
“Kau ada di sini?” tanya paman padaku.
Aku melangkah cepat untuk mendekat pada paman, dua terlihat sudah babak belur. Sudah berapa lama paman ada di sini, apakah Riyoichi yang melakukan semua ini.
“Sejak kapan Paman ada di sini?” Aku beluk bertanya padanya.
“Nanti Paman ceritakan jika sudah keluar dari sini!” jawabnya padaku.
Aku langsung melepaskan ikatan paman Daichi lalu bertanya apakah dia bisa berjalan karena dia terlihat lemas.
Paman Daichi mengangguk, “Saya masih sanggup, Nona.”
“Sungguhkah Paman?”
Aku langsung membalikkan tubuh dan melihat siapa yang mengatakan itu. Ternyata itu adalah Riyoichi, sejak kapan dia ada di sini. Apakah dia tidak ikut bersama dengan anak buahnya.
“Kau—,” Aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapnya.
Bug! Bug! Aku langsung menyerangnya dengan pukulan yang bertubi-tubi. Tidak kubiarkan dia menyerang balik. Namun, yang membuatku kesal dia tersenyum meski dirinya terdesak.
“Kau semakin cantik Sayang—itulah sebabnya aku semakin ingin memilikimu seutuhnya,” ungkapnya padaku.
“Jangan bermimpi!” timpalku sembari menyerang kembali.
Brugggg! Aku mendengar suara rintihan paman Daichi. Secara refleks aku menghentikan seranganku dan melihat keadaan paman Daichi.
Dia sudah tersungkur karena ada yang menyerangnya. Rupanya aku tidak menyadari jika ada anak buah Riyoichi yang menyerang paman.
“Tingkat kewaspadaanmu sangat rendah, Sayang?” bisik Riyoichi padaku sembari mendekap erat tubuhku.
Aku berusaha untuk melepaskan diri dari dekapannya. Namun, tidak bisa—dia begitu erat mendekapku.
“Lepaskan aku!!” pekikku.
“Kurung dia! Jangan biarkan dia lepas lagi!” perintah Riyoichi pada anak buahnya. Sedangkan aku masih berusaha untuk melepaskan diri.
“Hentikan perlawanan yang sia-sia ini atau kau ingin aku menghabisi paman Daichi?!” ungkap Riyoichi dengan nada mengancam.
Sial, mengapa aku tidak bisa lepas darinya, dan dia selalu mengancamku. Tidak akan aku biarkan orang yang selalu dekat dengan ayah.
“Nona, lebih baik Anda pergi saja—tinggalkan aku!” pinta paman Daichi.
__ADS_1
“Tidak. Aku tidak akan membiarkan kau terus berada di sini! Tunggu aku pasti akan menyelamatkanmu Paman!” tukasku.
Anak buah Riyoichi dengan kejamnya menyeret tubuh paman. Aku sungguh kesal dengan apa yang mereka lakukan, akan aku ingat wajah mereka yang sudah menyeret paman seperti itu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata Riyoichi langsung menarik tanganku. Dia berjalan sangat cepat, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan olehnya kali ini.
Dia membuka sebuah pintu ruangan yang cukup besar dari ruangan yang lainnya. Riyoichi menghempaskan tubuhku dan aku terjatuh di atas tempat tidur. Dengan cepat aku berdiri, aku tidak akan membiarkan dia bertindak semaunya.
Bug!
Bug!
Kulayangkan pukulan padanya bertubi-tubi, dia berhasil menangkis dan menghindar dari setiap seranganku. Tidak kusangkak dia begitu hebat dan aku tidak bisa melampauinya.
Whussss!
Aku melihat ada sedikit celah lalu melayangkan tendangannya padanya. Sial! Dia berhasil menangkap kakiku dengan mudahnya.
“Kau bukan tandingannya, jadi tidak perlu banyak melawan lagi!” ungkapnya sembari menarik kakiku.
Brugggg!
“Bagaimana? Apakah sakit, Sayang?” Dia bertanya sembari tersenyum miring.
“Kau membuatku muak!” ucapku padanya.
Dia menyeringai lalu menggendong tubuhku dan menghempaskan aku ke kembali ke atas tempat tidur. Tatapannya begitu membuatku muak, dia seperti iblis yang hendak memangsa musuhnya.
Suara tembakkan tidak terdengar lagi, apakah semua itu sudah berakhir. Jika ini sudah berakhir dan Riyoichi masih bisa bersikap tenang. Itu tandanya yang menyerang bukan Riyu melainkan musuhnya yang lain.
“Apa kau berharap pria yang kau cintai itu yang datang?” tanyanya padaku.
Dia pun mengatakan jika Riyu adalah pria yang lebih kejam darinya. Namun, aku tidak bisa percaya dengan apa yang dikatakan olehnya.
Riyoichi mendekat padaku, tatapan dan senyumnya sangat tidak kusukai. Aku merasa dia hendak melakukan hal-hal yang begitu menjijikkan.
“Apa yang akan kau lakukan? Jangan seperti ini Riyoichi,” kataku padanya.
“Tidak akan aku lepaskan kau kali ini Yuki Arsalan,” timpalmya.
Dia dengan cepat menyergapku, sehingga dia tepat berada di atasku. Dari sorot matanya terlihat hasrat yang begitu kuat.
__ADS_1
Riyoichi berusaha untuk mengecupku tetapi aku tidak mau. Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk menghindar dari kecupannya itu.
Aku melayangkan pukulan padanya, dia dengan cepat menangkap tanganku. Dia memegang sangat erat kedua tanganku di atas kepala.
“Kau akan menjadi miliki untuk selamanya,” bisiknya padaku sembari mengecup lembut daun telingaku.
“Kau benar-benar sudah tidak waras—lepaskan aku Riyoichi!” perintahku padanya.
Dia kembali terkekeh saat aku mengatakan itu lalu berusaha mengecupku lagi. Dan akhirnya dia berhasil mengecup bibirku tetapi aku tidak mau.
Apa yang dilakukannya membuatku merasa jijik, tidak kusangkak dia bisa melakukan hal yang sekotor ini. Andai saja aku dari awal tahu dia seperti ini, maka aku tidak akan memberikan kesempatan baginya.
Tangannya mulai menjalar ke tubuhku, aku berusaha sekitar tenaga untuk menghentikan apa yang dilakukan olehnya. Namun, dia sangat kuat sekali dan tubuhku entah mengapa terasa sangat lemas.
“Apa kau sudah tidak memiliki tenaga lagi, Sayang?” Dia bertanya padaku dengan lirih dan senyum yang membuatku muak.
Riyoichi mengatakan padaku saat mengecupku tadi memasukkan sesuatu pada mulutku. Dan itu mengakibatkan aku tidak akan melawan apa yang akan dilakukan olehnya.
Dia kembali membiusku, entah dengan apa karena dia sendiri tidak merasakan efeknya. Padahal Riyoichi obat tersebut berada di dalam mulutnya.
“Aku tahu dirimu, Sayang ... Kau belum terjamah sama sekali oleh pria. Dan aku yang pertama akan menikmatinya!” ungkapnya padaku.
Mataku terbelalak saat dia mengatakannya, itu tandanya dia sudah menyelidiki aku. Sebenarnya apa tujuannya untuk mendekatiku. Tidak mungkin hanya ingin menikmati tubuhku saja 'kan.
“Sejak kapan kau menyelidiki aku?!” tanyaku padanya.
“Kau tidak perlu tahu, Sayang. Sekarang nikmati saja setiap permainanku!” jawabnya sembari menyobek lengan bajuku.
“Hentikan!” pekikku.
Akan tetapi dia tidak menghentikan permainannya, malahan dia semakin menggila. Dia mengoyak pakaianku di bagian dada, sehingga terlihat jelas tubuhku bagian depan.
Aku hanya bisa meminta dia untuk menghentikan semuanya. Karena tenagaku sudah tidak ada lagi, mungkin semua efek dari obat itu sudah berjalan.
Riyoichi menggigit dadaku, itu terasa sangat menyakitkan dan sangat menjijikkan. Dia meninggalkan jejaknya di tubuhku dengan niat agar aku tidak melupakan malam ini.
“Kau membuatku jijik, Riyoichi!” ucapku dengan lirih.
“Hari ini kau mengatakan jijik denganku. Namun, tidak lama lagi kau akan merasakan kenikmatan lalu menginginkannya lagi dan lagi.” Dia membalasku dengan senyum mesumnya.
Seumur hidupku tidak akan pernah melupakan apa yang sudah dilakukan olehnya. Meskipun dia mati aku akan tetap berdoa agar dia mendapatkan ganjaran dari setiap dosa-dosanya.
__ADS_1