Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Mengapa Aku Tidak Mengingatnya


__ADS_3

Aku berusaha untuk berdiri tetapi kedua kakiku masih saja tidak bisa berdiri tegap. Kudengar suara Eitaro yang mengatakan jika aku tidak bisa menerima semuanya.


“Bangunlah,”


Aku mendongak dan melihat Eitaro yang berdiri di dekatku, dia berusaha untuk membangunkan aku. Dia mengulurkan tangannya dan aku pun menerima uluran tangannya lalu berusaha untuk bangun tetapi tetap saja tidak bisa.


“Aku tidak mengira jika kau selemah ini ... apa kau pikir dia akan menyerah dengan keadaannya saat ini. Dia bukan orang yang lemah dan dia juga tidak pernah memberikan pelajaran yang membuatmu menjadi wanita yang lemah bukan?”


Eitaro kembali berkata padaku dengan nada dingin tetapi entah mengapa aku merasa jika yang dia katakan tadi benar. Aku tidak boleh menjadi wanita lemah karena ibu tidak pernah mengajariku menjadi wanita lemah.


Dengan bantuan tangan Eitaro aku berdiri dan berusaha untuk menjadi kuat, aku berjalan mendekat ke arah tempat tidur yang ada di depan. Kuhentikan langkahku saat sudah berada di sampingnya dan menyentuh tangannya.


“Aku ingin tahu apa yang terjadi pada ayahku?” tanyaku pada Ayah Arata dan juga Eitaro.


Kembali aku tidak mendengar mereka bicara dan itu membuatku semakin kesal saja. Selama ini aku mencari keberadaan ayah dan saat bertemu dengannya mengapa keadaan ayahku seperti ini dan mereka berdua hanya diam saja.


“Sampai kapan kalian akan diam? Apakah aku tidak berhak untuk tahu apa yang membuat ayahku seperti ini?”


Aku terus bertanya pada mereka berdua tetapi mereka masih saja diam dan aku pun teringat akan ibu. Dia mana ibu jika ada dia mungkin bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi.


Kuberanjak dan berjalan mendekat pada Eitaro dan menatapnya dengan tajam lalu bertanya padanya, “Katakan di mana ibu aku yakin kau tahu ... hanya ibu yang bisa mengatakan semuanya dan aku ingin bertemu dengannya!”


“Tenangkan dirimu apakah kau tidak menghormati ayah yang sedang berdiri di sini hah?!” tanya Eitaro dengan nada tinggi padaku.


“Tenang-tenang apa kau bisa membuatku tenang? Aku bertanya bagaimana semua ini terjadi kau tidak mengatakannya. Sekarang aku bertanya di mana ibu dan kau pun tidak mengatakannya. Bagaimana aku bisa tenang?!” Aku kembali menjawabnya dengan nada tinggi juga.


Aku pun terus mengatakan kekesalan yang ada di dalam hatiku selama beberapa hari ini dengan sikap Eitaro yang begitu dingin padaku. Dan sekarang sikapnya yang tidak jujur padaku tentang semua hal yang sudah terjadi pada ayah Kenzo dan juga ibu Lili.

__ADS_1


Sungguh aku tidak peduli jika saat ini ada ayah Arata yang melihat kemarahanku terhadap Eitaro. Sekarang yang aku inginkan adalah tahu semuanya sehingga aku tidak merasa bodoh.


“Yuki ...,”


Aku mendengar suara lirih dari ayah dan aku masih sangat mengenal suara itu meski sudah bertahun-tahun lamanya aku tidak bertemu dengannya. Tanpa banyak berpikir aku langsung berlari dan mendekat padanya.


“Ayah, bagaimana bisa semua ini terjadi?” tanyaku pada ayah yang baru saja membuka kedua matanya dan memanggilku.


Ayah sama sekali tidak bicara tetapi kedua matanya yang berbicara, dia terlihat begitu menderita dengan semua rasa sakit akibat luka yang ada di tubuhnya. Aku merasa sedih dengan apa yang terjadi padanya dan mengapa sampai seperti ini.


Aku berpikir jika ayah selalu dalam keadaan baik-baik saja tetapi pada kenyataannya sangat menyedihkan. Tangannya menyentuh wajahku dan aku memegang tangannya lalu menciumi tangannya.


Air mataku keluar membasahi kedua pipiku dan aku tidak tega melihat ayah yang kurindukan seperti ini. Tidak terbersit sedikit saja saat pertemuan kami dalam keadaan seperti ini.


“Siapa yang melakukan semua ini padamu? Mengapa orang itu begitu tega melakukan semuanya padamu?” Aku bertanya pada ayah dan berharap dia bisa mengatakan yang sebenarnya.


“Berhati-hatilah dan jangan percaya dengannya,” ucap ayah dengan lirih lalu dia menutup kedua matanya dan tangannya terjatuh begitu saja.


Terlihat seorang pria dengan pakaian serba putih menggeleng kepalanya dan seorang wanita menutup tubuh ayahku dengan kain berwarna putih.


“Apa yang terjadi pada ayahku? Mengapa kalian menutupinya? Lepaskan kain putih itu ... bagaimana jika ayahku tidak bisa bernapas. Apakah kalian ingin membunuhnya?”


Aku berusaha untuk mendekat tetapi ada yang menghalangiku, dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk melepaskan diri. Yang ada di dalam benakku adalah menarik kain putih yang menutupi wajah ayah agar ayah bisa bernapas.


“Cukup. Apakah kau tidak bisa merelakannya,” teriak Eitaro padaku.


“Lepaskan aku! Aku benci kau!” teriakku sembari berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman Eitaro.

__ADS_1


“Aku tidak peduli jika kau membenciku tapi kau harus merelakannya agar dia bisa pergi dengan tenang,” timpal Eitaro yang masih berusaha untuk memegang tubuhku agar tidak mendekat pada ayahku.


“Dia ayahku apa aku tidak berhak untuk memeluknya?” aku bertanya pada siapa saja yang mendengar perkataanku.


***


Aku membuka kedua mataku dan kepalaku terasa berat, terdengar suara orang yang sedang berbicara. Kumelihat Eitaro dan ayah Arata sedang berbicara dan aku tidak mendengar dengan jelas.


“Apa yang kalian bicarakan?” tanyaku sembari memegang kepala yang masih terasa berat.


“Sayang, bagaimana keadaanmu?” tanya ayah padaku dengan nada lembut.


“Aku baik-baik saja hanya sedikit pusing saja,” jawabku sembari melihat ke arah ayah yang sudah ada di sampingku.


Ayah mengatakan sesuatu yang membuatku bingung dan aku harus segera bersiap. Apakah ayah akan mengajakku ke suatu tempat sehingga aku harus segera bersiap.


Saat aku bertanya akan pergi ke mana ayah tidak menjawab dan menyuruhku untuk bersiap. Setelah mengatakan itu ayah pun pergi meninggalkan aku begitu juga dengan Eitaro.


Sikap mereka sangat aneh tetapi aku tidak tahu apa yang sudah terjadi. Dan juga aku tidak mengenal ruangan ini, sebenarnya apa yang sudah terjadi padaku?


“Masuk,” kataku pada seseorang yang mengetuk pintu.


Pintu pun terbuka dan aku melihat seorang wanita yang berjalan mendekat ke arahku sembari membawa pakaian. Dia adalah seorang pelayan tetapi aku belum pernah melihatnya sama sekali.


“Nona, saya akan membantu Anda untuk bersiap,” ucap pelayan itu padaku.


Aku tidak menjawab apa yang disiagakan pelayan itu dan dia pun mulai membantu aku untuk berdiri dan bersiap. Aku hendak bertanya padanya apa yang terjadi tetapi aku urungkan karena tidak mungkin ayah atau Eitaro mengatakan semuanya pada pelayan itu.

__ADS_1


Setalah semuanya siap pelayan itu pun pamit dan aku mengangguk, dia berjalan ke luar dari ruanganku. Aku melihat ke cermin dengan pakaian yang aku kenakan saat ini mengapa terasa ada yang berbeda.


“Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Mengapa aku tidak mengingatnya.”


__ADS_2