di depan sebuah pintu ruangan.


Sepertinya dalam ruangan itu ada sesuatu yang perlu dijaga. Bisa jadi di dalam ruangan itu ada Kimiko, sebaiknya aku memeriksanya jika benar dia ada di dalam sama maka aku akan menyelamatkannya.


“Kau periksa!” perintah seorang pria pada kawannya.


Salah seorang pria berbaju biru, berjalan menuju lokasi yang aku lemparkan batu kerikil. Baiklah, sekarang saatnya aku melumpuhkan pria yang masih berjaga-jaga di depan pintu.


“Siapa kau?!” tanya pria itu sembari mengacungkan senjata api yang ada di tangannya.


“Siapa aku? Aku adalah pencabut nyawamu!” ucapku padanya sembari berjalan mendekat padanya.


Dia terlihat sangat terkejut tetapi dengan cepat dia menodongkan senjatanya padaku. Dia begitu percaya diri menggunakan senjatanya itu.


“Ohhh ... Kau pasti kawan dari wanita itu, 'kan?!” tukasnya padaku.


Wanita itu? Apakah wanita yang dimaksud adalah Kimiko. Dengan senyum tipis aku semakin mendekat pada pria itu.


“Ya. Aku adalah lawan dari wanita itu! Katakan di mana dia?” Aku bertanya dengan nada lirih padanya.


Dia terkekeh lalu memain-mainkan senjatanya dan mengarahkan padaku. Dengan percaya dirinya, jika senjata yang ada di tangannya itu bisa melumpuhkan aku.

__ADS_1


Dengan cepat aku langsung mengambil senjata api yang ada di tangannya lalu melepaskan semua peluru di dalam selongsongnya.


Pria itu sangat terkejut dengan apa yang aku lakukan. Namun, dengan cepat dia bisa mengubah ekspresi wajahnya.


“Wanita kurang ajar!” tukasnya padaku sembari melayangkan pukulannya ke arah wajahku.


Dengan senyum aku menangkap tangan yang hendak memukulku. Dia semakin terlihat sangat kesal karena aku berhasil menghalau pukulannya.


Bug!


Bug!


Brugggg!


Aku melepaskan tangannya lalu melayangkan pukulannya bertubi-tubi ke arah perutnya. Dia pun terjatuh ke atas lantai yang berdebu. Dia meringis kesakitan sembari memegang perutnya.


 Dia berusaha untuk kembali berdiri meski masih mengerang kesakitan. Namun, aku tidak akan membiarkan dia kembali bangkit. Aku memeluk tengkuk lehernya dan dia pun kembali terjatuh tetapi kali ini dia tidak sadarkan diri.


Sebaiknya aku menyembunyikan tubuhnya agar tidak ada yang melihatnya terkapar di atas lantai. Aku menarik tangannya dengan sekuat tenaga, membawanya ke sebuah lorong dan mendudukkannya bersandar ke tembok.


“Siapa kau?!” tanya seorang pria padaku saat aku hendak membuka pintu ruangan yang tadi di jaga.


Rupanya dia adalah kawan orang yang sudah aku lumpuhkan. Dia berjalan dengan cepat ke arahku, tanpa berkata apa-apa lagi dia melayangkan serangannya padaku.


Bug!


Bug!


Whussss!


Pukulan demi pukulan dilayangkan dengan cepat olehnya dan diakhiri dengan tendangan ke arahku. Beruntung sekali aku berhasil menghindar dari setiap serangan yang dilayangkan olehnya.


Aku tidak boleh membuang-buang waktu untuk menghadapinya. Karena aku belum berhasil menemukan Kimiko, pokoknya malam ini aku harus membawa Kimiko dari sini jika dia benar-benar ada di sini.


Bug! Bug! Aku mengepalkan kedua tanganku lalu melayangkan pukulan padanya. Tidak aku biarkan dia menyerang balik. Aku benar-benar harus melumpuhkannya dengan cepat.


Whussss! Setelah pukulan bertubi-tubi aku melayangkan tendangannya yang begitu kuat padanya. Dia terhuyung lalu terjatuh ke atas lantainya, kulihat dia apakah masih bisa berdiri atau tidak.


Dia tidak bergerak sama sekali, mungkin dia sudah tidak sadarkan diri. Aku kembali menarik tangannya lalu mendudukkannya dekat pria yang tadi sudah aku lumpuhkan.

__ADS_1


 


__ADS_2