Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Sakit


__ADS_3

Akhirnya aku bisa merebahkan tubuhku setelah kepergian Riyu, dasar pria aneh. Bisa-bisanya dia bersikap seenaknya padaku, jangan harap kau bisa terus meneriakkan aku seperti itu.


Aku mencoba memejamkan mata agar rasa sakit di kepalaku bisa menghilang. Belum saja mataku terpejam, aku sudah mendengar suara mobil berhenti. Sepertinya itu adalah Eitaro, dengan cepat aku bangun dari posisi tidur dan berjalan keluar kamar.


Rasa kesalku kembali memuncak sehingga aku menghiraukan kepala yang masih terasa sakit. Kulihat Eitaro yang baru saja membuka pintu lalu melangkah masuk kedalam rumah.


“Apa kau mengatakan pada ibu tentang mimpiku semalam?!” tukasku dengan kesal.


“Iya,” Dia menjawab singkat tanpa ada rasa bersalah.


“Mengapa? Apa kau tidak merasa kasihan pada ibu? Sudah cukup aku membuatnya selalu khawatir, kau mengerti?!” kilahku.


Dia menghiraukan aku, tanpa mengatakan apa-apa lagi Eitaro pergi melangkah meninggalkan aku begitu saja. Benar-benar kau membuatku semakin kesal saja, ada apa dengannya?


Aku melangkah cepat mengejarnya, tanpa berpikir panjang aku menarik bajunya dari belakang. Sehingga dia menghentikan langkahnya, badannya berbalik lalu memandang diriku dengan sangat lekat.


“Apa yang kau inginkan, Yuki Arsalan?!” tanyanya dengan nada dingin padaku.


Ada apa ini, bukannya yang marah harusnya aku—mengapa sekarang yang terlihat marah adalah dia. Aku terus menatapnya untuk mencari jawaban apa yang terjadi padanya.


“Hentikan sikapmu yang selalu mengadu pada ibu—kau bukan anak kecil lagi, 'kan?” ucapku padanya sembari menatap terus kedua matanya.


Dia tersenyum tipis lalu berkata, “Aku memang bukan anak kecil, jadi kau jangan menganggap diriku anak kecil!”


Bug!


Kulayangkan pukulan terhadapnya, dia berhasil menangkap kepalan tanganku. Dia kembali menatapku dengan arti yang sangat berbeda dari tatapan Eitaro beberapa tahu ke belakang. Dia menarik tanganku dengan cukup kuat sehingga tubuhku jatuh dalam pelukannya.


“Jangan membuatku kesal!” bisiknya padaku.


Napasnya terasa panas di daun telingaku, ada apa denganku? Mengapa aku merasakan hal-hal yang berbeda terhadapnya. Hentikan pikiranmu ini Yuki Arsalan, dia adalah adikmu.


“Lepaskan aku!” bentakku padanya.

__ADS_1


Namun, dia tidak mau melepaskan diriku, pelukannya semakin erat. Apa yang sedang dipikirkan olehnya, mengapa dia tidak mau melepaskan aku. Semua ini harus dihentikan, aku tidak ingin dia berubah, aku ingin dia kembali menjadi Eitaro yang dulu. Dia yang selalu menganggap aku sebagai kakaknya.


Kepalaku terasa sangat berat sekali, sekarang penglihatanku mulai buram. Kedua kaki sudah terasa lemas, ada apa dengan diriku ini? Mengapa aku merasa sangat lemas.


“Yuki!” Aku mendengar Eitaro memanggil-manggil namaku tetapi aku tidak bisa menemukan di mana dirinya.


***


Aku membuka kedua mataku perlahan, kepalaku masih terasa sangat berat. Melihat sekeliling ruangan, aku mengenalnya ini adalah kamarku, apa yang sudah terjadi? Yang aku ingat adalah perdebatanku dengan Eitaro.


“Kau sudah bangun?” Eitaro bertanya padaku sembari menyentuh keningku dengan tangannya yang terasa dingin.


“Kepalaku masih terasa berat,” jawabku dengan nada lirih.


“Makanlah lalu minum obatmu!” perintahnya padaku.


Dia membantu aku mengubah posisi tidur menjadi posisi duduk di atas tempat tidur. Eitaro bertanya apakah aku sanggup makan sendiri atau tidak, aku menjawab bisa melakukannya sendiri.


“Kubantu kau,” ucapnya dengan nada datar lalu menyuapkan makanan kedalam mulutku.


Bubur dalam mangkuk sudah habis, dia menyuapi aku dengan lembut tetapi wajahnya masih terlihat kesal. Sebenarnya siapa yang harus kesal dia atau aku? Bukankah dia yang selalu mencari masalah denganku.


“Minum obat dan istirahat!” katanya sembari memberikan beberapa obat padaku dengan segelas air putih.


Aku pun meminum obat yang diberikan olehnya, Eitaro tidak terlalu banyak bicara. Dia pergi begitu saja setelah melihatku meminum obat yang diberikan lalu membantu aku mengubah posisi duduk menjadi tidur. Efek obat yang aku minum tadi mulai terasa, rasa kantuk mulai menerpaku dan aku pun berusaha untuk memejamkan kedua mata.


Di mana aku? Mengapa semuanya terasa gelap? Dan aku merasakan dingin yang sangat menyengat. Dinginnya terasa menusuk kulit hingga ke tulang, tubuhku sangat menggigil. Aku membutuhkan sesuatu yang bisa menghangatkan diriku sendiri.


Namun, aku tidak tahu di mana ini? Semuanya masih terasa gelap. Semakin lama rasa dingin terus saja menerpaku. Terdengar suara seseorang yang memanggil-manggil namaku, apakah itu ibu atau ayah.


Bukan. Itu bukan ibu atau ayah, suaranya sangat berbeda sebab aku sangat mengenal betul suara mereka. Eitaro, benar itu adalah suara Eitaro. Aku berteriak sekuat tenaga untuk memanggil namanya agar dia bisa menyelamatkan aku.


“Kau gadis bodoh—berapa lama lagi kau akan menemukan aku hah?!” tanya seseorang padaku dengan nada kesal.

__ADS_1


Aku tidak tahu siapa yang bicara dengan kemarahan seperti itu karena sekelilingku masih gelap gulita. Dia terus saja mengatakan hal yang sama, orang itu menganggap aku gadis bodoh.


“Siapa kau? Mengapa kau marah padaku?!” pekikku.


“Kau sudah melupakan aku, Sayang?” Pria itu kembali bertanya padaku dan tidak menjawab apa yang kutanyakan tadi.


Tidak begitu lama terlihat sesosok pria yang sudah lama aku rindukan, dia adalah ayah Kenzo. Aku hanya menatapnya dengan lekat lalu berlari menghampiri dirinya dan memeluknya dengan erat. Ayah tidak berkata apa-apa hanya diam dan diam, dia juga tidak membalas pelukan yang aku berikan.


“Jangan menjadi lemah dan bodoh—temukan aku secepatnya!” katanya sembari melepaskan tubuhnya dari pelukanku.


Secara perlahan ayah menjauh dariku, aku terus berteriak memanggil namanya. Namun, ayah tidak mendengarkan aku, hingga akhirnya bayangannya pun tidak terlihat.


“Yuki Arsalan, bangun ini perintah!!” Aku kembali mendengar suara Eitaro yang memanggilku dengan nada memerintah.


Tubuhku terasa ada yang mengguncang-guncang, masih terdengar teriakan Eitaro. Aku melihat seberkas cahaya lalu ada seseorang yang menghampiri diriku dan aku tidak tahu siapa pria itu. Cahayanya semakin membesar sehingga membuat kedua mataku silau.


Aku membuka kedua mata secara perlahan, kulihat Eitaro sudah berada di sampingku. Dia menyentuh kening kembali, tangannya begitu dingin dan aku sangat menyukainya. Ada apa dengan tubuhku, mengapa terasa sangat dingin sekali sehingga aku tidak bisa menahannya.


“Dingin ... Mengapa sangat dingin sekali, Eitaro?” tanyaku padanya dengan lirih.


“Akan kuambilkan selimut untukmu,” Dia berkata sembari berjalan menuju almari.


Tidak begitu lama dia sudah ada di sampingku lalu menyelimuti aku dengan selimut yang tebal. Namun, rasa dingin itu masih terasa dan tubuhku semakin menggigil.


“Masih dingin ... Aku masih kedinginan,”


“Apa masih dingin?” tanyanya padaku.


Tidak sekarang sudah terasa hangat, terdengar sayup-sayup suaranya yang mengatakan padaku untuk beristirahat. Aku pun mulai memejamkan mata sebab tubuhku sudah mulai terasa hangat.


______________________________________________


Ayo-ayo jangan lupa kasi like dan komen ya, senyum lembut dari macan

__ADS_1


__ADS_2