Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Penyerangan


__ADS_3

Mobil di belakang masih saja mengejar, sepertinya mereka berniat untuk menghabisi siapa saja yang ada di dalam mobil ini. Apakah mereka menginginkan nyawaku atau musuh Riyu.


“Sial! Mereka tidak mau melepaskan kita!” tukas Riyu yang terlihat geram.


Ckitttt!


Mobil berhenti secara mendadak, tanganku terasa sakit karena menahan agar tidak terjatuh ke bawah kursi. Aku kembali duduk dan melihat ke depan apa yang sudah terjadi.


“Kau tidak apa-apa?!” tanya Riyu padaku dengan nada khawatir.


“Aku tidak apa-apa!” jawabku.


Sopir dan Kenta keluar dari mobil untuk mencari tahu apa yang mereka inginkan. Kenta adalah asisten Riyu, dia mengatakan untuk kami tidak perlu keluar semua ini demi keselamatan.


Terlihat beberapa orang pria yang berpakaian seperti preman. Mereka tampaknya tidak bisa diajak bicara baik-baik, itu terlihat dari perangai mereka yang hendak menyerang Kenta.


Terjadilah perkelahian di antara mereka, aku tidak bisa tinggal diam begitu saja. Saat ini Riyu tidak membawa pengawal cukup banyak.


“Siapa mereka?” tanyaku pada Riyu.


“Mereka musuh-musuh yang ingin menghancurkan aku!” jawabnya dengan yakin.


Mengapa dia begitu yakin, bukankah mereka semua tidak memperlihatkan dari mana mereka berasal. Aku pun bertanya kembali padanya, “Mengapa kau begitu yakin?”


Sebelum Riyu menjawab apa yang aku tanyakan, ada yang mengetuk kaca mobil. Dia seorang pria dan di belakangnya terlihat beberapa pria bertampang bengis.


“Jangan keluar—biar aku saja!” ucap Riyu padaku lalu dia membuka pintu mobil dan keluar dari mobil.


Namun, para penjahat ini tidak melepaskan aku begitu saja. Mereka tetap menyuruhku keluar dari mobil, mungkin mereka ingin menghabisi siapa yang sedang berada di dekat Riyu.


Aku pun keluar dari mobil, melihat sekeliling rupanya saat ini kami sudah terkepung. Jumlah mereka bisa dibilang tidak sedikit, apakah kami berempat sanggup mengalahkan mereka semua.


“Apa mau kalian?!” tanya Riyu.


Mereka hanya menyeringai mendengar apa yang ditanyakan oleh Riyu. Ada satu pria yang berjalan mendekat, sepertinya dia adalah pimpinan dari mereka semua.


“Yang kami inginkan adalah kematianmu dan gadis itu!” ungkapnya dengan nada sombong.


Mereka ingin nyawaku? Itu artinya mereka juga adalah musuhku. Namun, mengapa mereka juga ingin menghilangkan nyawa Riyu. Yang artinya kami berdua memiliki musuh yang sama.

__ADS_1


Siapa sebenarnya dibalik semua ini, aku tidak bisa berpikir lebih jauh. Karena yang aku tahu jika musuhku adalah paman Asamu. Jika seperti ini itu artinya selain paman masih ada musuh yang menginginkan kematianku.


“Jangan harap kau bisa membunuhku!” tukasku.


Aku terus mengatakan sesuatu yang akan membuat mereka kesal. Sehingga mereka akan mengatakan siapa yang menyuruh untuk menghabisi aku dan Riyu.


Terlihat sangat jelas jika pria itu sangat kesal dengan semua ucapan yang aku layangkan pada mereka.


“Serang!” Pria itu berteriak sehingga semua anak buahnya menyerang kami.


Bug!


Bug!


Whussss!


Pukulan demi pukulan mereka layangkan padaku sesekali ada yang melayangkan tendangannya. Namun, aku berhasil menghindar dari setiap serangan mereka. Tidak akan aku biarkan mereka menang dengan mudah.


Mereka pikir aku adalah gadis lemah yang dengan mudah dikalahkan. Jangan berpikir seperti itu karena aku bukan wanita lemah. Kita lihat siapa yang akan menang kali ini.


Brugggg!


Satu orang musuh berhasil aku tumbangkan, seorang yang sedang fokus menyerangku berjumlah 3 orang. Setelah melihat seorang temannya terjatuh, ketiga orang itu semakin gencar menyerangku.


“Apa ini kemampuan kalian?!” ucapku untuk membuat mereka semakin emosi.


Karena semakin mereka emosi maka mereka akan memperlihatkan kelemahan. Sembari bertahan dari serangan mereka aku terus memperhatikan gerakan mereka dan mencari titik lemah.


Binggo ... Aku menemukan titik lemah pria berbaju merah itu. Akan aku kalahkan dia hingga tidak bisa berdiri kembali.


Bug!


Bug!


Aku memukul bagian perutnya lalu melayangkan tendangan bawah sehingga pria berbaju merah itu terjatuh. Dia meringis kesakitan sembari memegang kaki sebelah kirinya.


Mungkin kakinya mengalami keretakan, kulihat dia berusaha untuk berdiri kembali tetapi tidak bisa. Seorang temannya mendekat, dia bertanya apakah bisa kembali berdiri atau tidak. Pria berbaju merah itu menggelengkan kepalanya sembari menahan sakit.


“Bawa saja teman kalian ke rumah sakit dan pergilah kalian dari hadapanku!” tukasku dengan nada sombong.

__ADS_1


“Dasar kau wanita sialan! Akan aku bunuh kau!” kata pria berbaju hitam, dia terlihat sangat geram mendengar apa yang aku katakan.


Sembari tersenyum tipis aku menunjukkan sebuah sinyal sebagai tanda menantangnya. Dia semakin kesal dengan apa yang aku lakukan.


Tanpa berkata-kata lagi pria itu langsung menyerangku dengan membabi-buta. Tanpa melihat apakah dia sanggup atau tidak. Jika dilihat dari setiap serangannya, dia sedang mengalami cedera di kaki sebelah kanannya.


Ini bisa aku gunakan untuk melumpuhkannya, hanya dengan satu tendangan dariku dia langsung terjatuh. Dia meringis kesakitan dan suaranya lebih keras dari pada pria sebelumnya yang aku lumpuhkan.


Bruggg!


Aku terjatuh lalu punggungku terasa sakit, rupanya aku kehilangan tingkat kewaspadaan. Ada musuh yang menyerangku dari arah belakang.


“Yuki!” teriak Riyu dan aku melihatnya berlari ke arahku.


Namun, dia tidak bisa berhasil mendekat karena ada musuh yang menghadang. Aku mendongak melihat siapa yang sudah berani memukulku dari belakang. Dan itu tindakan tidak jantan bagiku.


“Cih ... Dasar kau pria apa yang menyerang seorang wanita dari arah belakang—chiken!” kataku dengan nada kesal.


Karena aku tidak suka dengan pria yang menyerang dari belakang. Jika dia memiliki kemampuan maka dia akan menyerang dari arah depan.


“Wanita kurang ajar—jangan sombong karena sebentar lagi kau akan habis!” tukas pria itu dengan nada kesal.


Dia berjalan cepat lalu menarik rambutku dengan sangat kuat. Aku tidak berhasil menghindar, rasa sakit di punggungku begitu mengganggu di tambah lagi dia menarik rambutku.


Pria itu menarik rambutku ke atas sehingga aku berdiri. Dia menyeringai menandakan bahwa dirinya sudah bisa mengalahkan aku. Mungkin dalam benaknya berpikir akan menghabisi aku dengan sangat mudah.


“Kau cantik Nona—lebih baik aku nikmati tubuhmu terlebih dahulu sebelum aku menghabisimu!” ucapnya yang membuatku sangat muak.


“Kau ingin menikmati tubuhku—jangan harap!” timpalku.


Dia terkekeh-kekeh lalu mengatakan jika diriku sangat sombong. Dan aku akan tiada dengan kesombongan yang aku miliki.


“Apa kau tahu, Nona? Orang yang ingin menghabisimu menginginkan kau mati dengan sangat menderita!” ungkapnya padaku.


“Katakan siapa yang menyuruhmu? Sebelum mati aku ingin mengetahuinya,” timpalku.


“Kau ingin tahu?” jawabnya sembari mengambil sebuah belati dari sakunya.


Dia mengarahkan belati itu padaku, pria itu berbisik padaku jika aku ingin tahu siapa yang menyuruhnya. Maka kematian yang menyakitkan akan terjadi padaku.

__ADS_1


Aku terus bertanya padanya dan mengatakan ini adalah keinginan terakhir dariku. Dia kembali terkekeh lalu tangan yang memegang belati diangkat ke atas dan hendak ditancapkan ke arah dadaku.


Apakah ini hari terakhirku? Apakah aku tidak akan pernah bisa bertemu dengan ayah? Jika ini akhirnya aku tidak rela!


__ADS_2