
“Yuki, bangun,” Aku terbangun saat Eitaro memanggilku dan menyuruh untuk bangun.
Aku pun membuka kedua mata dan melihat dia sudah berdiri di dekatku lalu aku bertanya padanya, “Apa kita sudah sampai?”
Dia mengangguk lalu berjalan meninggalkanku, entah mengapa aku merasa jika dia sikapnya semakin dingin saja padaku. Apakah ini hanya perasaanku saja atau memang dia sudah berubah.
“Ibu,” Aku ingat tentang ibu dan harus tahu bagaimana keadaannya saat ini. Kuambil tas yang ada di meja lalu berjalan ke luar untuk mengejar Eitaro yang sudah lebih dulu ke luar dari jet pribadi yang dia siapkan.
Kulihat sekeliling dan aku mengenal tempat ini, bukankah ini adalah Paris. Apakah ibu sedang ada di Paris? Tetapi apa yang terjadi padanya apakah ada musuh ayah atau ibu yang menyerang.
Arrrggg aku sungguh kesal dibuatnya mengapa begitu banyak pertanyaan yang ada di dalam hatiku tetapi Eitaro sama sekali tidak menjawab semuanya. Kulihat dia berhenti melangkah dan berbalik lalu melihat ke arahku.
“Apa? Apakah kau ingin mengatakan di mana ibu sekarang?” tanyaku padanya yang masih menatapku dengan serius.
Dia menghela napasnya lalu kembali membalikkan tubuh dan berjalan kembali. Aku sungguh dibuat pusing olehnya dan juga rasa ingin tahuku semakin besar dengan keadaan ibu.
Aku langsung menaiki sebuah mobil bersama dengan Eitaro, mobil pun berjalan meninggalkan bandara. Kembali aku menatap pria yang ada di samping yang selama beberapa hari ini selalu bersikap dingin padaku.
“Katakan padaku sebenarnya apa yang terjadi?” Aku kembali bertanya pada Eitaro dan ini adalah pertanyaan yang sudah sekian kalinya tetapi dia sama sekali tidak menjawabnya.
“Kau nanti juga akan tahu jadi jangan banyak bicara,” Dia menjawab dengan nada dinginnya lagi.
Sepertinya aku benar-benar harus menambah stok kesabaranmu jika menghadapi dia. Selama di dalam perjalanan aku hanya diam dan memperhatikan jalanan yang dilewati. Dan mobil pun melewati sebuah hutan dan aku tidak tahu ke mana lagi tujuan mobil ini.
Apabila bertanya pada Eitaro sudah pasti dia tidak akan menjawabnya. Kulihat sebuah kastel yang semakin dekat, mobil pun terhenti dan ada beberapa orang yang berjaga dan orang itu pun memeriksa mobil yang aku tumpangi.
Setalah dilakukan pemeriksaan pagar besi yang menjulang tinggi pun terbuka dan mobil kembali berjalan memasuki kastel yang tadi aku lihat. Jarak dari pagar tadi hingga kastel ternyata cukup jauh dan akhirnya mobil pun berhenti tepat di depan pintu masuk.
__ADS_1
Ada seorang pria yang membukakan pintu mobil dan aku pun ke luar dari dalam mobil begitu juga dengan Eitaro. Terlihat seorang pria tua yang menyambut kedatangan kami berdua.
“Selamat datang di kastel Tuan Muda dan juga, Nona Yuki,” Pria tua itu berkata seraya menyambut kedatangan kami berdua dengan senyum dan penuh hormat.
“Katakan di mana mereka?” Eitaro langsung bertanya pada pria tua itu dengan nada datar.
“Silakan ikuti saya,” jawab pria tua itu lalu dia berjalan terlebih dahulu.
Aku berjalan mengikuti pria tua itu dan juga Eitaro, aku merasa jika sesuatu yang besar sudah terjadi dan aku tidak tahu apa itu. Namun, aku berharap jika semua hal yang akan terjadi bukanlah kabar buruk dan ibu dalam keadaan baik-baik saja.
Pria tua itu menaiki anak tangga dan aku melihat semua hal yang terlewati. Aku tidak tahu jika ayah atau ibu memiliki kastel di Paris karena aku tidak pernah bertanya akan hal yang berhubungan dengan aset yang mereka miliki. Sebab aku sama sekali tidak memiliki semua hak akan itu.
Kuhentikan langkah kedua kaki ini karena melihat pria tua itu berhenti tepat di depan sebuah pintu ruangan yang cukup besar. Dia melihat ke arahku dan juga Eitaro, aku merasa jika dia sedang memberikan sebuah tanda padaku untuk tidak terkejut dengan apa yang akan kulihat di dalam sana.
“Cepat buka,” perintah Eitaro pada pria tua itu.
Pria tua itu pun membuka pintunya dengan lebar dan mempersilakan aku dan juga Eitaro untuk masuk. Saat aku melangkahkan kedua kaki ke dalam sana aku mencium aroma obat-obatan yang sangat menyengat.
Aku terus melangkah mengikuti kedua kaki Eitaro entah mengapa hatiku semakin tidak tenang dengan semua hal ini. Terdengar suara ayah Arata yang sedang berbicara dengan seseorang.
“Bagaimana dengan keadaannya?” tanya Eitaro dan pertanyaan itu membuatku semakin ingin tahu siapa yang sedang terluka.
“Apa, Yuki ikut denganmu?” Aku kembali mendengar suara ayah Arata yang bertanya pada Eitaro.
Aku pun bergeser satu langkah agar tubuhku terlihat oleh ayah karena tadi aku berada tepat di belakang Eitaro. Kumelihat wajah ayah yang begitu lelah dan aku secara refleks berlari dan memeluknya.
Entah mengapa aku melakukan semua hal itu padahal biasanya aku tidak melakukannya. Sudah lama sekali aku tidak memeluk ayah seperti ini dan ada rasa rindu akan hal ini.
__ADS_1
“Ayah, harap kau bisa menerimanya dengan sabar,”
Ayah berkata padaku sembari terus memeluk, aku benar-benar merasa ada yang aneh dengan semua hal yang aku dengar ini. Apakah sudah terjadi hal buruk sehingga ayah berkata seperti itu.
“Di mana Ibu?” tanyaku pada ayah sembari melepaskan pelukan.
Kembali lagi aku tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang aku layangkan. Sekarang ayah yang tidak menjawab apa yang aku tanyakan, sehingga aku semakin khawatir dengan keadaan ibu.
“Kenapa kalian hanya diam dan tidak menjawab? Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaan ibuku saja? Apakah aku salah?”
Aku terus bertanya pada mereka berdua mengapa mereka hanya diam. Apabila seperti ini tersusun bisa membuatku semakin gila dengan rasa khawatir yang begitu besar. Apakah mereka berdua tidak paham dengan apa yang aku rasakan.
“Tenangkan dirimu, Sayang,”
Ayah Arata berkata padaku, dia berusaha untuk menenangkan diriku tetapi semua itu masih belum bisa membuatku tenang. Sebab aku masih belum bisa melihat keadaan ibu, di tambah lagi saat ini aku tidak melihatnya.
“Katakan padaku di mana ibu? Aku mendengar suara tembakan dan sepertinya ini sedang dikejar-kejar oleh orang? Ayah aku mohon katakan di mana ibuku?”
Aku kembali bertanya pada ayah dengan nada memohon, sungguh hati ini sangat khawatir karena tidak bisa melihat ibu saat ini. Entah apa yang ada di pikiran ayah dan Eitaro mengapa mereka berdua masih saja tetap diam saat aku bertanya tentang ibu.
“Kalian masih tidak ingin mengatakannya ... biar aku sendiri yang mencarinya,” Aku kembali berkata pada mereka berdua lalu berjalan mencari ibu di dalam ruangan ini.
Kakiku terhenti saat melihat seseorang yang sedang terbaring di atas tempat tidur. Mendadak aku menjadi lemas saat melihatnya tidak berdaya, mengapa semua ini harus terjadi?
__ADS_1