
Aku masih menunggu jawaban darinya, apa yang ingin aku curi dari Riyu dan mengapa dia menyuruhku untuk melakukan semua itu. Apakah dia berpikir jika aku dekat dengan Riyu, sehingga dia mengajakku untuk bekerja sama.
“Sebuah chip yang selalu dibawa olehnya!” katanya.
Riyoichi pun mengatakan jika chip itu selalu melingkar di jarinya, aku mengatakan apa chip itu berbentuk cincin. Karena selalu melingkar di jari, Riyoichi mengangguk.
“Chip itu berada di dalam cincin yang selalu dipakainya dan dia tidak pernah melepaskannya,” ungkapnya padaku.
Bagaimana caranya aku mengambil chip itu, sedangkan chip itu selalu berada dalam genggaman Riyu. Tunggu dulu ... Apa isi dari chip itu, sehingga Riyoichi menginginkannya.
Jika Riyu menyimpannya begitu dekat dengannya dan tidak pernah melepaskannya. Itu artinya chip itu sangat penting baginya, aku harus tanyakan hal ini pada Riyoichi.
“Kau pasti bertanya-tanya bukan? Mengapa aku menginginkan chip itu?” katanya padaku sebelum aku bertanya padanya.
Aku mengangguk lalu menunggu dia mengatakan isi dari chip tersebut, dia terdiam kembali. Dia kembali seperti tadi diam dan diam, jika tidak ingin mengatakannya ya katakan saja. Dan aku pun berhak untuk menolak keinginannya.
“Hanya tuanku yang mengetahuinya dan aku tidak tahu apa isinya,” jawabnya padaku.
Tuan. Tuan mana yang dimaksud, aku tidak tahu jika dia memiliki tuan. Apakah yang dimaksudkan adalah paman Asamu atau orang lain yang memang bermusuhan dengan Riyu.
“Siapa tuan yang kau maksud itu?” Aku kembali bertanya dengan nada menyelidiki.
Menurut aku Riyoichi adalah pria yang banyak menyimpan misteri, aku tidak bisa percaya dengan mudah pada pria ini. Sebab aku tidak tahu dia bekerja dengan siapa, bisa jadi dia adalah musuhku yang berpura-pura ingin membantuku bertemu dengan ayah.
“Belum saatnya kau tahu siapa tuanku—jika sudah saatnya kau pasti akan bertemu dengannya,” ungkapnya padaku.
“Beri aku waktu untuk berpikir sebab aku belum yakin sepenuhnya denganmu!” kilahku.
“Semua tergantung padamu jika kau ingin bertemu dengan ayahmu maka kau harus membantu setiap misi yang aku jalankan!” Dia kembali berkata dengan penuh percaya diri.
Ponselku berdering, kulihat siapa yang menghubungi aku. Rupanya itu ibu, aku beranjak dari duduk lalu berjalan sedikit menjauh darinya untuk mengangkat telepon.
__ADS_1
Aku hanya diam dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh ibu, dia menginginkan aku untuk pergi ke dokter. Sepertinya Eitaro sudah mengatakan apa yang terjadi semalam pada ibu.
Dasar bawel kau Eitaro, mengapa juga dia mengatakan yang terjadi semalam pada ibu. Dan sekarang aku harus ke dokter untuk menghilangkan rasa khawatir ibu padaku.
Lihat saja kau nanti Eitaro—saat tiba di rumah dan aku melihatmu akan kuhajar kau sehingga memohon ampun. Aku tidak akan membiarkan dia jika belum merasa jera atas sikapnya itu.
Pada akhirnya aku menyetujui keinginan ibu untuk menemui dokter, setelah aku mengatakan itu ibu pun memutuskan sambungan teleponnya. Aku juga menutup ponsel lalu berjalan mendekat pada Riyoichi.
“Kita bertemu lagi nanti jika aku sudah memutuskan akan membantu atau tidak!” ucapku padanya sembari mengambil tas yang tergeletak di atas kursi.
“Aku akan menunggu jawaban dariku,” timpalnya.
Kulangkahkan kedua kaki keluar dari cafe, memasuki mobil lalu menyalakan mesin mobil. Ponselku kembali bergetar, itu adalah pesan dari ibu yang mengatakan jika aku harus ke dokter sekarang karena ibu sudah mendapatkan jadwal untukku.
Aku menghela napas panjang ada sedikit kesal juga senang karena ibu masih saja perhatian padaku. Dan kesal itu untuk Eitaro karena dia sudah membuat ibu khawatir dengan keadaanku.
Dengan perlahan aku menjalankan mobil keluar dari area parkir cafe, setelah keluar dari area cafe aku menaikkan laju mobilku menuju rumah sakit. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, ponselku terus saja berdering dan aku tidak mengangkatnya. Sebab yang menghubungi aku adalah Riyu, entah apa yang diinginkan olehnya kali ini.
Kimiko. Aku membutuhkan dia untuk membicarakan apa yang diinginkan oleh Riyoichi. Hanya dia yang bisa aku ajak bicara saat ini, andaikan Eitaro seperti Kimiko mungkin aku tidak akan merasa sendirian saat ini.
Ckitttt!
Aku menghentikan mobilku sejenak karena ponselku terus saja berdering dan itu sangat mengganggu. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh Riyu, mengapa dia melakukan semua ini.
Kuangkat ponselku lalu tanpa basa basi dia bertanya bagaimana keadaanku, terdengar dari suaranya ada rasa khawatir. Aku mengatakan jika diriku berada di jalan dan hendak ke rumah sakit.
Suaranya langsung terdengar sangat khawatir, dia menanyakan apa yang sudah terjadi. Begitu banyak pertanyaan yang dilayangkan olehnya padaku, sehingga aku lelah mendengarnya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata aku langsung menutup sambungan telepon dan mematikan ponsel. Agar dia tidak bisa menghubungi aku lagi, aku ingin suasana hatiku tenang sebelum bertemu dengan dokter.
***
__ADS_1
Tibalah aku di rumah sakit, tanpa menunggu lama dokter pun langsung memeriksa keadaanku. Rupanya dokter ini adalah teman dari ibu sehingga dia tahu dengan keadaanku sebelumnya.
Setelah beberapa saat pemeriksaan dokter pun selesai, aku langsung menuju farmasi dan mengambil obat yang diberikan oleh dokter untukku. Semuanya adalah obat penenang bagiku dan aku tidak akan meminumnya karena sampai kapan pun mimpi itu tidak akan hilang sebelum pembunuh ibu mendapatkan balasannya.
Hari ini aku sangat lelah, lebih baik aku langsung menuju rumah dan beristirahat. Menunggu Eitaro pulang lalu memberi pelajaran padanya bahwa menjadi seorang pria itu tidak perlu comel.
Kepalaku sedikit pusing, mudah-mudahan aku bisa kembali ke rumah dengan selamat. Aku memasuki mobil lalu menjalankan mobil secara perlahan keluar dari area parkir rumah sakit.
Dalam perjalanan pun aku tidak memacu mobil dengan cepat karena kepalaku masih terasa berat. Aku berharap tidak terjadi sesuatu saat dalam perjalanan pulang. Tidak begitu lama aku pun tiba di rumah, keluar dari mobil lalu melihat mobil Eitaro belum terparkir, mungkin dia belum pulang. Sebaiknya aku langsung masuk kedalam rumah dan beristirahat sejenak.
“Mengapa kau mematikan ponselmu?!” tanya seseorang padaku dengan penekanan.
Kulihat siapa yang bertanya seperti itu, orang itu berjalan semakin mendekat. Dia adalah Riyu dengan wajah yang sangat kesal, ada apa dengannya. Mengapa dia sekesal itu?
“Baterai ponselku habis,” jawabku pada Riyu.
Dia semakin mendekat sehingga wajahnya tepat di depanku, napasnya bisa terasa di kulit wajahku. Aku melangkah mundur agar tidak terlalu dekat dengannya, saat ini yang aku inginkan adalah merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Namun, mengapa dia tidak cepat-cepat pergi dari sini.
“Kau bohong padaku!” tukasnya.
“Hentikan sikapmu ini Riyu! Kau bukan priaku untuk apa aku harus selalu mengatakan keberadaanku!” pekikku padanya.
“Kau...,” Dia hendak mengatakan sesuatu tetapi tidak jadi, sangat terlihat jelas jika dia kesal dengan apa yang aku katakan.
Akan tetapi, apa yang aku katakan adalah benar sebab aku bukanlah wanitanya. Tangannya mengepal sangat kuat, terlihat jelas dia menahan amarahnya. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi dia pergi meninggalkan aku.
“Ada apa dengannya?”
_______________________________________________
Macan ga lelah-lelah untuk mengingatkan semuanya hihihi untuk memberi like dan komen serta kasi rate bintang lima ya, senyum hangat untuk kalian semua.
__ADS_1