Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Terluka


__ADS_3

Aku menutup kedua mataku saat mengetahui jika pria ini sedang berniat menghunjamkan belatinya padaku. Dalam hati aku sudah pasrah dengan semua ini, ini adalah akhir dari hidupku.


Maafkan aku ayah karena tidak bisa bertemu denganmu. Dan aku tidak bisa membalas semua kejahatan yang sudah dilakukan oleh paman Asamu.


Dor!


Terdengar suara tembakan begitu menggema di telinga. Aku membuka mata untuk melihat apa yang terjadi. Apakah yang tertembak itu diriku atau orang lain.


Bruggg!


Pria yang hendak menghunjamkan belatinya terjatuh tepat di dekatku. Darah segar keluar dari keningnya, terdapat luka tembak yang menganga.


Siapa yang sudah menembaknya, aku menyapu sekeliling untuk melihat siapa yang sudah menembakkan senjata api pada musuh yang hendak membunuhku.


“Kau tidak apa-apa?!” tanyanya padaku.


Itu adalah Riyu yang berlari ke arahku, di tangannya ada sebuah senjata api. Apakah dia yang menembak musuh yang hendak membunuhku itu.


“Aku tidak apa-apa,” jawabku.


Dia membantuku untuk berdiri, aku pikir semuanya sudah berakhir. Namun, aku salah karena aku melihat ada dua mobil hitam yang berhenti.


Kulihat beberapa orang pria keluar dari mobil tersebut. Mereka sepertinya bukan pengawal Riyu, apakah mereka adalah musuh yang ingin menghabisi kami.


Prok! Prok! Seorang pria yang mengenakan jas berwarna biru bertepuk tangan. Dengan wajah bengisnya dia melihat semua orang yang sudah tidak berdaya di atas jalanan beraspal.


“Tidak kusangkak kalian bisa mengalahkan mereka semua. Namun, kalian tetap tidak bisa lepas dari genggaman aku!” ungkapnya padaku dan Riyu.


“Siapa kau? Mengapa ingin menghabisi kami?!” Riyu bertanya dengan nada dingin sembari memegang bahuku.


Pria itu menyeringai lalu berkata, “Kau tidak perlu tahu Riyu Ozora karena aku tidak ingin kau penasaran dalam kematianmu itu!”


Pria itu langsung memberikan kode pada anak buahnya untuk mengelilingi kami. Sekarang aku benar-benar terpojok, hanya aku, Riyu dan Kenta yang masih bisa bertahan. Karena sopir yang bersama kami sudah kehilangan nyawanya.


“Apa kau masih bisa bertarung Kenta?!” tanya Riyu pada Kenta yang sudah terlihat kelelahan.


“Masih,” jawabnya singkat.


“Aku pun masih sanggup untuk bertarung melawan mereka!” kataku dengan melepaskan tangan Riyu dari pundakku.


Perkiraan aku kembali salah, aku pikir mereka akan menyerang kami dengan pukulan dan tendangan. Namun, mereka langsung menodongkan senjata api pada kami bertiga.

__ADS_1


“Kalian pikir aku akan menghabiskan tenaga dan waktuku untuk menghajar kalian? Tadinya aku berniat seperti itu tetapi aku tidak ada waktu untuk meladeni kalian!” ungkap pria itu.


Semua anak buahnya yang mengelilingi kami sudah siap untuk menghujani kami dengan peluru. Sial! Mengapa semua ini terjadi begitu cepat, andai saja aku memiliki senjataku—mereka semua tidak akan bisa lolos.


“Lindungi Yuki!” Riyu berkata dan aku yakin dia memerintahkan itu pada Kenta.


Tangan pria itu mulai bergerak, sepertinya dia akan memerintahkan anak buahnya untuk mulai menembaki kami.


“Habisi!” perintahnya pada semua anak buahnya.


Riyu mengubah posisi tubuhnya sehingga aku tepat berada di belakang tubuhnya. Begitu juga dengan Kenta dia menghalangi tubuh bagian belakang. Mereka berdua melindungi aku dengan tubuhnya.


“Jangan lakukan ini padaku! Lebih baik kalian berusaha untuk lari dari sini!” kataku pada mereka berdua.


“Apa pun yang terjadi kau harus tetap hidup demi ayahmu!” timpal Riyu.


“Ayah. Ayah mana yang kau maksud?!” tanyaku padanya.


Dia berbalik sekilas terlihat senyum darinya lalu dia berkata, “Kenzo Arsalan.”


Mataku terbelalak, dia menyebut nama ayah Kenzo. Itu artinya dia mengenal ayah tetapi mengapa dia tidak mengatakannya sejak awal padaku.


“Mengapa kau tidak mengatakan jika kau mengenal ayahku?!” Aku kembali bertanya padanya.


Dor!


Dor!


Suara dentuman senjata api bertubi-tubi terdengar begitu nyaring. Aku pikir peluru mereka sudah menembus tubuh Riyu dan Kenta.


“Apa kau tidak apa-apa, Yuki?!”


Aku mendengar suara yang sangat kukenal, aku membuka kedua mata yang tadi sempat tertutup. Kulihat Kimiko yang sedang memegang senjata api, sudah lama aku tidak melihatnya memegang senjata api.


“Kau terlambat!” kataku dengan senyum tipis.


Terdengar erangan kesakitan para musuh yang sudah tergelatak di atas jalanan beraspal. Luka tembak terlihat di kaki dan tangan mereka.


Kimiko masih pandai juga dalam menggunakan senjata api. Aku pikir dia sudah tidak akan menggunakan lagi senjata api.


“Kau masih lihai juga, Kimiko!” ucapku padanya.

__ADS_1


“Kau selalu saja meremehkan aku hah?!” timpalnya padaku.


Dor!


Terdengar lagi suara tembakkan dan aku lengah karena berpikir jika semuanya sudah tidak bisa melawan. Rupanya pria yang mengenakan jas biru itu menembakkan senjatanya dan yang tertembak adalah Riyu.


“Sial!” Kimiko berkata dengan geram.


Dor! Tanpa mengucapkan kata-kata lagi Kimiko menembak tepat di kening pria yang sudah menembak Riyu. Seketika pria itu terkapar tak bernyawa di atas jalanan beraspal.


“Riyu...,” Panggilku padanya.


“Aku tidak apa-apa,” jawabnya padaku sembari memperlihatkan senyumannya.


Aku tahu jika dia sengaja menghalangi peluru yang ditujukan padaku. Dia menjadikan tubuhnya sebagai tameng. Mengapa dia melakukan semua itu untukku.


“Cepat hubungi ambulance!” pekikku.


Aku tidak ingin dia tewas sebelum dia mengatakan tentang ayah. Karena dia tadi mengatakan akan melindungi aku demi ayah Kenzo.


Terdengar suara Kimiko yang menghubungi ambulance. Aku berharap ambulance segera tiba agar Riyu bisa segera di bawa ke rumah sakit.


Terdengar suara sirene ambulance dan juga dibarengi oleh para polisi. Riyu langsung dibawa kedalam ambulance, sedangkan Kenta memutuskan untuk mengurus semuanya dengan polisi.


“Nona, bisa temani Tuan Riyu ke rumah sakit?” tanyanya padaku dengan penuh harap aku pergi bersama ambulance menemani Riyu.


“Baiklah,” jawabku sembari melangkah masuk kedalam mobil ambulance.


Sebelum aku memasuki mobil ambulance, aku mengatakan pada Kimiko untuk segera kembali ke rumah dan jangan memberitahu Eitaro tentang masalah ini. Kimiko mengangguk lalu dia pergi menggunakan mobilnya.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, aku duduk di samping Riyu. Tangannya memegang tanganku, dia terlihat sangat lemas karena darah yang keluar dari luka tembaknya begitu banyak.


“Kau harus bisa bertahan, Riyu Ozora! Aku tidak rela jika kau tewas hanya karena tembakkan ini!” kataku padanya.


Dia hanya bisa tersenyum sembari menahan rasa sakit dari luka tembaknya. Perlahan terlihat kedua matanya hampir menutup, dengan kuat aku memegang tangannya untuk membuatnya terus tersadar.


Ambulance terhenti lalu pintunya terbuka para perawat mulai membawa Riyu kedalam rumah sakit. Beberapa dokter sudah menunggu, apainhkin Kenta menghubungi pihak rumah sakit jika yang terluka adalah Riyu.


“Nona, sebaiknya Anda ikut dengan saya!” ucap seorang perawat wanita padaku.


Dia mengatakan juga akan merawat semua luka yang ada di tubuhku. Namun, aku tidak mau karena aku masih ingin menunggu Riyu.

__ADS_1


“Tuan Riyu sudah ditangani oleh dokter-dokter hebat, sekarang Nona tidak perlu khawatir. Sebaiknya Nona ikut dengan saya untuk mengobati luka-luka Anda.” Perawat itu masih berkata pada dengan lembut.


Akhirnya aku pun menuruti apa yang dikatakan olehnya. Yang bisa kulakukan adalah berharap agar Riyu selamat dan bisa menjelaskan semuanya padaku.


__ADS_2