Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Bertanggungjawab Karena Saus?


__ADS_3

Ada embusan napas yang menerpa wajahku, perlahan kubuka mata betapa terkejutnya diriku melihat Eitaro yang tertidur di samping sembari memelukku. Sebenarnya apa yang terjadi, mengapa dia berani melakukan ini padaku.


“Apa aku tampan saat tertidur?” tanya Eitaro padaku lalu dia membuka matanya dan menatapku dengan senyumnya itu.


Brugggg! Eitaro terjatuh dari atas tempat tidur karena aku mendorongnya dengan sekuat tenaga. Dia meringis kesakitan, apakah aku mendorongnya terlalu keras? Apa dia terluka? Dengan cepat aku melihat apa yang sudah terjadi di seberang tempat tidur.


“Apa kau ingin membunuh orang yang sudah menyelamatkanmu, hah?!” Eitaro berkata sembari berdiri dari posisi terjatuhnya lalu memijat-mijat pantatnya yang terbentur lantai.


“Salahmu sendiri—mengapa kau ada di atas tempat tidurku? Lalu berkata hal-hal yang sangat percaya diri itu!” tukasku padanya.


“Iya aku selalu salah di matamu!” timpalnya sembari berjalan meninggalkan kamar.


Sebenarnya apa yang terjadi semalam, mengapa dia bisa mengatakan telah menyelamatkan aku. Aku coba mengingat apa yang terjadi semalam tetapi tidak ada hal penting yang menyebabkan aku akan kehilangan nyawa.


Ahh sudahlah lebih baik aku membersihkan diri saja, tubuhku terasa lengket sekali. Tunggu dulu! Mengapa ada dua selimut tebal yang menyelimuti aku? Sepertinya aku harus bertanya pada Eitaro apa yang sudah terjadi.


Aku beranjak dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun, aku masih berusaha mengingat apa yang sudah terjadi semalam tetapi masih saja tidak dapat kuingat dengan jelas.


Selesai dengan rutinitas membersihkan diri, aku berjalan keluar dari kamar mandi menuju almari untuk mengambil pakaian. Sebelum keluar dari kamar aku mengambil ponsel, melihat apakah ada informasi yang penting.


Tidak ada satu pesan pun dari Kimiko, bagaimana keadaan ibunya apakah baik-baik saja. Aku mencoba menghubungi dirinya, beberapa kali nada sambung terdengar tetapi tidak diangkat olehnya, apa mungkin dia sedang sibuk. Sudahlah nanti saja aku hubungi dia kembali.


Perutku terasa keroncongan, enak jika pagi ini aku menyantap sandwich yang penuh dengan saus yang super pedasnya. Kusimpan kembali ponsel di atas nakas lalu berjalan keluar dari kamar.


Tibalah aku di dekat pantry, aku pikir tidak akan ada Eitaro. Dia terlihat sibuk, apa yang sedang dibuatnya sehingga tidak menyadari kehadiranku. Aku melangkah mendekat, dia masih saja tidak tersadar dengan kehadiranku.


Entah mengapa muncul niat menjailinya, aku berjalan perlahan mendekatinya. Niatku ingin berbisik padanya dengan bertanya apa yang sedang dimasaknya.


Sialnya aku, belum sempat menjailinya wajah kami sudah berhadapan dan itu sangat dekat. Dia menatapku dengan penuh curiga, apa mungkin dia tahu apa yang ada dalam benakku.

__ADS_1


“Mau apa kau? Jangan bilang kau mau menggodaku?!” tanyanya dengan nada menyelidiki.


“Tidak. Kau jangan menuduhku!” jawabku sembari mundur beberapa langkah.


“Aku sedang tidak ingin bercanda denganmu—makanlah sebelum dingin!” ucapnya sembari meletakkan sebuah piring di atas meja lalu dia berjalan melewatiku begitu saja.


Hmmm dia kenapa lagi, bukankah biasanya selalu membalas jika aku menjailinya. Aku merindukan saat-saat seperti dulu tatkala dia selalu membalas jika aku menggodanya.


Kapan kau akan kembali seperti dulu, aku rindu Eitaro yang seperti adikku. Di mana selalu mengejarku dan membuatku nyaman sebagai seorang kakak wanita.


Aku melangkah mendekat pada meja lalu melihat apa yang sudah dimasukkan untukku. Dia benar-benar adikku, tadi aku memikirkan sandwich sekarang dia sudah membuatkannya untukku.


Sekarang tinggal mencari saus ekstra pedas untuk menemani menyantap sandwich ini. Aku mencari di mana botol sausnya, perasaan aku menyimpannya di atas meja. Mengapa sekarang tidak ada, apakah Eitaro yang sudah menyembunyikannya.


Tidak bisa dibiarkan, jika tidak ada saus itu aku tidak mau memakan sandwich-nya. Aku melangkahkan kaki dengan cepat menuju kamar Eitaro untuk bertanya di mana dia menyembunyikan botol sausnya.


“Kau ... Mengapa tidak mengetuk dulu sebelum masuk?” kata Eitaro padaku.


“Di mana botol sausnya?!” tanyaku padanya tanpa membuka mata.


“Tidak tahu!” jawabnya dengan singkat dan itu membuatku sedikit kesal.


“Kau—,” Aku membuka kedua mataku berniat untuk memarahinya karena aku yakin dia yang menyembunyikan sausku.


Namun, dia sudah berada tepat di hadapanku dengan hanya menggunakan sehelai handuk yang melingkar di pinggangnya. Aku berusaha memalingkan wajah agar tidak melihat yang seharusnya kulihat.


Apa lagi ini, mengapa aku memalingkan wajahku? Bukankah dia adalah adikku dan aku sudah pernah melihat semuanya semenjak dia bayi. Aku menatapnya kembali lalu bertanya padanya di mana dia menyimpan saus ekstra pedas milikku.


“Jangan mencari masalah denganku, Yuki Arsalan!” katanya dengan nada lirih tepat di depan wajahku.

__ADS_1


“Aku tidak mencari masalah denganmu! Kau sendiri yang mencari masalah dengan menyembunyikan botol sausku!” timpalku dengan nada penekanan.


Dia terkekeh mendengar apa yang barusan aku katakan, ingin rasanya menjitak kepalanya itu. Sehingga dia mengerutkan tawanya itu, entah mengapa aku merasa dia menganggap aku seperti anak kecil saja.


“Awwww ... Apa yang kau lakukan Yuki? Sakit tahu!” tukasnya sembari mengelus-elus kepalanya yang baru saja aku jitak.


“Makannya diam dan berikan sausku!” Aku menimpalinya.


“Saus ... Saus saja yang kau pikirkan! Pokoknya pagi ini makan sandwich tanpa saus—itu demi kesehatanmu!” ungkapnya dengan nada penekanan. .


Demi kesehatan katanya? Aku tidak sakit pagi ini dan aku ingin makan sandwich dengan saus ekstra pedasku. Mengapa dia melarang aku, jika dia tidak mau memberikan sausku maka aku akan memberinya pelajaran.


“Aku mau sausku—berikan padaku sekarang!” kataku sembari mendekatkan tubuhku padanya.


Eitaro tersenyum, aku merasakan akan terjadi sesuatu yang akan aku sesali. Dengan cepat aku mundur tetapi gerakanku tidak cepat, sehingga dia berhasil menangkap pinggangku.


“Kau selalu saja membuatku hampir tidak bisa menahan semuanya!” katanya dengan lirih sembari mendekatkan wajahnya pada wajahku.


Sungguh aku tidak beruntung, niatku ingin menggodanya mengapa sekarang dia yang menggodaku seperti ini. Kulit dadanya menyentuh tubuhku, aku tersadar jika dia masih belum mengenakkan pakaiannya. Aku berusaha untuk melepaskan diri dari pelukannya tetapi dia tidak mau melepaskan diriku.


“Lepaskan aku dan pakai pakaianmu!” kataku padanya.


“Aku tidak akan melepaskanmu—kau harus bertanggungjawab atas semua yang telah kau lakukan padaku!” ungkapnya padaku sembari tersenyum tipis.


Apa? Apa aku tidak salah dengar lagu, siapa yang harus bertanggungjawab bukannya dia sendiri yang harus bertanggungjawab. Mengapa dia memintaku, aku keluarkan senyum picik padanya lalu menginjak kakinya dengan sangat keras.


Sehingga dia melepaskan pelukannya, dengan cepat aku berlari keluar dari kamarnya. Terdengar suara Eitaro yang meringis kesakitan, aku tidak peduli dengannya. Sudah cukup dia membuatku kesal hari ini, lebih baik aku mencari saus ekstra pedas sendiri.


Aku menghela napas, kulihat sandwich yang ada di atas piring sudah dingin. Dan itu terlihat tidak enak lagi tetapi jika tidak di makan itu sangat sayang sekali, terpaksa juga aku memakannya tanpa saus ekstra pedasku. Karena Eitaro menyembunyikannya di tempat yang sangat sulit ditemukan.

__ADS_1


__ADS_2