
“Katakan apa yang menjadi tujuannya mampir ke rumahku?!” Aku bertanya pada Riyu.
Riyu mengambil minuman yang aku berikan padanya lalu meneguknya. Dia terlihat sangat santai sekali, seperti luka akibat penembakkan itu sudah sembuh.
Aku menatapnya dengan lekat untuk menunggu apa yang hendak dikatakan olehnya. Sebelum Eitaro kembali ke rumah, kuharap Riyu sudah pergi dari rumah.
Karena Eitaro masih kesal dengan Riyu yang menurutnya tidak bisa melindungi aku. Padahal dia tahu jika Riyu telah menyelamatkan aku dari tembakkan musuh.
Namun, entah mengapa Eitaro mengatakan jika dirinya tidak suka dengan Riyu. Menurutnya ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman dan aku harus berhati-hati dengannya.
Dari sini aku mulai merasa bimbang, sebenarnya siapa orang yang bisa aku percaya dan siapa dari Riyu atau Riyoichi yang benar-benar mengetahui keberadaan ayah.
Mengapa aku harus dihadapkan dengan dua pria yang mengatakan jika mereka mengenal ayah. Dan aku tidak tahu yang mana berkata jujur atau tidak.
“Kau pernah berkata jika melindungi aku itu karena ayah, katakan padaku apakah kau mengenal ayahku?!” tanyaku padanya sebab dia tidak menjawab pertanyaan yang aku layangkan tadi.
“Iya, aku mengenal ayahmu dan aku telah berjanji untuk melindungi putrinya.” Dia menjawab dengan santai sehingga aku merasa jika dia tidak berbohong.
Aku pun kembali bertanya padanya, “Jika kau mengenal ayah, katakan di mana keberadaannya saat ini?”
Dia terdiam dan hanya menatapku, aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Apakah dia sedang mencari alasan atau dia tidak tahu di mana ayah sekarang.
“Aku tidak bisa mengatakannya karena belum saatnya kau tahu di mana ayahmu. Namun, yang pasti jika sudah tiba saatnya kau pasti akan bertemu,” jawabnya.
Aku menghela napas, baik Riyu atau Riyoichi mereka berdua sama-sama tidak mudah. Mereka pasti ingin aku melakukan sesuatu hal dulu baru akan mengatakan di mana ayah.
“Terus apa tujuanmu menemui aku?” tukasku.
“Aku minta jauhi Riyoichi sebab dia tidak baik untukmu!” jawabnya dengan tegas.
Dia masih saja mengatakan ini semenjak awal mengetahui jika aku bertemu dengan Riyoichi. Sebaiknya aku mencoba meminta chip itu padanya, apakah dia akan memberikannya atau tidak.
“Dia menginginkan cincin yang kau pakai—apakah kau mau memberikannya padaku?” tanyaku padanya untuk melihat bagaimana reaksinya.
Terlihat sangat jelas olehku rasa terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya memperhatikannya saja dan menunggu apa yang akan dilakukan olehnya. Apakah akan memberikan cincinnya atau tidak.
“Katakan padanya jika ingin mengambil cincin ini maka dia sendiri yang harus mengambilnya! Jangan melibatkan orang luar!” Dia berkata sembari beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Dia berjalan keluar rumah tanpa pamit padaku, terlihat Eitaro yang baru saja tiba dan melihat Riyu. Wajahnya terlihat tidak senang lalu menatapku dengan kesal.
“Untuk apa kau kemari?!” tanya Eitaro dengan nada penekanan.
“Itu bukan urusanmu!” Riyu menjawab dengan nada tidak peduli.
Eitaro menghadang Riyu lalu dia menarik kerah bajunya. Dia hendak menghajar Riyu tetapi aku dengan cepat menghalangi mereka agar tidak berkelahi.
“Hentikan Eitaro—lepaskan dia!” perintahku pada Eitaro.
“Yuki! Sudah aku katakan padamu—jauhi dia, apa kau tidak mengerti hah!” bentak Eitaro padaku.
Ini kali pertama dia membentak aku dengan sangat keras. Semarah-marahnya dia padaku tetapi bentakan kali ini terasa menyakitkan.
“Aku tidak menemuinya! Dia yang datang sendiri ke rumah!” timpalku dengan nada tinggi karena aku sudah tidak tahan dengan sikap Eitaro.
Setelah mengatakan itu aku pergi meninggalkan mereka berdua. Aku tidak peduli jika mereka berdua akan berkelahi atau tidak.
Masih terdengar perdebatan di antara mereka berdua. Aku berjalan memasuki kamar lalu menutup pintu dengan rapat agar tidak mendengar perdebatan mereka.
Tok! Tok! Suara ketukan pintu kamar terdengar, mungkin itu Eitaro. Aku sedang malas berdebat dengannya lebih baik aku tidak mengizinkannya masuk
“Yuki...,” terdengar suara Kimiko yang memanggil namaku.
“Masuk!” perintahku padanya.
Kimiko pun membuka pintu kamar, aku melihat dia masih mengenakan setelan jas dan rok yang tadi pagi dipakainya.
“Apa Riyu datang ke rumah?” tanya Kimiko padaku.
“Iya,” jawabku singkat.
Kimiko mengatakan jika dia melihat Riyu yang masih berdebat dengan Eitaro. Namun, seorang Riyu sudah pergi dengan wajah kesal.
Syukurlah, mereka berdua tidak berkelahi jika mereka sampai membuat keributan di dalam rumah, aku akan mengusir mereka berdua tanpa ampun.
“Bagaimana di perusahaan?” Aku balik bertanya pada Kimiko.
__ADS_1
Dia mengatakan jika pamanku tidak membuat ulah dalam beberapa hari ini. Mungkin dia hanya ingin menyerangku saat aku sudah sehat dan menjalankan perusahaan.
“Aku bertemu dengan Riyoichi,” ungkap Kimiko.
“Apa yang diinginkannya?” Aku bertanya pada Kimiko yang baru saja duduk dia atas tempat tidur tepat di sampingku.
Kimiko mengatakan jika Riyoichi menginginkan chip itu. Dan dia bersikeras agar kau yang mencurinya karena semua itu menyangkut semua informasi kemarahan ayahku.
“Apakah di dalam chip itu ada informasi tentang ayah?” gumamku dan itu terdengar oleh Kimiko.
“Bisa jadi,” katanya sembari merebahkan tubuhnya.
Kimiko bertanya padaku apakah aku akan melaksanakan semua rencana pencurian chip itu. Aku menjawab jika diriku masih merasa bingung karena sikap Riyu dan Riyoichi.
Kukatakan pula pada Kimiko semua kebimbangan yang aku rasakan tentang Riyu dan Riyoichi. Dia mendengarkan setiap perkataanku yang keluar dari bibirku.
Dia menghela napasnya lalu berkata, “Kau begitu sial apa beruntung bertemu dengan kedua pria itu,” lalu dia terkekeh.
Sial dia mulai menggoda diriku, aku sedang pusing karena ketiga pria yang ada di sekelilingku. Eh dia malah menertawakan aku begitu entengnya.
Bug! Aku memukulnya dengan bantal, dia tidak terima dengan apa yang aku lakukan. Dan akhirnya dia pun menyerang balik dengan bantal.
Terjadilah perkelahian batal, tawa kami lepas begitu saja. Aku bisa menghilangkan semua masalah yang menggangguku. Mungkin Kimiko pun merasakan apa yang aku rasakan.
“Sudah cukup Yuki ... Aku lelah dengan serangan yang kau lakukan!” ucapnya padaku.
“Tidak semudah itu, Sayang!” timpalku padanya sembari terus menyerangnya.
Tidak akan aku biarkan dia bebas begitu saja setelah menertawakan kesulitanku dalam menghadapi pria yang berada di dekatku.
“Sampai kapan kalian akan seperti anak kecil?” tanya Eitaro yang sudah berada di dekat pintu yang sudah terbuka.
Bug! Tanpa mengucapkan kata-kata aku langsung melepas bantal ke arah Eitaro. Dia dengan enaknya menyebut aku anak kecil. Padahal dia yang selalu bersikap seperti anak kecil.
“Yuki, kau—,” ucapnya setelah berhasil menangkap bantal aku lempar.
“Kau yang anak kecil bukan aku!” pekikku sembari melemparkan satu bantal lagi padanya.
__ADS_1