Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Aku Tidak Suka


__ADS_3

Aku masih belum pintu kamar pun bisa menghubungi ibu, sebenarnya ada apa dengan ibu mengapa tidak mengangkat telepon dariku. Apa aku tanya saja pada Eitaro tetapi aku malas melihat wajahnya untuk saat ini sebab dia membuatku kesal setiap kali bertemu. Lebih baik aku menyelesaikan saja pekerjaanku yang begitu banyak.


"Masuk," perintahku pada seseorang yang ada di balik pintu dan pintu kamar pun terbuka.


Terlihat seorang pelayan yang berjalan masuk ke dalam kamar, dia mendekat padaku lalu berkata, "Nona, makan malam sudah siap."


"Baiklah kau boleh kembali bekerja," jawabku lalu pelayan itu menganggukkan kepalanya dan meninggalkan kamar.


Tanpa banyak berpikir lagi aku langsung berjalan ke luar dari kamar dan menuju ruang makan, aku menuruni anak tangga dan melihat Eitaro yang juga sedang berjalan ke arah yang sama. Pikirku lebih baik tiba di ruang makan lebih dulu dan menyantap makan malam yang sudah disiapkan oleh juru masak.


Aku mempercepat langkah kaki dan akhirnya tiba di ruang makan lebih dulu dari Eitaro, kulihat semua menu makanan semuanya adalah menu kesukaanku. Yang membuatku bingung mengapa tidak ada satu pun menu makanan yang disukai oleh Eitaro apakah juru masak tidak tahu jika dia ada di rumah.


"Mengapa termenung? Cepat habiskan makananmu," ucap Eitaro yang duduk di seberangku.


Dia sama sekali tidak mempermasalahkan menu makanan malam ini dan dengan santainya menyantap semua hidangan yang ada di atas meja. Keningku mengerut karena tidak percaya dengan apa yang aku lihat dengan kedua mataku.


"Apa kau serius memakan semua itu? Bukankah semua ini makanan yang kau hindari?" tanyaku pada Eitaro yang masih mengunyah makanan di dalam mulutnya.


Eitaro tidak menjawab pertanyaan yang aku layangkan dan aku pun sudah lelah untuk memperhatikannya. Aku pun mulai menyantap makanan yang ada di atas meja. Tidak memerlukan waktu yang lama untuk menyelesaikan makam malam ini, terlihat seorang pelayan yang berjalan mendekat ke arahku.


"Nona, di luar ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda," Pelayan itu berkata padaku.

__ADS_1


"Siapa yang ingin bertemu denganku?" Aku bertanya pada pelayan itu.


"Tuan Riyu," jawab pelayan itu.


Aku terkejut dengan apa yang dikatakan oleh pelayan itu dan langsung beranjak lalu berjalan menuju ke luar. Mengapa dia datang ke sini tanpa mengabari aku dan datang dengan begitu tiba-tiba. Apakah ada informasi tentang ayahku sehingga dia datang ke rumah ini untuk menemuiku.


Riyu sudah berdiri dengan tegap di samping mobilnya dan dia pun tersenyum padaku, aku masih belum bisa membalas senyumannya itu sebab rasa penasaran dalam hatiku begitu besar padanya. Langkah kakiku terhenti saat tepat berada di depan Riyu.


"Kau di sini? Mengapa tidak mengabariku terlebih dahulu?" tanyaku padanya dengan nada selidik sembari menatap wajah pria itu.


Riyu tersenyum lalu dia berkata, "Aku ingin memberikan kejutan padamu karena aku merindukanmu."


Aku tercekat saat mendengar apa yang dia katakan, seorang Riyu Ozora bisa menggombal seperti ini. Apakah kepalanya kembali terbentur atau dihantam oleh musuhnya sehingga bersikap seperti ini.


Semua yang dia katakan padaku semakin membuat aku merasa bingung dengan perubahan sikapnya itu. Aku masih ingat benar bagaimana sikap pria yang ada di hadapanku itu saat pertama kali bertemu. Sifat dingin dan angkuhnya itu selalu membuatku kesal dan malas untuk bertemu dengannya.


"Hai ... ada apa? Apa aku terlalu tampan untukmu?" Riyu berkata padaku sembari melambaikan tangannya untuk menyadarkan aku.


Tawaku pecah karena mendengar apa yang dikatakan olehnya, dia begitu berbeda dan membuatku tidak bisa menahan tawa. Mataku membelalak saat bibirnya menyentuh bibirku, dia mengecup bibirku dengan sangat lembutnya dan membuatku merasakan hal yang berbeda. Tanpa kusadari aku menikmati apa yang dilakukan oleh Riyu dan membalas kecupannya itu.


"Aku tahu kau menginginkan aku bukan?" tanya Riyu setelah melepaskan ciumannya yang lembut itu.

__ADS_1


Riyu terkekeh dan dia mengatakan jika wajahku bersemu dan itu membuatnya sangat menyukaiku, dia kembali mengatakan hal-hal yang bisa membuatku melayang. Entah ada apa denganku mengapa aku merasakan hal yang berbeda saat ini jika berada di dekatnya.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Eitaro dengan nada menekan.


Aku membalikkan tubuh untuk melihat Eitaro yang sudah ada di belakangku, dia terlihat sangat kesal dan juga menatap tajam Riyu. Dia berjalan mendekat ke arah Riyu seraya ingin menghajarnya dengan cepat aku menghalangi Eitaro agar tidak bertindak gegabah.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanyaku pada Eitaro yang hampir saja memukul Riyu.


"Aku tidak suka dengan apa yang dilakukan olehnya padamu," jawab Eitaro dengan nada kesal.


Eitaro terus saja ingin memukul Riyu dan aku berusaha dengan cukup keras untuk menghalangi niat adikku itu. Sebab aku tidak ingin malam-malam begini mereka berdua membuat keributan di rumah.


Namun, semua usahaku gagal begitu saja karena Yiyu pun mengatakan hal yang membuat adikku itu menjadi geram. Dia mengatakan jika Eitaro tidak berhak untuk ikut campur dengan urusannya dan juga aku.


Aku tidak habis pikir mengapa Riyu mengatakan semua itu sehingga membuat adikku ini menjadi semakin meradang karena kesal akhirnya membiarkan mereka untuk berkelahi. Sedangkan aku memutuskan untuk pergi saja dari sana sebab tidak ada gunanya juga berada di sana untuk melihat perkelahian mereka berdua.


"Kalian lanjutkan saja," ucapku dengan nada kesal pada mereka berdua.


Kuhentikan langkahku sejenak lalu membalikkan tubuh dan melihat apakah mereka sudah berhenti berkelahi atau belum, ternyata mereka sama sekali tidak peduli dengan diriku ini. Aku menghela napas dan kembali berjalan memasuki rumah lalu menaiki anak tangga menuju kamar.


Aku langsung mengunci pintu kamar agar anak itu tidak masuk ke dalam kamarku dengan mudahnya dan aku pun sudah tidak peduli dengan mereka berdua yang masih berkelahi di luar sana. Kedua mataku tertuju pada dokumen yang ada di atas meja dan aku pun langsung mengambil dokumen itu dan mulai memeriksanya satu per satu.

__ADS_1


Kuambil ponselku yang ada di atas meja lalu melihat pesan yang masuk, ada satu pesan yang berasal dari Riyu yang mengatakan jika dirinya sudah pergi dan mengundangku untuk makan siang bersama besok. Aku pun membalas pesannya dan menyetujui apa yang dia inginkan lalu aku menyimpan kembali ponsel di atas meja serta melanjutkan membaca dokumen.


"Yuki, buka pintunya apa kau ingin menyiksaku?" Eitaro berkata sembari mengetuk pintu kamarku.


__ADS_2