Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Mencari Inti Masalah


__ADS_3

Hingga detik ini aku masih memikirkan suara pria yang ada di seberang telepon saat aku menghubungi Paman Daichi. Apakah ada yang disembunyikan paman padaku tetapi aku masih belum pasti suara siapa itu.


“Siapa dia? Andai saja aku berada di sana mungkin sudah bisa mencari tahu,”


Aku menghela napas dan berusaha untuk menghilangkan pikiran burukmu itu sebab tidak mungkin Paman Daichi mengkhianati dirinya. Dia sudah mengenalnya dari aku masih kecil hingga saat ini.


“Yuki ...,”


Terdengar suara yang memanggilku sebab aku mengenal dengan baik suara ibu yang lembut itu. Aku melihat ibu sudah duduk di kursi makan begitu pula dengan ayah dan juga Eitaro yang masih memperlihatkan wajah dinginnya padaku.


Aku tidak paham dengan sikap adikku itu mengapa dia berubah secara cepat seperti itu. Padahal aku merasa tidak pernah berbuat salah padanya, ahh mengapa semuanya membuatku bingung saja.


Lebih baik aku mengabaikannya sehingga tidak perlu memikirkan dan mencari tahu ada apa dengan Eitaro. Aku pun duduk di kursi di mana aku selalu duduk saat sedang makan bersama dengan ayah serta ibu.


Pelayanan menyediakan segelas jus jeruk untukku, kali ini aku tidak banyak bicara dan langsung mengambil sandwich yang sudah tertata rapi di atas piring. Kudengar ibu sedang bicara dengan ayah mengenai hal diriku yang akan mengurus sebuah kantor cabang milik ibu.


“Apakah itu benar, Sayang?” tanya ayah padaku setelah selesai mendengarkan apa yang sudah diceritakan oleh ibu.


“Iya, Ayah. Aku akan membantu Ibu kali ini untuk menyelesaikan masalahnya,” jawabku sembari melihat ke arah ayah yang terlihat senang juga.


“Itu bagus,” sambung ayah dengan senyum khasnya.


Entah mengapa aku merasa ayah dan ibu sangat senang jika aku berada di Tokyo dan tinggal bersama mereka. Namun, hanya satu orang saja yang terlihat tidak suka, siapa lagi jika bukan Eitaro adikku yang bisanya selalu mengikuti ke mana saja aku pergi.


“Sayang, Ibu sudah menyiapkan semua dokumen yang kamu perlukan. Sehingga kamu bisa langsung masuk ke perusahaan itu dan mengurusnya,” Ibu berkata padaku.


Aku menganggukkan kepala dan kembali menyantap sandwich yang sudah ada di tanganku. Setelah selesai sarapan ayah pun langsung pergi ke perusahaan. Ibu mengajakku ke ruang baca untuk menyerahkan dokumen yang aku perlukan.

__ADS_1


Sedangkan Eitaro entah apa yang dia lakukan setelah kembali ke Tokyo. Aku merasa jika adikku itu benar-benar sudah berubah dan membuatku tidak mengerti apa yang harus dilakukan.


Aku pun masih terpikirkan tentang Kimiko serta hubungannya dengan Eitaro. Rasa ingin tahuku semakin besar tentang hubungan mereka dan aku tidak akan menyerah untuk mencari tahu semuanya.


“Ini dokumen yang kamu perlukan dan Ibu berharap Yuki bisa menyelesaikannya dengan baik,” Ibu berkata padaku sembari menyerahkan dokumen padaku.


“Aku akan berusaha dengan kemampuan yang kumiliki,” jawabku dengan mengambil dokumen yang ibu berikan tadi.


Setelah memberikan dokumen itu ibu pun pergi meninggalkan ruang baca. Ibu mengingatkan aku kembali jika semua hal yang kita kerjakan belum tentu mudah dan jangan terlalu menganggap enteng masalah yang ada di depan mata.


Setelah ibu pergi aku pun memutuskan untuk ke kantor cabang, sebelum itu aku harus mengambil tas yang ada di dalam kamar. Aku pun berjalan menuju kamar dan melihat Eitaro yang berjalan mendekat padaku.


“Ada apa denganmu? Mengapa kau seperti ini?” tanyaku padanya setelah aku berada tepat di depannya.


“Semua karenamu dan aku akan berusaha untuk melepaskannya,” jawab Eitaro lalu dia berjalan melewatiku begitu saja.


Mendengar itu membuatku semakin tidak paham dengan sikap adikku itu, aku pun kembali melanjutkan langkah memasuki kamar dan mengambil tas tangan tersimpan di atas meja. Serta mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas.


Ponselku bergetar, kulihat nomor yang tertera di layar ponsel dan ada nama Kimiko. Aku pun langsung mengangkatnya dan bertanya keadaannya dan meminta maaf karena belum menjenguknya.


Aku berhenti bicara saat mendengar suara Bibi Sarada, rupanya yang menghubungi aku adalah bibi dan bukan Kimiko. Sembari berjalan aku terus mendengarkan apa yang dikatakan olehnya.


“Aku akan menjenguknya nanti sore,” kataku pada Bibi Sarada yang ada di seberang telepon.


Setalah mengatakan itu aku pun memutuskan sambungan telepon dan berjalan menuruni anak tangga. Sambil berpikir apa yang dikatakan oleh Bibi Sarada mengenai Kimiko.


Jika mendengar semua yang dikatakan Bibi Sarada tadi aku tidak akan memaksakan kehendak lagi pada Kimiko. Aku akan membiarkan dia agar semuanya bisa kembali tenang.

__ADS_1


Langkah kakiku terhenti saat seorang pengawal berdiri di depanku dan berita, “Nona, saya yang akan menjadi sopir sekaligus pengawal Anda.”


“Siapa yang menyuruhmu?” tanyaku padanya.


“Tuan,” jawabnya singkat sembari mempersilakan aku untuk masuk ke dalam mobil.


Aku pun langsung masuk ke dalam mobil dan duduk dengan santai di dalamnya. Kubuka dokumen yang diberikan oleh ibu dan membacanya dengan saksama.


Di sana tertulis jika ibu menyerahkan kekuasaan sementara di perusahaan itu padaku. Semua hal yang berkaitan dengan perusahaan itu akan menjadi tanggung jawabku dan aku bisa menentukan apa saja demi kebaikan dan kemajuan perusahaan itu.


“Apa ini tidak terlalu berlebihan?” gumamku.


Mengapa ibu membuat dokumen seperti ini? sebenarnya apa yang sedang terjadi di kantor cabang itu? Begitu banyak pertanyaan yang bermunculan di dalam benakku. Sepertinya aku harus mencari titik permasalahannya.


Beberapa saat mobil terhenti dan aku melihat ke luar jendela, terlihat sebuah gedung yang bertingkat lima. Apakah ini kantor cabang ibu yang sedang dalam masalah itu. Aku baru mengetahui jika ibu memiliki kantor cabang di sini.


Terlihat seorang pria yang berjalan mendekat dan dia membukakan pintu mobilku, dia tersenyum dan penuh hormat mempersilakan aku untuk ke luar dari dalam mobil. Aku pun keluar dan memberikan senyumku tetapi tidak menghilangkan wibawaku sebagai wakil ibu.


Saat aku ke luar dari mobil kulihat sudah ada beberapa orang yang berdiri di depan pintu masuk perusahaan. Aku pun berjalan mendekat dan mereka memberikan hormat padaku serta mengucapkan selamat datang.


“Tunjukkan di mana ruanganku?” tanyaku pada mereka semua yang berdiri di hadapanku.


“Mari saya tunjukkan, Nona,” ucap seorang pria yang jika kulihat usianya tidak jauh dari Eitaro.


Aku berjalan mengikuti langkah kaki pria itu dan melewati lobi lalu berhenti di depan lift. Dia menekan sebuah tombol dan tidak begitu lama pintu lift terbuka.


Kedua mataku membola saat melihat seseorang yang aku kenal berada di dalam lift. Aku terus melihat ke arahnya dan dia pun melihat ke arahku dengan senyum yang membuatku berbeda.

__ADS_1


“Kau ada di sini?”


__ADS_2