Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Pria Misterius


__ADS_3

Bug!


Bug!


Mereka masih saja menyerang dengan pukulan yang terus-menerus. Aku benar-benar terpojok kali ini, mereka tidak memberikanku kesempatan untuk menarik napas.


“Kita akhiri saja, Nona! Kau sudah tidak mungkin bisa menang dari kami!” ucap seorang pria dengan sombongnya padaku.


Meski aku mati di sini, aku tidak akan pernah menyerah. Baik ibu atau ayahku tidak pernah mengajarkan aku menyerah begitu saja.


Terdengar suara decitan ban motor dari kejauhan, aku melihat pengendara motor yang melaju dengan kecepatan tinggi.


Ckitttt!


Motor itu terhenti tepat di belakang para musuh yang sedang mengelilingi aku. Ban motor depan berdiri tegap karena dua mengeremnya dengan sangat kuat.


Secara perlahan ban motor belakangnya turun hingga menyentuh jalanan beraspal. Apa yang dilakukan oleh orang itu membuat para musuhku terkejut.


Mereka semua membalikkan tubuh untuk melihat siapa yang sudah mengganggu. Namun, ada beberapa orang yang masih mengawasi aku.


“Tidak aku sangka kalian begitu rendah—menyerang seorang wanita saja dengan keroyokan!” ucap orang itu lalu membuka helmnya.


Dari suara yang kudengar orang itu adalah seorang pria. Dan suaranya seperti pria yang sudah menyelamatkan aku dari tangan Riyoichi.


Aku pikir dapat melihat wajahnya tetapi dia masih tetap saja selalu menggunakan penutup wajah. Sebenarnya siapa dia? Mengapa dia menyembunyikan wajahnya dan selalu membantu diriku.


“Kau—berani sekali mengacau misi kami! Apakah kau tidak sayang dengan nyawamu, hah?!” tukas pria yang terlihat seperti seorang bos.


“Kalian yang mencari mati!” timpal pria itu sembari melempar helmnya lalu mulai menyerang para musuh.


Bug!


Bug!


Pria itu melancarkan serangannya dengan sangat cepat. Terlihat jelas jika dia adalah petarung yang hebat dan aku sangat penasaran dengan pria yang menyelamatkan aku di detik-detik aku tidak bisa bertahan.


“Gadis bodoh—apa kau akan terus melihatku bertarung?!” kata pria itu dengan nada dingin.


Yang dimaksud dia adalah aku? Dan dia menyebutku gadis bodoh. Dasar pria tidak sopan, kata-katanya begitu menusuk.

__ADS_1


“Aku bukan gadis bodoh!” pekikku sembari mulai menyerang para musuh yang masih mengelilingi aku.


Bug!


Bug!


Whussss!


Pukulan yang bertubi-tubi aku layangkan pada mereka dan aku akhiri dengan tendangan. Salah seorang terjatuh akibat tendanganku. Namun, dia bisa kembali berdiri tegap dan bersiap menyerangku kembali.


Salah seorang musuh berlari menuju mobil, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan olehnya. Mataku tetap fokus pada mereka yang masih mengelilingi aku.


“Tangkap ini!” ucap seorang pria yang tadi berjalan menuju mobil.


Rupanya dia membawa beberapa tongkat pemukul lalu memberikan pada teman-temannya. Sungguh para penjahat yang tidak memiliki kemampuan.


“Cih ... Apakah kalian tidak memiliki kemampuan yang lebih? Sehingga menyerang dua orang saja menggunakan tongkat pemukul!” tukasku sembari tersenyum kecut.


“Selain bodoh, kau juga gadis yang pintar membuat semua orang geram.” Pria itu berkata sembari mendekatkan tubuhnya padaku.


Punggungnya menempel dengan punggungku, sekarang kami berdua benar-benar terpojok. Mereka semua melangkah mendekat pada kami. Sorot mata mereka terlihat sangat marah.


“Apa kedua kakimu tidak apa-apa?” tanya pria itu padaku dengan tenangnya.


Mengapa dia bertanya tentang kedua kakiku? Bukankah dia bisa melihatnya sendiri bahwa kedua kakiku tidak bermasalah. Yang bermasalah saat ini adalah mereka semua sudah bersiap untuk menyerang.


Sebelum aku menjawab apa yang jadi pertanyaannya, dia memegang pinggangku lalu dua mengatakan “Bersiaplah.”


Apa yang akan dilakukan olehnya, entah mengapa aku merasakan jika dia akan melakukan hal-hal yang lebih ekstrem.


“Apa yang kau lakukan?!” tukasku padanya yang mengangkat tubuhku dengan kedua tangannya.


Dengan cepat dia memutar tubuhnya sehingga tubuhku pun ikut berputar. Dia mengatakan padaku untuk mengangkat kedua kakiku. Aku tahu apa yang dimaksud olehnya, dengan cepat aku mengangkat kedua kakiku.


Whussss!


Kedua kakiku melayang dan menghantam mereka yang sedang mengelilingi kami. Tidak ada satu orang pun yang diberikan kesempatan untuk melayangkan pukulannya menggunakan tongkat pemukul.


Satu per satu musuh mulai berjatuhan, dia memperlambat memutar tubuhku. Secara perlahan juga dirinya menurunkan aku sehingga kedua kakiku dapat kembali berpijak di atas jalanan beraspal.

__ADS_1


Dia masih memegang pinggangku seraya membatu aku untuk bisa berpijak dengan kuat. Dia tahu jika yang dilakukan olehnya membuatku pusing. Namun, rasa pusing itu sudah tidak terlalu kurasakan.


“Ayo pergi!” perintahnya padaku.


Dia mengambil helm yang tergeletak di atas jalanan beraspal lalu menaiki motornya. Aku pun berjalan menuju motor dan memakai helm yang tersimpan di atas jok motor.


“Ikuti aku!” ucapnya kembali padaku seraya dia memerintah dan tidak ada yang boleh membantahnya.


Dia menyalakan mesin motornya lalu menjalankannya dengan kecepatan tinggi. Aku pun tidak ingin tertinggal olehnya, maka aku memacu motorku dengan kecepatan tinggi.


Sebenarnya siapa dia? Mengapa dia benar-benar sangat misterius. Namun, aku merasakan ada sesuatu yang mirip dengan seseorang.


Akan tetapi aku tidak tahu siapa orang itu? Mengapa pula aku melupakan orang yang mirip dengannya itu. Kecepatan motornya semakin tinggi, aku pun kembali menambahkan kecepatan laju motorku.


Ke mana dia akan membawaku dan mengapa pula aku bersedia mengikuti dirinya. Bukankah seharusnya menuju lokasi keberadaan Kimiko.


Dia berhenti di sebuah bangunan tua, jika dilihat dari sekeliling mungkin ini adalah lokasi yang sudah lama tidak dilewati oleh masyarakat sekitar.


Aku menghentikan motor tepat di samping motornya. Melepaskan helm lalu meletakkannya di atas jok motor.


“Mengapa berhenti di sini?” tanyaku padanya.


“Bukankah kau ingin menyelamatkan sahabatmu?” Dia balik bertanya padaku.


Mendengar itu aku langsung mengambil ponselku lalu melihat lokasi yang dikirimkan seseorang padaku. Rupanya benar ini adalah lokasi yang dikirimkan padaku.


“Dari mana kau tahu lokasi ini?!” Aku kembali bertanya padanya. Karena dia benar-benar tahu apa yang ingin aku lakukan.


“Kau tidak perlu tahu itu!” jawabnya dengan nada datar.


Pria ini benar-benar membuatku sangat kesal, mengapa dia bisa sedingin ini padaku. Apakah aku ada salah terhadapnya, sehingga dia bersikap seperti ini.


Perasaan dari awal bertemu juga dia selalu bersikap dingin padaku. Namun, dia selalu ada tepat waktu saat aku sedang membutuhkan bantuan.


Aku melihat ke arah bangunan itu, terlihat dengan sangat jelas jika bangunan itu sudah dijaga sangat ketat. Sehingga sangat sulit untuk memasuki bangunan itu.


Dia tidak banyak bicara, sekarang yang dilakukan olehnya hanya memperhatikan dengan saksama bangunan itu. Sepertinya dia sedang mencari celah untuk memasuki bangunan tua itu.


Di saat dia sedang fokus dengan tujuannya, aku kembali teringat akan paman Daichi dan Eriko. Apakah mereka berdua sudah tiba di sini atau mereka sudah berhasil menyelinap masuk ke bangunan tua itu.

__ADS_1


Namun, jika dilihat dari pergerakan para penjaga itu. Sepertinya belum ada yang menyerang masuk ke dalam bangunan itu. Dan menandakan baik paman Daichi atau Eriko belum tiba di sini.


__ADS_2