
Sambutan yang begitu hangat dari nyonya Yuna membuatku semakin merindukan ibu Lili. Jika terus seperti ini bisa jadi aku akan berangkat ke Tokyo untuk bertemu dengan ibu.
“Bagaimana dengan luka-lukamu?!” tanya nyonya Yuna dengan lembut.
“Aku baik-baik saja, dengan istirahat cukup semuanya sudah membaik.” Jawabku dengan senyum.
Aku melihat Riyu baru saja tiba, raut wajahnya berbeda saat tadi siang dia bertemu denganku. Apakah ada masalah dalam pekerjaannya sehingga dia mengeluarkan ekspresi seperti itu.
“Ada apa denganmu, Sayang?!” tanya nyonya Yuna pada Riyu.
Riyu tersenyum, dia mengatakan tidak ada apa-apa wajahnya pun kembali normal. Sehingga tidak terlihat kecemasan darinya.
Dia menatapku sekilas, apa sebenarnya yang terjadi padanya? Mengapa dia menatapku seperti itu. Untuk apa aku memikirkannya, lebih baik menikmati makan malam bersama nyonya Yuna.
Makan malam berjalan lancar, ada satu yang membuatku merasa tidak menikmati semua ini. Yaitu sikap Riyu yang dingin, jika dia ada masalah mengapa juga dilampiaskan padaku.
Ponselku berdering, aku terkejut saat melihat nama yang tertera di layar ponsel. Yang menghubungiku adalah paman Daichi, apakah sudah ada kabar tentang ayah.
__ADS_1
Aku pamit pada nyonya Yuna untuk mengangkat telepon dan berjalan menjauh darinya. Dengan cepat aku mengangkatnya, terdengar suara paman Daichi.
Paman mengatakan saat ini masih berusaha dengan keras mencari keberadaan ayah. Rupanya informasi yang di dapat sebelum pergi tidak tepat. Ayah sudah tidak ada di tempat itu, sebenarnya di mana dirimu ayah.
Semua informasi sudah dikatakan, paman Daichi pun menutup sambungan teleponnya. Benar. Jika terus seperti ini, aku akan meminta Lexi untuk mencari keberadaan ayah. Sebelum paman Asamu menemukan ayah terlebih dahulu.
Sebaiknya aku izin untuk pulang, tidak terasa sudah larut malam. Mungkin Kimiko dan Eitaro sudah berada di rumah dan mereka pasti mencari keberadaanku.
Aku berjalan mendekati nyonya Yuna lalu berkata, “Maafkan saya, sepertinya harus segera kembali ke rumah.”
“Baiklah, Riyu—kau antar Yuki pulang!” perintah nyonya Yuna pada putranya.
Terlihat olehku raut wajahnya sangat tidak suka dengan perintah ibunya. Dia mengatakan jika menyuruh sopir untuk mengantarku juga tidak apa-apa. Akan tetapi nyonya Yuna memaksa Riyu untuk mengantarku hingga ke rumah.
Dengan terpaksa Riyu memenuhi keinginan ibunya untuk mengantarku hingga rumah. Dalam perjalanan pulang pun sikap dia masih dingin padaku.
Mungkin dia sedang bertengkar dengan wanitanya, hingga bersikap seperti ini. Tidak aku sangka dia tipe pria yang jika kesal pada seseorang maka orang yang ada di dekatnya bisa terkena imbasnya.
__ADS_1
Mobilnya berhenti tepat di depan rumah, “Terima kasih.” Setelah mengatakan itu aku pun keluar dari mobilnya tanpa memandang wajah dinginnya.
Mobilnya pun berjalan meninggalkan rumah, aku tidak peduli dengan sikapnya. Berjalan memasuki rumah, sepertinya Kimiko dan Eitaro belum pulang. Ke mana mereka berdua? Ini sudah larut malam.
Aku mengambil ponsel di dalam tas, lalu menghubungi Kimiko tetapi ponselnya tidak aktif. Kucoba menghubungi Eitaro, mungkin saja saat ini mereka sedang bersama.
Saat aku menghubungi Eitaro, dia mengangkatnya. Dengan cepat aku bertanya keberadaannya lalu bertanya padanya apakah Kimiko bersama dengannya.
Eitaro mengatakan akan pulang sebentar lagi dan dia sedang bersama Kimiko. Mendengar semua itu aku merasa lega, jika Kimiko bersama dengannya. Setelah tahu semuanya baik-baik saja, aku menutup sambungan teleponnya.
Aku berjalan menuju kamar, mengganti pakaian lalu beristirahat. Besok pagi ada yang harus aku kerjakan, apakah aku harus ke Tokyo menemui Lexi atau menghubungi dari sini.
Sebenarnya aku tidak ingin merepotkan Lexi dan Lexa, mereka mempunyai masalah yang belum dituntaskan. Aku menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur. Berusaha memejamkan kedua mataku untuk beristirahat.
Bersambung...
Jangan lupa ya beri like, komen, jadikan favorit dan beri bintang lima ya😉
__ADS_1
Jangan lupa mampir juga di cerita macan yang satu lagi ya, "WANITA BAYARAN"