Isi Hati Yuki

Isi Hati Yuki
Kau Akan Menyesal


__ADS_3

"Rupanya yang kau inginkan hanya perusahaan ibuku," Aku berkata pada pria tua yang ada di hadapanku.


Aku pikir dia benar-benar teman ayahku tetapi setelah mendengar apa yang diinginkannya membuatku yakin jika pria tua itu bukan merupakan teman baik ayahku. Dan dia pikir aku akan percaya dengan mudah apa yang dia katakan tentang keberadaan ayah kandungku.


Tanpa banyak berpikir lagi aku langsung berdiri dan menatapnya sejenak dan berjalan menuju meja kerjaku, aku duduk di kursi kerja yang jika dilihat orang-orang adalah sebuah kursi yang memiliki kekuasaan. Namun, bagiku semua itu adalah sebuah tanggung jawab yang begitu berat dan sangat sulit untuk mempertahankannya.


"Sebaiknya, Tuan ke luar dari ruanganku sebab sampai kapan pun aku tidak akan pernah menyerahkan perusahaan ini bahkan menghancurkannya," jelasku pada pria tua yang masih duduk di sofa sembari menatap ke arahku dengan tatapan yang begitu tajam.


Pria tua itu beranjak dan berjalan dengan wajah kesalnya lalu dia menghentikan langkahnya dan berbalik. Dia juga kembali menatap diriku mungkin untuk yang terakhir kalinya dia akan melihat wajahku yang menghormatinya.


"Kau akan menyesal karena sudah menolak aku," ucap pria tua itu lalu dia kembali berjalan meninggalkan ruang kerjaku.


Aku menghela napas sejenak dan tidak habis pikir dengan pria tua itu mengapa menginginkan perusahaan ibu. Sebenarnya ada apa dengan kantor cabang ini mengapa pria tua itu sepertinya sangat menginginkannya.


Ponselku berdering dan aku beranjak lalu berjalan mendekat tas yang aku simpan tadi di atas sofa, kubuka tas untuk mengambil ponsel yang masih berdering. Melihat nomor yang tertera di layar ponsel aku langsung mengangkatnya.


"Halo," sapaku pada Kimiko yang ada di seberang telepon.


Kimiko mengingatkan aku untuk menemuinya di rumah, dia terdengar sangat ingin bertemu denganku dan aku tidak tahu apa yang ingin dia sampaikan. Padahal aku sudah siap untuk mendengarkan apa yang ingin dia katakan padaku melalui sambungan telepon.


Dia berpesan padaku untuk datang ke rumah dan dia tidak ingin membicarakannya melalui sambungan telepon. Apa yang dia katakan sama persis dengan apa yang dia katakan kemarin. Dan aku pun akhirnya mengatakan padanya akan datang pada jam makan siang.


Setelah mengataka semua itu aku memutuskan sambungan telepon dan menyimpan ponselku di atas meja. Aku duduk di kursi kerja sembari menunggu kedatangan Akina yang akan membawa beberapa hal yang aku perlukan.


"Masuk," ucapku pada seseorang yang baru saja mengetuk pintu ruang kerja.

__ADS_1


Pintu terbuka dan aku melihat ke arah sana untuk melihat siapa yang akan masuk, terlihat Akina yang berjalan mendekat sembari membawa dokumen yang ada di tangannya. Dia menghentikan langkahnya tepat saat dia sudah ada di depanku.


"Apa kau sudah menemukan orang yang ingin menghancurkan perusahaan ini?" tanyaku pada Akina.


"Maafkan saya Nona karena orang itu begitu sempurna menutup semuanya," jawabnya sembari menyodorkan dokumen ke atas mejaku.


Aku melihat ada dua dokumen  yang harus aku periksa tetapi aku kembali teringat dengan pria tua yang tidak begitu lama pergi dari ruangku. Aku ingin tahu siapa pria tua itu yang sebenarnya.


"Kau selidiki pria tua yang baru saja ke luar dari ruanganku sebab dia menginginkan perusahaan ini," perintahku pada Akina sembari menyerahkan beberapa dokumen yang sudah aku periksa semalaman di rumah.


"Baik akan saya cari tahu tentangnya," Akina berkata sembari mengambil dokumen yang aku serahkan padanya dan dia pun berjalan ke luar dari ruang kerjaku.


Setelah Akina pergi aku pun kembali mengerjakan semua hal yang harus segera di selesaikan sebelum makan siang sebab aku harus ke rumah Akiko. Dan juga hari ini aku tidak bisa pulang ke rumah malam-malam karena Eitaro sedang sakit.


***


Semua sudah siap dan aku mengambil tas lalu berjalan ke luar ruangan, langkahku terhenti tatkala melihat Akina yang sudah ada di depan pintu masuk ruang kerjaku.


"Ada apa?" tanyaku pada Akina.


"Semua jadwal sudah saya pindahkan untuk besok dan saya harap besok Anda bisa menghadiri semua meeting yang akan dilakukan," ucap Akina untuk mengingatkan aku lagi apa yang harus dikerjakan besok.


"Baiklah aku akan lakukan semuanya besok dan hari ini setelah makan siang aku tidak akan kembali ke kantor," jawabku lalu berjalan meninggalkan Akina yang sudah menganggukkan kepalanya.


Aku langsung berjalan menuju area parkir dan memasuki mobil, memasang sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobil lalu mobil pun berjalan meninggalkan area parkir perusahaan. Setelah berada di luar area perusahaan aku memacu mobilku dengan kecepatan standar dan langsung menuju rumah Kimiko.

__ADS_1


Dalam perjalanan menuju rumah Kimiko aku kembali teringat akan pria tua itu mengapa dia mengatakan kenal dengan ayahku. Dan pada akhirnya dia malah ingin mengambil perusahaan ibu yang merupakan wanita yang membatu ayah untuk mengurus diriku dan juga ayah Arata yang sudah melindungiku dari semua orang yang ingin membahayakan diriku.


"Akhirnya aku tiba di rumah, Bibi Sarada,"


Aku menghentikan mobil tepat di samping rumah Akiko, mematikan mesin mobil dan melepaskan sabuk pengaman. Kubuka pintu mobil dan ke luar dari dalam mobil lalu berjalan memasuki rumahnya.


"Kau sudah tiba ... selamat datang," ucap Bibi Sarada yang ada di depanku.


"Bagaimana kabarmu, Bi?" tanyaku pada Bibi Sarada dan langsung memeluknya.


"Aku baik-baik saja," jawab Bibi Sarada padaku dan kami pun berjalan memasuki rumah.


Rumah yang sangat penuh dengan kehangatan sebuah keluarga dan aku sangat menyukai jika berkunjung ke rumah ini. Aku pun langsung bertanya di mana keberadaan Kimiko pada Bibi Sarada sebab aku ingin langsung bertemu dengannya.


Bibi Sarada pun mengatakan jika Kimiko sedang berada di dalam kamarnya dan aku disuruh untuk langsung  ke kamarnya saja. Aku pun langsung berjalan menuju kamar Kimiko, kedua kakiku terhenti saat sudah berada di depan pintu kamarnya.


Aku mengetuk pintu kamarnya dan terdengar suara Kimiko yang menyuruhku untuk masuk. Tanganku memegang gagang pintu dan membukanya lalu aku masuk ke dalam kamarnya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku pada Kimiko.


"Aku baik," jawabnya singkat.


Sembari tersenyum aku pun berjalan mendekat pada Kimiko yang tengah duduk di atas tempat tidur. Aku melihat wajahnya sudah terlihat segar dan juga semua lukanya mulai mengering. Aku senang melihat dia yang sudah sembuh dari semua luka yang diterimanya setelah penyekapan itu.


"Maafkan aku," ucapku pada Kimiko.

__ADS_1


"Apakah aku bisa meminta sesuatu darimu?" Kimiko menimpaliku dengan pertanyaan.


"Apa yang kau inginkan?" Aku balik bertanya padanya.


__ADS_2