Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Kembali Ke Tokyo


__ADS_3

Akhirnya aku kembali lagi ke rumah ini, di mana aku merasakan kasih sayang yang sangat tulus dari ayah dan ibu. Namun, aku selalu merasa bersalah karena setiap apa yang kulakukan akan berbuah kekhawatiran bagi mereka berdua.


Kulangkahkan kaki menelusuri setiap jengkal rumah ini, aku begitu hafal dengan sudut rumah ini yang penuh akan kenangan masa kecilku. Akan tetapi, itu selalu membuatku teringat akan rasa pedih kehilangan atas ayah Kenzo.


Senyumku muncul saat melihat ibu duduk di gazebo sedang menikmati secangkir teh dan camilan. Seperti biasanya jika ibu tidak sibuk dengan pekerjaannya dan aku selalu menemaninya.


Ibu melambaikan tangannya padaku dengan cepat aku berjalan mendekat. Senyum khasnya itu yang membuat aku bisa merasakan kasih sayang seorang ibu terhadap putri kandungnya.


“Bagaimana tidurmu, Sayang? Apakah kamu merindukan semua yang ada di sini?” tanyanya padaku.


“Iya. Aku begitu merindukannya,” jawabku sembari memendarkan pandanganku ke sekeliling taman ini.


 “Bagaimana keadaan, Kimiko?” tanyaku pada ibu yang sedang meneguk secangkir teh.


Kulihat ibu menyimpan cangkir teh di atas meja, wajahnya terlihat begitu sedih. Aku berpikir apakah sudah terjadi sesuatu pada Kimiko jika semua itu benar maka semua yang terjadi padanya adalah kesalahanku.


Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Bibi Sarada dan Paman Maru setelah melihat keadaan putrinya. Pikirku pun melayang membayangkan keadaan Kimiko yang terluka parah.


“Dia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyembuhkan semua lukanya. Ibu berpikir lebih baik jika Kimiko selalu berada di dekat kedua orang tuanya,” jelas ibu padaku.


“Semua ini adalah salahku karena tidak bisa melindunginya,” sambungku setelah ibu menjelaskan keadaan Kimiko.


“Semua bukan salahmu dan Ibu harap kau tidak berpikiran seperti itu,” timpal Ibu dan aku sama sekali tidak bisa berpikir seperti yang ibu katakan padaku.


Ibu masih saja mengatakan padaku untuk tidak berpikir seperti itu tetapi aku tetap merasa bersalah dengan semua hal yang terjadi pada Kimiko. Andai saja aku bisa menjaga dan melindungi dirinya mungkin semua ini tidak akan terjadi.


Terdengar suara dering ponsel, aku melihat ke arah ibu yang berdiri setelah melihat ponselnya yang berdering. Kulihat juga dari raut wajahnya yang begitu kesal dengan apa yang dia terima dari seseorang di seberang telepon.

__ADS_1


Aku berniat untuk pergi tetap ibu memberi tanda padaku untuk tidak pergi dan akhirnya aku duduk menunggu ibu hingga selesai bicara dengan orang yang ada di seberang telepon. Kutunggu hingga sepuluh menit berlalu dan kulihat ibu baru saja menutup sambungan teleponnya.


“Apa yang terjadi, Bu?” tanyaku pada ibu yang baru saja duduk di kursi dan meletakan ponselnya di atas meja.


“Ada masalah di perusahaan cabang dan tidak ada yang bisa menyelesaikannya,” jawab ibu yang masih terlihat sangat kesal.


Ibu pun mengatakan jika dia benar-benar kesal pada semua staf yang dia perkerjakan sebab tidak ada satu pun di antara mereka yang bisa mengatasi masalah. Aku merasa kasihan dengan ibu karena masih memikirkan hal itu.


“Yuki, apakah Ibu bisa meminta bantuan darimu?” Ibu bertanya padaku dengan tatapan yang penuh harap.


“Bantuan apa yang Ibu inginkan dariku? Aku kembali bertanya pada ibu meski bisa menebak apa yang dipinta ibu.


“Bantu, Ibu untuk mengurus perusahaan cabang yang sedang bermasalah,” jawaban yang sama dengan apa yang aku pikirkan.


Aku berpikir sejenak dan menatap ibu yang tersusun menatapku dengan sorot mata yang penuh dengan harap. Itu terlihat sangat jelas olehku jika ibu menginginkan aku untuk mengurus perusahaan cabang miliknya.


“Baiklah, Bu aku akan membantumu,” Aku mengatakan apa yang menjadi keputusanku.


“Alhamdulillah kamu mau membantu, Ibu,” sambung Ibu lalu dia pun mengatakan akan mengusir semua dokumen sehingga aku bisa langsung ke perusahaan itu tanpa ada yang menghalangi.


Jika melihat ibu senang seperti itu aku pun turut senang dan aku akan berusaha untuk tidak mengecewakannya. Sebab hanya ibulah yang selalu ada untukku setelah ayah menghilang.


Ayah jika mengingat ayah aku semakin ingin menemuinya dan entah sampai kapan aku bisa menahan rasa rindu ini. Hanya bisa berharap jika ayah dalam keadaan sehat-sehat saja.


“Jangan melamun, Ibu akan pergi dulu dan kau tetap di rumah untuk hari ini ok,” Ibu berkata padaku.


Aku menganggukkan kepala seraya menyetujui apa yang diperintahkan oleh ibu. Setalah melihat tanda persetujuanku ibu pun langsung beranjak dan berjalan meninggalkan aku.

__ADS_1


“Sedang apa kau di sini? Di mana Ibu?” tanya seseorang yang ada di sampingku.


Aku memalingkan wajah lalu mendongak dan melihat Eitaro yang sedang berdiri tegap di sampingku. Dia terlihat sangat dingin dan sepertinya tidak ingin bicara panjang lebar denganku.


“Ibu, pergi,” jawabku singkat lalu beranjak dan berjalan meninggalkan dia yang membuatku merasa kesal.


Sikap seperti itu yang entah mengapa aku tidak menyukainya. Lebih baik aku pergi saja meninggalkan pria seperti itu sebab tidak ada gunanya juga dekat-dekat dengannya.


Hari ini aku tidak bisa ke mana-mana dan aku juga tidak bisa pergi menjenguk Kimiko lebih baik aku diam di dalam kamar. Memeriksa apakah ada email yang masuk atau tidak sebab Paman Daichi selalu mengirimkan email tentang beberapa pekerjaan padaku.


Aku terus berjalan dan menaiki anak tangga menuju kamar dan berhenti tepat di depan kamarku. Kupegang gagang pintu lalu memutarnya dan pintu kamar pun terbuka.


Terdengar suara derap langkah kaki dengan refleks aku membalikkan tubuhku untuk melihat siapa yang ada di belakangku. Saat aku melihat ke belakang ternyata tidak ada siapa-siapa, mungkin semua itu hanya perasaanku saja.


Kulangkahkan kedua kaki memasuki kamar dan tidak memedulikan lagi apa yang aku dengar. Sebab tidak mungkin jika di rumah ini ada seorang penyusup karena penjagaan rumah ini sangat ketat.


Aku menutup pintu kamar dengan rapat dan berjalan mendekat pada meja untuk mengambil netbook. Setelah itu aku kembali berjalan mendekat pada tempat tidur dan duduk di atasnya sembari menyalakan netbook.


Terlebih dahulu aku membuka email dan memeriksa apakah ada email yang masuk dari Paman Daichi atau tidak. Terlihat ada beberapa email yang berasal dari Paman Daichi, aku pun langsung membukanya dan membacanya dengan saksama.


Satu per satu email itu aku periksa dan ada sedikit poin yang menurutku tidak memungkinkan untuk perusahaan dan juga itu bisa membuat kerugian. Aku pun mengambil ponsel dan langsung menghubungi Paman Daichi.


Terdengar nada sambung dan tidak berapa lama terdengar suara Paman Daichi, aku pun tidak berbasa-basi lagi. Kukatakan semua hal yang harus diperbaiki dalam dokumen perjanjian kerja sama yang dikirimkan oleh Paman Daichi.


“Aku tidak ingin ada kesalahan lagi,” ucapku pada Paman Daichi yang ada di seberang telepon. Namun, aku samar-samar mendengar suara seorang pria yang aku kenal.


“Siapa pria itu?”

__ADS_1


__ADS_2